
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Hmmm… Bagus, umpannya sudah dimakan!" Gumam Theo, seraya meletakkan sebuah surat yang sedang ia genggam.
"Jadi Boss! Rencana selanjutnya?" Tanya Feizel.
Tepat di depan Theo yang sedang duduk menghadap meja kerjanya. Dimana biasa ia gunakan untuk menyalin buku usang perpustakaan gelang ruang-waktu, Feizel dan Meirin saat ini sedang berdiri.
"Untuk sementara waktu, kita hanya perlu menunggu! Jika Drani bisa melaksanakan sesuai intruksi, harusnya ia akan memberi kita lumayan banyak waktu!" Jawab Theo. Kemudian mulai mengeluarkan salah satu buku usang perpustakaan gelang ruang-waktu.
"Jadi, kita hanya menunggu tanpa melakukan apapun?" Tanya Meirin, dengan sedikit mengerutkan keningnya.
"Ohhh… Tentu saja tidak! Ada berapa hal yang perlu dilakukan sementara Drani mengulur waktu! Dan beberapa hal ini, tak memerlukan pergerakan keluar dari wilayah kemah besar kelompok Bandit Serigala!" Tanggap Theo.
"Selama belum ada intruksi dariku, aku harap kalian tak membocorkan informasi apapun tentang telah bergabungnya Bandit Rakun Gurun dengan kelompok kita! Informasi ini hanya boleh diketahui tiga orang yang ada di ruangan ini!" Tambah Theo.
Mendengar kata-kata Theo, Feizel dan Meirin segera memberi anggukan kepala singkat, tanda mengerti.
"Boss, sebelumnnya aku ingin bertanya sesuatu!" Ucap Feizel tiba-tiba.
"Ohh, silahkan! Kalian bisa menanyakan apapun, tak perlu sungkan! Meskipun telah mengikat kalian berdua dengan segel Kontrak Tuan-hamba, sudah kukatakan diawal, asal bisa bersikap bijak, aku tak akan pernah memperlakukan kalian berdua layaknya budak!"
"Kedudukan dan status kalian sama dengan para wakil pemimpin divisi yang lainnya! Hukuman dan hadiah, semua tergantung dari kinerja tiap anggota!"
__ADS_1
"Satu hal yang pasti! Aku tak mentolerir yang namanya pengkhianatan!" Tutup Theo.
Jawaban Theo, segera disambut anggukan mendalam oleh Feizel dan Meirin. Meskipun diawal keduanya bergabung dengan kelompok Bandit Serigala karena terpaksa, dimana terjebak oleh tipu daya Theo yang memasang segel Kontrak Tuan-hamba, namun seiring berjalannya waktu, begitu mengenal lebih dekat Theo sebagai Boss Besar, sedikit demi sedikit keduanya mulai merelakan.
Lagipula, Theo selalu menepati semua kata yang ia ucapkan. Kedudukan keduanya benar-benar berada di posisi yang sejajar dengan para wakil pemimpin yang lain. Pembagian harta rampokan harian yang mereka dapat, juga sangat sesuai dengan aturan tingkat yang ditentukan oleh Theo.
Dan ada satu hal yang membuat keduanya semakin berjalan menuju kearah setia total pada Theo. Tak lain adalah suplai Pill Kultivasi kelas tinggi yang secara rutin di bagikan oleh Theo.
Bagaimanapun juga, mencari harta berharga mungkin tak terlalu sulit bagi mantan Boss Besar Bandit seperti keduanya. Bisa dibilang, harta kekayaan keduanya cukup melimpah selama menjabat sebagai Boss Besar kelompok Bandit masing-masing. Namun, ada satu perbedaan yang tak mereka miliki sebelum bergabung dengan kelompok Bandit Serigala, yakni suplai Pill kelas tinggi.
Memiliki harta, tak akan cukup bila tak mempunyai koneksi, bilapun memiliki koneksi untuk bisa melempar harta rampokan dan dijual guna membeli sumberdaya berharga, itu tetap tak akan cukup bila tak memiliki seorang yang ahli di bidang Alchemy yang bisa mengolahnya. Sementara membeli langsung Pill kelas tinggi, harganya akan selangit.
Oleh sebab itu, ketika pertama kali mendapat Pill kelas tinggi dari Theo, baik Feizel dan Meirin, segera terkesima. Semakin terkesima saat menyadari ternyata Pill-pill kelas tinggi tersebut, ternyata di bagikan secara rutin seminggu sekali.
Dari fakta tersebut, Feizel dan Meirin, kini menganggap bergabung dengan kelompok Bandit Serigala, merupakan satu jalan yang telah diatur oleh langit bagi keduanya. Kelompok Bandit Serigala layaknya surga bagi perjalanan kultivasi seorang Knight.
Bahkan jika sekarang tiba-tiba entah bagaimana Theo melepas segel Kontrak Tuan-hamba pada keduanya, dan menyuruh mereka bebas meninggalkan kelompok, baik Feizel dan Meirin, pasti akan tetap memilih untuk bertahan.
"Hmmmm… Jadi masalah visi akhir ya?" Ucap Theo. Yang segera disambut dengan Feizel dan Meirin kembali menganggukkan kepala.
"Baiklah! Karena bagaimanapun juga kalian telah bergabung dalam kelompok, dan kedepan akan menjadi tulang punggung Bandit Serigala, maka itu sudah menjadi keharusan bagi kalian untuk mengetahui tujuan akhir dari kelompok kita!" Jawab Theo. Kemudian mulai menjelaskan visi kelompok Bandit Serigala kepada dua anggota baru tersebut.
Beberapa waktu kemudian, setelah Theo selesai memberi detail visi besar kelompok Bandit Serigala, ekspresi wajah Feizel dan Meirin berubah takjub. Benar-benar tak menduga jika keduanya akan terlibat dalam suatu rencana yang amat sangat besar tersebut. Karena bila benar-benar bisa di wujudkan, nama kelompok Bandit Serigala akan mengguncang seluruh East Region.
"Boss! Jika kau benar-benar serius! Itu berarti, setelah ini kita akan tetap melaju dan berusaha menaklukkan Gurun Purba?" Tanya Meirin.
"Tentu saja! Bukankah sudah kubilang seluruh East Region! Jadi itu bukan hanya Gurun Purba! Juga ada wilayah kepulauan tropis yang berbatasan langsung dengan wilayah Gurun!" Jawab Theo.
"Hahhahaha….! Ini benar-benar mendebarkan! Jauh lebih mendebarkan dari momen ketika aku merintis kelompok Banditku pertama kali yang hanya untuk bertahan hidup dari ganasnya Gurun Kematian! Dan kini, kau malah menginginkan seluruh East Region!" Ucap Feizel. Dengan wajah memerah dan dada naik turun. Benar-benar tampak menggebu-gebu.
"Dasar kaum lelaki! Kalian selalu di butakan oleh tantangan! Jika memang tujuan kelompok Bandit Serigala sebesar itu, maka kita perlu perencanaan matang! Bagaimanapun juga, Gurun Purba jauh lebih keras dari Gurun Kematian!" Tanggap Meirin.
"Kenapa begitu tegang? Masalah detail, bisa dipikirkan nanti! Asal visi telah jelas, misi dapat disesuaikan! Benar begitu Boss!" Tanya Feizel.
__ADS_1
"Aku cukup sepakat!" Jawab Theo singkat. Dengan senyum sederhana.
"Hahh…! Terserah! Lebih baik berdiskusi dengan sesama wanita untuk lebih menenangkan diri! Jadi, aku permisi dulu!" Ucap Meirin.
"Ohhh… Kau mau ketempat Sanir? Sekalian beritahu padanya dan semua wakil pemimpin untuk berkumpul di kemah rapat besok pagi. Aku ingin memberi detail tentang rencana kita setelah ini!" Ucap Theo.
"Baik!" Jawab Meirin singkat. Seraya pergi meninggalkan kemah Theo.
"Feizel, kau pergi ketempat Shadex, katakan padanya untuk datang menemuiku sekarang!" Ucap Theo. Kali ini memberi intruksi pada Feizel.
"Laksanakan!"
***
"Boss! Kau memanggilku?" Tanya Shadex, begitu sampai di hadapan Theo.
"Yah, ada beberapa hal yang ingin kudiskusikan denganmu!" Jawab Theo.
"Ohhhh… Diskusi? Cukup menarik!" Jawab Shadex. Dengan senyum tipis.
"Yah, hanya diskusi ringan tentang strategi pertempuran! Tapi sedikit kuperingatkan padamu, jika sekali saja kau kembali menjawab atau dengan sengaja memberi tanggapan melantur seperti terakhir kali aku mengajakmu diskusi, saat itu juga aku akan mengaktifkan segel Kontrak Tuan-hamba dan membunuhmu!" Ucap Theo. Dengan senyum tipis yang sama.
"Hahahha…! Yang terakhir itu hanya bercanda!" Jawab Shadex.
"Bilang saja kau tak tahu kalau segel Kontrak Tuan-hamba yang kupasang, juga bisa digunakan untuk mendeteksi kebohongan!" Tanggap Theo. Seraya mengeluarkan satu set papan catur.
"Baik, mari menghabiskan malam dengan diskusi sembari bermain!" Tutup Theo.
----
Note :
Hari minggu, satu chapter ya ^^
__ADS_1