Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
157 - Hadiah Pertunangan


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Ayah, aku menerimanya!" Kata Aria lirih, hampir tak terdengar.


"Aria, apa yang kau katakan nak?" Seru Lord Malforis, dengan ekspresi wajah tak percaya, begitu mendengar kata-kata Aria.


Berbeda dengan Lord Malforis yang tampak terkejut, Lucius yang ada disebelahnya, menunjukkan ekspresi biasa saja, sudah menduga adiknya ini akan menerima pertunangan yang ia sarankan.


Sambil masih memasang senyum liciknya, dia kemudian melihat kearah Theo.


"Ayah, adik sudah menerimanya! Jadi lebih baik sekarang kita membahas hal lain!" Kata Lucius.


"Lucius! Kau jangan main-main! Apa yang kau rencanakan kali ini!" Dengus Lord Malforis. Tampak masih tak terima.


Bila dalam kondisi normal, Lord Malforis tak akan pernah meragukan atau mempertanyakan apapun rencana putranya ini, karena dia tahu, Lucius adalah putra yang bisa diandalkan dan memiliki banyak ide brilian.


Namun, karena ini menyangkut Aria, Lord Malforis tidak bisa untuk tidak bersikap protektif, bagaimanapun dia adalah seorang ayah, seperti kebanyakan ayah pada umumnya, seorang anak gadis adalah permata yang harus di jaga, dia tak rela Aria di tunangkan secara sembarangan seperti ini.


"Ayah! Adik sudah setuju! Lalu apa lagi? Kau lihatlah, dia bahkan bersikap malu-malu seperti itu! Apa kau pernah melihatnya bersikap seperti itu sebelumnya?" Tanya Lucius.


"Kakakkk…!"


Mendengar kata-kata Lucius, muka Aria segera memerah, dia membentak kakaknya ini, namun hanya sebatas itu saja, tak mampu meneruskan kalimatnya. Ia tak tahu harus membantah seperti apa.


"Hahaha… kau lihat itu? Dia bahkan tak bisa membantahku kali ini!" Kata Lucius lagi kepada Lord Malforis, begitu melihat sikap canggung Aria.


Muka Aria semakin memerah begitu kakaknya mengatakan hal itu, namun kali ini dia tak membantah, hanya kembali mulai menunduk sangat dalam, memandang lantai di bawahnya. Terlalu malu untuk mengangkat wajah.

__ADS_1


"Ini…"


Lord Malforis sebenarnya juga melihat dan menyadari perubahan sikap tak biasa Aria, hanya saja ia tak mau mengakuinya. Namun kali ini, ia tak tahu lagi harus membantah seperti apa. Kata-katanya tercekat di tenggorokan.


"Aria, apa kau serius menerima pertunangan ini?" Dalam kebimbanganya, Lord Malforis akhirnya bertanya lagi, memastikan keputusan Aria.


"Ayah! Apa aku harus mengulang kata-kata ku? Apa kau ingin membuatku lebih malu lagi? Kau sungguh menyebalkan! Jangan membuatku marah padamu!" Bentak Aria. Begitu mendengar pertanyaan dari ayahnya.


Tapi meskipun membentak, gadis ini masih mempertahankan sikap menundukknya, terlalu malu untuk mengangkat wajah, dia tak bisa dan tak mau membayangkan bagaimana ekspresi Theo maupun Arthur saat ini.


"Hmmm… ayah, kau sudah mendengarnya sendiri bukan! Jadi berhenti membuat adik terus menerus salah tingkah!" Kata Lucius, sambil tersenyum penuh makna. Menatap adiknya dengan tatapan menggoda.


"Hahh… baiklah! Baiklah! Terserah saja! Jadi sekarang, hal penting apa yang katamu perlu dibahas tadi?" Dengus Lord Malforis. Walaupun kesal, akhirnya menyetujui pertunangan.


Mendengar pertanyaan ayahnya, senyum di wajah Lucius semakin melebar.


"Tentu saja itu tentang hadiah pertunangan!" Jawab Lucius.


"Hadiah pertunangan?"


"Yah ayah, apalagi? Hadiah pertunangan! Bukankah waktu melamar Issabela, kita telah memberi banyak hadiah pertunangan?"


"Ohohohoho…! Yang ini benar-benar tak terduga! Apa kau terfikir dia akan meminta ganti hadiah pertunangan?" Kata Tiankong. Kali ini memutuskan keluar dari gelang ruang-waktu, ingin melihat pertunjukan secara langsung.


"Bagaimanapun juga, harus kuakui, pemuda ini sangatlah pintar!" Lanjut Tiankong kemudian.


Mendengar kata-kata Masternya, Theo tak memberi jawaban untuk beberapa saat, dia terlihat berfikir sejenak, sebelum tampak menemukan sesuatu.


"Hehe… Master, apa kau pikir aku akan kekurangan Hadiah? Jangan lupa, ini adalah Era kekacauan!" Jawab Theo. Sambil mulai memasang senyum licik.


"Ohhh… Jadi kenapa kalau ini adalah era kekacauan? Apa kaitannya dengan masalah ini?" Tanya Tiankong.


"Tentu saja berkaitan!" Jawab Theo singkat, seraya kemudian mengeluarkan beberapa benda dari dalam Gelang Ruang-waktu.


Yang dikeluarkan Theo sendiri adalah 2 buah kotak tembaga. Dan begitu Tiankong melihat hal itu, wajah penuh harapnya untuk melihat suatu hal yang menarik, segera lenyap seketika. Ia sekarang tahu apa maksud Theo mengatakan bahwa dia tak kekurangan hadiah.


"Sialan! Tentu saja! Karena ini adalah era kekacauan yang masih terbelakang, semua hal remeh-temeh yang kau keluarkan, akan menjadi item ajaib! Bahkan bila itu hanya Spacial Ring ataupun Foundation Pill!" Dengus Tiankong, kini merasa kesal karena tak bisa melihat Theo kesusahan.

__ADS_1


"Hehehe…"


Theo hanya tertawa ringan mengejek Masternya sebentar, sebelum mulai mengabaikanya. Berganti melihat kearah Lord Malforis serta Lucius.


"Aku menawarkan dua jenis item ini sebagai hadiah pertunangan!" Kata Theo, singkat. Penuh percaya diri.


"Hmmm…?"


Melihat dua kotak tembaga yang di keluarkan Theo, Lord Malforis segera berdeham ringan, menandakan ia menginginkan penjelasan lebih detail.


Theo sendiri yang memahami gesture Lord Malforis tersebut, tanpa menunda lagi, membuka dua kotak tembaga yang ia keluarkan.


"Kotak pertama ini, berisi 10 item Spacial Ring yang kutempa sendiri!" Kata Theo, mulai menjelaskan.


"Spacial Ring?"


Mendengar kotak pertama hanya berisi Spacial Ring, Lord Malforis terlihat akan mendamprat Theo, namun sebelum ia melakukannya, Theo dengan cepat menjelaskan lebih detail.


"Yah, Spacial Ring! Tapi tolong jangan anggap remeh Spacial Ring buatanku ini!" Kata Theo, sejurus kemudian mengambil salah satu Spacial Ring, dan melemparnya kearah Lucius.


"Tuan muda coba pakai!" Kata Theo kemudian.


Lucius yang saat ini tampak tertarik, tanpa menunda segera memakai Spacial Ring tersebut. Dan begitu ia memakai cincin itu, ekspresi wajah santainya berubah seketika.


"Itu adalah Spacial Ring, yang disebut sebagai Holly Spacial Ring dalam lelang akbar Gaia Treasure, di Ice Lotus City beberapa hari lalu!"


"10 itemnya terjual dengan harga 3.000.000 Mutiara Mana Perunggu!"


"Dan tentu dengan semua kelebihannya, Spacial Ring buatanku ini harusnya bernilai lebih tinggi lagi!" Kata Theo memutup penjelasannya.


"Ayah! Spacial Ring ini selain memiliki kapasitas penyimpanan sangat luas, juga memiliki atribut cahaya yang terus mengalir dari dalamnya!" Kata Lucius, menjelaskan kelebihan dari Spacial Ring yang di maksud Theo tadi.


"Jadi, itu kau penempa muda berbakat yang di maksud pihak Gaia Treasure dalam pelelangan?" Kata Master Estro, tampak sangat terkejut.


Mendengar pertanyaan itu, Theo hanya menoleh sekilas, tak memberi jawaban. Dia kemudian dengan santai membuka kotak logam kedua.


Dan ketika Theo membuka kotak logam ini, Master Estro serta Aria yang kini bisa melihat isi serta mencium aroma obat yang ada di dalam kotak tersebut, segera memasang Ekspresi shock, tak percaya.

__ADS_1


"Kotak kedua berisi 100 Pill obat yang kuracik sendiri! Aku menyebutnya sebagai Foundation Pill!"


"Perwakilan dari House kalian, kalau tak salah, membeli 50 Foundation Pill ini dalam lelang akbar dengan harga 9.000.000 Mutiara Mana Perunggu!" Kata Theo, menutup penjelasannya dengan mantap. Sambil melirik serta memasang senyum tipis penuh makna kearah Aria dan Master Estro.


__ADS_2