Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
218 - Gelombang Penutup


__ADS_3

NOTE :


Halo teman-teman. Cuma sedikit ingin menyapa dan kalau boleh sedikit mengingatkan, untuk setidaknya menyempatkan memberi LIKE dan KOMENTAR. Karena Like dan komentar kalian adalah bentuk dukungan buat saya sebagai author ^^


Dan sebagai pembaca aktif beberapa karya novel author lain, saya memahami, kadang teman-teman semua sebenarnya bukan tak mau menyempatkan waktu, cuma terlalu asyik membaca sehingga lupa memberi like atau komentar. Hal ini juga sering terjadi pada saya.


Kenapa saya mengingatkan? karena saya lihat akhir-akhir ini jumlah like sedikit menurun. Dan karena NT memakai sistem level untuk menentukan besaran penghargaan penghasilan bagi para Author, jadi saya harap teman2 sedikit meluangkan waktu untuk memberi LIKE dan KOMENTAR, agar pihak NT tidak menggunakan alasan menurunnya peforma karya saya untuk menurunkan level saya ^^


Sebenarnya saya tak terlalu melihat penghasilan di NT sebagai penyemangat dalam hal menulis, karena pure saya cinta anak pertama saya ini sepenuh hati. Tapi beda lagi dong dengan orang-orang sekitar saya, khusus nya istri wkwkkw, kalau dia tahu saya yang tiap hari sibuk menulis tak mendapat penghasilan yang sebanding, tentu akan membuat sedikit urusan menjadi pelik :v


Cukup sekian Note yang sekaligus curcol ini. Mohon maaf bila ada salah kata, mohon pengertiannya ^^


-------


(Medan tempur selatan, kelompok Desa tersembunyi+Issabela, Gregoric, dan Arthur V.S House Helsinsberg V.S Eks Dark Guild)


*Pwiiiiiitttttt……!!!


Suara terompet aneh yang melengkung tinggi, tiba-tiba terdengar keras. Membuat setiap orang baik itu mereka dari pejuang Desa tersembunyi ataupun pasukan House Helsinsberg yang sedang bertempur di medan perang, seketika menoleh untuk melihat kearah sumber suara.


"Hmmm… akhirnya datang juga!" Kata ketua Arsegio, saat melihat kelompok Knight yang mengibarkan panji-panji House Braveheart bergerak cepat memasuki medan pertempuran.


*Sprooouuttt…!!


Setelah mengatakan itu, katak hijau raksasa yang sedang ia tunggangi, menembakkan cairan beracun kearah pasukan House Helsinsberg yang ada di hadapannya.


Beberapa pasukan House Helsinsberg yang masih tampak terkejut dengan kedatangan tiba-tiba House Braveheart. Satu dari 10 Biggest Knight Group lainnya sama seperti House mereka, segera terciprat racun tersebut karena teralihkan untuk sesaat.


Berakhir menggeliat di tanah, tampak sangat menderita saat seluruh tubuh mereka melepuh. Sementara beberapa Knight lain yang masih menjaga kewaspaan, mampu menghindari cairan beracun tersebut tepat waktu. Memandang ngeri kearah kawan-kawan nya yang saat ini mulai berhenti bergerak, mati dengan kondisi tubuh meleleh.


"Pria tua ini sungguh lelah dalam memberi kalian saran, untuk jangan mengalihkan perhatian saat sedang bertempur!" Kata Arsegio, sesaat setelah membunuh beberapa Knight House Helsinsberg di hadapannya.


"Sialan! Tuan muda! Apa kita harus menarik mundur pasukan kita? Ini benar-benar sudah diluar rencana!" Tanya tetua House Helsinsberg kepada Alexis, begitu melihat kedatangan tiba-tiba pasukan House Braveheart.


*Splaaaassshhh…!!!!


*Tssaaahhhhh…..!!!!!


*Woossshhh…..!!!!


Saat sang tetua sibuk bertanya kepada Alexis, berbagai serangan beracun dari Spirit Beast milik para pejuang Klan Asura yang sebelumnya sedang ia hadapi, segera menerjang kearahnya.


*Bzzzzzztttt…..!!!!


"Hmmm… sungguh merepotkan!" Dengus sang tetua, menggunakan gerakan dari teknik atribut listriknya, menghindari serangan-serangan racun tersebut.

__ADS_1


Tetua House Helsinsberg ini dari tadi sudah di pusingkan dengan cara bertarung pejuang klan Asura di Medan pertempuran. Dimana mereka menggunakan teknik-teknik aneh dengan memanfaatkan Spirit Beast masing-masing, untuk melakukan gerakan menembus tanah, bergerak dari dalam tanah, kemudian melancarkan serangan beracun menyelinap dari balik tanah yang mereka gali.


Ditambah dengan kedatangan tiba-tiba pasukan House Braveheart, sang tetua dibuat menjadi semakin frustasi seketika.


Sementara Alexis yang tadi mendapat pertanyaan dari tetua Housenya. Saat ini tak memberi jawaban apapun, sama seperti sang tetua yang menggunakan teknik gerakan atribut listrik, Alexis juga menggunakan teknik yang sama untuk bergerak cepat menghindari setiap serangan menyelinap yang terarah padanya.


Sambil bergerak menghindar dan sesekali melancarkan serangan balik, Alexis menerawang jauh. Melihat kearah kakaknya Victor yang sedang bertarung di medan pertempuran sebelah.


"Semua keputusan ada pada kakak, apakah itu kita harus menarik mundur pasukan atau tidak!" Gumam Alexis.


***


*Booommmmm….!!!


*Boooommmmm….!!!!


*Booommmmmm….!!!


Dengan pakaian compang-camping, ketua Aurelas yang masih berdiri tegak diatas Elang raksasanya, terus melancarkan serangan jimat-jimat formasi berdaya ledak tinggi kearah Victor yang saat ini tampak menggila dan tanpa kenal ampun, terus bergerak menerjang kearahnya.


*Bbbzzzzttt….!!!!


*Bbbzzzzttt…..!!!!


*Bzzzzttt…..!!!!


Sementara itu, menggunakan kepalan tangan beratribut listrik yang ada di tangan kirinya, dan memanfaatkan tameng raksasa yang sedang ia genggam di tangan kanannya, Victor terus menghujamkan serangan listrik berdaya ledak tinggi kepada ketua Aurelas. Sambil menangkis jimat-jimat peledak yang terarah padanya menggunakan tameng raksasa.


Sama seperti ketua Aurelas yang dalam keadaan compang-camping, Victor saat ini juga berada dalam kondisi yang sama, penuh luka dan berpakaian compang-camping.


Kondisi keduanya yang berantakan ini sendiri, di sebabkan dari efek benturan dahsyat yang tadi terjadi ketika keduanya saling mengeksekusi teknik andalan masing-masing. Victor dengan pukulan dewa petirnya, sementara ketua Aurelas yang menahan dengan formasi Silver Turtle nya.


Bentrokan ini berakhir buntu dan menyebabkan keduanya terdorong mundur, terlempar jauh menabrak pepohonan pinus disekitar lokasi, menerima efek dari gelombang kejut dari benturan dahsyat tersebut.


Dan setelah tampak memulihkan diri untuk beberapa saat, keduanya kembali menerjang maju untuk melancarkan serangan lanjutan pada lawannya masing-masing. Berakhir dalam kondisi saling serang seperti saat ini.


Hal ini membuat Victor maupun ketua Aurelas yang fokus pada pertempuran intens antara keduanya, yang merupakan Knight dengan kelas yang sama, yakni King tahap awal. Menjadi tak memperhatikan lingkungan sekitar. Tak menyadari kedatangan tiba-tiba House Braveheart yang saat ini sudah memasuki medan pertempuran.


Sampai ketika Victor yang masih sibuk melancarkan serangan keras yang lagi-lagi dihindari dengan gesit oleh ketua Aurelas, tiba-tiba mendapat serangan dahsyat dari arah belakang, menghujam tepat pada punggungnya. Membuat Victor terlempar jauh, kembali menabrak pepohonan pinus. Diakhiri dengan batuk darah.


"Baj1ngan! Siapa itu?" Bentak Victor, merasa sangat kesal mendapat serangan menyelinap, terlebih serangan ini bukanlah serangan biasa. Namun berasal dari gelombang hawa dingin intens yang hanya akan bisa di keluarkan oleh Knight dengan kelas yang sama dengannya, yakni seorang King.


"Hahhahaha…. Belum juga berubah! Sembrono dan kurang waspada! Sebuah kombinasi konyol bagi seorang pemimpin garis depan medan perang!" Kata seorang pemuda tampan yang saat ini terbang diatas Victor.


Pemuda ini tampak sudah dalam mode Soul Knightnya. Aliran Mana Es berbentuk burung Bangau yang anggun, menyelimuti seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Dan begitu Victor melihat sosok yang baru saja mengejek sambil menatapnya dengan sorot mata penuh penghinaan tersebut. Ia segera memasang wajah terkejut untuk beberapa saat, sebelum mulai diganti dengan ekspresi kebencian.


"Lucius Braveheart! Apa yang kau lakukan disini!" Dengus Victor.


***


(Wilayah tebing)


"Kabut Mistis Abadi!"


Sebuah suara lembut dari seorang wanita muda, tiba-tiba terdengar pelan, seperti sebuah bisikan, terdengar tepat di sebelah telinga para Assassin dari Dark Guild yang sudah bersiap melancarkan serangan terakhir untuk melumpuhkan ketiga orang pemuda yang ada di hadapan mereka.


Bersamaan dengan suara ini, kepulan kabut putih berhawa dingin, tiba-tiba muncul entah dari mana, mulai degan cepat menyebar kesegala arah, menutup semua lingkungan sekitar bukit.


"Apa yang terjadi? Kabut apa ini?" Kata Beladro, saat kabut putih tebal selesai menutup semua area di sekitarnya.


"Hmmm… tetua, ini tampak mirip dengan Kabut Mistis Abadi yang menghantui wilayah perbukitan Merak!" Kata salah satu anggota Assassin Dark Guild yang ada di samping Beladro.


"Kabut Mistis Abadi? Tak mungkin! Bagaimana kabut yang hanya ada di perbukitan merak itu, bisa muncul jauh dari habitatnya, di wilayah Hutan Pinus Beku ini?" Kata Beladro.


"Tapi tetua, tak salah lagi! Aku pernah terjebak dalam kabut ini dalam beberapa tahun, dan sensasinya sama persis seperti sekarang! Dingin, sunyi, dan mencekam!" Kata sang Assassin lagi, dengan nada bergetar. Tampak sangat trauma pada pengalamannya terjebak dalam kabut selama beberapa tahun.


"Siapa itu?"


"Sialan!"


"Aaarrgggg…..!"


Saat Beladro masih tampak bingung dengan perubahan peristiwa tiba-tiba yang di hadapi kelompoknya ini, teriakan-teriakan dari anggota Assassin yang tadi ia kirim untuk menyerang bocah-bocah di depan, mulai terdengar.


*Slaaassshhhh….!!!


*Slaassshhhh….!!!!


*Slaassshhhh…..!!!


Teriakan-teriakan ini kemudian dibarengi dengan suara tebasan-tebasan dari sebuah tubuh yang terpotong, menggema ringan di dalam tebalnya kepulan kabut.


"Penyerang! Semuanya! Keluarkan iblis masing-masing! Bersiap menerima serangan menyelinap!" Teriak Beladro, yang meskipun tak bisa melihat semua anggotanya. Memberi intruksi akan datangnya serangan kearah kelompoknya.


Sementara itu, disisi tebing, tempat Arthur, Issabela, dan Gregoric terbaring tak berdaya.


"Hmmm… pemandangan apa ini? Arthur Wild, orang yang di juluki sebagai Putra Kegelapan, berakhir dalam situasi yang sungguh memalukan!"


Suara wanita kembali terdengar. Kali ini di barengi dengan sesosok yang melangkah keluar dari dalam kabut.

__ADS_1


"Hmmmm… Aria! Berhenti mengoceh! Ini bukan saat yang tepat! Dasar sialan!" Bentak Arthur, mencoba menutupi rasa malu karena harus berakhir di tolong gadis ini dengan berteriak marah.


__ADS_2