Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
458 - Sikap Dunia Tanpa Gerakan


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Teknik kedua Dosa Kemalasan!" Gumam Theo.


Bersamaan dengan gumamannya, aliran Mana Besi pekat yang tak kalah menekan dari milik Joy Kecil, mulai menjalar keluar dari Palu Raksasa Belphegor.


*Baaammmm….!!!


Aliran Mana Besi yang tiba-tiba menyeruak keluar, segera membuat bobot dari Palu Belphegor bertambah puluhan kali lipat, menyebabkan tubuh Theo yang menopang semua bobot tambahan, kini mulai melaju dalam gerakan melambat. Setiap langkah yang ia ambil, akan memberi kerusakan berat pada tanah yang dipijaknya.


*Bammmm…!!!


*Baaammmmm….!!!


*Baammmmm….!!!


Laju terjangan Theo semakin lambat dari waktu ke waktu, namun itu juga diiringi dengan semakin pekatnya aliran Mana Besi yang keluar dari dalam Palu Raksasa.


*Bammmmmm….!!!


Sampai kemudian, pada pijakan kelima yang menghancurkan sebagian besar permukaan tanah di sekitar, Theo yang masih menggenggam Palu Raksasa dengan kedua tangan, melakukan gerakan sedikit kesamping, menyejajarkan tubuhnya dengan Palu Raksasa yang sedang ia genggam.


*Kraaakkkk….!!!


Suara berderak dimana berasal dari gesekan antar tulang, terdengar nyaring saat Theo mulai mengeraskan genggamannya pada gagang Palu. Dan sampai akhirnya, tepat ketika seluruh otot di lengan dan kakinya membesar, Theo dengan segenap tenaga, mulai melakukan gerakan mengayunkan tangan.


"Sikap dunia tanpa gerakan!" Seru Theo lantang. Seraya melempar Palu Raksasa Belphegor yang masih berderak dengan aliran Mana Besi sangat pekat dan padat, kearah Joy Kecil.


*Wuuungg…..!!!!


*Blaaaarrr….!!!


Palu Raksasa Belphegor yang dilempar Theo, mengeluarkan bunyi berdengung keras saat mulai melaju kencang dalam posisi berputar. Bersamaan dengan suara dengungan tersebut, area yang dilewati oleh laju Palu Raksasa, juga mulai hancur berantakan.


*Wuuungg….!!!!

__ADS_1


Dengungan keras terus terdengar imbas dari kepadatan aliran Mana Besi saat Palu Belphegor terus melaju kencang semakin mendekati targetnya.


"GROOOOOAAAAHHH….!!!"


Disisi lain, Joy Kecil yang melihat Palu Raksasa Belphegor terlempar menuju kearahnya, kini mulai membalas dengan teriakan liar. Sekali lagi menghempaskan gelombang kejut penuh aliran Mana Besi, untuk menyambut datangnya Palu Raksasa Belphegor.


*Wuuungg….!!!


*Woooshhhh….!!!


Namun, gelombang kejut yang di lontarkan oleh Joy Kecil dengan teriakannya, nyatanya belum cukup untuk menghentikan laju lemparan Palu Raksasa Belphegor.


Gelombang kejut tersebut memang membuat Palu Raksasa sedikit kehilangan momentum dan mulai melambat, tapi itu sama sekali tak berhenti. Tetap melaju menerobos gelombang kejut dengan kecepatan yang masih cukup tinggi. Sampai kemudian….


*Woooshhhh….!!!


*DENTANG….!!!!


*Boooooommmmm…..!!!!


Palu Raksasa Belphegor yang terlempar keras, dimana merupakan aplikasi dari teknik kedua Dosa Kemalasan, mendarat tepat pada cangkang perak Joy Kecil, menyebabkan satu suara berdentang keras benturan antar logam untuk beberapa saat, sebelum diakhiri dengan ledakan aliran Mana Besi yang begitu dahsyat.


"Groooooaaaahhh….!!!"


Joy Kecil kembali berteriak lantang ketika cangkang perak raksasanya bergetar hebat. Namun teriakannya kali ini, bukanlah teriakan liar seperti sebelumnya. Namun teriakan yang jelas merupakan efek dari rasa sakit yang teramat sangat.


"Kau tahu, aku tak punya pilihan! Jika terus dilanjutkan, itu justru akan memberi kerusakan permanen pada ranah jiwamu!" Tambah Theo. Seraya melompat maju kedepan, sekali lagi mencoba mencapai bagian depan wajah Joy kecil sembari tanpa menunda melakukan gerakan segel tangan cepat.


"Sekarang diam! Biar kubantu proses transformasinya! Tinggal sedikit lagi!" Gumam Theo. Begitu akhirnya telah berada di depan wajah Joy Kecil.


Gerakan segel tangan rumit yang sedang di lakukan Theo, semakin lama menjadi semakin cepat. Ia tampak cemas Joy Kecil akan kembali melakukan perlawanan.


Sampai kemudian, apa yang menjadi kecemasan Theo benar-benar terjadi, tepat ketika segel tangan yang ia lakukan hanya tinggal beberapa gerakan untuk selesai, sehingga ia bisa memasang formasi segel yang bisa membantu kondisi Joy Kecil, sang Guardian Beast yang dalam beberapa waktu sebelumnya masih mengerang kesakitan, mulai melakukan gerakan.


Joy Kecil dengan tatapan mata marah, menarik kepalanya masuk kedalam cangkang, sebelum dengan gerakan sangat cepat, mengeluarkannya sekali lagi. Kepala Joy Kecil yang memiliki dua taring perak menjulang keluar, dengan keras membentur tubuh Theo. Menyebabkan Theo untuk kesekian kalinya terhempas jauh kebelakang.


"Goooaahhh….!!!"


Dengan wajah pucat pasih, Theo yang membentur deretan bukit, menyemburkan banyak sekali darah segar. Pandangan matanya kini mulai buram ketika rasa sakit teramat sangat, mendera seluruh tubuhnya.


"Kau ini! Sialan!" Dengus Theo. Sembari mengusap darah segar yang masih mengalir di mulut, menggunakan lengan.


***


(Benteng Osiris)

__ADS_1


"Makhluk apa itu sebenarnya?" Ucap Guan Zifei, dengan tatapan mata bergetar.


"Ini tidak baik! Bahkan Boss Besar terlihat tak bisa menahannya!" Tambah Zhou Kang.


"Apakah itu Joy Kecil?" Gumam Hella.


Saat ini, ketika Theo sedang berusaha sekuat tenaga menahan Joy Kecil yang sedang mengamuk ketika mengalami transformasi. Seluruh anggota kelompok Bandit Serigala yang ada di Benteng Osiris, sudah bergerombol diatas Benteng. Melihat dengan tatapan ngeri kearah makhluk raksasa yang sedang bertempur melawan Boss Besarnya.


"Tuan Leluhur! Kita tak bisa hanya terus diam saja! Boss perlu bantuan!" Teriak Razak. Tampak sudah mengepalkan kedua tinjunya erat dan mulai maju satu langkah kedepan.


*Woooshhhh….!!!


Seruan bernada khawatir Razak, nyatanya disambut dengan hawa menekan berat yang keluar dari dalam tubuh Tuan Leluhur. Hawa menekan seorang Emperor yang tentu saja segera membuat setiap orang yang ada di sekitar, merasa tubuhnya menjadi sangat amat berat.


"Bukankah sudah kukatakan? Boss Besar kalian memberi intruksi langsung padaku untuk melarang siapapun mendekat!" Ucap Tuan Leluhur, dengan sorot mata tajam menyapu sekitar.


"Tapi…" Gumam Razak.


"Tidak ada tapi-tapi! Mulai sekarang belajar mematuhi intruksi! Perintah seorang pemimpin adalah mutlak bagi seluruh anggotanya!" Potong Tuan Leluhur.


"Tuan Goblin!"


Melihat Tuan Leluhur tampak bersikeras dengan pendiriannya, Razak yang masih tak terima, segera meminta bantuan kepada Sasi yang menurutnya dari semua orang yang ada di tempat, adalah satu-satunya yang bisa mengimbangi kekuatan Tuan Leluhur.


"Hmmmm…. Sayang sekali, untuk kali ini, aku sepakat dengan orang itu! Meskipun tampak sedang tersudut, Tuan sama sekali tak memberi tanda apapun yang menyatakan ia butuh bantuan!" Ucap Sasi.


"Jadi, lebih baik tetap amati saja untuk sekarang! Dia pasti masih menyimpan beberapa langkah lain! Jika kita memaksa untuk ikut mendekat kelokasi, bisa saja itu akan membuat Tuan dalam posisi semakin sulit!"


"Kita tak bisa mengambil resiko dimana memungkinkan justru menjadi beban!" Lanjutnya, seraya mulai menatap kearah Razak.


"Dan bukankah sudah kubilang, mulai sekarang berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan Goblin! Kau harus memanggilku dengan sebutan Master!" Tutup Sasi.


Satu kalimat penutup yang dengan segera membuat ekspresi wajah Tuan Leluhur sedikit berubah. Menatap tajam kearah Sasi. Ia tampak ingin menyampaikan sesuatu, sebelum memutuskan menunda karena situasi tidak tepat. Kemudian ganti kembali melihat kearah dimana Theo dan Joy Kecil sedang bertempur.


Merasa dua orang terkuat dalam kelompok yakni Tuan Leluhur dan Sasi tak ingin melakukan pergerakan, seluruh anggota kelompok Bandit Serigala yang ada diatas Benteng, akhirnya tak punya pilihan lain selain hanya ikut memfokuskan perhatian kearah wilayah pertempuran.


Situasi berkembang hening untuk beberapa saat ketika tak ada yang kembali memulai inisiatif percakapan. Semuanya hanya memandang dengan tatapan cemas kedepan.


Sampai kemudian, salah satu orang tiba-tiba melompat kedepan.


"Apa yang kau lakukan? Bukankah sudah kubilang tak ada yang boleh mendekat kesana!" Ucap Tuan Leluhur.


"Diam! Aku punya cara untuk membantunya!" Jawab Gerel, seraya kemudian mulai memanggil keluar Nagini dari dalam tatto segel.


"Nagini! Transformasi!" Gumam Gerel, begitu Nagini muncul dihadapannya.

__ADS_1


"Tssssssssaaaaahhhh….!!!!"


__ADS_2