Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
401 - Cemas


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Didepan pintu masuk ceruk penjara alami)


"Bagaimana? Apa kita periksa saja kedalam?" Ucap Feizel dengan ekspresi wajah cemas.


"Hmmmm…! Kenapa kau begitu ceroboh! Membiarkannya masuk seorang diri tanpa pengawalan!" Dengus Darsa. Tampak sangat marah pada Feizel.


"Hei! Kenapa menyalahkanku? Itu adalah intruksi langsung dari Boss Besar yang menyuruhku menunggu disini sementara ia pergi masuk seorang diri!" Bantah Feizel, tak terima ketika harus di kambing hitamkan.


"Jika bukan salahmu, lalu salah siapa? Gadis kecil Syakira yang ada di sana!" Bentak Zota. Sambil menunjuk kearah Syakira yang kini juga hadir bersama kerumunan orang lainnya.


"Jaga mulutmu! Kenapa itu malah salah Syakira? Ia tak tahu apa-apa!" Dengus Razak, merasa tak terima Syakira disebut-sebut.


"Bocah! Itu hanya sebuah kalimat kosong! Aku cuma sedang mengejek b*jingan sialan ini! Kenapa kau malah serius!" Ucap Zota, kini dibuat menjadi semakin kesal karena kepolosan Razak.


"Hmmmm….!" Dengus Razak. Memilih tak memberi tanggapan apapun.


Saat ini, di depan pintu masuk ceruk perbukitan yang digunakan oleh kelompok Bandit Serigala sebagai penjara alami untuk menahan tawanan perang, hampir seluruh wakil pemimpin Bandit Serigala serta orang-orang berpengaruh lain sedang bergerombol dengan ekspresi wajah cemas.


Situasi ini terjadi karena beberapa waktu yang lalu, Feizel yang bertugas menjaga, mulai merasa panik ketika sudah lebih dari setengah hari Theo yang memasuki ceruk perbukitan seorang diri, tak juga kunjung keluar. Menyebabkan Feizel yang tak tahu harus mengambil langkah apa, akhirnya memutuskan untuk memberi kabar kepada para wakil pemimpin Bandit Serigala yang lain.


Terlebih dari dalam penjara ceruk perbukitan, dimana yang pada awalnya selalu dalam kondisi sunyi, kini mulai terdengar berbagai suara ribut dari ribuan tawanan. Suara-suara ribut ini, bahkan bisa di dengar dari luar ceruk perbukitan.

__ADS_1


Satu kondisi yang jelas menyebabkan setiap wakil pemimpin yang berada di lokasi, menjadi semakin khawatir. Mereka mulai beranggapan bahwa ribuan tawanan perang yang ada di dalam, entah bagaimana caranya, telah balik menawan Theo. Pemikiran tersebutlah yang membuat setiap orang kini menjadi ragu untuk melakukan langkah selanjutnya. Khawatir akan mengambil keputusan yang salah dan justru mencelakai Boss Besar mereka.


"Hmmmm… Apa yang kalian khawatirkan? Orang itu sangat kuat! Dan yang paling utama, dia juga sangat licik! Aku ragu dia sekarang berada dalam situasi yang berbahaya!" Ucap Gerel. Dengan intonasi nada santai.


Kesantaian yang ditunjukkan Gerel, tentu saja segera membuat setiap orang menatap kearahnya dengan tatapan sengit. Merasa wanita yang mereka kenal sebagai Snakewoman ini, benar-benar tak terlalu peduli pada keselamatan Boss Besarnya.


"Jaga nada bicaramu Snakewoman! Ini adalah Boss besar yang kita bicarakan! Kedudukannya dalam kelompok Bandit Serigala tak tergantikan! Keselamatan Boss Besar adalah prioritas utama dari segala prioritas kelompok Bandit kita!" Dengus Sanir.


"Hmmmm… Kenapa begitu serius? Bukankah itu memang fakta bahwa dia kuat?" Balas Gerel, masih dengan intonasi nada yang sangat santai.


"Tetap saja! Di dalam ada ribuan musuh!" Balas Zota.


"Musuh yang seluruhnya telah dirantai? Apa yang perlu dikhawatirkan? Dimataku, kecemasan yang kalian tunjukkan saat ini justru bisa dibilang sebagai satu penghinaan baginya!" Ucap Gerel. Kini dengan nada ketus.


"Kalian seolah mempertanyakan kemampuan pemimpin kelompok! Padahal ia sudah memberi intruksi dan dengan percaya diri memutuskan untuk masuk sendiri saja!"


"Dengan otak cerdiknya yang cenderung licik itu! Ia jelas cukup percaya diri bisa keluar dengan tanpa luka apapun!" Tutup Gerel. Mengakhiri kalimatnya dengan satu tusukan tajam pada setiap orang yang saat ini berada di lokasi.


Kata-kata tajam Gerel, membuat semua wakil pemimpin yang hadir, mulai menggertakkan giginya masing-masing. Mereka sangat ingin membantah wanita di hadapannya tersebut, namun tak menemukan kalimat bantahan apapun yang bisa di gunakan. Karena dalam lubuk hati mereka semua, setiap orang merasa apa yang dikatakan oleh Gerel adalah tepat.


"Hahh…! Begini saja, dari pada terus berdebat tak jelas, lebih baik kita membentuk tim kecil untuk memeriksa kedalam! Dengan begitu, jika memang ada situasi darurat, kita akan segera tahu!" Ucap Thomas. Akhirnya ikut memberi pendapat setelah dari tadi hanya diam.


"Ohhh… Sepakat! Biar aku saja yang memimpin tim kecil ini!" Ucap Shadex. Segera menyahut begitu mendengar saran Thomas.


"Hmmm… Dalam mimpimu! Dari semua orang yang ada disini, itu hanya kau yang masih tak bisa dipercaya! Kau jelas ada diurutan terakhir bila harus memilih pemimpin tim kecil ini!" Dengus Thomas.


Kalimat tajam yang segera disambut dengan senyum tipis di wajah Shadex. Tampak tak tersinggung sama sekali dengan kata-kata tajam Thomas.


"Biar aku saja yang memimpin tim kecil ini!" Ucap Sanir, menawarkan diri.


"Baiklah! Ajak Zota dan Darsa bersamamu!" Jawab Thomas.


"Aku ikut juga!" Sahut Razak cepat. Dengan ekspresi wajah keras, tampak memaksa dan tak ingin mendengar kalimat penolakan.

__ADS_1


"Hahh! Baiklah! Bawah Razak bersama kalian juga!" Ucap Thomas. Merasa akan sia-sia jika harus berdebat dengan Razak yang keras kepala. Karena selama ini, bocah itu hanya akan menurut bila Theo yang memberi perintah. Meskipun memang beberapa kali juga Syakira bisa mengaturnya.


"Hmmm… Aku juga ikut!" Sahut Hella.


"Aku juga!" Ucap Gerel.


***


"Semua rantai telah lepas! Bagaimana bisa?" Ucap Sanir, dari atas perbukitan.


Bersama dengan Zota dan Darsa, serta Razak, Gerel, Hella yang memaksa ikut, atas saran Darsa yang berpengalaman menjadi ketua divisi pelacak kelompok Bandit Langit Hitam selama puluhan tahun, mereka berenam memutuskan untuk melakukan pengamatan dari atas ceruk perbukitan. Mengambil posisi aman.


"Bukan hanya rantai lepas! Ini tampak seperti sebuah pesta besar! Dari mana mereka mendapatkan arak-arak itu?" Ucap Zota. Saat melihat ribuan anggota kelompok aliansi Bandit Pasir Merah yang menjadi tawanan mereka, saat ini terlihat sedang asyik berpesta. Bersikap riang sembari meminum ratusan tong arak.


"Hmmm… Dari pada memikirkan arak! Lebih baik mencari keberadaan Boss Besar!" Dengus Darsa, merasa ada yang salah dengan kepala Zota, karena fokusnya justru tertuju pada tong-tong arak.


"Kalau begitu ayo bergerak menyusuri perbukitan sampai di lokasi terdalam! Karena Boss ingin berbicara dengan Boss Besar kelompok Bandit Pasir Merah, seharusnya ia ada di sekitar sana!" Ucap Sanir.


Dengan saran Sanir, tanpa menunda, tim kecil segera bergerak menyusuri wilayah atas tebing. Menuju kelokasi dimana Boss Besar kelompok Bandit Pasir Merah ditempatkan.


Tak berapa lama kemudian, keenam orang ini akhirnya sampai juga di lokasi yang mereka tuju. Dan begitu melihat apa yang terjadi di sana, ekspresi wajah keenam orang ini segera berubah termenung. Tak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya.


"Ahhhh… Sanir dan yang lainnya! Apa yang kalian lakukan diatas sana! Cepat turun kesini! Kita berpesta sama-sama!" Teriak Theo. Begitu menyadari hawa keberadaan Sanir beserta kelima anggota tim kecil yang ada diatas tebing.


Ekspresi wajah riang Theo, serta ajakannya untuk berpesta. Terlebih melihat dia sekarang dalam kondisi yang sepenuhnya baik-baik saja, sedang saling berbagi arak dengan Boss Besar Bandit Pasir Merah, tentu saja segera membuat ekspresi wajah setiap orang yang ada diatas tebing semakin termenung. Keenamnya mulai menyesal sempat mengkhawatirkan keselamatan Theo.


"Sudah kubilang!" Ucap Gerel.


"Diam! Berhenti berlagak sok dingin! Kau juga sebenarnya sama khawatirnya dengan kami! Oleh sebab itu memaksa ikut!" Dengus Hella. Tak tahan mendengar kalimat sok keren Gerel.


"Hmmm... Padahal sudah tau ia baik-baik saja! Tapi, entah kenapa senyum riangnya itu justru membuatku kesal!" Gumam Darsa.


---

__ADS_1


"Stttt...! Segel mistis! Jempolnya dimainkan kawan2!"


__ADS_2