
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
*Booommmm….!!!
*Boommmm….!!!
*Booommmm….!!!
Suara ledakan keras, hasil dari benturan dua jenis elemen Kegelapan ganas yang saling beradu, menggema keras di sekitar wilayah tebing.
Sementara itu, diatas langit, tampak dua sosok yang saling bertarung satu sama lain dalam pertarungan level tinggi. Dua sosok ini tak lain adalah Barbatos yang sedang dalam mode tempurnya, menyemburkan atribut kegelapan dalam bentuk Hell Fire.
Melawan Arthur, yang saat ini masih di rasuki serta di kendalikan oleh Jiwa Element Seed kegelapan yang ada di belakangnya. Dimana dalam kondisi diselimuti aura kegelapan ganas, ia terus melempar-lemparkan bola kegelapan kearah Barbatos.
Theo yang baru saja sampai di lokasi, tentu saja menyadari pertarungan sengit yang ada diatasnya. Namun, begitu melihat Aria dihadapannya yang saat ini dalam kondisi terkapar dengan tubuh berlumuran darah. Ia segera mengabaikan pertarungan sengit diatas langit. Bergerak cepat kearah Aria.
Lagipula, dengan kehadiran Barbatos yang sedang turun tangan langsung mengurus amukan Arthur, Theo merasa itu akan percuma baginya untuk ikut campur. Karena menurut Theo, Barbatos yang merupakan iblis kelas tinggi, seharusnya sudah cukup untuk meredakan amukan Arthur. Skala prioritas paling utama sekarang adalah memeriksa kondisi Aria.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Theo. Sambil segera mengambil posisi berlutut memegang tangan Aria, sesaat setelah sampai dihadapannya.
"Gouuchhhh….!!!"
Aria yang menyadari kedatangan Theo, tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi lagi-lagi kalimat yang telah ia susun, tercekat dalam tenggorokannya Membuat ia menyemburkan banyak darah segar dari dalam mulutnya.
Menyadari situasi Aria saat ini sedang dalam kondisi kritis, Theo berhenti mencoba bertanya lagi padanya, kemudian dengan cepat mulai mengedarkan Mana atribut cahaya yang ia miliki, untuk melakukan perawatan menyeluruh pada tubuh Aria.
__ADS_1
Saat Theo mulai sibuk memeriksa kondisi Aria, diatas langit, pertarungan sengit antara Barbatos melawan Arthur, masih terus berlanjut. Pertarungan intens ini, segera membuat lingkungan sekitar, berubah menjadi hancur berantakan. Percikan atribut kegelapan yang terhempas hasil dari puluhan benturan yang terjadi dalam pertarungan, membuat segala bentuk kehidupan dilokasi tersebut lenyap seketika.
"Hihihihi…! Hihihihi…! Hihihihi…! Ini tak akan pernah berakhir! Bila kau terus memaksakan pertarungan seperti ini, maka itu hanya akan menyebabkan tubuh bocah yang sedang kupakai sat ini, hancur dalam beberapa jam lagi!" Kata Jiwa Element Seed. Ditengah jeda pertempuran.
Mendengar itu, Barbatos yang sebenarnya sudah memahami resiko yang di katakan oleh lawannya barusan, hanya bisa berdecak kesal. Bagaimana pun, ia tak mempunyai pilihan apapun selain yang sedang dilakukannya sekarang, yakni dengan terus menyerang Arthur yang tengah dirasuki oleh Jiwa Element Seed, menggunakan Hell Fire.
Berharap Hell Fire miliknya yang sangat sensitif pada atribut kegelapan, dimana memiliki fungsi bisa menyerap serta membakar kegelapan dan kemudian menjadikannya kehidupan baru, akan mampu memberikan efeknya tersebut pada Jiwa Element Seed Kegelapan yang sedang merasuki Arthur.
Namun, setelah berpuluh-puluh serangan ia lontarkan, sampai detik ini, Hell Fire miliknya tampak hanya mampu sedikit meredakan keganasan Jiwa Element Seed yang sedang ia hadapi. Progres yang lambat ini, akan tidak sinkron dengan kondisi fisik tubuh Arthur. Dimana tubuh Arthur tak akan mampu bertahan sampai Hell Fire Barbatos, benar-benar meredakan serta menyerap sang Jiwa Element Seed yang sedang merasukinya.
"Barbatos, dari pada meneruskan seperti ini, dimana kondisi akhirnya hanya akan merugikan kita berdua, bagaimana bila aku memberimu satu penawaran!" Kata Jiwa Element Seed. Memanfaatkan ekspresi ragu yang mulai tampak di wajah Barbatos, untuk mencoba memberinya penawaran.
"Penawaran?" Tanya Barbatos singkat, dengan masih mempertahankan sikap waspadanya.
"Hihihihi…! Ya, sebuah penawaran yang akan sulit untuk kau tolak!" Jawab Jiwa Element Seed.
Mendengar itu, Barbatos tak segera memberi tanggapan, hanya terus memandang dalam diam kearah Jiwa Element Seed yang ada di hadapannya.
"Hmmmm… karena kau diam, kuanggap itu adalah pertanda bahwa kau mau mendengarkan penawaranku!" Kata Jiwa Element Seed. Setelah melihat sikap diam Barbatos.
Mendengar tawaran yang disampaikan Jiwa Element Seed, Barbatos bukannya merasa senang, tapi justru tampak memasang ekspresi marah. Ia merasa Jiwa Element Seed hanya sedang memainkan trik, mencoba meledek dirinya.
"Baj1ngan! Omong kosong apa yang baru saja kau katakan! Aku adalah Barbatos, salah satu dari Lord tertinggi ras iblis! Kau pikir bisa bermain trik murahan seperti itu denganku? Kau pikir siapa dirimu? Apa kau merasa lebih pintar dari seluruh ras iblis? Atau apakah kau merasa dirimu lebih pintar dari si baj1ngan Salomon itu, sehingga bisa mengetahui cara untuk melepas segel yang ia buat?" Bentak Barbatos. Sangat marah. Hell Fire intens kini mulai membara disekujur tubuhnya.
"Siapakah diriku? Dan apakah aku lebih pintar dari Salomon?"
Saat Barbatos berubah kedalam bentuk yang lebih mengerikan, Jiwa Element Seed yang melihatnya, tidak tampak takut sama sekali. Ia malah mulai bergumam pelan, seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Bersamaan dengan gumamannya itu, sebuah aura yang sangat kuno, kini memancar keluar dari dalam tubuhnya, diiringi dengan tanda segel berwarna merah terang, kini tampak mulai muncul diatas kepalanya.
Segel ini sendiri, memiliki bentuk segitiga dengan sebuah mata tertutup berwarna merah darah, berada tepat ditengahnya.
Sementara Barbatos yang awalnya hendak kembali menerjang maju, langsung menghentikan langkah kakinya saat melihat lambang tersebut.
"Tidak mungkin! Lambang itu!" Kata Barbatos, dengan suara bergetar. Kemudian dengan cepat tiba-tiba mengambil sikap bersujud.
__ADS_1
"Hmmm… sekarang kau percaya bahwa aku mampu?" Tanya Jiwa Element Seed.
"Hamba percaya!" Jawab Barbatos singkat.
Sesaat setelah melihat lambang yang berada diatas kepala Jiwa Element Seed. Sikap congkaknya berubah menjadi patuh seketika
"Bagus! Jadi berhenti menghalangiku!" Dengus Jiwa Element Seed.
***
(Lokasi Theo, beberapa saat sebelum obrolan antara Barbatos dan Jiwa Element Seed terjadi)
"Sialan! Kenapa jadi begini!" Kata Theo, dengan ekspresi wajah frustasi setelah selesai memindai seluruh luka yang pada tubuh Aria.
"Master! Apa kau tak bisa melakukan sesuatu?" Teriak Theo kemudian. Mencoba meminta bantuan pada Tiankong.
Mendengar itu, Tiankong yang awalnya masih sibuk melihat-lihat pedang Kuno, dalam sekejab, terbang keluar dari dalam gelang ruang-waktu. Melayang di samping Theo. Ia kemudian mulai mengalirkan Mana cahaya kearah tubuh Aria, ikut memeriksa kondisi nya.
"Hmmm… maafkan aku, luka parah yang menembus dadanya, selain melukai fisik, juga telah memutus beberapa vena penting di dalam Element Seed gadis ini!" Kata Tiankong. Sesaat setelah selesai memindai tubuh Aria.
"Jadi?" Tanya Theo, dengan ekspresi wajah tertekan. Mendorong Masternya untuk segera menyampaikan semua analisanya tanpa berbelit.
"Jadi, itu sudah jelas, waktunya sudah tak lama lagi. Saat ini, ia dapat bertahan hanya karena simpanan Mana di dalam Element Seednya masih sedikit tersisa!" Jawab Tiankong. Meringkas semua analisanya sepadat yang ia bisa.
Mendengar itu, Theo mulai menggertakkan giginya dengan sangat keras. Jika bahkan Masternya tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Aria, maka tak akan ada orang lain di dunia ini yang akan bisa. Hal ini membuat Theo seketika menjadi sangat marah.
"SIAPA!"
Theo yang sudah tak mampu menahan amarah, segera berteriak lantang, juga mulai melihat sekeliling dengan tatapan buas. Mencari siapa pelaku yang menyebabkan Aria berakhir dalam kondisi seperti saat ini.
Namun, bersamaan dengan Theo mulai melihat sekeliling, tangan Aria tampak sedikit bergerak. Dengan menggunakan sisa-sisa tenaga terakhirnya, ia mencoba untuk mengangkat tangannya tersebut. Berusaha meraih telapak tangan Theo.
Sementara Theo yang merasakan adanya pergerakan dari tubuh Aria, segera kembali memandang padanya, kemudian membantu Aria untuk mengarahkan tangannya. Menggenggam erat telapak tangan gadis ini.
"Kau ingin menyampaikan sesuatu?" Tanya Theo, dengan nada berat yang bergetar.
__ADS_1