Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Jasia dan Kalina


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


Pertempuran antara Theo melawan kelompok House Ironhead berlangsung tidak terlalu lama. Dengan beberapa trik, dan diselingi sedikit permainan mental, Theo berhasil membunuh keenamnya berturut-turut.


Hasil ini sebenarnya sudah dapat di tebak oleh Theo sejak pertarungan belum di mulai. Setelah menjalani hampir 400 tahun untuk menaklukan tiga gerbang dosa, dia menjadi kaya akan pengalaman tempur. Karena memang dalam dunia ilusi itu, Theo di lahirkan sebagai seorang pendekar ahli dari tiga ras yang berbeda. Dengan berbagai keahlian berbeda pula.


Meskipun bukan pertarungan nyata, mungkin cuma bisa di sebut sebagai simulasi pertarungan. Namun, dalam perjalanan keluar dari jurang misterius, Theo telah mengasah dan mempraktekkan tekniknya dalam ratusan pertarungan melawan berbagai macam jenis Spirit beast.


Pertempuran nyata melawan spirit beast tersebut memberi Theo kesempatan untuk mengembangkan berbagai gaya bertarung yang ia dapatkan dalam dunia ilusi, menggabungkannya dengan berbagai kombinasi.


400 tahun di dunia ilusi juga meningkatkan sisi kreativitas Theo. Membuatnya memiliki berbagai macam pilihan teknik, dan mendorongnya untuk sering melakukan eksperimen. Menggabungkan berbagai teknik menjadi teknik-teknik baru ciptaannya sendiri. Salah satunya adalah teknik tubuh besi. Sisi kreativitas ini pula yang membuatnya bisa mendapatkan inspirasi, untuk membuat teknik langkah siput.


Selain itu, secara mental, bila di bandingkan dengan Theo, keenam lawannya bahkan tidak bisa di sebut sebagai anak-anak. Umur mereka mungkin sekitar 30-40 tahun. Tidak bisa dibandingkan sama sekali dengan usia mental Theo yang kurang lebih 400 tahun.


Keunggulan usia mental inilah, yang digunakan Theo untuk mempengaruhi dan memanipulasi mental lawannya. Salah satu contohnya adalah dengan terus membocorkan auranya, sehingga lawannya bisa dengan mudah mengetahui kelas budidaya theo. Hal ini mendorong lawannya cenderung meremehkan Theo dari awal sampai akhir. Meskipun memang, kebocoran aura untuk pertama kali bukan bagian rencana Theo. Dia hanya tersulut emosi melihat kondisi gadis kecil.


Berbagai kondisi diatas adalah faktor-faktor yang membuat Theo yakin bisa mengalahkan keenam lawannya, bahkan sebelum pertarungan di mulai.


Namun, untuk masalah mental, jangan bandingkan Theo dengan masternya. Tiankong telah berusia setidaknya lebih dari 10.000 tahun. Oleh karena itu, ketika di depan mastenrya, theo sering kali di permainkan. Dijadikan sebagai bahan lelucon untuk mengisi waktu luang.


Saat ini, setelah pertarungan berakhir. Theo terlihat sedang memeriksa setiap tubuh lawannya satu persatu. Ia mengumpulkan rampasan perangnya. Walaupun juga tak terlalu berharap banyak, karena keenam lawannya terlihat hanya anggota biasa dari house Ironhead.


Setelah memeriksa beberapa saat, Theo cuma mendapatkan sumberdaya yang tak terlalu berharga. Beberapa tanaman obat, senjata kelas rendah, dan beberapa puluh mutiara mana perunggu.


Begitu urusannya selesai, dia mulai berjalan mendekat ke arah dua gadis muda yang telah di selamatkannya. Sang gadis kecil terlihat telah berada di sisi kakaknya, yang masih terbaring penuh luka. Belum bisa terlalu banyak bergerak.


Ketika Theo mendekati mereka, tatapan kedua gadis ini terlihat ragu. Mereka merasa Theo terlihat mencurigakan dan menakutkan. Meskipun telah menyelamatkan mereka, pembantaian keji yang di lakukan Theo sebelumnya masih membekas di kepala mereka.


Begitu Theo sampai dihadapan kedua gadis, ia hanya menatap mereka dalam diam. Sementara kedua gadis, juga menatapnya balik dalam diam. Kondisi canggung ini bertahan untuk beberapa waktu, tak ada yang berinisiatif untuk membuka percakapan.


Theo sudah lama tidak berinteraksi dengan manusia. Selama ini, ia hanya berinteraksi dengan masternya. Masternya sendiri merupakan sesosok roh eksentrik dengan jalan pikiran yang tidak bisa di tebak. Hal ini membuatnya bingung, tak tahu harus membuka percakapan seperti apa.


Sementara kedua gadis, mereka masih curiga dan takut kepada Theo. Sehingga tak berani untuk membuka percakapan. Kondisi ini menimbulkan situasi canggung yang aneh.


"Hmmm… gadis kecil ini lumayan manis, dia akan tumbuh menjadi gadis yang menawan ketika beranjak dewasa."


"Dia bisa menjadi calon menantu yang baik. Jadi, mewakili orang tuamu, kusarankan masukkan dia dalam list wanita yang harus kau jadikan istri!"


Dalam kondisi hening yang canggung, Tiankong tiba-tiba keluar dari gelang ruang-waktu dan mulai memberi saran aneh.


Dalam pertempuran sebelumnya, dia sengaja tak menampakkan diri. Tiankong beranggapan, itu adalah kesempatan pertama Theo, untuk merasakan sensasi pertarungan nyata antar sesama Knight. Jadi, dia tak mau mengganggu agar insting bertarung theo berkembang secara alami. Dia cukup puas dengan hasil akhir pertarungan. Meskipun masih ada beberapa cela untuk evaluasi yang akan disampaikannya nanti.


"Master, apa yang kau katakan? gadis ini masih sangat kecil! Jangan berfikir aneh-aneh!" Theo yang melihat masternya tiba-tiba muncul dan memberi saran aneh, segera menghardik.


"Aku hanya memberi saran dengan santai, kenapa kau serius begitu? Dan bukankah kubilang dia ini calon menantu yang baik. Aku tak bilang untuk menikahinya sekarang, aku cuma memintamu memasukkannya dalam list calon istrimu!"


"Jadi, itu hanya pikiranmu sendiri yang aneh-aneh. Jangan bilang kau memiliki pikiran cabul kepada gadis kecil ini?"


"Ck..ck.. sepertinya aku harus berfikir ulang untuk menjadikanmu sebagai penerusku. Sama sekali tak terpikir olehku untuk memiliki penerus cabul." Jawab Tiankong. Kemudian mulai menatap Theo dengan ekspresi jijik.


"Siapa yang cabul???"


"Bukankah kau bisa membaca pikiranku? Coba baca sekarang! apa aku memiliki pikaran cabul kepada gadis kecil ini?" Bentak Theo.


Theo mulai merasa kesal lagi dengan masternya ini. Tak habis pikir, kenapa di setiap kemunculannya, dia selalu berhasil menyulut emosi Theo. Masternya merupakan gambaran nyata seorang pembully profesional.


"Hahahhahhahahha……hahahahhahahah…."

__ADS_1


"Ekspresi bagus dengan reaksi yang tak kalah bagus!! Hahhahaha…..."


"Kau memang penghibur kelas tinggi, selalu saja bisa membuatku tertawa setiap waktu. Hahahhahaah.." Melihat ekspresi dan reaksi murid nya, Tiankong mulai tertawa lagi.


"Penghibur kelas tinggi kepalamu..!!" Theo tak bisa menahan diri lagi untuk mengutuk masternya ini.


"Hahahhahha… teruskan begitu! pertahankan seperti itu! kau yang terbaik! tak ada yang bisa lebih baik darimu.. hahahhahah…." Melihat Theo makin kesal, Tiankong mulai tertawa semakin keras lagi.


"Hahhhh…." Theo yang tak tahu lagi harus berkata apa, hanya bisa menghela nafas.


Di sisi lain. Melihat Theo yang tiba-tiba berbicara sendiri, kedua gadis semakin ketakutan. Sekarang mereka menganggap Theo bukan hanya kejam tapi juga gila.


"Masih terlalu kecil? Pikiran cabul? Penghibur kelas tinggi?"


Mendengar kata-kata Theo ketika sedang berbicara sendiri, sang kakak segera merasa takut dan menatap kearah adiknya. Kemudian ia segera menarik sang adik kedalam pelukannya. Gemetar ketakutan.


Melihat reaksi kedua gadis, Theo segera menjadi bingung. "Master, mereka tak bisa melihatmu?" Tanya Theo kemudian.


"Orang lain hanya bisa melihatku bila aku mengijinkannya. Ya... saat ini mereka tak dapat melihatku." Jawab Tiankong sambil tersenyum aneh.


Mendengarnya, Theo segera membelalakkan matanya lebar. Sekarang dia tahu kenapa kedua gadis ini menatapnya dengan ngeri. Karena memang percakapan satu arahnya akan terdengar ambigu dan aneh. Sekarang ia sadar, masternya sengaja melakukan ini, untuk membuat Theo terlihat gila dan cabul.


Theo segera maju untuk menjelaskan, namun baru selangkah dia maju..


"Tuan muda… tuan muda… aku mohon lepaskan adikku! dia sudah terlalu banyak mengalami pengalaman mengerikan."


"Aku mohon padamu! aku mohon..! bawa saja diriku ini. Aku berjanji akan menjadi penghibur yang baik. Tak akan pernah mengecewakan tuan muda!"


Sang kakak mulai memohon kepada Theo, dia mendorong sang adik kebelakang dan berlutut di hadapan Theo.


"Apaa…."


Mekihat reaksi sang kakak, Theo kehabisan kata-kata, bingung bagaimana harus mejelaskan.


"Master….!!!!"


Theo yang bingung, hanya bisa melimpahkan semua kesalahan kepada masternya, melotot kearah masternya.


"Kau memang yang terbaik! Hahahha…."


Tiankong kali ini mulai tertawa terpingkal-pingkal tak tertahankan, situasi kacau dan konyol ini sungguh berjalan sesuai dengan rencananya.


***


Setelah menjelaskan dengan susah payah dan usaha keras. Akhirnya Theo bisa meyakinkan sang kakak bahwa dia sama sekali tak akan meyakiti adiknya. Theo juga mulai menjelaskan identitasnya.


"Jadi kau adalah tuan muda ketiga?"


Setelah mendengar penjelasan Theo, kedua gadis segera menjadi kaget. Namun, masih terlihat titik-titik ketidak percayaan di mata mereka. Baru setelah Theo mengeluarkan token house, yang menandakan dirinya adalah anggota keluarga Lord, keduanya mulai bisa percaya.


"Jadi begitu, kau selamat dan berhasil menemukan jalan keluar dari jurang tempatmu jatuh."


Setelah menjelaskan semua situasinya, baru kedua gadis kini benar-benar percaya. Meskipun di sembunyikan dari dunia luar, kejadian yang menimpa Theo dan kedua saudaranya merupakan berita besar dalam internal house. Jadi, hampir semua anggota house Alknight mengetahuinya. Ditambah dengan rambut putih dan mata biru Theo, yang merupakan ciri khas dari anggota keluarga lord, meraka jadi semakin yakin dan percaya kepada Theo.


"Sudahlah, karena semua salah paham telah terjawab, lebih baik sekarang kau pulihkan dirimu dulu." Setelah berkata demikian, Theo mengeluarkan beberapa buah bercahaya dari lengan bajunya.


Kedua bersaudara menerima buah bercahaya tersebut dengan ragu, mereka tak pernah melihat buah seperti itu sebelumnya. Tak tahu harus berbuat apa dengan buah-buah itu.


"Makan saja buah itu! keadaan kalian akan berangsur membaik.." Kata Theo.


Mendengar penjelasan Theo, kedua gadis saling menatap satu sama lain, mereka masih ragu. Bagaimanapun, Theo adalah orang asing yang baru mereka temui. Meskipun penjelasan identitas Theo begitu meyakinkan, mereka masih sedikit curiga.


"Hahhh.. aku tak akan memaksa kalian, tapi dengan kondisimu sekarang, apa kau yakin bisa pergi dari hutan ini dan melindungi adikmu?" Tanya Theo. Menatap gadis yang lebih tua.


Mendengar kata-kata Theo, sang kakak melirik kearah adiknya sejenak, kemudian menguatkan tekad untuk percaya dan mulai memakan buah bercahaya di tangannya. Melihat kakaknya memakan buah tersebut, gadis kecil ikut memakan buah di tangannya.


Beberapa saat setelah memakan buah bercahaya, mereka segera bisa merasakan khasiat buah tersebut. Rasa sakit dan kelelahan yang mereka rasakan mulai sedikit berkurang.

__ADS_1


"Benar-benar buah yang ajaib!" Seru sang kakak.


Dia kemudian mulai memakan lagi beberapa buah bercahaya yang tersisa dengan lahap. Tak memperdulikan rasanya yang sedikit aneh.


Melihat kedua gadis mulai memakan buah bercahaya dengan lahap, Theo hanya tersenyum. Dia teringat ketika pertama kali dia jatuh kedalam jurang dan memakan buah bercahaya, reaksinya hampir sama dengan kedua gadis.


Gadis yang lebih dewasa masih memakan buah bercahaya dengan lahap ketika dia menyadari tatapan dan senyum Theo. Dia segera menghentikan makannya.


"Maafkan aku tuan muda, aku sungguh tak sopan!" Sang kakak segera salah tingkah, merasa sikapnya yang makan dengan rakus dan lahap tidaklah etis bagi seorang gadis.


Dia kemudian berniat mengembalikan buah bercahaya lain yang belum dimakannya. Mulai sadar bahwa buah bercahaya ini pasti sumber daya kelas tinggi yang sangat berharga. Ia merasa tak pantas memakannya.


"Jangan terlalu di pikirkan, habiskan saja semua! Aku masih memiliki ratusan buah-buah seperti itu!"


Setelah berkata demikian, Theo mengayunkan tangannya. Bersamaan dengan ayunan tangan Theo, beberapa buah bercahaya muncul dari udara kosong. Dia berniat memberikannya lagi kepada kedua gadis.


"Pusaka ruang penyimpanan!"


Melihat Theo mengeluarkan buah-buah dari udara kosong, sang gadis menjadi tercengang. Pusaka ruang adalah item langka yang hanya di miliki oleh beberapa tetua, bahkan tak semua tetua memilikinya.


Belum lagi, Theo bisa mengeluarkan beberapa buah bercahaya lainnya dengan santai. Yang menurut sang gadis, merupakan sumber daya langka yang biasanya hanya akan di berikan kepada bakat-bakat muda yang paling menonjol. Semua hal tersebut membuat sang gadis sekarang benar-banar yakin dan percaya tanpa keraguan dengan identitas Theo.


Setelah menerima buah bercahaya tambahan, dia segera membagi buah bercahaya tersebut dengan sang adik, kemudian mulai memakannya lagi.


"Pelan-pelan saja! aku tak sedang terburu-buru, dan lebih baik kau memakan lebih banyak. Kondisimu lebih membutuhkan dari pada adikmu!"


Theo memberi saran ketika melihat sang kakak mulai membagi buahnya lagi dengan adiknya, terlihat begitu perhatian kepada adiknya. Di sisi lain, ketika sang adik mendengar penjelasan Theo, segera memberikan buah-buahnya kembali kepada sang kakak. Terlihat khawatir dengan kondisi kakaknya.


Melihat sikap kedua bersaudara ini, Theo tak bisa menahan senyumnya. Dia semakin merindukan kedua kakaknya.


***


Setelah beberapa waktu, kedua bersaudara kembali pulih dan merasa lebih baik. Sang adik yang memang sebenarnya tidak terlalu terluka, hanya memakan dua buah bercahaya. Dia memberikan semua buahnya kepada sang kakak.


Sementara sang kakak, meskipun belum bisa di katakan pulih sepenuhnya, kini sudah mulai bisa bergerak lebih leluasa.


"Baiklah, kulihat kalian sudah membaik. Karena baru keluar dari jurang misterius, aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada kalian."


"Tapi sebelumnya, boleh aku tahu nama kalian?" Tanya Theo.


Mendengar pertanyaan Theo, kedua gadis kembali menjadi salah tingkah. Mereka merasa semakin bertindak tak sopan. Theo telah menyelamatkan mereka, dan memberi mereka buah berkhasiat tinggi. Namun, mereka bahkan belum memperkenalkan diri mereka.


"Maafkan kami tuan muda, kami sungguh tidak sopan!!"


Sang kakak segera merasa malu dan sedikit takut, kemudian bersujud meminta maaf, sambil mendorong adiknya yang masih termenung untuk melakukan hal yang sama.


"Apa yang kalian lakukan? Cepat berdiri! kenapa kalian begitu serius?" Melihat sikap kedua gadis, Theo segera melangkah maju dan memapah mereka untuk berdiri.


Kedua gadis ragu sejenak kemudian mulai berdiri lagi, keduanya menatap Theo dengan pandangan aneh.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Theo segera menjadi bingung dan bertanya.


"Ituuu…." Sang kakak terlihat ragu untuk menjelaskan.


"Sudahlah, kalau kau tak mau menjelaskan, lupakan saja! lebih baik sekarang perkenalkan diri kalian, agar aku tahu bagaimana harus memanggil kalian." Melihat gadis di hadapannya bersikap semakin aneh, Theo segera memotong masalah tak mau mengejar lebih jauh.


"Ahhh... Nama saya adalah Jasia, dan adik saya ini Kalina." Jasia terlihat ragu sebentar sebelum akhirnya memperkenalkan diri.


Mendengar nama kedua gadis, Theo hanya mengangguk. Dari nama keduanya yang tak menyandang nama keluarga, Theo bisa tahu keduanya bukan anggota House utama, dan hanya anggota house cabang.


Namun Theo tak mempermasalahkan hal tersebut, tak memandang rendah kedua gadis ini hanya karena mereka adalah anggota house cabang. Dia telah merasakan hidup penuh celaan dan hinaan ketika kondisi Element seednya sedang terpuruk. Di tambah kondisi mentalnya yang tidak biasa, membuatnya sekarang menjadi pribadi yang toleran.


"Baiklah, Jasia, bisakah kau menjelaskan kondisi House utama saat ini?"


"Dan juga, tadi aku sempat mendengar pemimpin house Ironhead menyebutku sebagai penyusup. Itu terdengar aneh menurutku, bukankah ini adalah wilayah hutan pinus beku house kita?"


Jasia awalnya mengira Theo akan merendahkannya dan sang adik setelah mengetahui identitas mereka, sama seperti sikap sebagian besar anggota house utama. Oleh karena itu, ketika akan memperkenalkan diri tadi dia sempat agak ragu.

__ADS_1


Namun, Ketika melihat Theo masih bersikap biasa dan tak menunjukan tanda-tanda merendahkan, kini Jasia melihat Theo dengan pandangan baru. Dia mulai merasa lebih nyaman dan segera menjawab pertanyaan-pertanyaan Theo.


"Tuan muda, sebenarnya House kita sedang dalam gejolak besar dalam beberapa tahun ini."


__ADS_2