
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
*Kraaakk….!!!
*Tang…..!!!
Tombak Hella patah menjadi dua. Dengan patahnya tombak tersebut, suara riuh kembali terdengar dari arah tribun penonton.
"Wild Wolf…!!!"
"Wild Wolf….!!!"
"Wild Wolf….!!!"
Sorakan-sorakan liar berisi dukungan untuk Theo, menggema disegala penjuru tribun.
Sementara diatas Ring Arena Tongkat, saat ini Theo berdiri tepat dihadapan Hella yang masih memandang kosong kearah depan. Benar-benar tak menyangka, selain Theo berhasil menghancurkan teknik bertahan terkuatnya, ia juga mampu mematahkan senjata tombak kesayangan yang telah di wariskan secara turun temurun dari nenek moyangnya.
Dengan patahnya tombak Hella, ia yang diawal sangat percaya diri, ingin membuktikan bahwa semua kata-kata Theo sebelumnya, tentang kritik pada teknik tombak turun temurun milik House Asgard hanyalah omong kosong besar, saat ini justru seperti baru saja mendapat tamparan keras.
Benar-benar dibuat shock dan tak bisa berkata-kata. Berakhir dengan hanya termenung memandang kosong kearah wajah Theo, yang saat ini memancarkan tatapan mata penuh ketajaman sangat mempesona.
"Bagaimana? Masih tak percaya bahwa teknik tombak milikmu sebenarnya memiliki terlalu banyak celah?" Tanya Theo.
Mendengar pertanyaan Theo, Hella tak segera menjawab, masih menatapnya dengan tatapan kosong. Sampai kemudian, tatapan kosongnya berubah menjadi tatapan penuh kebencian, gadis ini mulai kembali menggertakkan gigi-giginya sambil memandang tajam kearah Tongkat Logam Baal di tangan Theo.
"Omong kosong! Semua tak ada hubungan dengan teknik tombakku! Itu hanya senjatamu saja yang merupakan pusaka kelas tinggi!" Dengus Hella.
__ADS_1
Setelah mengamati dengan teliti untuk beberapa saat, kini ia menyadari bahwa senjata Tongkat Logam yang sedang di genggam Theo, setidaknya adalah item kelas A.
"Gadis sombong yang tak tahu malu! Mencari alasan ketika sudah kalah! Benar-benar tindakan picik!"
Kata-kata Hella yang mengatakan bahwa Theo bisa menang hanya karena senjata di tangannya, segera di sambut oleh makian lantang Thomas dari arah tribun penonton.
"Itu benar! Hanya mencari alasan!"
"Kalah ya kalah! Terima saja nasibmu!"
"Tak tahu malu!"
"Dan kau menyebut dirimu adalah Knight?"
Seperti kejadin di Arena Tangan Kosong, makian keras yang dilontarkan Thomas, menginisiasi para penonton lain untuk ikut serta memberinya dukungan. Ikut memaki Hella dengan berbagai celaan.
"Senjata adalah bagian kekuatan dari seorang Knight! Menemukan senjata kuat yang cocok adalah garis takdir! Jadi kau tak bisa mengangkat masalah ini untuk mencari alasan serta pembelaan untuk kekalahanmu!" Bentak Thomas lagi. Sebuah bentakan yang lagi-lagi disambut dengan riuh oleh para penonton lainnya diatas tribun.
"Itu benar!"
"Apa yang dikatakan gendut yang ada disana 100% benar!"
"Dasar tak tahu malu!"
Mendengar makian dari para penonton lain di sekitar, Thomas yang merasa kembali sukses melakukan provokasi. Saat ini mulai memasang senyum licik.
"Boss…! Bunuh saja wanita itu sekarang juga!" Teriak Thomas.
"Itu benar! Wild Wolf! Bunuh dia!"
"Bunuh…!!!"
"Bunuh….!!!"
"Bunuh….!!!"
Atas inisiasi dan kata-kata provolasi Thomas, kini seluruh tribun arena mulai riuh sesak dengan teriakan -bunuh-, hampir seluruh penonton dengan kompak meneriakkan kata tersebut secara bersamaan.
__ADS_1
Hal ini segera membuat suasana Death Arena begitu mencekam. Hawa membunuh pekat dimana tercipta dari seruan ribuan penonton yang menginginkan pembunuhan, menyebar luas membekap seluruh Death Arena.
Pergantian suasana yang tiba-tiba terjadi ini, segera membuat empat Arena pertarungan lain ikut menjadi hening. Setiap orang kini memfokuskan perhatian kearah Arena Tongkat. Menunggu aksi selanjutnya yang akan dilakukan Theo.
"Wohooo…! Setelah peserta kuda hitam dari Arena Tangan Kosong bernama Razak memberi kita pertunjukan menarik, kini sepertinya hembusan arah angin pertempuran utama, bergeser pada Ring Arena Tongkat! Dimana sang Wild Wolf yang perkasa, sedang menatap tajam mangsanya!"
Saat para penonton masih menatap tajam kearah Theo, sambil meneriakkan kata -bunuh-, dari atas podium Death Arena, Carlos sang pemandu acara, kembali berteriak lantang, menabur kalimat bumbu penyedap untuk semakin mamanaskan situasi.
"Para hadirin sekalian! Sekarang saatnya kita menanti! Dengan cara seperti apa sang Wild Wolf yang perkasa ini akan memangsa lawannya!" Seru Carlos sekali lagi. Sebuah seruan yang membuat tribun penonton semakin riuh dengan berbagai teriakan antusias.
Disisi lain, saat para penonton tampak sangat riuh menanti aksi Theo selanjutnya. Theo yang kini menjadi pusat perhatian utama dalam Death Arena, tiba-tiba melakukan beberapa langkah mundur kebelakang. Meskipun masih tetap menatap tajam kearah Hella, Theo saat ini kembali memanggul Tongkat Logam Baal di pundaknya. Memasang sikap santai tanpa pertahanan.
"Sepertinya pelajaran yang baru saja kutunjukkan masih belum mampu menyentuh hatimu!" Ucap Theo.
"Sebagai sesama generasi muda, aku punya satu saran untukmu! Bila kau ingin berkembang lebih kuat! Maka singkirkan rasa congkak yang ada di otakmu!"
"Memiliki harga diri adalah hal yang bagus! Tapi itu adalah sebuah kebodohan bila dibutakan oleh harga diri!"
"Menolak mendengar kalimat nasehat meskipun sebenarnya tau itu benar, hanya karena yang menyampaikan adalah orang dengan status dan usia yang sama denganmu, benar-benar tindakan dan perilaku amatir!"
"Bila tetap seperti itu, kau selamanya akan terjebak di level yang sama! Sama sekali tak akan bisa berkembang!" Ucap Theo, menutup semua kalimatnya dengan tatapan tajam mempesona.
Kata-kata serta sorot mata penuh ketajaman Theo, seketika membuat Hella yang mendengarnya. Kini mulai merasakan suatu getaran aneh di salah satu sudut hatinya yang terdalam. Titik-titik kebencian yang sebelumnya terlihat nyata pada sorot matanya, kini mulai sirna.
Sementara Hella tampak mulai ragu, diatas podium Death Arena, Carlos sang pemandu acara, kini justru mulai memasang ekspresi wajah tak senang.
"Peserta Wolf! Berhenti mengatakan basa-basi tak penting! Aku sebagai pemandu acara sudah cukup antusias saat kau tadi mampu membawa suasana Death Arena menjadi begitu mencekam dengan semua aksimu! Suasana yang sudah lama tak menyelimuti Death Arena ini selama beberapa tahun terakhir!"
"Jadi, selesaikan saja wanita di hadapanmu dengan benar seperti keinginan para penonton! Jangan biarkan suasana bagus yang telah tercipta menjadi anti-klimaks!" Dengus Carlos, seraya mulai sedikit membocorkan aura Kegelapan pekat dari dalam tubuhnya. Berusaha memberi tekanan pada Theo.
Disisi lain, Theo yang tentu merasa mulai mendapat tekanan dari Carlos, bukannya tampak takut. Kini justru malah menatapnya balik dengan tatapan tajam. Aura Kegelapan pekat juga ikut keluar dari dalam tubuhnya. Menekan balik aura yang diarahkan Carlos padanya.
Carlos yang merasakan pemuda dengan kelas General tahap bumi berani mencoba menekan balik dirinya. Tentu menjadi murka, tanpa menahan, ia mengeluarkan seluruh auranya yang merupakan Knight dengan kelas King tahap awal. Mulai menyelimuti Arena Tongkat dengan Kegelapan pekat.
*Wungg…!!!
Aksi Carlos tersebut, dibalas Theo dengan mengaktifkan Eye of Agamoto di dahinya. Aura Kegelapan yang lebih liar, dimana campuran antara miliknya sendiri dengan milik Gusion sang Lord Iblis. Dengan segera menyebar luas keseluruh Arena, menghempaskan balik aura kegelapan Carlos, kemudian terus menyebar tanpa kendali, bukan hanya di Ring Arena Tangan kosong. Tapi seluruh Death Arena.
__ADS_1
"Cukup diam disana! Aku tak butuh ada orang lain mendikte apa yang harus kulakukan!" Gumam Theo dingin. Sambil menatap tajam kearah podium, tempat dimana Carlos berdiri, dengan tatapan mematikan.