
Curhat Penulis :
Sudah bikin event Spin off, Bintang penilaian malah turun :(
Kawan-kawan, kalau memang ada penurunan kualitas dari karya penulis, selain menurunkan bintang penilaian, tolong tinggalkan kritik dan saran juga di kolom komentar, setidaknya penulis bisa intropeksi dan memperbaiki karya penulis lagi kedepannya.
Sekali lagi, penulis terbuka dengan kritik dan saran, karena menurut penulis, itu merupakan bentuk perhatian kawan-kawan semua kepada karya penulis.
Sekian curhatan saya hari ini. Selamat menikmati chapter terbaru. ^^
--------
"Immortal Bumi?" Aria melepaskan pelukannya dengan segera ketika mendengar Theo mengucapkan telah menerobos ke kelas Immortal, belum lagi, sudah dalam tingkat Immortal Bumi.
Dia mulai mencoba merasakan aura Theo, dan ketika memastikan apa yang di katakan Theo adalah benar, ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat aneh. Dia kemudian menatap Theo dengan tatapan ngeri.
"Bakat yang sungguh mengerikan." Gumam Aria pelan.
Sementara kedua ketua yang juga mendengar kata-kata Theo, memiliki ekspresi yang hampir sama dengan Aria, namun karena kondisi mental keduanya lebih baik dari pada gadis tersebut. Keterkejutan mereka hanya berlangsung beberapa saat.
"Selamat tuan muda, telah menerobos ke kelas Immortal. Ini adalah tahapan penting dalam perjalanan panjang anda sebagai seorang Knight." Ketua Aurelas memberi selamat kepada Theo, senyum ramah menghiasi wajahnya.
"Anda sungguh bakat muda yang luar biasa, aku yakin, masa depan anda akan benar-benar cerah." Ketua Arsegio ikut menanggapi.
Mendengar pujian itu, Theo memasang senyum ramah yang sederhana.
"Kedua ketua, tak perlu terlalu memuji. Sudah kubilang, kita terikat oleh takdir. Mungkin suatu saat, junior rendahan ini yang akan memerlukan bantuan kalian." Jawab Theo.
Kini giliran kedua ketua yang tersenyum hangat kepada Theo melihat sikap rendah hatinya. Menurut keduanya, Theo selain sangat berbakat, juga memiliki kondisi mental yang luar biasa, jauh diatas anak muda seusianya.
"Tuan muda, merupakan berkah bagi desa kami mampu menjalin hubungan baik dengan generasi muda penuh potensi sepertimu!" Jawab ketua Arsegio.
Mendengar kata-kata itu, Theo tak memberi jawaban, dia hanya kembali memasang senyum hangat sederhana.
**
(Malam Harinya)
__ADS_1
Saat ini, pesta besar diadakan di dalam desa tersembunyi. Api unggun raksasa menyala dengan terang di tengah tempat yang terlihat seperti alun-alun desa.
Setiap orang, tua dan muda, menari riang mengelilingi api unggun. Deretan makanan yang terdiri dari buah-buahan dan daging panggang berbagai Spirit Beast, ditata rapi pada meja yang memanjang.
Di tengah tempat pesta, Theo dan Aria duduk bersama kedua kepala Klan. Mereka merupakan pusat dari pesta ini.
Ketika pesta tengah berjalan dalam kondisi paling meriah, ketua Aurelas tiba-tiba berdiri dan memberi tanda kepada semua orang untuk berhenti berpesta sejenak.
"Semua anggota desa ku yang tercinta, baik itu dari klan Arsega ataupun klan Asura. Aku dan ketua Arsegio ingin menyampaikan pengumuman penting." Kata ketua Aurelas.
Ketika ketua Aurelas mulai berbicara, setiap anggota desa segera memusatkan perhatiannya kepada sang kepala klan, tak ada satupun dari mereka yang berbicara. Hal ini menimbulkan suasana hening yang terjadi seketika.
Ketua Arsegio yang duduk di sebelah ketua Aurelas kini ikut berdiri. "Seperti kalian tahu, beberapa waktu yang lalu, kutukan yang telah menjerat desa kita selama ribuan tahun, berhasil di hapus."
"Tentu kalian sudah mendengar desas-desus yang menyebar diantara penduduk desa kita, tentang datangnya pemuda dalam ramalan seribu tahun yang lalu."
"Dan saat ini, aku ingin menyampaikan bahwa hal itu bukanlah rumor, pemuda disampingku adalah orang yang selama ini kita tunggu dalam ramalan kuno."
"Orang ini lah yang telah menghapus kutukan desa kita!" Kata ketua Arsegio menutup kalimatnya dengan menggebu-nggebu dan sangat keras. Sehingga tak ada satupun anggota desa tersembunyi yang hadir tidak mendengarnya.
"Dalam kesempatan kali ini, kami juga ingin mengumumkan sesuatu yang sangat penting." Kini giliran ketua Aurelas melanjutkan pidato.
Ketika sampai pada pengumuman ini, penduduk desa segera menjadi riuh, sebagian besar sangat bersemangat dan setuju dengan gelar yang di berikan kepada Theo, namun ada beberapa kelompok kecil yang menyuarakan ketidakpuasan dengan keputusan ini.
"Tunggu duluuu…!!!!" Salah satu pemuda dari kelompok yang tidak puas segera angkat bicara.
"Hmmmm... Armadilo apa yang ingin kau katakan?" Kata ketua Arsegio kepada pemuda suku nya yang tampak ingin berbicara.
"Hmmmmm…. Aku mewakili generasi muda Klan Asura tak bisa menerima pemberian gelar ini!" Kata pemuda bernama Armadilo tersebut.
"Yahhh, aku juga tak sepakat." Pemuda lain dari sudut yang berbeda ikut angkat bicara.
"Aurega, apa yang kau katakan?" Kini giliran ketua Aurelas yang angkat bicara.
"Apa lagi? Aku mewakili generasi muda dari Klan Agila juga tak sepakat dengan pemberian gelar ini." Kata pemuda bernama Aurega lantang.
Kedua pemuda ini adalah keturunan langsung yang dekat dengan ketua Klan, Armadilo adalah keponakan tertua dari ketua Arsegio, sedangkan Aurega adalah anak semata wayang ketua Aurelas.
__ADS_1
Mereka berdua adalah bakat muda paling bersinar dari kedua Klan yang ada di desa tersembunyi. Telah lama mereka mengincar gelar Pejuang Agung desa untuk diri mereka sendiri. Melihat Theo yang merupakan orang asing tiba-tiba datang dan menyambar gelar tersebut. Mereka menjadi tidak terima.
Gelar Pejuang Agung sendiri adalah gelar tertinggi dalam kasta desa tersembunyi, kedudukan orang yang memiliki gelar ini setara dengan ketua Klan. Setiap generasi muda akan bersaing untuk mendapatkannya. Gelar ini adalah prestise tertinggi yang di damba-dambakan oleh setiap pejuang muda desa tersembunyi.
Di pengaruhi jiwa muda yang meletup-letup, kini kedua pemuda ini menentang pemberian gelar. Mengacuhkan fakta bahwa Theo adalah pemuda dalam ramalan kuno yang telah membebaskan desa mereka dari kutukan seribu tahun.
"Lancanggg….!!! Kalian berani menentang keputusan ketua Klan?" Bentak ketua Arsegio, terlihat sangat marah.
"Hmmm, selama ini, siapapun yang dipilih sebagai Pejuang Agung adalah pemuda paling berbakat di desa kita, pemuda terkuat!" Bentak Armadilo lantang.
"Yahh itu benar! Kalau memang dia harus menerima gelar tersebut, dia harus menunjukkan bahwa dia layak!" Kali ini Aurega yang berteriak lantang.
"Baik, jadi apa yang kalian inginkan?" Bentak ketua Aurelas, mulai tak tahan dengan bocah-bocah nakal desanya.
"Kami ingin melakukan tradisi tantangan, aku menantang pemuda itu untuk bertarung!"
"Sungguh lancang…!!! Dia adalah pahlawan desa, beraninya dua orang rendahan seperti kalian memanfaatkan tradisi untuk melakukan tantangan. Kalian tidak layak!"
*Braaakkkkk.....
Kali ini Ketua Arsegio tak mampu menahan amarahnya. Dia memukul meja di hadapannya dengan keras hingga hancur berantakan. Merasa sangat tidak enak hati dengan Theo. Suasana seketika menjadi hening lagi, tak ada satupun yang berani berbicara.
Namun ketika ketua Arsegio terlihat akan kembali berbicara. Theo yang berada di sampingnya berdiri dari duduknya. Dia memegang pundak ketua Arsegio.
"Ketua Arsegio, tenangkan dirimu." Kata Theo.
"Tapi tuan muda, kedua bocah ini…."
"Aku menerima tantangan mereka." Kata Theo, dengan senyum ramah. Memotong kata-kata ketua Arsegio.
"Tuan muda…" Kini giliran ketua Aurelas yang tampak khawatir.
"Kedua senior yang terhormat, aku juga merupakan seorang pemuda, jadi aku memahami apa yang mereka rasakan. Dan aku juga tau cara tercepat untuk menyelesaikan masalah ini."
"Itu adalah dengan pertarungan!" Kata Theo dengan ekspresi tegas namun tak sombong.
Melihat keyakinan di mata Theo, kedua ketua klan akhirnya hanya bisa mengikuti keinginannya. Dan setelah mendapat reaksi sepakat mereka. Theo mulai menatap kedua pemuda yang menantangnya.
__ADS_1
"Jadi, diantara kalian, siapa dulu yang akan maju? Atau kalian berdua bersamaan juga tak masalah!" Kata Theo, senyum menyeringai seperti penjahat jalanan mulai menghiasi wajahnya.