Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Angsa Nafas Api


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Jadi, Jasia, apa rencanamu kedepan? Apakah kau ingin melanjutkan latihanmu di akademi?"


Dalam perjalanan kembali, Theo yang tengah bosan, bertanya untuk memecah keheningan. Perjalanan berlangsung agak canggung, karena Jasia sendiri masih malu dengan kejadian sebelumnya. Oleh karena itu, dia hanya diam selama perjalanan. Bahkan ia tak berani untuk menatap Theo terlalu lama.


Sebelum ini Theo sudah menjanjikan, bahwa Jasia tak perlu merisaukan lagi masalah pertunangan. Dia berkata akan mengurus masalah tersebut. Jasia sendiri tak meragukan kata-kata Theo. Fakta bahwa Theo adalah anak lord. Tentu, pengaruh Theo lebih kuat dari pemuda keturunan keluarga utama tersebut. Selain itu, entah kenapa ada sesuatu di hati Jasia yang mendorongnya untuk percaya sepenuhnya kepada Theo. Ketajaman pada sorot mata Theo, membuat orang-orang di sekelilingnya terdorong untuk patuh dan percaya kepadanya.


"Ituu.. sebenarnya aku sendiri belum bisa memutuskannya tuan muda. Aku masih ragu harus bagaimana." Jawab Jasia malu-malu. Sambil sesekali melirik Theo.


"Hmm..kalau kau ingin kembali ke akademi, itu tak masalah, jangan ragu untuk menyelesaikan latihanmu! Adikmu akan dirawat dengan baik di kediamanku." Kata Theo. Dia masih tak menyadari tatapan aneh Jasia.


"Masalah itu…" Jasia masih ragu.


Melihat Jasia kesusahan menjawab. "Aku tau kau masih mengkhawatirkan kondisi adikmu. Itu normal setelah semua yang telah kalian lalui. Aku sendiri juga akan kesulitan menentukan pilihan bila dalam posisimu." Kata Theo, tak berusaha mengejar lebih lanjut.


Theo bisa memahami semua sumber keraguan Jasia. Dia juga mempunyai dua saudara yang selalu mengkhawatirkannya setiap waktu. Oleh karena itu, Theo tau kesulitan yang di hadapi Jasia.


Jasia sulit meninggalkan adiknya dalam kondisi seperti ini. Sebelumnya, dia berencana segera kembali dan membawa sang adik bersama dengan nya ke faksi pemberontak setelah memastikan posisi nya dalam faksi sudah pasti. Jasia sudah tak memikirkan lagi akan kembali ke akademi.


Namun, karena semua rencana awal telah berubah ketika dia mumutuskan untuk tinggal. Dan dengan Theo sudah menjamin merawat adik serta menyelesaikan masalahnya. Dia punya opsi untuk kembali ke akademi dan menyelesaikan latihannya yang tinggal dua tahun lagi. Kali ini, ia mulai bingung harus mengambil langkah apa.


Apakah merawat adiknya, yang telah banyak menderita setelah mengalami berbagai kejadian mengerikan. Atau kah harus kembali ke akademi, menyelesaikan latihannya.


Di tengah keraguan Jasia. Dia melihat wajah sang adik. Sang adik kini menatapnya, dengan tatapan yang tak kalah bingung. Sang adik tak ingin membebani kakaknya dan ingin Jasia menyelesaikan latihannya. Namun, hati nya yang terdalam menginginkan Jasia tetap tinggal bersamanya. Kakaknya ini adalah satu-satu nya keluarga yang masih tersisa.


Melihat kedua gadis menjadi bingung, tiba-tiba Theo memiliki sebuah ide.


"Jasia, apa tingkat dan jenis Element seedmu? Dan spirit beast apa yang sudah terintegrasi denganmu? Tanya Theo.


"Itu, aku memiliki Element seed yang tak umum di keluarga kita. Element seed ku memiliki tipe Api. Sementara kualitasnya merupakan tingkat 7. Masalah integrasi, aku adalah Soul Knight yang berintegrasi dengan kumbang api." Jawab Jasia. Tapi masih tak berani menatap Theo.


"Hmmm.. jadi begitu, bakatmu agak diatas rata-rata. Tak heran kau bisa masuk ke akademi surga. Namun Element seed tipe api, memang sedikit aneh." Kata Theo. Terlihat sedikit berfikir.


Memang, Element seed tipe api adalah hal yang aneh. Karena semua keturunan house Alknight, hampir seluruhnya hanya akan memiliki Element seed antara tipe angin, atau tipe air. Kecuali ada beberapa kasus…


"Apakah diantara orang tuamu, ada yang berasal dari luar house?" Tanya Theo.


Theo bertanya demikian karena memang, ada beberapa kasus anggota keluarga lahir dengan jenis Element seed berbeda. Dan penyebabnya adalah garis darah yang tercampur.


"Setahuku, ayah dan ibu keduanya merupakan keturunan asli dari house tuan muda." Jawab Jasia.

__ADS_1


"Hmmmm.. itu aneh…" Theo menjadi semakin bingung.


"Ahhhh.. sudahlah, kita lupakan saja masalah ini sekarang." Setelah terlihat berfikir sejenak, akhirnya Theo memilih memotong masalah dan berhenti memikirkannya. Ia merasa memikirkan lebih lanjut adalah hal yang sia-sia, karena bagaimanapun juga dia tak akan tau penyebabnya untuk saat ini.


"Lalu, budidayamu sekarang sudah ada pada tahap apa? Theo kembali bertanya.


"Immortal Tahap awal tuan muda.!" Jawab Jasia.


Setelah mendengar jawabannya, Theo tak bertanya lebih lanjut, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Jasia yang melihat hal tersebut, mulai mengira bahwa Theo kecewa dengan hasil budidayanya. Jasia bisa memahami itu, karena memang dengan usianya yang sudah beranjak 20 tahun, dan dengan bakat yang ia miliki, seharusnya ia bisa mencapai budidaya yang lebih tinggi.


Sebenarnya, meskipun Theo terlihat diam, dia saat ini tengah bertanya kepada masternya. Tiankong sendiri memberi dugaan bahwa, kondisi Jasia di sebabkan karena kurang nya sumber daya yang ia dapatkan.


"Bukankah kau adalah murid dari akademi surga? Apakah akademi tak memberimu sumber daya yang cukup?" Tanya Theo tiba-tiba, setelah diam untuk beberapa saat.


Theo bisa mengerti bila Jasia yang berasal dari house cabang tak bisa mendapatkan sumber daya yang memadai, karena memang itu adalah kasus yang umum terjadi. Hal ini juga yang menyebabkan, terjadinya kesenjangan pada perkembangan bakat-bakat muda, antara house utama dengan house cabang. Kondisi ini terjadi karena house Alknight memang tengah terpuruk dalam beberapa dekade terakhir, sehingga tidak bisa membagi sumber daya berharga dengan merata.


Namun, kasus Jasia agak berbeda, dengan bakatnya dan fakta bahwa dia merupakan murid dari akademi surga kekaisaran, harusnya masalah sumber daya tidak lah menjadi masalah bagi Jasia.


"Ituuu, masalah ini masih berhubungan dengan pemuda yang kuceritakan sebelumnya. Ketika pertama masuk akademi, aku masih bisa mendapatkan sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan budidayaku." Jasia mulai menjelaskan.


"Meskipun bakatku termasuk rata-rata saja bila dibandingkan dengan murid lain di akademi surga, sehingga tidak bisa menarik perhatian tetua atau master untuk menjadikanku murid dalam. Namun, dengan bekerja keras, aku masih bisa memenuhi kebutuhan sumber dayaku dengan cara menyelesaikan berbagai misi yang ada dalam aula misi akademi."


"Masalah mulai terjadi ketika aku menolak pemuda tersebut, setiap misi yang kujalankan selalu berakhir dengan kegagalan. Dia kerap kali bersama kelompoknya, atau menyewa kelompok lain, mengganggu dan mempersulit misiku."


"Hal ini membuat kelompokku mulai meninggalkanku, karena merasa aku adalah beban. Dari sini aku akhirnya hanya bisa menyelesaikan misi-misi sepele yang bisa di kerjakan perorangan. Dengan hadiah sumber daya yang tak terlalu berharga." Jasia menutup penjelasannya dengan wajah murung.


Mendengar itu, Jasia hanya bisa menundukkan kepala. Menurutnya, yang dikatakan Theo bisa di bilang sangat tepat. Jasia telah lama di kejar oleh pemuda tersebut, sehingga bisa memahami watak sang pemuda. Dengan sifatnya yang pendendam, pemuda tersebut pasti akan mencari jalan lain untuk membalas Jasia. Hal ini lah yang juga menjadi salah satu alasan Jasia ragu untuk kembali ke akademi.


"Bagaimana bila begini, kau tak perlu kembali ke akademi lagi. Tinggal saja di kediamanku, untuk masalah pelatihan. Aku akan memberimu semua kebutuhan sumber daya." Kata Theo.


Mendengar kata-kata Theo, Jasia segera mengangkat kepalanya. "Tuan muda.. tidak bisa begitu, itu terlalu berlebihan. Aku sudah bersyukur kau mau membantu kami dan merawat adikku. Bagaimana bisa aku merepotkanmu lebih jauh, dan lagi…."


Sebelum Jasia menyelesaikan kata-katanya. Dia secara tak sengaja melihat Theo menatapnya dengan tatapan yang menurut Jasia penuh perhatian. Hal ini membuat hatinya mulai berdebar lebih cepat, mukanya segera memerah, dia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Hanya bisa menundukkan kepalanya lagi.


Theo yang menyadari perubahan sikap gadis muda di hadapannya. Hanya bisa menghela nafas panjang.


'Gadis ini, dia masih terlalu polos' gumam Theo.


Meskipun Theo secara fisik masih berusia 16 tahun. Tapi secara mental, dia sudah berusia lebih dari 400 tahun. Belum lagi dia telah mencapai kondisi Anata dalam gerbang nafsu. Dia bisa segera menyadari apa yang di rasakan gadis muda yang ada di hadapannya ini.


'Haahhh, memang susah menjadi orang tampan yang mempesona' Gumam nya lagi.


Bletaaaaakkkkkkkk……!!!!


Setelah bergumam demikian, Tiankong segera muncul dan memukul kepalanya dengan keras.


"Dasar cabul narsis!" Dengusnya.


Theo yang tiba-tiba dipukul oleh masternya. Hanya bisa menggosok-gosok kepalanya sambil menatap jengkel kearah Tiankong.

__ADS_1


Sementara itu, sepanjang perjalanan, Jasia dan Kalina sudah mulai terbiasa dengan sikap Theo yang sering bicara sendiri. Yang biasanya akan berakhir dengan beberapa barang aneh yang melayang memukul kepala Theo.


Memang awalnya mereka merasa bingung dan sedikit takut. Namun, setelah mendapat penjelasan dari Theo, yang mengatakan itu adalah teknik pelatihan kuno yang dia dapat di dasar jurang misterius, mereka tak lagi mempertanyakan lebih lanjut. Memilih untuk percaya.


Sebelum ini, Theo sudah menyampaikan dan meminta ijin kepada Tiankong tentang idenya yang ingin merawat dan melatih Jasia. Dia ingin menggunakan sumber daya, serta beberapa teknik manual yang ada di dalam perpustakaan gelang ruang-waktu. Tiankong sendiri tak mempermasalahkan hal tersebut.


"Sebenarnya, aku juga penasaran dengan kondisi gadis ini. Element seed api nya terlihat sedikit berbeda." Tiankong mulai ikut menyampaikan pendapatnya.


"Belum lagi, aku juga samar-samar bisa merasakan ada aura Element seed yang keluar dari ranah jiwa gadis yang lebih kecil. Namun, entah kenapa Element seed itu tak bisa muncul. Seperti ada suatu yang menghalanginya untuk muncul dan tumbuh."


"Setelah sampai di tempat yang lebih tenang dan aman, aku ingin memeriksa kedua nya lebih jelas." Kata Tiankong. Dia terlihat sangat tertarik dan penasaran.


"Hahh? Ada juga yang seperti itu?" Tanya Theo terkejut.


Selama ini, dia mengira kondisi Element seednya adalah hal yang paling aneh. Namun ternyata kondisi Kalina lebih aneh lagi. Setidaknya Element seed Theo bisa muncul sebelum melemah. Sementara Kalina malah tak bisa muncul, padahal memiliki Element seed.


"Element seed adalah salah satu hal paling misterius di dunia ini, itu sangat kompleks dan susah di pelajari. Rahasia di dalam Element seed masih banyak yang tak dapat diungkap meskipun telah di teliti selama ribuan tahun. Kita bahkan tak tau kenapa orang bisa memiliki Element seed. Dan kenapa tak semua orang bisa memilikinya ketika lahir."


"Jadi, wajar bila ada beberapa kasus aneh yang terjadi dalam Element seed dan masih tak dapat di mengerti." Tiankong menutup penjelasannya.


Theo hanya bisa mengangguk sebentar, kemudian merenung setelah mendengar penjelasan dari masternya.


***


Setelah berbagai pertimbangan, Jasia akhirnya memutuskan menerima tawaran Theo. Theo sedikit menjelaskan, bahwa dia mendapat banyak sumber daya ketika menjelajah di dasar jurang misterius. Sehingga, dia memiliki stok sumber daya yang melimpah. Ia mencoba meyakinkan bahwa membagi dengan Jasia, tak akan membuatnya kekurangan.


Kelompok Theo berjalan dengan santai, mereka menuju perbatasan wilayah kedua house dengan tak terburu-buru. Di tengah perjalanan, tiba-tiba terdengar suara ledakan tak jauh dari lokasi mereka. Mendengar suara ledakan tersebut, Theo memutuskan untuk membawa kelompoknya mendekat dan mengamati situasi. Dia tak mau mengambil resiko dengan meninggalkan kedua bersaudara sendirian di wilayah musuh.


"Hmmm.. sepertinya anggota house Ironhead sedang melakukan perburuan."


Setelah sampai di sekitar lokasi ledakan, dan mencari posisi aman untuk mengamati. Theo bisa melihat, di hadapannya saat ini ada sekelompok Knight dari house Ironhead sedang mengelilingi sebuah sarang Spirit beast. Itu adalah sarang dari Spirit beast berjenis unggas. Diatas sarang, Theo bisa melihat Spirit beast sejenis angsa berbulu merah terang, tubuh angsa tersebut penuh luka, dan terlihat tengah melebarkan sayapnya. Menatap sekelompok Knight di hadapannya dengan garang.


"Itu adalah Angsa Nafas Api. Salah satu spirit beast dengan garis darah spesial. Mereka biasanya sangat sulit di temukan. Karena salah satu kemampuannya adalah, memanipulasi mana api di sekitar sarang mereka untuk membuat pelindung yang menyamarkan sarang." Tiankong yang juga mengamati, mulai menjelaskan.


"Sepertinya dia baru saja selesai bertelur, oleh karena itu pelindungnya melemah dan dapat di temukan kelompok Knight ini." Tiankong menutup penjelasannya. Meskipun merupakan Spirit beast dengan tingkat pertumbuhan spesial. Tiankong tidak terlalu tertarik.


"Master, berada pada tingkat apa spirit beast ini?" Tanya Theo.


"Kelas B pertengahan. Sementara kelompok Knight yang mengelilinginya hanyalah Immortal bumi. Dengan tingkatan Angsa ini, sebenarnya tak terlalu susah baginya melawan ataupun kabur dari kelompok Knight yang mengepungnya. Namun, sepertinya dia sedang melindungi telurnya, dan tak bisa melakukan perlawanan dengan maksimal. Sehingga berakhir dalam kondisi seperti itu."


"Ada apa? Kau tertarik dengan Angsa itu? Itu hanyalah Spirit beast dengan tingkat pertumbuhan spesial. Aku sarankan tak usah mengambil resiko dan pergi saja dari sini."


"Belum lagi kelompok Knight itu memiliki budidaya lebih tinggi dari kelompok yang kau hadapi sebelumnya." Kata Tiankong.


"Hmmm.. sangat di sayangkan, tadi kupikir Angsa itu akan cocok untuk Jasia. Baiklah kalau begitu." Kata Theo.


Namun, ketika Theo berbalik dan akan memberi arahan meninggalkan tempat ini kepada Jasia dan Kalina. Dia bisa melihat ekspresi Kalina terlihat sedikit aneh. Ekspresi aneh Kalina bertahan beberapa saat, sebelum tiba-tiba berubah ketika dia menatap salah satu anggota house Ironhead. Dari ekspresinya ketika melihat orang tersebut, Theo bisa melihat ada rasa ngeri, takut, dan marah bercampur menjadi satu. Ekspresi Kalina terlihat sangat buruk. Hal ini membuat Theo mengernyitkan dahinya.


"Adik, ada apa?" Jasia yang juga menyadari perubahan ekspresi adiknya, segera khawatir dan bertanya.


Mendengar pertanyaan Jasia, Kalina tidak menoleh. Dia hanya terus menatap anggota house Ironhead tersebut. Sebelum tubuhnya mulai bergetar.

__ADS_1


"Orangg ituuuu… orang ituuuuu… "


__ADS_2