Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
300 - Patung Emas


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Hei Thomas, bangun!" Ucap Razak, sambil menendang tubuh gendut Thomas beberapa kali.


"Urggg….!!! Apa yang terjadi?" Tanya Thomas, saat mulai membuka matanya.


"Aku juga tak tahu! Begitu bangun, aku sudah berada di tempat ini, sementara dirimu berada tepat di sampingku!" Jawab Thomas.


"Hmmm… Lalu Boss dan yang lainnya?" Tanya Thomas lagi, sambil mulai melihat sekeliling. Menyadari sekarang dirinya berada di suatu ruangan penuh dengan patung-patung aneh berwarna emas.


"Tak tahu! Hanya ada kau dan aku di ruangan ini!" Jawab Razak singkat.


"Sialan! Kita terpisah!" Dengus Thomas.


"Sebaiknya kita mulai bergerak! Patung-patung itu membuatku tak nyaman!" Ucap Thomas lagi. Pengalaman sebelumnya menghadapi Golem dan para Guardian di Menara Kuno, membuat ia menjadi sedikit trauma saat melihat deretan patung di sekitarnya.


"Ehh… Apa kau tak mau memeriksa patung-patung itu dulu? Sepertinya mereka terbuat dari emas." Tanya Razak dengan ekspresi polosnya yang khas.


"Emas?"


Mendengar kata emas dari mulut Razak, Thomas segera kembali menoleh kearah deretan patung. Kini ia tampak menunjukkan ekspresi mulai ragu, apakah harus memeriksa patung-patung tersebut jika benar-benar terbuat dari emas, ataukah harus segera meninggalkan tempat.


"Bahhh... Persetan! Harta adalah segalanya!" Ucap Thomas. Menekan rasa trauma dalam hatinya, dan segera membuat langkah lebar mendekati deretan patung. Rasa haus harta dari si Gendut ini, mengalahkan rasa trauma yang ada di dalam hatinya.


Disisi lain, Razak yang melihat Thomas mulai mendekati deretan patung, dengan cepat mulai mengejarnya. Ia sendiri juga begitu penasaran apakah benar patung-patung tersebut terbuat dari emas. Ataukah hanya warnanya saja. Razak yang merupakan mantan seorang budak, tentu punya rasa penasaran tertentu dengan hal-hal berbau harta yang selama ini jauh dari kehidupannya.


Tepat ketika Thomas sudah berada di hadapan salah satu patung, ia kemudian mulai mengetuk tubuh patung tersebut menggunakan kepalan tangannya. Dilanjutkan dengan menggigit salah satu jari patung.


"Tak salah lagi! Ini memang terbuat dari emas!" Seru Thomas antusias. Ia kemudian melanjutkan aksinya dengan mulai berusaha mencabut pedang yang tertancap di sarung senjata patung tersebut.

__ADS_1


Mendengar kata-kata Thomas, Razak yang masih polos, dengan cepat terbawa euforia dari ekspresi wajah antusias Thomas. Mengambil posisi di sebelah si Gendut, Razak berusaha menarik pedang di sarung senjata patung yang berada di sebelahnya.


"Hmmm… Benar-benar susah sekali!" Ucap Thomas saat usahanya dalam mencabut pedang tersebut tak membuahkan hasil.


"Tapi aku tak akan menyerah begitu saja! Bagaimana mungkin aku akan melewatkan tumpukan harta ketika sudah berada di hadapanku!" Ucap Thomas lagi. Seraya mulai berubah kedalam mode Meridian Knightnya.


Dalam bentuk manusia setengah Gajah gurun raksasa Thomas melanjutkan usahanya mencabut pedang. Aksi Thomas tersebut, segera diikuti oleh Razak, ia berubah kedalam mode Meridian Knight, mengalirkan Mana besi pada kedua tangan, dan kembali melanjutkan usaha menarik pedang emas.


Bocah ini tampak sedang memposisikan dirinya tengah berkompetisi dengan Thomas. Tak mau kalah untuk menjadi yang pertama berhasil mencabut pedang.


Namun, meskipun sudah dalam bentuk Meridian Knight, baik Thomas ataupun Razak, tetap tak mampu menarik pedang emas dari sarungnya. Sekuat apapun tarikan keduanya pada pedang tersebut, seperti ada tarikan kuat lain yang mengimbangi dari arah berlawanan, mencegah keduanya untuk bisa menarik pedang dari sarungnya.


"Bahhh…!!! Bocah! Ini tak akan ada hasilnya! Lebih baik kita coba bekerjasama!" Ucap Thomas, saat merasa usaha kerasnya sia-sia.


"Baik!" Jawab Razak singkat. Kemudian mulai ganti menaruh genggaman tangannya, pada pedang di patung yang sama dengan Thomas.


"Siap? Dalam hitungan ketiga!" Ucap Thomas.


"Satu!"


"Dua!"


Thomas dan Razak sudah akan mulai menarik gagang pedang secara bersamaan, sampai kemudian seringai lebar tiba-tiba muncul menghiasi patung yang berdiri di hadapannya. Diiringi dengan patung tersebut kini menundukkan kepala, mendekatkan wajahnya pada wajah Thomas dan Razak.


Melihat hal tersebut, terlebih melihat seringai lebar yang terpasang di wajah patung dihadapannya. Thomas dan Razak yang benar-benar di buat sangat kaget dengan pergerakan tiba-tiba sang patung. Dengan cepat melakukan lompatan mundur kebelakang.


"Sialan! Aku bisa mati terkena serangan jantung!" Bentak Thomas.


Bersamaan dengan bentakan Thomas, puluhan patung lain yang berjejer mengelilingi dinding ruangan, kini juga mulai menampilkan perubahan ekspresi pada wajahnya masing-masing.


Beberapa menyeringai lebar seperti patung sebelumnya, beberapa yang lain memasang ekspresi wajah bersedih. Dan beberapa sisanya menampilkan ekspresi wajah marah.


"Apakah kita secara tak sengaja telah mengaktifkan mekanisme formasi jebakan?" Tanya Razak. Saat puluhan patung kini mulai mengambil satu langkah kedepan.


"Tidak mungkin! Kita bahkan tak mampu mencabut pedang emas tersebut seincipun keluar dari sarungnya!" Jawab Thomas.


"Sudah jelas patung-patung ini dari awal memiliki kemampuan untuk bergerak! Itu seperti mereka sedang mempermainkan kita! Hanya mengawasi semua apa yang kita lakukan dan terakhir memberi kejutan menyebalkan!" Dengus Thomas. Sebelum mulai melihat sekeliling.


"Pasti ada seseorang di dalam istana ini yang sedang mengendalikan patung-patung ini!" Ucap Thomas. Menutup semua analisanya.

__ADS_1


Pengetahuan tentang tempat-tempat misterius dari kesenangan Thomas membaca buku dan catatan kuno, memberinya sudut pandang bagus dalam menyimpulkan semua kejadian yang saat ini sedang ia hadapi.


"Wohoho….!!! Ternyata Kita memiliki seorang yang cukup berpengetahuan luas dan memahami tentang reruntuhan kuno disini!"


"Sementara di tempat lain, kita memiliki pemuda yang tampak sangat ahli dalam hal formasi!"


"Sepertinya kali ini aku menangkap beberapa ikan besar yang cukup nikmat!"


Tepat ketika Thomas menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara aneh melengking yang menggema memekakkan telinga, terdengar nyaring di seluruh ruangan.


"Siapa?" Bentak Thomas, sambil berusaha menutupi telinganya, tampak benar-benar terganggu dengan suara melengking nyaring yang baru saja menggema.


"Hmmmm… Tak perlu tahu tentang identitasku untuk saat ini! Karena kau sudah berhasil menebak tentang keberadaanku, maka kita mulai saja permainannya!" Ucap suara nyaring sekali lagi.


"Permainan?" Gumam Razak penasaran. Sambil memasang ekspresi wajah polos.


"Benar! Permainan!" Jawab suara misterius, begitu mendengar gumaman pelan Razak, sebelum kini menyadari bahwa pada sekitar tubuh bocah yang baru saja berbicara, kumpulan Mana Besi sedang menari-nari ringan mengelilinginya.


"Ehh…!!! Seorang bocah yang di cintai oleh Mana Besi! Benar-benar tak kusangka, masih ada keturunan suku Osiris yang bertahan hidup! Ini akan membuat semuanya menjadi semakin menarik! Wohohoho….!!!!"


Suara melengking yang memekakkan telinga kembali terdengar nyaring. Sampai kemudian puluhan patung emas, kini mulai kembali melakukan langkah maju kedepan diiringi dengan menarik senjatanya masing-masing.


Patung dengan seringai lebar memiliki senjata pedang emas, sementara patung dengan ekspresi wajah sedih menarik tombak raksasa emas dari balik punggungnya. Dan terakhir, patung dengan ekpsresi wajah marah, menaikkan sebuah tameng raksasa berujung lancip yang dari dipegangnya dengan dua tangan.


"Baiklah! Permainan tahap pertama kelompok satu! Gempuran patung emas dengan tiga wajah, dimulai!"


Teriak suara melengking misterius sekali lagi, teriakan tersebut, seperti menjadi tanda agar puluhan patung emas menerjang maju kedepan secara serentak. Mebebankan diri mereka masing-masing kearah Thomas dan Razak berdiri.


"Sialan!" Ucap Thomas kemudian segera mengeluarkan senjata Gada raksasa miliknya.


Sementara Razak, kini mulai memasang ekspresi wajah sengit. Mengalirkan aliran Mana Besi di sekitar dengan intens pada kedua tinjunya.


"Wohoho…!!! Mari lihat, berapa lama kalian bisa bertahan!"


---


Note :


Yuk yang belum saling follow di ig, jika berkenan, silahkan follow akun SDC ^^

__ADS_1



__ADS_2