Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Kelompok Bandit Lebah Hitam


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Hahahhaha.. kelihatannya hari ini kita akan panen besar!" Kata seorang pria berbadan kekar dengan wajah penuh bekas luka.


"Kakak… instingmu benar-benar tajam, bagaimana kau bisa tahu rombongan ini akan berkemah di sini?" Tanya seorang pria lain, yang juga memiliki badan kekar disamping pria sebelumnya.


"Hmmm…. Lupakan bagaimana kakak pertama mengetahuinya, yang jelas gadis itu milikku!" Seorang pria dengan badan kurus ikut berbicara, pandangannya liar menatap kearah Aria.


"Dasar pria cabul, tak bisa sedikit saja melihat gadis cantik!" Kali ini seorang wanita dengan lekuk tubuh sangat indah, ikut berbicara.


"Ohh... tapi ngomong-ngomong, pemuda berambut putih yang ada disana, terlihat cukup mempesona. Aku menginginkannya untuk menemaniku bermain malam ini!" Kata Wanita tersebut melanjutkan, tatapannya sangat genit melihat kearah Theo.


Mendengar itu, pria bertubuh kurus yang sebelumnya di katai oleh sang wanita, segera mendengus kesal. "Dasar munafik, kalau kau menyebutku cabul, lalu dirimu sendiri apa?"


"Diam..! Jangan samakan aku denganmu, yang sama sekali tak memiliki estetika keindahan dalam berhubungan!" Bentak wanita tersebut, mendengar dengusan pria kurus.


"Hahahha… sudah… sudah... Jangan bertengkar, semua akan mendapat bagian masing-masing. Kita akan mengadakan pesta besar nanti malam!" Pria kekar yang memiliki banyak bekas luka di wajahnya mencoba menengahi.


Saat ini, rombongan kelompok Knight yang berjumlah kurang lebih 30 orang, terlihat mengepung perkemahan House Braveheart, dan keempat orang yang berbicara sebelumnya, adalah pemimpin dari kelompok pengepung tersebut.


"Hmmm…. Pak tua, jelaskan padaku situasi kita saat ini!" Kata Theo, kepada Master Estro di sebelahnya.


Mendengar pertanyaan Theo, dia langsung menoleh dengan wajah kesal. "Situasi? Apa kau buta? Jelas-jelas kita sedang di kepung!" Bentaknya.

__ADS_1


"Kau bodoh atau apa? Dengan pengalaman yang kau miliki di usia tuamu, apa kau tak memahami maksud pertanyaanku?" Bentak Theo balik.


"Orang idiot juga tahu kita sedang di kepung, maksudku adalah, bagaimana situasi kemampuan pihak musuh dan juga pihak kita!" Lanjut Theo.


"Bilang langsung dari awal! Kenapa kau selalu saja memicu hal-hal yang bisa membuat orang lain untuk kesal!" Bentak Master Estro lagi, merasa tak diterima dibentak oleh seorang Junior.


"Kalian berdua hentikan!" Kali ini Aria ikut membentak. Dia merasa kesal, di situasi genting ini, masih saja dua orang ini berdebat tak jelas.


"Cepat jelaskan saja situasi kita!" Dengus Aria melanjutkan.


Ketika Aria yang memberi intruksi, Master Estro segera menjelaskan tanpa membantah.


"Nona muda, pihak lawan memiliki 30 anggota yang bisa anda lihat sedang mengepung kita, rata-rata mereka adalah Knight kelas Immortal awal dan Immortal bumi, ada juga beberapa yang merupakan Immortal langit."


"Sebenarnya, dengan adanya aku yang merupakan kelas General bumi, bersama dengan tetua ke limabelas yang juga merupakan General tahap awal, meskipun kita kalah jumlah lumayan banyak, mereka bukanlah masalah."


"Yang menjadi masalah adalah empat orang di depan kita yang sepertinya pemimpin kelompok ini, keempatnya adalah Knight kelas General tahap awal. Ini akan sedikit menyusahkan!" Tutup Master Estro.


Mendengar itu, Aria segera memasang wajah tegang, dia adalah gadis yang cerdas, meskipun Master Estro mengatakan situasinya sedikit menyusahkan, dia tahu bahwa ini bukan sedikit menyusahkan, tapi sepenuhnya situasi yang sulit. Master Estro sengaja memperhalus kata-katanya agar dia tak terlalu cemas.


Menurutnya, situasi saat ini tak berbeda jauh dengan saat dia di kepung oleh para penjaga desa tersembunyi, namun bedanya, kali ini dia memiliki dua orang tetua house Braveheart yang merupakan Knight tahap General. Sehingga menurutnya, meskipun tak bisa memberi perlawanan, masih ada beberapa celah untuk kabur.


Ketika Theo sedang berfikir tentang langkah terbaik apa yang harus ia ambil dalam situasi ini, pemimpin kelompok pengepung mulai berbicara lagi.


"Dengarkan baik-baik! kami adalah kelompok Bandit Lebah Hitam yang tersohor. Aku yakin kalian sudah pernah mendengar nama kelompok kami!" Kata pria tersebut.


"Kalian bisa lihat situasi sekarang, kami telah mengepung semua area, tak ada tempat atau celah sedikitpun bagi kalian untuk kabur!"


"Jadi, kusarankan patuhi semua intruksiku! Dengan begitu, tak akan ada terlalu banyak korban jiwa yang akan jatuh. Dan mungkin kalian bisa hidup untuk beberapa hari kedepan! Hahahhahahhaha…… !" Kelompok Bandit menutup kata-katanya dengan tawa lantang.


Mendengar tuntutan serta ancaman tersebut, Master Estro segera memerah wajahnya, terlihat sangat marah.


"Hmmm.. kalian berani mengancam kami? Bagus...! Bagus…!"

__ADS_1


"Apa kalian tahu, siapa kami? Kami adalah rombongan House Braveheart dari Blackwood Empire, satu dari 10 Biggest Group Knight yang legendaris!" Bentak Master Estro, menggebu-nggebu.


Suasana tiba-tiba hening begitu Master Estro memperkenalkan rombongannya. Namun, mendengar Master Estro mengatakan itu, Theo justru menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Hening bertahan beberapa saat, sebelum tiba-tiba..


"Pffttt…. Kakak mereka satu dari Group Knight yang legendaris, kakiku bergetar mendengarnya!" Kata pemimpin berbadan kekar.


"Yah kakak. Sebaiknya kita meminta maaf dan pergi sekarang juga…! Pfftt…" Sahut pemimpin berbadan kurus.


"Aduhh kakak, adikmu yang cantik ini mulai ingin mengompol mendengarnya!" Pemimpin wanita tak mau ketinggalan menambahi.


"Pffftt.. hahahahahha…. Ahhahahahhaha...!" Mendengar kata-kata ketiga adiknya, pemimpin berwajah penuh luka mulai tertawa lantang.


"Hahahhah…."


"Hahhahahha…."


"Hahahahha…."


Diikuti kemudian dengan tawa lantang lain dari semua kelompok Bandit Lebah Hitam yang sedang mengepung.


"Apa kau pikir kami tak tahu siapa kalian? Bodoh sekali! Asal kau tahu, kalian sudah menjadi target kami, bahkan sejak pertama kali menginjakkan kaki di wilayah Hutan Pinus Beku, satu bulan yang lalu!" Kata pemimpin Bandit berwajah penuh luka, dengan senyum aneh.


"Kami sangat tahu siapa kalian, oleh sebab itu dari awal aku sudah bilang, ini adalah panen besar. Dan dari awal juga, kami tak mempunyai rencana untuk menyisahkan satu pun diantara kalian tetap hidup. Hahhahah…." Tutupnya kemudian di barengi dengan tawa lantang.


Mendengar hal itu, ekspresi wajah Master Estro segera menjadi buruk. Pandangannya kini menatap Aria dengan penuh rasa cemas.


"Hmmm…. Jadi itu alasan mereka membawa pasukan sebanyak ini." Kata Theo, masih mencoba bersikap tenang. Berusaha menganalisis situasi.


"Anak muda, aku tak yakin kita semua bisa lolos dari sini dengan selamat setelah ini. Jadi, aku mohon padamu, ketika saatnya tiba dan kau melihat ada peluang, tolong bawa nona muda pergi!" Pinta Master Estro tiba-tiba kepada Theo.


"Serahkan saja padaku, kebetulan sekali aku juga memiliki pemikiran seperti itu." Jawab Theo cepat.

__ADS_1


Mendengar jawaban Theo, ekspresi wajah Master Estro mulai sedikit membaik. Dan tak lama setelahnya, teriakan pemimpin Bandit menggema di segala penjuru. Memerintahkan pasukannya maju menyerang.


Disaat yang sama, Master Estro yang melihat hal itu, dengan tanggap mengatur posisi pasukannya, membentuk formasi bertahan. Bersiap menyambut gelombang serangan.


__ADS_2