Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
154 - Tawaran


__ADS_3

Catatan penulis :


Selamat malam, dalam catatan kali ini, penulis cuma kembali sedikit mengingatkan, bahwa besok malam, bersamaan dengan rilis chapter terbaru, akan saya umumkan pemenang dari event Spin Off.


Pemenangnya adalah 3 besar vote tertinggi (Yang telah memfollow back saya, untuk keperluan komunikasi) dan juga 3 pembaca beruntung yang saya pilih dari kolom komentar.


Mengenai batas waktunya, untuk 3 besar vote tertinggi, akan saya stop sabtu sore, pukul 15.00.


Spin off yang tersedia ada enam, pemenang event bisa memilih satu diantaranya :


Gregoric Alknight : Sang Perkasa.


Arthur Wild : Putra Kegelapan.


Issabela Alknight : Bertambah kuat.


Jasia : Petualangan di Jurang Misterius. (1)


Jasia : Petualangan di Jurang Misterius. (2)


Desa Tersembunyi : Tim Penjelajah (1)


Spin off yang penulis buat, akan selalu berhubung dengan cerita utama, jadi mereka yang memenangkan event, secara eksklusif akan bisa menikmati beberapa kisah yang tak sempat penulis jabarkan di alur utama. ^^


Sekian catatan kali ini, selamat membaca chapter terbaru ^^


------


"Tak ada alasan bagiku untuk tetap berlutut! Mengingat aku adalah seorang tuan muda dari House besar! Itu hanya akan merendahkan para leluhurku!" Kata Theo, dengan sorot mata penuh ketajaman.


Mendengar kata-kata Theo, setiap orang yang ada di aula utama segera menatapnya dengan tatapan tajam, penuh tekanan.


Melihat tatapan-tatapan ini, Theo tampak tak gentar sama sekali, dia justru balik menatap setiap orang di sekitarnya dengan tatapan tajam yang sama.


Sementara Arthur yang ada di samping Theo, segera panas hatinya, merasa kata-kata yang dikatakan Theo barusan, sangatlah keren. Dengan pandangan penuh kekaguman pada Theo, dia mulai berdiri dari posisi berlututnya. Tanpa rasa takut, ikut memandang orang-orang yang ada di sekitar.


"Hmmm… pemuda yang menarik! Master Estro tadi bilang kau datang kesini untuk memberi penawaran kepada House kami bukan?" Tanya Lucius. Tiba-tiba.

__ADS_1


Mendengarnya, Theo tak memberi jawaban, hanya mengangguk singkat, mengiyakan kata-kata Lucius.


Melihat itu, Lucius menjadi semakin tertarik, kemudian mulai memasang senyum sederhana namun tampak licik.


"Ayah, beri dia kesempatan untuk menyampaikan tawarannya!" Kata Lucius. Kepada Lord Malforis di sebelahnya.


Lucius sendiri sudah lama mendengar serta mengikuti desas-desus dari perjalanan Theo. Hal ini bermula ketika dia pertama kali membaca laporan dari Master Estro yang ditujukan pada ayahnya, tentang sepak terjang Theo didalam Hutan Pinus Beku. Dari laporan tersebut, ia langsung tertarik dengan tuan muda ketiga House Alknight yang kembali dari kematian ini.


Dan mulai saat itu juga, Lucius yang memang terkenal sebagai seorang tuan muda dengan pemikiran panjang nan licik, dimana selalu bisa menangkap peluang serta kelemahan suatu rencana, mulai melakukan penelitian dan pengamatan secara sembunyi-sembunyi terhadap Theo.


Karena menurut Lucius, Theo bisa saja menjadi titik buta, dari rencana besar House mereka, yang ingin menguasai House Alknight, serta mengembangkan kekuasaan di wilayah Glaire Empire.


Lucius akhirnya sering mengirim surat kepada Master Estro, atau anggota House Braveheart lainnya yang ikut dalam perjalanan ke House Alknight untuk sekedar menanyakan perkembangan pemuda ini. Tak jarang pula dia mengirim surat ke Aria, yang ternyata memiliki banyak pandangan lebih mendalam tentang Theo, karena lebih sering bersamanya secara langsung dalam beberapa momen personal.


Dari surat-surat tersebut, Lucius berhasil mengumpulkan banyak data tentang pemuda ini, mulai dari berbagai bakatnya di bidang Alchemy, Forging, maupun formasi. Ditambah lagi dengan kelainan ketahan fisik serta Element Seed miliknya yang bisa dibilang tak biasa. Juga tentang beberapa makhluk aneh yang bisa ia panggil.


Semua data ini membuat Lucius mau tak mau menjadi tercengang, tak bisa menerima serta mempercayainya, jika saja semua laporan ini tak berasal dari orang-orang terdekat yang tentunya sangat terpercaya. Ia akan mentah-mentah menolak mempercayai laporan-laporan tersebut.


Kini, setelah melihat Theo secara langsung, dimana pemuda ini, yang di katakan memiliki banyak sekali bakat serta berbagai hal tersembunyi lain di balik lengan bajunya, ternyata juga memiliki mental yang jauh diatas anak seusianya, karena masih bisa bersikap dingin nan tenang ketika dihadapkan dengan situasi penuh tekanan, membuat Lucius semakin tertarik lagi.


Sementara Lord Malforis, yang mendengar kata-kata putranya, kini mulai menarik kembali auranya. Berniat memberi kesempatan pada Theo untuk bicara. Pria tua ini tampak sangat percaya pada Lucius sehingga tanpa berfikir segera menuruti kata-katanya.


Mendengar itu, Theo yang awalnya masih melihat dengan tatapan penuh kewaspadaan dan menyelidik kearah Lucius, kini ganti menatap kearah Lord Malforis.


"Tuanku, aku memang berniat menawarkan sesuatu, tapi itu bukan hanya sekedar tawaran, aku ingin ada imbal balik dari tawaran ini! Kata Theo, masih dengan sorot mata penuh ketajamannya.


"Lancang!" Bentak Master Estro, begitu mendengar kata-kata Theo.


Sementara Aria yang dari tadi hanya diam mendengarkan semua percakapan di samping Master Estro, kini mulai melihat Theo dengan tatapan menyelidik.


'Hal bodoh apa lagi yang ia rencanakan?' Gumam gadis ini dalam hati, sedikit khawatir.


"Hmmm… Master Estro, biarkan dia melanjutkan kata-katanya!" Berbeda dengan reaksi Master Estro, Lord Malforis justru tampak masih bersikap tenang.


Mendengar itu, Master Estro yang sepertinya belum selesai ingin menghardik Theo, segera kembali mencoba menenangkan diri.


"Baik tuanku!" Katanya kemudian.

__ADS_1


"Bocah! Lanjutkan!" Kata Lord Malforis.


"Pertama, aku ingin meminta pertunangan kakakku Issabela, dengan tuan muda Lucius di batalkan!" Kata Theo.


"Bocah, kau sudah keterlaluan!"


"Kau pikir siapa dirimu?"


"Lancang sekali!"


"Setidaknya biarkan Lordmu datang kesini bila menginginkan hal penting semacam itu!"


"Apa House Alknight tak punya sopan santun!"


Permintaan Theo segera membuat aula utama House Braveheart menjadi gaduh. Kini bukan hanya Master Estro yang menghardiknya, tapi hampir semua tetua yang hadir melayangkan kata-kata makian.


"Bocah! Jangan menguji kesabaranku! Jika bukan karena putraku memintanya! Aku tak akan sudi mendengarkan kata-katamu diawal! Dan kini, kau dengan sembarangan malah meminta sesuatu yang sensitif seperti itu?" Kata Lord Malforis dingin, mulai kembali membocorkan auranya.


"Hmmm… ayah, tolong biarkan dia menyelesaikan kata-katanya dulu, kita masih belum mendengar tawaran darinya!" Ketika semua orang di aula utama tampak tersinggung, Lucius terlihat masih bersikap tenang. Dia justru memasang ekspresi semakin tertarik dengan Theo.


Mendengar itu, Lord Malforis tak memberi jawaban, dia hanya menatap tajam kearah Theo. Melihat ini, Lucius yang merasa ayahnya masih memberi kesempatan, segera bertanya kepada Theo.


"Tuan muda Theo, sebelumnya kau bilang tawaranmu memiliki imbal balik, kurasa imbal balik yang kau maksud diawal adalah pembatalan pertunangan ini!"


"Benar begitu?" Tanya Lucius.


Theo yang mendengar pertanyaan tersebut, mengangguk singkat, menandakan yang dikatakan Lucius benar.


"Menarik! Ini adalah permintaan imbal balik yang sangat besar! Jadi katakan! Tawaran macam apa yang ingin kau ajukan sebagai ganti pembatalan pertunangan ini!" Tanya Lucius, dengan sorot mata penuh ketertarikan.


"Hmmm… bila permintaan membatalkan pertunangan ini disetujui, maka aku, Theodoric Alknight, benar-benar secara tulus dari lubuk hatiku yang terdalam, akan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada House Braveheart."


"Dan dengan begitu, aku juga akan berhutang budi pada kalian, dengan hutang budi ini! Aku menawarkan ikatan pertemanan yang tak tergoyahkan!"


"Di masa depan, kalian bisa datang padaku bila memerlukan bantuan apapun! Dan begitu kalian datang! Aku berjanji, tanpa berkedip sekalipun akan memberi uluran tangan!" Kata Theo, menutup kata-katanya dengan mantap, penuh ketajaman.


"Pertemanan?" Gumam Lord Malforis, dingin.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, aura yang dari tadi di tahan olehnya, segera meledak keluar. Dengan liar menekan siapapun yang ada di aula utama.


"Bocah! Kau sudah keterlaluan! Menawarkan pertemanan? Kau pikir siapa dirimu? Hanya satu anak Serigala liar dari House Alknight, yang sedikit memiliki kelebihan bakat! Dan sekarang berani bertindak begitu congkak?" Bentak Lord Malforis. Penuh kemarahan.


__ADS_2