
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Disuatu sudut Wilayah Gurun Pasir Berisik)
Pada perbukitan terjal yang membentuk suatu ceruk, sekelompok orang berjumlah cukup banyak saat ini sedang berkumpul. Kumpulan orang ini memiliki penampilan yang sangat bengis, mereka tampak sedang berpesta.
Sementara disisi terdalam ceruk perbukitan, 55 orang dengan tingkat kultivasi hampir seluruhnya adalah King tahap awal, dan beberapa King tahap Bumi, saat ini terlihat berdiskusi dalam satu lingkaran lebar. Api unggun raksasa berada di tengah lingkaran tersebut.
Gerombolan berwajah bengis yang sedang berkumpul dan berpesta di wilayah ceruk perbukitan tersebut, tak lain adalah 55 kelompok Bandit besar Gurun Pasir Berisik dan Gurun Lima Warna. Sementara yang sedang membentuk lingkaran lebar dan melakukan diskusi, merupakan para Boss Besar dari masing-masing kelompok Bandit.
Berkumpulnya 55 Boss Besar yang seluruhnya memiliki tingkat kultivasi King di satu tempat yang sama, membuat suasana di sekitar api unggun raksasa terasa sangat berat.
*Baammmm….!!!
Suasana berat menjadi semakin mencekam ketika di tengah diskusi yang terlihat cukup alot, sebuah suara keras dari benda hancur tiba-tiba terdengar. Salah satu Boss Besar Bandit dengan ekspresi wajah sangat marah menghancurkan perabot pesta yang ada disampingnya.
"Sudah kubilang, aku tak akan pernah menyetujui jika itu kelompok Banditku yang harus berada di garis depan!" Bentak Boss Besar yang marah.
"Hmmmm… Kenapa begitu marah? Bukankah dari seluruh kelompok Bandit yang ada disini, itu adalah kalian, Bandit Musang Terbang yang memiliki kemampuan gerak paling gesit!" Ucap salah satu Boss Besar Bandit lainnya.
Pria yang baru saja berbicara, memiliki perawakan tubuh besar dengan kulit kecoklatan. Sambil menyilangkan tangannya di dada, ia menatap tajam Boss Besar Bandit Musang Terbang yang sebelumnya menolak kesepakatan bersama.
"Bahkan semenjak pertemuan ini belum dimulai, kalian Bandit Musang Terbang sudah ratusan kali menyuarakan sesumbar tentang teknik gerakan kelompok kalian yang menurutmu dan semua anggotamu, adalah yang terbaik diantara semua kelompok Bandit lain!"
"Sekarang, kemana perginya semua kalimat sesumbar bernada memuakkan yang tadi kalian bangga-banggakan? Dasar sampah!" Tutupnya.
"Diam kau Bananji! Kami memang memiliki teknik gerakan terbaik! Tapi aku juga bukan orang bodoh! Siapapun tahu, kelompok yang di tempatkan di garis depan, mereka hanyalah samsak hidup yang dari awal disiapkan untuk musnah!" Bentak Boss Besar Bandit Musang Terbang.
"Jadi, dari pada kami, kenapa itu bukan kelompok Bandit Banteng Liarmu yang menjadi pemimpin garis depan? Bukankah kalian selalu membanggakan ketahan tubuh fisik bagaikan besi milik kalian itu?" Tambah Boss Besar Bandit Musang Terbang.
"Ohhh, aku mau-mau saja, lagipula kelompok Bandit Banteng liar bukankah sekumpulan pengecut seperti Bandit Musang Terbangmu! Hanya memiliki kemampuan untuk kabur, kenapa begitu bangga!" Ucap Bananji, Boss Besar Bandit Banteng Liar dengan ekspresi wajah sangat meremehkan.
"B*jingan! Siapa yang kau sebut pengecut!" Bentak Rakizen, Boss Besar Bandit Musang Terbang.
"Ohhh… Tak mau disebut pengecut? Kalau begitu, tentunya tak masalah jika kelompok Bandit Musang Terbang berada di garis depan bersama Bandit Banteng Liarku?" Ucap Bananji, dengan nada yang terdengar sangat provokatif.
__ADS_1
"Kau….!" Mendengar kata-kata Bananji, Rakizen segera tercekat mulutnya.
Jika ia menolak, itu sama saja dengan mendeklarasikan secara terang-terangan di hadapan semua Boss Besar Bandit bahwa kelompok Bandit Musang Terbangnya adalah kumpulan pengecut. Namun, jika menyetujuinya, itu sama saja dengan tindakan konyol mengantar nyawa.
"Bagaimana?"
Saat Rakizen masih tampak kesulitan menemukan kata yang tepat untuk di berikan sebagai jawaban, Bananji secara kejam kembali bertanya untuk menyudutkannya.
Pertanyaan Bananji sendiri, seperti mendapat dukungan dari seluruh Boss Besar Bandit lain yang ada di lokasi. Tatapan mata seluruh Boss Besar ini sekarang terarah tajam pada Rakizen, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya.
'Bananji! Kau k*parat! Lihat saja nanti! Bandit Banteng Liar tak akan lolos dari ini semua!' Gumam Rakizen dalam hati.
"Baiklah! Aku sepakat! Bandit Musang Terbang akan berada di baris depan bersama Bandit Banteng Liar!" Ucap Rakizen, dengan tatapan mata mematikan terarah pada Bananji.
"Baiklah kalau begitu! Karena slot garis depan telah terpenuhi, sekarang kita bahas…."
Mendengar jawaban sepakat Rakizen, salah satu Boss Besar dengan tingkat kultivasi King tahap Bumi yang berperan sebagai pemimpin jalannya diskusi, hendak kembali meneruskan ke topik pembahasan selanjutnya. Namun, belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya....
*Boooommmm….!!!!
*Booommmm….!!!!
*Boooooommmmm…..!!!
"Boss! Kita di serang!"
"Serangan!"
"Boss! Sergapan tiba-tiba!"
Puluhan wakil pemimpin dari masing-masing kelompok Bandit, memberi laporan dengan langkah tergesa. Ekspresi wajah mereka tampak sangat panik.
"Berani sekali mereka menyerang sekarang!"
"Apa mereka sungguh bodoh! Menyerang disaat seluruh kelompok Bandit besar sedang berkumpul?"
"Bandit Serigala benar-benar konyol!"
"Jangan panik! Itu malah bagus bila mereka yang mendatangi kita lebih dahulu!"
"Yah…! Ini menghemat waktu kita!"
Mendengar laporan dari para wakil pemimpinnya, para Boss Besar memberi berbagai tanggapan. Namun setiap dari mereka tampak sepakat bahwa Bandit Serigala benar-benar konyol dalam memilih momentum waktu serangan.
"Berapa jumlah anggota Bandit Serigala yang datang? Kita ***** habis mereka semua sekarang juga!" Ucap salah satu Boss Besar dengan tingkat kultivasi King tahap Bumi.
__ADS_1
Namun, kata-kata penuh percaya diri yang diucapkan oleh orang tersebut, nyatanya disambut dengan wajah bingung oleh para wakil pemimpin.
"B-Boss! Itu bukan Bandit Serigala!" Ucap salah satu wakil pemimpin.
"Hmmm? Maksudmu?" Tanya Boss Besar yang berbicara sebelumnya dengan raut wajah heran. Raut heran yang kini juga menghiasi hampir seluruh wajah Boss Besar lainnya.
"Yang melakukan serangan mendadak adalah Akasia Tribe!" Ucap wakil pemimpin.
"Dan melihat dari jumlah anggota yang mereka bawa, sepertinya Akasia Tribe memimpin kelompok gabungan dari seluruh Tribe yang ada di wilayah Gurun Lima Warna dan Pasir Berisik!" Tutup sang wakil pemimpin.
***
(Lokasi pertempuran. Akasia Tribe)
"Hmmmm….! Mereka benar-benar berkumpul di satu tempat!" Gumam seorang pemuda dengan kontur wajah tegas. Orang ini tak lain adalah Tasik Khan, tuan muda pertama dari Akasia Tribe.
Ia saat ini berada di garis belakang pasukan penyerang. Memandang dengan tatapan antusias kearah puluhan kelompok Bandit tak jauh di hadapannya. Sementara di belakang Tasik, beberapa wanita muda berpenampilan lusuh berdiri menemani dengan ekspresi wajah takut.
"Terimakasih banyak telah memberi informasi! Jika informasi dari kalian ini sedikit saja terlambat, aku tak tahu nasib buruk apa yang akan menanti wilayah Gurun Lima Warna dan Pasir Berisik!"
"Aliansi 55 kelompok Bandit besar! Itu terlalu mengerikan!"
"Namun, dengan informasi yang kalian berikan, kita mempunyai kesempatan untuk melenyapkan seluruh kelompok Bandit ini sebelum rencana mereka berkembang lebih jauh!" Ucap Tasik, kepada beberapa gadis muda di belakangnya.
"Itu bukan masalah tuan! Akan baik bagi kami juga bila orang-orang keji itu lenyap!" Jawab salah satu gadis muda.
"Apakah kami sudah boleh pergi sekarang?" Tanyanya kemudian.
"Tentu saja! Biar aku yang mengurus semuanya setelah ini! Kalian pasti telah mengalami banyak momen mengerikan saat di perbudak orang-orang keji itu!"
"Aku berjanji setelah semua beres, kalian akan mendapat imbalan yang layak!" Tutup Tasik. Kini ganti mengalihkan pandangan kembali kearah kelompok Bandit. Benar-benar telah mengabaikan gadis-gadis muda tersebut.
Dari sorot matanya, tampak sekali ia sudah tak sabar meraih nama besar dari penyerangan kali ini.
"Tasik Khan, orang yang memimpin pemusnahan seluruh kelompok Bandit besar! Namaku akan menggema dan melegenda di wilayah Gurun Lima Warna dan Pasir Berisik untuk puluhan, bahkan ratusan tahun kedepan!" Gumam Tasik. Dengan tatapan mata penuh ambisi.
Disisi lain, kelompok gadis muda kini mulai mengambil langkah meninggalkan tempat. Tak ada yang sadar, bersamaan dengan kelompok gadis ini meninggalkan tempat, senyum aneh tersungging pada wajah masing-masing dari mereka.
---
Note :
Yuk yang belum saling follow di ig, jika berkenan, silahkan follow akun SDC ^^
__ADS_1