
Catatan Penulis :
Selamat malam kawan-kawan pembaca semua.
Dalam catatan penulis kali ini, saya tak akan terlalu banyak menyampaikan kata-kata, penulis hanya ingin sekedar berbagi kebahagiaan dan menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh kawan-kawan pembaca semua.
Karena berkat dukungan kawan-kawan sekalian, tepat hari ini, karya penulis, anak pertama penulis, telah mencapai kontrak dengan pihak Mangatoon.
Hal ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri buat penulis, karena penulis rasa, capaian kontrak ini merupakan bentuk apresiasi bagi anak pertama penulis yang baru saja lahir, terhitung belum ada dua bulan ini usianya.
Jadi, saya ingin mengucapkan terima kasih dengan secara resmi menjadikan event Spin off sebagai event rutin, yang akan selalu penulis bagikan kepada para pembaca sekalian tiap dua minggu sekali dengan ketentuan yang masih tetap sama seperti sebelumnya. Yakni 3 besar jumlah vote tertinggi, dan juga 3 orang beruntung yang saya pilih acak dari kolom komentar.
Saya kira sekian catatan kali ini, selamat menikmati chapter terbaru. ^^
-------
"Hahhh… hahhh… hahh… " Theo kembali mengambil nafas berat.
Kepulan debu kembali terhampar dihadapannya, namun kali ini juga disertai asap hijau yang sangat pekat.
"Kalau setelah ini kau tak mati juga, secara resmi aku akan menyembahmu sebagai dewa!" Teriak Theo kencang, ekspresinya campuran antara marah, kesal, dan jengkel.
Theo menjadi sangat kesal, karena dia sedikit salah perhitungan. Pada awalnya, dia beranggapan beberapa bola formasi yang dia olah khusus dengan kombinasi serbuk ekstrasi dari gas beracun milik Hydra, akan cukup untuk membunuh Ular Petir Ungu.
Hydra adalah Demonic Beast, seekor makhluk purba yang tingkatannya lebih tinggi dari Spirit Beast. Demonic Beast bahkan memiliki kecerdasan yang mendekati manusia. Oleh karena itu, Theo percaya beberapa bola formasi racun Hydra, akan cukup untuk membunuh makhluk ini.
Nyatanya, Ular Petir Ungu adalah Spirit Beast jenis ular. Spirit Beast jenis ular, secara umum akan memiliki atribut racun. Hal ini membuat Ular Petir Ungu memiliki ketahanan yang lebih baik bila menerima serangan tipe racun.
Theo merasa bodoh karena melupakan fakta dasar tersebut. Dia baru sadar ketika di awal pertarungan, meskipun telah melempar puluhan bola formasi racun, Ular Petir Ungu masih bisa bertahan. Walaupun tubuhnya penuh dengan luka parah.
Hal ini membuat Theo menjadi sedikit frustasi, dia sakit hati karena bola formasi racunnya yang berharga, karena jumlahnya terbatas, harus banyak terpakai hanya untuk melawan makhluk ini saja. Dari 20 bola formasi yang bisa dia buat dari serbuk racun Hydra, sekarang hanya tersisa lima bola saja.
"Hah… hahhh… hahh… " Theo masih bernafas berat, pandangannya fokus kearah kepulan debu.
__ADS_1
Jika dengan semua bola formasi racun, dan serangan penutup menggunakan teknik pertama dosa keserakahan, Sikap Memakan Tubuh masih belum mampu membunuh makhluk ini, dia sudah tak tahu lagi apa yang harus dilakukan selain dengan berat hati memilih pergi.
Teknik pertama dosa keserakahan sendiri adalah teknik yang didapat Theo secara otomatis sebagai pemegang segel Gerbang Dosa ketika sudah mencapai kelas Immortal.
Menurut Tiankong, setiap senjata dalam Gerbang Dosa, memiliki teknik eksklusifnya sendiri-sendiri. Teknik ini terdiri dari lima level. Teknik pertama sampai teknik kelima. Dan akan aktif secara otamatis berdasarkan kenaikan kelas dari Element Seed milik penggunanya. Jadi, Theo baru bisa menggunakan teknik kedua setelah mencapai kelas General dan seterusnya. Oleh sebab itu, Tiankong pernah berkata, naiknya kekuatan para bocah dosa, akan berjalan beriringan dengan tuannya.
Saat ini, kepulan debu bercampur gas beracun Hydra ternyata bertahan sangat lama, butuh waktu hampir satu jam untuk benar-benar menghilang. Theo menghabiskan waktu menunggu dan mengamati dengan terus menyerap mutiara mana. Mengisi ulang simpanan Mananya untuk berjaga-jaga.
Sementara Aria sekarang juga sudah kembali kesisinya. Theo sempat memarahi gadis ini untuk kembali menjauh, namun dia menolaknya. Memilih untuk merawat luka-luka Theo.
Ketika kepulan debu dan gas beracun sudah benar-benar menghilang, kini Theo bisa melihat tubuh Ular Petir Ungu terkapar dengan luka bakar bercampur racun yang melepuhkan kulitnya, kondisinya sangat menggenaskan. Yang membuat Theo bisa bernafas lega adalah, Ular ini sudah tak bergerak sama sekali.
"Akhirnya mati juga!" Gumam Theo.
Dia kemudian bisa dengan lebih santai beristirahat dan mengisi persedian Mananya. Di temani Aria di sebelahnya yang sibuk mengeluarkan berbagai macam simpanan obat. Mengobati luka-luka luar di tubuh Theo.
Setengah hari kemudian, Theo yang sudah mulai kembali kedalam kondisi primanya mulai berdiri. Kemudian berjalan mendekat kearah tubuh Ular Petir Ungu.
"Apa kau serius? Apa benar-benar sudah aman?" Tanya Aria ketika melihat Theo berjalan mendekati tubuh Ular.
"Kau ini, selalu saja memikirkan keuntungan! Sudah sebuah keajaiban kau bisa mengalahkannya!" Bentak Aria kesal melihat sikap Theo.
"Hahahha.. aku tak akan membantahnya kali ini, kau benar. Namun tetap saja, sangat di sayangkan."
Theo kemudian mendekati kepala Ular Petir Ungu yang sudah tak berbentuk. Mengaliri tangannya dengan Elemen cahaya untuk melindungi dari sisa-sisa racun, dia kemudian mematahkan taring ular tersebut.
Cairan ungu dengan sedikit aliran petir segera keluar dari potongan taring. Theo yang sudah menyiapkan guci penyimpanan racun, mulai menampung semua cairan tersebut. Setelah beberapa saat, dia berhasil mengumpulkan tiga guci penuh racun.
"Hahahha.. lumayan, ini juga bisa disebut dengan panen besar!" Kata Theo antusias setelah mengumpulkan racun.
"Sekarang semua bahan untuk obatmu sudah lengkap, kita bisa segera melakukan proses meracik obat." Theo merasa bangga dengan kinerjanya.
Namun, sesaat setelah Theo mengatakan itu, tatto di lengan kirinya mulai menyala, seberkas cahaya putih kemudian terbang keluar. Cahaya putih ini kemudian berubah menjadi sosok roh seorang gadis kecil, yang bentuk tubuhnya hampir mirip dengan Baal dan Mammon sebelum menyerap Kristal Beast.
__ADS_1
Gadis kecil ini memiliki ekor panjang berujung runcing, dengan dua tanduk besar di kepalanya, membuat wajah imut serta manisnya, terlihat sedikit menyeramkan. Dia juga terus memasang senyum menggoda kearah Theo.
"Master…. Aku ingin tubuh makhluk ini!" Kata roh gadis kecil imut kepada Theo, suaranya sangat genit dan manja.
"Ahhh.... Asmodeus!" Kata Theo dengan ekspresi canggung ketika melihat gadis tersebut. Gadis ini tak lain adalah bentuk roh dari gerbang Nafsu, Asmodeos.
Melihat Asmodeus muncul, Tiankong juga ikut muncul keluar dari gelang ruang-waktu.
"Sejujurnya, aku mulai iri dengan keberuntunganmu!" Kata Tiankong begitu dia muncul.
"Kau tahu berapa waktu yang kuperlukan untuk menemukan tubuh yang cocok bagi setiap bocah dosa? Itu adalah hampir 10 tahun untuk satu dari mereka!"
"Dan kau? Belum ada setahun, sudah mendapatkan tiga tubuh yang cocok! Aku tak tahu harus senang atau sebal!" Dengus Tiankong.
Mendengar hal itu, Theo mulai tersenyum bangga. Di hendak menanggapi kata-kata Masternya, namun Asmodeus memotongnya.
"Masterrr…." Panggil Asmodeus dengan manja.
Dia kemudian memeluk lengan tangan Theo. "Aku ingin tubuh itu…" Katanya lagi, semakin manja dan menggoda. Sikapnya ini sangat tak cocok dengan bentuk tubuh anak kecilnya.
Melihat hal ini, Aria yang dari tadi memperhatikan, segera maju. Dia menarik Theo menjauhi Asmodeus, terlihat sangat kesal.
"Siapa lagi makhluk ini? Dan ada apa dengan sikapnya itu?" Dengus Aria kesal.
"Hahahha.. susah menjelaskannya. Gampangnya dia sejenis Baal dan Mammon." Jawab Theo.
Dia sendiri juga merasa sedikit tak nyaman dengan sikap Asmodeus. Oleh karena itu, dari awal kemunculannya, Theo sudah agak risi.
Melihat Theo ditarik menjauh, Asmodeus mulai mendekatinya lagi, kembali memeluk pergelangan tangan Theo dengan manja.
"Singkirkan tangan kotormu! Dasar loli tak tahu diri!" Bentak Aria, menarik Theo lagi menjauhi Asmodeus.
Asmodeus yang mendapat bentakan Aria, bukannya takut, malah mendekat lagi, kembali memeluk pergelangan tangan Theo. Dia kemudian tersenyum nakal.
__ADS_1
"Kenapa memang bila aku memeluk Master? Apa kau cemburu?" Tanya Asmodeus. Senyum nakalnya semakin menjadi-jadi.