
"Baiklah! Kita mulai!" Kata Theo, begitu melihat tungku api membara yang ada di hadapannya.
Sebagai kelompok yang telah memiliki sejarah ribuan tahun, desa tersembunyi memiliki aula penempaan yang bisa di bilang sangat istimewa, bahkan untuk standar Theo sendiri.
Aula ini sangatlah luas, serta memiliki berbagai peralatan yang sangat berkualitas dan juga lengkap. Theo bahkan merasa, meskipun desa tersembunyi terkenal dengan klan ahli formasi dan juga racun, keahlian para penempa di desa ini juga tidaklah bisa dikesampingkan, mereka tidak akan kalah berbakat dibandingkan dengan para penempa yang ada di dunia luar. Bahkan bisa dibilang, para penempa dari desa tersembunyi ini adalah sekumpulan ahli.
Menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh muridnya ini, Tiankong yang dari tadi juga sudah keluar dari dalam gelang ruang-waktu, berniat memberi bimbingan kepada Theo karena setelah ini akan menempa menggunakan banyak bahan yang bisa di bilang sangat berharga, mulai menjelaskan bahwa yang sedang dipikirkan Theo adalah normal.
Bagaimanapun juga, karena selama ini terjebak dalam kondisi terisolasi, seluruh anggota desa tersembunyi akhirnya tetap mempertahankan warisan sejarah mereka yang telah berusia ribuan tahun.
Meskipun hal ini membuat mereka tidak bisa mengikuti perkembangan dalam ilmu yang lebih modern, tapi mereka menjadi ahli di bidangnya masing-masing dengan pengetahuan yang sangat mendalam, terus meneliti semua warisan yang mereka punya sedetail yang mereka bisa.
Mendengar itu, Theo yang mulai mengerti, kini sedikit mengesampingkan pemikiran tak penting lainnya yang terlintas di otaknya. Dia mulai fokus mengeluarkan bahan-bahan yang akan ia gunakan dalam proses penempaan.
Yang pertama ia keluarkan adalah bahan paling berharga yang saat ini ia miliki, yakni sebongkah logam surgawi, item yang membuat Theo sudah gatal, tak sabar untuk melakukan penemaan semenjak pertama kali ia mendapatkannya.
Setelah mengeluarkan item ini, Theo memandangi logam surgawi dihadapannya dengan tatapan takjub untuk sementara waktu, sebelum akhirnya mulai kembali mengeluarkan bahan-bahan lainnya.
"Hmmm… Batu bara beku, lotus api, air seni kelelawar perak, kayu adam kelas menengah, besi abadi, dan terakhir tanah penghimpun Mana!" Kata Theo, memeriksa lagi bahan-bahan yang ia kumpulkan dari dalam Jurang Misterius sehari yang lalu. Memastikan untuk terakhir kalinya semua bahan pendukung telah benar-benar lengkap sebelum memulai proses penempaan.
Setelah selesai memastikan, Theo kemudian mulai mengeluarkan bahan-bahan utama lain yang ia miliki, selain Logam Surgawi yang ia keluarkan diawal tadi.
"Satu set tulang serta beberapa sisa tubuh Hydra, kurasa dengan bahan ini, akan cukup untuk membuatkan Arthur sarung tangan, sepatu pelindung, serta Armor tubuh!"
"Selanjutnya senjata serta Armor untuk kak Issabela dan juga kak Gregoric!" Kata Theo, kemudian mengeluarkan dua buah senjata serta armor usang, namun memiliki sedikit aura kuno yang memancar dari dalamnya.
"Hmmm… Senjata Busur serta Gada kelas A tingkat rendah, dan juga armor dengan kelas yang sama!"
"Perlengkapan ini terlihat tak sederhana! Jadi, sedikit polesan dan juga di campur dengan Logam Surgawi, kita lihat apakah aku bisa membuat senjata kelas S atau tidak!" Kata Theo, terlihat makin antusias.
Perlengkapan terakhir yang di keluarkan Theo adalah seperangkat oleh-oleh yang sebelumnya ia dapat, ketika hendak keluar pertama kali dari dalam Jurang Misterius, yang secara tak sengaja ia temukan di dalam peti mati milik dua orang makhluk kuno penjaga Jurang.
Dari awal, dia memang sudah berniat memberikan dua senjata itu pada Issabela dan juga Gregoric, namun karena belum memiliki banyak waktu untuk melakukan penempaan, ia menunda untuk memberikannya.
__ADS_1
Keputusan tersebut sedikit banyak saat ini malah disyukuri oleh Theo, karena dengan begitu, ia jadi memiliki kesempatan untuk memperbaikinya menggunakan campuran Logam Surgawi. Sehingga bisa mencoba untuk meningkatkan kelasnya dari kelas A menjadi kelas S.
Sementara untuk Armor, sebenarnya diawal hendak ia berikan pada ayah dan ibunya, namun menimbang situasi terkini, Theo merasa kedua kakaknya akan lebih membutuhkan.
"Master! Apa ada yang kurang?" Tanya Theo, memastikan untuk terakhir kalinya.
"Hmm… semua sudah lengkap! Sekarang tinggal prioritasmu saja! Ingin menempa yang mana terlebih dahulu!" Jawab Tiankong.
"Ohh… tentu saja yang ini dulu!" Jawab Theo. Ekpsresi wajahnya terlihat semakin antusias ketika memilih item pertama yang akan ditempanya. Yang tak lain adalah Busur Kuno.
Sejurus kemudian ia mengeluarkan Kristal Plant dari Bunga Udumbara Beku, yang sebelumnya ia sempatkan untuk ambil saat mengunjungi Issabela terakhir kali di akademi surga, ketika akan meninggalkan Ice Lotus City.
"Proses penempaan yang pertama ini harus berjalan dengan sukses! Agar aku bisa melebur Kristal Plant ini kedalam Busur!"
"Aku sudah tak sabar untuk melihat, akan menjadi senjata macam apa busur ini setelah semua proses penempaan selesai!" Kata Theo, dengan sorot mata penuh ketajaman.
Karena item pertama yang akan di tempa sudah di putuskan, tanpa menunda lagi, Theo akhirnya memulai proses penempaan.
*Klaangg….
*Klaanggg…
*Klangg….
*Bwuuusss…!!!
Suara semburan api panas dalam tungku, diiringi dengan benturan antar logam, mulai menggema di dalam aula penempaan.
***
(Satu minggu kemudian)
"Ini gawat! Kenapa tuan muda belum keluar juga!"
__ADS_1
Di luar aula penempaan, Jasia tampak sangat panik, beberapa kali ia terlihat ingin memasuki aula untuk menemui Theo. Namun langkahnya beberapa kali juga terhenti ketika mengingat kata-kata terakhir Theo sebelum ia memasuki aula penempaan.
Theo berpesan, agar tak ada seorangpun yang boleh masuk untuk mengganggunya selama proses penempaan berlangsung. Theo berkali-kali menekankan intruksinya tersebut, karena menurutnya, proses penempaan yang akan ia lakukan, memiliki peran penting dalam rencana besar yang telah ia susun.
Hal inilah yang membuat Jasia sangat dilematis, tak tahu harus berbuat seperti apa, dia tak ingin melanggar intruksi Theo. Namun, situasi yang terjadi saat ini juga sangatlah genting.
"Nona Jasia! Kalau boleh memberi saran! Lebih baik kau kembali dulu untuk membantu Housemu! Aku dan kelompok bandit akan menemanimu! Ikut membantu disana!"
"Sementara ketua Aurelas akan menunggu disini sampai tuan muda Theo keluar dari penempaan tertutupnya, agar bisa segera memberi kabar tentang kejadian ini!" Kata Arsegio, ketua Klan Asura.
"Hmm… apa yang dikatakan ketua Arsegio itu ada benarnya! Percuma juga kau tetap disini! Kehadiranmu di sana akan lebih dibutuhkan!"
"Aku berjanji akan segera menyusul bersama tuan mudamu begitu ia keluar dari aula penempaan!" Kata Aurelas, ketua Klan Agila.
Mendengar itu, Jasia yang dari tadi dalam kondisi panik, seperti mendapat angin segar, tanpa menunda ia segera menyetujui saran dari kedua ketua klan desa tersembunyi ini.
Bersama seluruh kelompok bandit, dan juga pejuang-pejuang terkuat dari Klan Asura, Jasia bergegas meninggalkan tempat.
Sementara Aurelas yang bertugas menunggu di tempat, kini tampak memandang pintu masuk aula penempaan dengan tatapan agak bergetar.
"Hmmm… bila dalam seminggu lagi dia masih tak keluar, aku akan masuk untuk memberitahunya!"
"Bagaimanapun juga, dia harus segera tahu, bahwa ombak besar yang sudah lama ingin ia sambut, kini telah mendatanginya terlebih dahulu!" Gumam Aurelas.
----
Note : Teman-teman, mohon bantuannya biar popularitas cepat naik menjadi 1 M dengan cara menyempatkan menekan tombol like dan memberi komentar di setiap chapternya.
Terserah deh mau komen seperti apa, misal kalian ketik satu huruf "A" saja, itu juga sudah termasuk komentar kok wkwkwkk.
Dan seperti biasa, ketika saya meminta bantuan sesuatu, pasti ada imbal baliknya, entah itu nanti crazy up, atau saya buka lagi satu Spin off sebagai chapter khusus ^^
Itu saja, TERIMA
__ADS_1