Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
216 - Tersudut


__ADS_3

NOTE :


Halo teman-teman. Cuma sedikit ingin menyapa dan kalau boleh sedikit mengingatkan, untuk setidaknya menyempatkan memberi LIKE dan KOMENTAR. Karena Like dan komentar kalian adalah bentuk dukungan buat saya sebagai author ^^


Dan sebagai pembaca aktif beberapa karya novel author lain, saya memahami, kadang teman-teman semua sebenarnya bukan tak mau menyempatkan waktu, cuma terlalu asyik membaca sehingga lupa memberi like atau komentar. Hal ini juga sering terjadi pada saya.


Kenapa saya mengingatkan? karena saya lihat akhir-akhir ini jumlah like sedikit menurun. Dan karena NT memakai sistem level untuk menentukan besaran penghargaan penghasilan bagi para Author, jadi saya harap teman2 sedikit meluangkan waktu untuk memberi LIKE dan KOMENTAR, agar pihak NT tidak menggunakan alasan menurunnya peforma karya saya untuk menurunkan level saya ^^


Sebenarnya saya tak terlalu melihat penghasilan di NT sebagai penyemangat dalam hal menulis, karena pure saya cinta anak pertama saya ini sepenuh hati. Tapi beda lagi dong dengan orang-orang sekitar saya, khusus nya istri wkwkkw, kalau dia tahu saya yang tiap hari sibuk menulis tak mendapat penghasilan yang sebanding, tentu akan membuat sedikit urusan menjadi pelik :v


Cukup sekian Note yang sekaligus curcol ini. Mohon maaf bila ada salah kata, mohon pengertiannya ^^


-------


(Medan tempur selatan, kelompok Desa tersembunyi+Issabela, Gregoric, dan Arthur V.S House Helsinsberg)


*Wuuuushhhh….!!!


Keenam kepala Skull Hydra menyalak dengan keras saat melihat kelompok dari Dark Guild maju menyerang. Kemudian, dengan Hell Fire andalannya, makhluk ini mulai melancarkan serangan balik, menggunakan keenam kepalanya, menyemburkan api hitam keberbagai arah.


Serangan Skull Hydra ini, segera membuat para Assassin dari Dark Guild mengambil langkah mundur kembali, menghentikan serangan mereka. Dengan tatapan waspada, mereka memandang api hitam yang di semburkan Skull Hydra tersebut.


"Hmmm… jadi itu makhluk aneh yang kalian ceritakan beberapa hari lalu?" Tanya Beladro, kepada salah satu anggotanya.


"Benar sekali tetua! Api hitam dari makhluk ini sangatlah berbahaya, itu bahkan bisa membakar atribut kegelapan milik kami!" Jawab anggota Dark Guild yang mendapat pertanyaan dari Beladro.


"Hmmm… menarik!" Kata Beladro. Kemudian mulai kembali melihat kearah Arthur dengan tatapan penuh minat.


'Aku harus mengetahui rahasia di balik Makhluk ini dan juga Api hitam miliknya!' Gumam Beladro dalam hati.


Setelah menggumamkan hal tersebut, sambil terus melihat kearah Arthur, Beladro mulai memberi intruksi lain pada anggotanya.


"Kalian bertiga, bantu mereka menahan makhluk itu!" Kata Beladro, memberi arahan pada tiga orang yang ada disebelah kanannya, untuk memberi dukungan pada 5 orang lain yang saat ini sedang melawan Skull Hydra.


"Ingat, cukup tahan dan jauhkan saja makhluk itu agar tak bisa mendekati bocah yang ada disana!" Tambah Beladro. Sambil menunjuk kearah Arthur.


"Baik!"


Mendapat intruksi dari Beladro, ketiga orang yang di maksud secara serentak langsung menjawab arahan dari Beladro, kemudian tanpa menanyakan apapun lagi, berubah menjadi sekelebat bayangan hitam.


"Hmmm… tetua ke 20, pimpin 5 orang bersamamu, dan segera tangkap bocah itu!" Kata Beladro. Memberi intruksi lain pada seorang yang merupakan mantan tetua ke 20 dari Dark Guild, dimana ikut membelot bersamanya.


Mendengar perintah ini, tetua ke 20 sedikit mengerutkan keningnya. Ia merasa intruksi tersebut terlalu berlebihan, dimana Beladro menyuruh dirinya yang merupakan seorang tetua, untuk mengurus satu bocah nakal berkelas Immortal. Ditambah lagi, ia masih harus membawa lima anggota lain untuk membantunya.

__ADS_1


Namun, meskipun sebenarnya merasa enggan, tetua ke 20 tak berani menyuarakan apa yang ada dalam benaknya tersebut. Karena ia tahu, pria tua Beladro yang ada di hadapannya ini, adalah pemimpin tegas yang cenderung kejam. Dimana ia tak akan ragu membunuh siapapun bawahannya yang berani mempertanyakan atau menolak intruksi yang ia berikan.


Tetua ke 20 hendak maju untuk memilih timnya sampai tiba-tiba Beladro kembali mengatakan sesuatu.


"Tetua ke 20, sekali lagi kau memperlihatkan gesture yang tampak meragukan intruksiku seperti tadi, jangan salahkan pria tua ini bila memberi sedikit hukuman!" Kata Beladro, menekan semua kalimatnya dengan suara berat yang mencekam.


Meskipun tetua ke 20 hanya menunjukkan ekspresi ragunya untuk sesaat, itupun dalam bentuk sedikit mengerutkan kening, ternyata Beladro masih bisa melihatnya. Hal ini membuat setiap anggota Dark Guild yang ada di sekitar lokasi, mulai memandang ngeri pria tua ini. Namun tak sedikit pula yang memandangnya dengan tatapan kagum. Merasa Beladro adalah sosok pemimpin yang berkarakter.


Sementara itu, mendengar kata-kata Beladro barusan, punggung tetua ke 20 segera menjadi dingin. Menyesalkan ekspresi yang tak sengaja ia buat tadi. Kemudian, dengan gerakan sigap, ia menghadap kearah Beladro, memberi anggukan singkat yang menandakan ia mengerti.


"Bagus, jangan remehkan bocah itu! Segera gunakan kemampuan terbaik yang kalian miliki untuk melumpuhkannya!"


"Jangan sampai mengulang kesalahan di kejadian sebelumnya!" Dengus Beladro.


Tanpa menjawab, tetua ke 20 kembali memberi anggukan singkat, kemudian dengan cepat memilih tim. Segera berubah menjadi sekelebat bayangan hitam setelahnya.


Begitu tetua ke 20 pergi, Beladro kembali memberi intruksi pada beberapa anggota lainnya untuk mengurus Gregoric serta Issabela yang juga berada di lokasi.


"Hmmmm… kalian yang masih ada disini, jangan mengalihkan perhatian pada pertarungan di depan, lakukan observasi secara menyeluruh pada kemampuan bocah-bocah ini!" Kata Beladro, memberi intruksi kepada anggota disekitar nya.


Pria tua ini adalah orang yang memiliki karakter sangat teliti dan begitu memperhatikan detail kecil setiap hal. Oleh karena itu, ia sangat marah saat di kejadian terakhir, pasukan yang ia pimpin, berakhir di permainkan oleh dua orang bocah ingusan.


Belajar dari pengalaman itu, ia berniat melakukan langkah pencegahan. Meskipun sudah jelas ketiga bocah di depan dapat diurus dengan mudah, ia tak ingin kembali mendapati situasi tak terduga seperti yang terjadi di wilayah perbukitan Merak tempo hari.


***


*Booommmmm….!!!


*Boooommmmm….!!!


*Wooossshhhh…..!!!!


Disisi lain, Arthur yang saat ini mulai menghadapi lawan-lawannya, tentu saja dalam sekejap berada dalam situasi sulit. Ia yang merupakan Immortal Surga, harus menghadapi seorang General langit yang memimpin lima orang Assassin berkelas General tahap awal bersamanya.


"Sialann….!!!!"


*Wooooshhhhh….!!!!


Arthur memaki kesal dan segera melemparkan serangan elemen kegelapan miliknya dengan membabi buta kesegala arah. Ia tak tahu lagi harus melawan dengan cara apa. Otaknya buntu memikirkan cara keluar dari situasi sulit yang sedang ia hadapi.


Sambil terus menyerang, Arthur beberapa kali menoleh kearah Skull Hydra, meskipun dari tadi berusaha keras untuk menuju posisi Arthur, Skull Hydra tampak tak mampu lepas dari kepungan delapan orang Assassin Dark Guild yang sedang menahannya.


Hal ini membuat Arthur semakin kesal, karena andai ia bisa mencapai posisi Skull Hydra, atau sebaliknya Skull Hydra mampu mencapai posisinya, Arthur akan bisa mengaktifkan teknik Ultimate Hell Fire miliknya. Dimana dengan teknik ini, Arthur merasa ada kemungkinan bagi dirinya untuk setidaknya bisa kabur dari situasi sulit yang sedang ia hadapi.

__ADS_1


*Booommmm…!!!!


*Booommmm….!!


*Booooommmm….!!!


Saat Arthur tak fokus bertarung karena dari tadi terus melihat kearah Skull Hydra, rentetan serangan elemen kegelapan ganas menghujam tubuhnya, membuat Arthur terdorong menjauh dari lokasinya dengan menggesek keras tanah di bawahnya.


"Urrggghhh…..!!!!"


"Hmmm… elemen kegelapan milikmu memang sangat mengerikan, memiliki intensitas penghancur kehidupan lebih kuat dari milik kami!"


"Tapi, dengan kelasmu yang hanya seorang Immortal, dan ditambah dengan kehadiran iblis kontrak milik kami saat ini, itu terlalu cepat berpuluh tahun bagimu untuk melawan!"


"Jadi, berhenti membuang-buang waktu ku yang berharga! Dengan patuh menyerah sekarang!" Dengus tetua ke 20 Dark Guild, sambil menatap remeh kearah Arthur.


Saat ini, di belakang masing-masing anggota Dark Guild yang sedang di hadapi Arthur, memang terdapat iblis Kontrak Hell Orb yang sedang menemani mereka.


Hal inilah yang membuat Arthur dari awal pertempuran sudah merasa putus asa. Apalagi selain keenam orang yang sedang ia hadapi, masih ada puluhan lain anggota Dark Guild yang saat ini sedang dengan santai menyaksikan pertempuran.


Jika saja sekarang Arthur tidak memakai set tempur pemberian Theo. Mungkin dia sudah akan tumbang dari tadi.


*Boooommmm….!!!


Saat Arthur masih terlihat frustasi dengan situasi nya, sebuah ledakan elemen kegelapan dahsyat tiba-tiba terdengar. Membuat ia secara reflek segera menoleh kearah sumber ledakan.


"Hahhh….!!! Tidak mungkin…! Jangan berani kalian sentuh mereka lebih jauh lagi!" Bentak Arthur marah, saat melihat di lokasi pertempuran lain, tubuh Issabela dan Gregoric saat ini menancap pada dinding tebing, terluka parah oleh elemen kegelapan yang menyelimuti tubuh keduanya dengan liar.


*Boooommmm…..!!!!


Namun, ketika Arthur berteriak marah dan kembali teralihkan, sebuah serangan elemen kegelapan dahsyat kembali menghujam tubuhnya.


Hal ini membuat Arthur kembali terpental. Ikut menabrak dinding tebing bersama Issabela dan Gregoric.


*Gouuggghhhh….!!!!


Arthur segera terbatuk darah begitu menghujam dinding tebing. Sementara Issabela dan Gregoric yang ada di sebelahnya, tampak mengerang kesakitan. Terlihat diambang tak sadarkan diri.


"Hmmm… kurasa waktu bermain-main nya sudah habis!" Dengus tetua ke 20 yang tiba-tiba muncul di hadapan Arthur bersama anggota Assassin Dark Guild lain yang turun dalam pertempuran, pria ini menatap rendah pada tiga orang Knight muda di hadapannya.


"Sialan!"


Arthur hanya bisa memaki dengan frustasi, sama sekali tak menduga kenapa ia begitu tak beruntung harus bertemu dengan Beladro dan seluruh pasukannya dalam medan tempur yang luas ini.

__ADS_1


"Kabut Mistis Abadi!"


Namun, saat Arthur masih tampak frustasi, ia tiba-tiba mendengar suara seorang wanita yang tak asing baginya.


__ADS_2