Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
299 - Sungguh Berisik!


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Hmmmm….!"


Entah sudah berapa lama berlalu, Theo jatuh tak sadarkan diri begitu dentuman keras tiba-tiba terdengar.


"Dimana?" Gumam Theo, saat pertama kali membuka mata. Mendapati ia kini berada di suatu tempat yang terasa asing.


Saat Theo melihat sekeliling, tembok ruangan dengan deretan tiang-tiang penyangga besar dimana seluruhnya berwarna emas terang, kini menjadi pemandangan yang menawan matanya.


"Tempat yang cukup mengerikan! Yang membangun tempat ini pastilah seorang dengan selera glamor terlalu berlebihan!" Ucap Theo, sambil mulai bangun dari posisi tidurnya.


"Dimana ini?"


Theo masih melihat sekeliling dengan berjalan santai, sampai tiba-tiba sebuah suara perempuan terdengar.


"Ohh… Sudah bangun?" Ucap Theo. Sambil menatap kearah Gerel Khan yang dari tadi terbaring tak jauh di posisinya.


"Kau! Tempat apa ini? Kemana kau membawaku?" Bentak Gerel, begitu melihat sosok Theo berada tak jauh dari hadapannya.


"Urrggg….!!! Tak bisakah kau tak terlalu berisik? Suaramu benar-benar mengganggu!"


Theo belum sempat memberi reaksi apapun pada bentakan Gerel ketika suara bentakan lain dimana tertuju pada Gerel, terdengar tepat di sebelahnya.


"Dan siapa pula kau mengaturku?" Bentak Gerel lagi, kali ini kepada Hella yang berada tepat di sebelahnya.


"Aku adalah Hella Asgard! Nona muda ketiga dari House of Asgard! Satu dari 10 Biggest Knight Group!" Dengus Hella, memperkenalkan diri.


"Cih! Hanya nona muda ketiga, kenapa begitu sombong! Aku adalah Gerel Khan! Anak pertama dari Sanghis Khan! Pemimpin dari Barbarian Tribe! Satu dari 10 Biggest Knight Group juga!" Dengus Gerel balik.


"Yahh… yahhh… Kalian punya identitas yang luar biasa! Tapi siapa yang peduli! Jadi sekarang diam dan jangan berisik! Aku benar-benar mulai kesal mendengar perseteruan tak penting kalian!" Kali ini Theo yang mendengus, merasa perseteruan dua gadis di hadapannya benar-benar tak penting dan tak mendasar sama sekali.


"Kau yang diam! Sekarang katakan padaku! Dimana ini!" Bentak Gerel. Begitu mendengar kata-kata Theo.


"Hei gadis cabul! Kenapa terus membentaknya!" Bentak Hella, entah kenapa merasa kesal setiap kali mendengar Gerel membentak Theo.

__ADS_1


"Siapa yang kau sebut gadis cabul?" Tanggap Gerel.


"Siapa lagi? Tentu saja kau! Lihatlah pakainmu itu! Kau seolah ingin agar setiap pria melihat tubuhmu dengan gratis! Sebagai anak seorang Khan, apa ayahmu tak bisa menyediakan pakaian yang lebih layak?" Ucap Hella, mengomentari pakaian serba minim Gerel yang tampak tak cukup untuk menutupi tubuhnya yang begitu menonjol di beberapa bagian.


"B3debah! Apa urusanmu dengan caraku berpakaian? Kau pikir cara berpakaianmu sendiri seperti apa? Seorang wanita namun memakai armor penutup penuh milik lelaki, apa ayahmu tak mengajari bagaimana berpenampilan selayaknya seorang wanita? Atau ayahmu begitu ***** dan tak menyadari bahwa anaknya adalah seorang wanita? Sehingga mendandaninya seperti seorang lelaki?" Ucap Gerel, membalas kata-kata tajam yang disampaikan Hella, dengan hinaan yang tak kalah tajam.


"B4jingan? Ingin bertarung?" Bentak Hella. Kini mulai mengambil posisi berdiri.


"Kau pikir aku takut?" Bentak Gerel balik, ikut berdiri. Sambil mengeluarkan senjata Cakram kembarnya.


Melihat Gerel mengeluarkan senjata, tanpa menunda Hella melakukan hal yang sama, mengeluarkan Tombak Es dari dalam Spacial Ring miliknya.


Keduanya mulai mengambil kuda-kuda menyerang sambil saling tatap dengan tatapan tajam untuk beberapa saat. Sebelum mulai mengayunkan senjata masing-masing.


*Dentang…!!!


Benturan antar senjata Cakram milik Gerel, dengan Tombak Es milik Hella, menggema diseluruh ruangan ketika dua senjata tersebut akhirnya saling beradu.


*Draaakkkk….!!!


*Bammmm….!!!


Namun, ketika Hella dan Gerel yang sudah kembali memasang kuda-kuda menyerang akan sekali lagi melancarkan teknik serangannya masing-masing, sebuah suara seperti dinding yang bergetar diakhiri dengan suara dentuman ringan dari bergesernya tembok batu, tiba-tiba terdengar.


"Jika kalian masih asik sendiri, maka aku pergi duluan!" Ucap Theo. Dalam kekesalannya, ternyata dari tadi ia sudah tak memperdulikan dua wanita yang sedang berseteru tanpa alasan yang jelas dihadapannya tersebut. Mulai mencari pintu keluar rahasia dari ruangan asing tempat ia berada sekarang.


"J4lang! Bukankah sudah kubilang untuk tak lagi membentaknya?" Dengus Hella, kemudian mulai maju menerjang dengan Tombaknya kearah Gerel.


"Siapa yang kau panggil j4lang?" Bentak Gerel balik. Ikut maju menyerang.


*Dentang…!!!


Benturan antar dua senjata kembali terdengar nyaring diseluruh ruangan.


"Haahhh….!!! Baiklah, selamat tinggal!" Dengus Theo, mulai melangkah meninggalkan ruangan begitu melihat dua wanita dihadapannya kembali berseteru.


"Kenapa juga aku harus berakhir dengan dua wanita ini? Dimana Thomas dan Razak?" Gerutu Theo.


"Jangan pergi!" Teriak Gerel.


"Boss…! Tunggu!" Seru Hella.


Tanpa menunda, dua gadis ini yang sebelumnya masih bertarung, segera berlari mengejar Theo.


***

__ADS_1


"Tempat apa ini sebenarnya? Kemana kau membawaku saat sedang tak sadarkan diri?" Tanya Gerel untuk kesekian kalinya.


"Kenapa kau terus mengulang pertanyaanmu? Bukankah Boss sudah menjawabnya! Kita juga tak tahu tempat apa ini! Kejadian terakhir adalah munculnya sebuah portal dengan istana raksasa keluar dari dalamnya. Setelah itu terdengar suara dentuman keras! Setelah kejadian itu, kita jatuh tak sadarkan diri dan berakhir di tempat ini!" Ucap Hella, menggantikan Theo menjawab pertanyaan Gerel.


"Dan kenapa juga aku harus percaya dengan cerita konyol penuh fantasi seperti itu? Portal misterius dengan istana raksasa keluar dari dalamnya? Seorang bocah juga akan tau bahwa kalian sedang mengada-ada!" Bentak Gerel. Begitu mendengar jawaban dari Hella.


"Kau…."


Hella hendak kembali menjawab kata-kata Gerel sampai tiba-tiba suara peringatan keras dari Theo terdengar.


"Diam! Menunduk!" Ucap Theo. Kemudian dengan cepat mengambil posisi menunduk.


Mendengar itu, Hella dan Gerel tanpa menunda melakukan hal yang sama, mengikuti Theo menunduk.


*Sring…!!!


*Sriing….!!!


*Sring….!!!


Sepersekian detik kemudian, tepat ketika ketiga orang ini sudah menundukkan badan, deretan senjata rahasia mulai muncul dari arah depan, terbang sangat cepat membelah angin dengan suara berisik.


"Kalian berdua! Bukankah sudah kubilang ikuti langkahku? Jangan mengambil lantai yang tidak kuinjak!" Bentak Theo.


"Boss! Wanita ini yang memulai!" Jawab Hella.


"Diam kau j4lang sialan!" Bentak Gerel.


"Bahhh…! Kenapa juga aku harus terjebak dengan kalian? Benar-benar menyebalkan!" Dengus Theo. Ketika mendengar dua orang wanita yang saat ini bersamanya sudah mulai berdebat sekali lagi.


Bertepatan dengan kalimat keluhan Theo, ia yang saat ini sudah begitu kesal, tanpa sadar mulai memukulkan telapak tangan pada lantai yang ada di hadapannya.


*Bamm…!!!


Dan bersamaan dengan pukulan tersebut, sebuah suara getaran keras tiba-tiba terdengar.


"Sialan!"


Theo yang menyadari dirinya baru saja secara tak sengaja mengaktifkan mekanisme formasi jebakan yang terpasang di dalam istana, segera memaki keras. Benar-benar kesal dengan situasi yang saat ini sedang ia hadapi.


Menelan semua kekesalannya, Theo dengan gerakan cepat menyusur area sekitar menggunakan tatapan matanya, mencari bentuk jebakan macam apalagi yang kini akan menyerang kelompoknya. Sampai tiba-tiba….


*Bamm….!!!


Suara getaran keras kembali terdengar untuk kedua kalinya, diiringi dengan lantai pijakan di bawah kakinya mulai terbuka. Membuat Theo, Gerel, dan juga Hella, dalam sekejap jatuh terperosok kedalam lubang yang tercipta secara instan tersebut.

__ADS_1


"Apakah berkah dari dewa keberuntungan sudah meninggalkanku?" Ucap Theo kesal. Bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh bebas di dalam lubang.


__ADS_2