Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Buah Setan


__ADS_3

Theo sudah berhenti menghitung berapa kali dia melompat keluar dan masuk dalam distorsi ruang.


Dihadapan Theo kali ini, ada ratusan mayat spirit beast berbentuk semut berukuran besar. Berserakan di mana-mana.


"Hahhh…hahhhh…hahhh..!!"


"Akhirnya selesai.."


Theo yang berada di tengah tumpukan mayat semut-semut tersebut bernafas terengah-engah sambil mengusap keringat didahinya.


Sebelumnya, ketika melompat untuk terakhir kali, dia memasuki ruangan gua yang berbentuk seperti sarang semut ini. Sesaat setelah dia mendarat, dia langsung disambut oleh ratusan semut berukuran besar, mereka menyerangnya bersamaan.


Semut-semut tersebut tidaklah terlalu kuat, Theo bisa melihat tingkat mereka hanya Normal beast kelas D puncak. Kelas dan tingkatan mereka sama dengan budidaya Theo, seharusnya dengan kelebihan kualitas serta jumlah mana dari Element Seed tipe Netral yang dimiliki Theo, tidaklah sulit mengalahkan semut-semut ini.


Element Seed tipe Netral milik Theo memang mempunyai kesulitan yang sangat tinggi untuk di budidayakan. Membutuhkan jumlah sumber daya yang sangat besar untuk merawatnya, hal ini tak terpelas dari enam cabang yang dimiliki oleh Element Seed jenis ini. Theo harus merawat keenamnya sekaligus secara bersamaan.


Namun kesulitan ini berbanding lurus dengan manfaatnya, karena memiliki enam cabang, serta kualitas yang lebih baik dari cabang-cabang Element Seed jenis normal lainnya, keenam cabang ini mampu menyimpan lebih banyak mana dan mengelola mana menjadi lebih berkualitas.


Hal ini membuat Theo tak akan terkalahkan ketika harus melawan Knight atau Spirit Beast pada kelas yang sama dengan nya, dan juga memungkinkannya untuk bisa melawan yang memiliki kelas lebih tinggi beberapa tingkat darinya.


Theo bahkan bisa mengalahkan kadal sebelumnya yang merupakan special beast kelas C tahap pertengahan tanpa kesulitan.


Namun, karena jumlah semut-semut ini terlalu banyak, mereka masih sedikit merepotkan bagi Theo.


"Kita sudah dekat! aku bisa merasakan aura buah setan memancar sangat kuat disekitar sini."


Ketika Theo masih mencoba mengatur nafas, dan sedang mengumpulkan kristal beast dari mayat-mayat semut disekitarnya, suara masternya terdengar tak jauh dari tempatnya berada.


Dia segera menoleh dan melihat kearah masternya.


Sudut-sudut mata Theo segera berkedut ketika melihat masternya dalam posisi tiduran santai, seperti sedang berada di padang rumput musim semi yang sejuk.


"Master…!!! meskipun kau tak ada niatan membantuku sama sekali, bisakah kau bersikap normal sedikit? Sikapmu sungguh menyebalkan..!!!"


Theo sangat kesal melihat tingkah laku masternya ini, dari tadi ketika dalam kondisi seberbahaya apapun, dia selalu bersikap sangat santai.


Bahkan sebelumnya, beberapa kali sang master terlihat berjalan berkeliling sarang spirit beast untuk melihat-lihat dengan penasaran, seolah dia adalah seorang turis yang sedang berkunjung ketempat wisata.


Sementara di waktu yang sama, Theo harus bertarung mati-matian dengan spirit beast yang menjaga ruang tersebut. Theo sudah merasa sangat kesal sejak saat itu.


Namun kali ini, ketika melihat posisi tiduran santai masternya, dia tak bisa lagi untuk menahan rasa kesalnya.


"Kau ini kenapa terus-terusan mengomel tak jelas? santai lah sedikit! kau semakin lama terlihat seperti gadis muda yang tengah puber."


"Kemana perginya mental 300 tahun tadi?" jawab masternya dengan muka tak peduli. Masih tetap tiduran tanpa menoleh kearah Theo.


"Masterr…..!!!!"


Ketika masternya mengatakan itu, Theo yang akan menghujat tiba-tiba teringat kakak perempuannya Issabela. Sekarang dia tahu apa yang selama ini di rasakan oleh kakaknya ketika dia secara sengaja atau tak sengaja membuatnya kesal.


"Hahhhh…apakah ini yang namanya karma?" Theo mendengus sambil menghela nafas, mencoba menenangkan diri.


Kini dia semakin merindukan kakak perempuannya tersebut, dia tak bisa membayangkan bagaimana khawatir kakaknya ketika melihat Theo jatuh kedalam jurang. Juga bagaimana reaksi ayah dan ibunya? dia menjadi semakin ingin untuk keluar dari jurang ini, segera bertemu dengan keluarganya agar mereka bisa tahu bahwa dia baik-baik saja.


"Master, kau bilang kita sudah dekat, jadi arah mana yang harus aku ambil?" Tanya Theo setelah selesai mengumpulkan semua kristal beast dari koloni semut.


"Kau lihat dinding batu di sebelah sana? Hancurkan saja dinding tersebut!" kata Tiankong sambil menunjuk ke suatu arah, masih tetap tiduran santai.


Mencoba mengacuhkan sikap menyebalkan masternya, Theo menuju dinding batu yang di maksud.


Dia segera menggunakan teknik Iron fist, untuk menghancurkan dinding batu tersebut.


Ruangan bergetar sesaat diiringi dengan terbukanya sebuah lubang yang lumayan besar pada dinding batu.


Theo melangkah memasuki lubang tersebut untuk keluar dari sarang semut. Ketika telah keluar dari sarang semut, dia bisa melihat lingkungan yang tak asing olehnya.


Ini adalah lingkungan awal ketika dia melakukan penjelajahan di dasar jurang untuk pertama kali beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


Setelah melihat sekeliling, Theo sekarang baru sadar bahwa cahaya penerangan yang dia dapatkan dari tadi ternyata berasal dari buah bercahaya yang sudah beberapa tahun tidak ia lihat. Sebelumnya, dia terlalu sibuk melawan koloni semut raksasa dan berdebat dengan masternya sehingga tak menyadari keberadaan buah-buah bercahaya tersebut.


"Ahhhh, jadi itulah kenapa aku merasa semut-semut sebelumnya terlihat tak asing." gumam Theo.


Ketika bertarung dengan semut-semut raksasa, Theo sebenarnya samar-samar merasa pernah melihat semut-semut tersebut. Karena memang semut-semut tersebut ternyata merupakan salah satu spirit Beast berbentuk serangga yang pernah Theo lihat ketika pertama kali melakukan penjelajahan di jurang misterius ini.


*


Setelah sampai dilokasi yang ia pahami medannya, perjalanan berjalan lebih lancar.


Tak butuh waktu lama bagi Theo untuk sampai di tempat pertama kali dia jatuh. Kini dia bisa melihat lagi di hadapannya dua ruang tak kasat mata yang memiliki dua sisi gravitasi saling berlawanan.


Kunang-kunang seukuran telapak tangan masih bergerak bergerombol mengelilingi buah-buah bercahaya. Karena perasaan nostalgia, Theo memandang kumpulan kunang-kunang tersebut dengan tatapan lembut, senyum muncul di wajahnya. Dia baru menyadari pemandangan ini entah kenapa terasa sangat indah.


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri? Apa kau sudah agak gila?"


Suara masternya membangunkan lamunan Theo.


"Bukankah kau bisa membaca pikiranku? Kenapa kau tak mencari tahu sendiri?" Kata Theo ketus, dia masih merasa kesal dengan sikap masternya sebelum ini.


"Bukankah kubilang bahwa aku cuma bisa membaca pikiranmmu, kapan aku pernah bilang bisa membaca perasaanmu? Pikiran dan perasaan itu berbeda, dasar Idiot..!!" Kata Tiankong sambil lalu, kemudian melayang mendekat kearah dua ruang tak kasat mata.


"Hahhhhhh…..!" Theo segera mendengus kesal.


Kenapa masternya ini begitu menyebalkan, baru saja dia bisa merasa sedikit nyaman dengan perasaan nostalgia yang dia rasakan. Namun hanya dengan beberapa kata dari masternya, dia sudah merasa kesal lagi.


"Aku akan cepat mati karena stres bila terus-terusan begini!" kata Theo.


Tiankong yang mendengar kata-kata itu segera menjawab. "Tenang saja, sebelum aku melihatmu mencapai puncak tertinggi, aku tak akan membiarkanmu mati. Bahkan bila kau menginginkan untuk mati!"


Theo yang mendengar kata-kata tersebut bukan merasa terharu, malah merasa ngeri di hatinya. 'kenapa itu terdengar seperti kata-kata seorang Psikopat?' gumamnya.


"Apa katamu??" Tiankong bertanya tanpa menoleh kearah Theo. Dia masih mengamati ruangan tak kasat mata di depannya.


"Hehehe, bukan apa-apa, bukan apa-apa master."


Namun tidak seperti perkiraan Theo, Masternya tidak memukulnya, bahkan tidak berbalik kearahnya, ia masih mengamati ruang tak kasat mata di hadapannya dengan serius.


Setelah beberapa saat, masternya menoleh kebelakang dan menuju kearah Theo.


Theo mundur beberapa langkah, segera bersikap waspada.


"Aku sudah memastikan, ruang tak kasat mata di depan bukanlah sisa-sisa dari kekuatan pengguna buah setan seperti perkiraanku sebelumnya."


Masternya mulai memberi penjelasan, tidak seperti dugaan Theo yang menyangka akan memukul dirinya.


"Laluu??" Theo yang merasa lega segera bertanya untuk memberi tanggapan.


"Melihat intensitas tekanan auranya, Ini bukan ruang distorsi yang tercipta dari sisa-sisa pengguna, namun ruang yang memang secara alami terbentuk dari buah setan yang tumbuh dan belum di petik " jawab Tiankong.


"Jadi, bisa di katakan kau sungguh beruntung bocah!" Tiankong mulai tersenyum licik lagi.


"Apa lagi maksud senyuman licik itu??" Theo yang merasa perasaannya tidak enak segera bertanya.


"Apalagi? Masih perlu bertanya? Sekarang kau masuk kedalam sana untuk mencari dan memetiknya! kau harus mendapatkan kekuatan buah setan tersebut!" Jawab Tiankong.


Wajah Theo menjadi buruk, dia melihat ke ruang tak kasat mata di hadapannya yang terus mengeluarkan aura aneh. Masternya ini terus menerus membuatnya melakukan hal-hal berbahaya. Dia jadi mempertanyakan, apakah benar masternya ingin melihat dia mencapai puncak dunia? atau hanya ingin mengerjainya sampai mati?


"Sudah! jangan memikirkan yang aneh-aneh, masuk saja! aku akan menemanimu dan memberi arahan."


"Apa tak ada peringatan terakhir?"


Theo tak ingin kejadian terakhir dengan kadal terulang lagi, jadi dia bertanya sebelum masuk ke ruang tak kasat mata.


"Hahhahaha…. kau ini, tak bisa diajak bercanda sedikitpun!" Tiankong mulai tertawa lagi melihat sikap waspada muridnya.


Theo segera menjadi kesal. "Bukan begitu cara bercanda master..!!!"

__ADS_1


"Hahhahaa, sudah, sudahh, tak ada peringatan, masuk saja sekarang..!"


Meskipun masih merasa ada yang tidak beres, Theo hanya bisa menuruti intruksi masternya.


Dia melompat maju memasuki ruang tak kasat mata yang memiliki nol gravitasi.


**


Boooommmm…!


Booooommmm…!


Booommmmm...!


Suara rentetan ledakan terdengar.


"Sialaannnn, sialaannnnn…!!!"


Theo terlihat melayang terbang dengan cepat diudara. Dibelakangnya, ada kumpulan siput yang melayang dengan cepat bergerak mengejarnya. Siput-siput ini terus menerus menembakkan bola api dari cangkangnya yang terlihat aneh.


"Hahhahaa.... pemandangan yang menarik! seorang manusia di kejar-kejar oleh sekelompok siput..!!!" Tiankong tertawa terbahak-bahak di sebelah Theo.


"Diammmm…..!!!" Theo berteriak kesal.


Seperti yang sudah dia duga sebelum memasuki ruang tak kasat mata ini, dia sudah merasakan perasaan yang tak enak ketika melihat senyuman licik masternya.


Ketika memasuki area bagian dalam ruang tak kasat mata tanpa gravitasi ini, berbagai spirit Beast aneh terus menerus dengan liar menyerang Theo. Tak seperti Spirit beast jinak yang ada di bagian luar, semakin masuk kedalam, semakin liar spirit beast yang dia temui.


Sementara Theo masih belum terbiasa bergerak di ruang tanpa gravitasi ini, kelompok spirit Beast yang tinggal di dalamnya sudah sangat terbiasa dan bergerak dengan berbagai manuver aneh memanfaatkan keadaan nol gravitasi.


Bahkan siput-siput yang biasanya memiliki gerakan sangat lambat, bisa dengan lihai bermanuver dan dengan cepat terbang mengejar Theo seperti saat ini.


Sebelumnya, ketika pertama kali bertempur dengan kumpulan siput ini. Theo sudah berusaha menyerang mereka berkali-kali, namun siput-siput ini memiliki gerakan manuver aneh.


Memanfaatkan medan nol gravitasi, mereka bisa dengan lihai menghindari setiap serangan Theo. Mampu memprediksi arah datangnya serangan sebelum mengenai mereka, gerakan-garakan mereka aneh, namun efisien.


Theo yang terus-menerus mendapati dirinya terperangkap lengah dan terkena serangan bola api berkali-kali tanpa bisa mendaratkan satu pun pukulan balasan, akhirnya hanya bisa lari dengan frustasi. Berakhir dengan posisi dikejar-kejar puluhan ekor siput.


**


Theo masih berusaha lari melepaskan diri dari kumpulan siput yang mengejarnya ketika tiba-tiba bisa merasakan tekanan yang sangat kuat tak jauh di depannya.


Merasakan tekanan kuat tersebut, dia segera menghentikan gerakan terbang melayangnya. Sementara dibelakangnya, siput-siput yang juga merasakan tekanan tersebut terlihat berhenti mengejar. Takut untuk bergerak lebih jauh lagi.


Ternyata saat ini Theo telah berada di ujung dari ruang tak kasat mata, berbatasan langsung dengan ruang tak kasat mata lain yang terus mengeluarkan tekanan tarikan gravitasi kuat.


"Selamat.!! larimu sangat cepat! kau memenangkan balapan lari melawan sekelompok siput! hahhaha...!!" suara sarkastik masternya terdengar disamping Theo diiringi kemudian dengan suara tawa lantang.


"Haha.. lucu sekali!!!" Theo tertawa singkat menanggapi lelucon tersebut, yang menurutnya sama sekali tak lucu.


"Sekarang apa lagi?" Tanyanya lagi singkat, dia mulai kebal dengan sikap menyebalkan masternya.


"Hmmm lihatlah diujung sana, kau hanya harus memetik buah itu dan semua efek ruang tak terlihat ini akan segera hilang." jawab Tiankong sambil menunjuk ke suatu arah.


Theo yang masih melayang di udara segera melihat kearah yang ditunjuk masternya, di dalam ruang tak kasat mata bagian lainnya, yang memiliki tekanan tarikan gravitasi kuat. Theo bisa melihat satu Buah berbentuk aneh berwarna putih yang menempel di dinding jurang. Seperti tak terpengaruh oleh daya tarik gravitasi yang kuat, Buah itu menempel di dinding jurang dengan beberapa untai daun dan akarnya.


"Bagaimana caraku memetiknya?"


Melihat Buah tersebut berada di ruang yang memiliki tekanan gravitasi kuat, Theo bingung bagaimana harus memetiknya. Dia merasa akan mati tak bisa bergerak tertekan tarikan gravitasi yang kuat ketika selangkah saja memasuki ruangan tersebut.


"Bahkan Raging Ape, seekor Ancient Beast kelas A tak mampu bertahan hidup karena tekanan kuat gravitasi tersebut!" kata Theo melanjutkan untuk menjelaskan kepada masternya.


"Kau terlalu memikirkannya, bukankah dari ceritamu dulu, kau bilang Raging Ape itu jatuh dari atas jurang bersamamu? Tentu ketinggian jatuh tersebut juga berpengaruh penting bagi matinya Raging Ape tersebut. Daya tarik gravitasi cuma faktor tambahan saja." Tiankong memberi pendapatnya.


"Sekarang masuk saja kesana! anggap ini bagian dari latihanmu, sudah kubilang kekuatan tak datang dengan sendirinya, kau harus berani mengambil resiko untuk mendapatkannya! dapatkan buah itu sekarang!!" Tiankong menutup penjelasannya dengan santai.


Theo hanya bisa mendengus kesal, tak berani membantah intruksi masternya.

__ADS_1


Setelah mengumpulkan tekad beberapa saat, dia akhirnya memberanikan diri melangkah masuk ke ruang tak kasat mata di sisi lain.


__ADS_2