Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Basecamp House Alknight


__ADS_3

(Ruangan Bosweric. Basecamp House Alknight)


"Element seed yang dapat mengendalikan semua unsur Mana?"


Bosweric sangat terkejut ketika mendengar penjelasan Theo mengenai Element seednya. Selain menjelaskan tentang Element seednya, Theo juga meringkas pengalamannya selama empat tahun ini di dasar Jurang Misterius. Namun atas perintah Masternya, Theo tak mengungkap kebenaran tentang Tiankong. Dia hanya menyebut menemukan pusaka kuno yang memberikan pengetahuan tentang Element seed nya. Selain itu, dia juga mengarang tentang sumber daya Ilahi yang dia temukan di dasar jurang sehingga mampu membuat budidayanya berkembang dengan cepat selama empat tahun ini.


Untuk meyakinkan pamannya, tak lupa dia mengeluarkan beberapa buah bercahaya. Selain untuk meyakinkan, Theo memang dari awal ingin memberikan buah bercahaya itu untuk pamannya. Sehingga dapat segera memulihkan tangan sang paman yang memang telah banyak kehilangan vitalitasnya.


Setelah mendengarkan penjelasan Theo, Bosweric yang masih sedikit ragu, menyuruh Theo menunjukkan langsung di hadapannya. Theo kemudian secara sederhana mendemonstrasikan pengendalian semua Elemen nya.


"Sungguh luar biasa, aku tak menduga ada sesuatu yang seperti ini!" Seru Bosweric kagum.


Setelah terlihat kagum beberapa saat, ekspresi Bosweric sedikit berubah, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Theo, kemampuan yang kau miliki ini memang sesuatu yang bagus, namun aku menyarankan jangan sembarangan memperlihatkannya kepada orang lain." Kata Bosweric.


"Aku mengerti paman." Jawab Theo.


Theo memahami kekhawatiran pamannya, dia bisa menebak pamannya ini memikirkan hal yang sama dengan masternya. Oleh karena itu dia tak bertanya lebih lanjut mengenai alasan. Sekedar mengiyakan. Sementara Bosweric sendiri, ketika melihat tatapan Theo yang menandakan bahwa dia paham dengan maksud kata-katanya, memilih tak membahas lebih lanjut.


"Ngomong-ngomong paman, bagaimana keadaan rumah semenjak kepergianku? Ayah-ibu dan kedua kakak, bagaimana kabar mereka?" Tanya Theo, dari tadi dia sudah tak sabar menanyakan kabar keluarganya.


"Hahhh…. Bagaimana aku menjelaskannya, kondisi ayahmu tak terlalu baik. Dia beberapa kali jatuh sakit, beban yang di hadapinya sangat lah berat." Bosweric mulai menjelaskan, ekspresinya menjadi sedikit muram.


"Permasalahan terus menerus datang silih berganti, peristiwa yang menimpamu dan kedua kakakmu sudah membuat ayahmu tertekan dari awal, dia sangat marah. Belum lagi keberadaanmu yang tidak bisa di temukan, membuatnya sangat frustasi."


"Dan kau tahu sendiri. Kak Ivanovic adalah salah satu orang yang paling dekat dengannya. Mengetahui orang yang mencoba membunuh kalian adalah adiknya sendiri.. hahhh… aku sendiri masih belum bisa terima dengan kelakuan kakak kedua." Raut muka Bosweric menjadi sedih ketika sampai pada pembahasan tentang Ivanovic.


"Masalah terus berlanjut sampai dengan konflik internal yang terjadi sekarang ini, beban ayahmu sebagai lord sangatlah berat." Bosweric mengambil nafas sebentar, sebelum melanjutkan.


"Seolah itu semua belum cukup, ada satu insiden yang terjadi dengan ibumu juga.." ketika membahas tentang kakak iparnya, Bosweric terlihat ragu untuk melanjutkan.


"Ibuu? Ada apa dengan ibu? Katakan dengan jelas paman!" Theo segera merasa khawatir.


"Hahhh… masalah ini, kurasa biar ayahmu sendiri yang menjelaskannya. Yang jelas ibumu baik-baik saja." Kata Bosweric, menolak menjawab pertanyaan Theo.


Mendengar itu, meskipun masih merasa sedikit tidak puas, Theo tak memaksa pamannya menjelaskan lebih lanjut. Asalkan ibunya baik-baik saja, Theo sudah merasa lega.

__ADS_1


"Lalu kedua kakak?"


"Kedua kakakmu, satu bulan pertama pasca kejadian yang menimpa kalian, mereka sangat depresi, terus menyalahkan diri mereka sendiri karena tak mampu melindungimu. Mengurung diri di kamarnya masing-masing."


Mendengar ini, raut muka Theo menjadi sedih. Dia bisa membayangkan apa yang di rasakan oleh kedua kakaknya.


"Mereka baru keluar kamar ketika mendengar kabar Ivanovic membentuk house baru. Memecah keluarga kita menjadi dua." Bosweric kembali menjelaskan.


"Keduanya sangat marah, terlihat membenci Ivanovic sampai ke dasar tulang-tulang mereka, dan saat itu juga mereka berniat mendatangi markas pasukan pemberontak untuk membuat perhitungan."


Ketika sampai penjelasan ini, raut muka Theo segera berubah menjadi khawatir, dia baru sedikit tenang setelah mendengar penjelasan pamannya lebih lanjut.


"Saat itu lah ayah kalian menjadi sangat marah, melihat kedua anaknya di butakan amarah dan akan bertindak gegabah, ayah kalian menghajar kedua kakakmu."


"Dalam keadaan marah, ayah kalian mengatakan kepada kedua kakakmu bahwa kejadian yang menimpamu bukan sepenuhnya salah Ivanovic, andai saat itu mereka lebih kuat, setidaknya kalian bisa kabur."


"Aku sendiri sedikit mengerti maksud dari kakak berbicara kejam seperti itu kepada kedua kakakmu, dia ingin keduanya mengevaluasi diri mereka, berlatih lebih giat lagi untuk menjadi kuat. Bukan malah melakukan tindakan bodoh dengan menyerang markas faksi pemberontak, itu sama saja dengan memberi kesempatan kedua secara gratis kepada kak Ivanovic untuk membunuh mereka berdua."


"Setelah kejadian itu, kedua kakakmu kembali ke akademi, mereka seperti orang gila, berlatih sepanjang waktu tanpa henti." Bosweric menutup penjelasannya.


"Hahhh.. paman, aku ingin segera melihat kondisi ayah." Kata Theo. Dia mengkhawatirkan kondisi ayahnya yang menurut cerita Bosweric sedang sakit-sakitan.


"Yahhh.. ayahmu pasti sangat bahagia mengetahui kau baik-baik saja. Aku baru saja berniat akan menyuruh orang memberi kabar kepada ayahmu bahwa kau akan pulang." Kata Bosweric, terlihat antusias.


"Itu tidak perlu paman, malah membuat ayah tidak bisa tenang. Aku akan kembali sendiri dan menemuinya langsung." Jawab Theo.


"Baiklah kalau begitu, kapan kau berencana pulang? Masih butuh satu hari perjalanan dari sini menuju ke house."


"Aku berencana istirahat dulu disini malam ini, esok pagi baru kembali melakukan perjalanan pulang." Jawab Theo.


"Ahhh.. sayangnya aku tak bisa menemanimu kembali, Basecamp ini membutuhkanku untuk menjaga dan mengatur orang-orang kita." Kata Bosweric. Menyesal tak bisa melihat ekspresi bahagia kakaknya.


"Itu tak masalah paman.. sebenarnya dalam perjalanan kesini, aku bertemu dengan…"


"Ahhh sial, aku melupakan mereka..!"


"Paman aku permisi sebentar." Kata Theo. Kemudian buru-buru berlari keluar.

__ADS_1


Theo baru ingat, menyuruh kedua bersaudara Jasia dan Kalina menunggunya di tebing tak juah dari basecamp. Dia segera berlari keluar untuk melihat keadaan mereka.


***


"Kak Theo… kau kembali.. !!!" Kalina berlari dan langsung memeluk Theo ketika melihat Theo sudah kembali.


"Adiiikkk…!!! Bukankah sudah kubilang jangan seperti itu, itu tidak sopan..!!!" Melihat sikap adiknya, Jasia segera membentak.


"Ahhhh, sudahlah, kenapa kau selalu membentak adikmu? Kau benar-benar mengingatkanku pada kakak perempuanku." Theo segera menghentikan Jaisa yang terlihat akan memarahi adiknya lagi.


"Lagi pula, bukankah aku sudah mengijinkan Kalina memanggilku kakak? Jadi jangan memarahinya terus." Kata Theo, sambil mengusap kepala Kalina yang masih memeluknya.


"Tuan muda.. tidak bisa begituu… "


"Ahh… sudah… sudah… tidak perlu di bahas lagi." Theo segera memotong kata-kata Jasia yang terlihat masih tak bisa menerima.


Mendengar Theo tak ingin membahas lebih lanjut, Jasia hanya bisa menurut. Menelan lagi kata-katanya. Kini dia hanya bisa melotot kearah adiknya. Sementara Kalina yang melihat sang kakak mulai memelototinya, malah menjulurkan lidahnya. Memasang ekspresi puas penuh kemenangan.


"Kauuuu….. !!!!" Melihat sikap adiknya, Jasia segera ingin maju menjewernya.


"Hahhh.. Jasia sudahlah, adikmu masih kecil, kenapa kau marah begitu?" Kata Theo, kemudian mulai mengandeng Kalina berjalan meninggalkan tebing.


Merasa diatas angin karena Theo selalu membelanya, dan untuk pertama kali bisa menang melawan kakaknya, Kalina yang berjalan di gandengan Theo menoleh kebelakang sekali lagi. Kemudian memasang senyum manis dengan ekspresi menang kearah kakaknya. Setelah melakukan itu, dia memalingkan lagi mukanya, dan mulai merangkul tangan Theo dengan manja.


Melihat sikap adiknya. Jasia segera menjadi sangat kesal. Dia menghentakkan kaki beberapa kali ketanah.


"Lihat saja nanti, tunggu sajaaa… tunggu sajaaa…" Gumamnya. Sambil terus melihat punggung adiknya, kemudian mulai berjalan.


Kalina sendiri tiba-tiba merasakan punggungnya menjadi dingin, kali ini dia tak berani lagi menoleh kebelakang, merasa sang kakak akan memakannya hidup-hidup jika berani menoleh lagi.


-------


Berikut merupakan gambar ilustrasi dari Kalina.


(Note : Gambar ini bukan milik saya, saya cuma memilih dari beberapa referensi yang sesuai dengan imajinasi saya tentang gambaran Kalina.)


__ADS_1


__ADS_2