
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
Saat ini, kelompok house Ironhead terlihat masih melawan Angsa Nafas Api. Mereka terus menggunakan serangan jarak jauh untuk menyerang Angsa tersebut. kelompok yang berjumlah 6 orang ini membagi tim menjadi dua. 3 orang melakukan serangan, sementara 3 orang lain mengisi mana mereka dengan mutiara mana. Dua tim ini bergantian melakukan serangan. Terlihat memanfaatkan situasi sang Angsa yang tak mau meninggalkan sarangnya untuk melindungi telur.
Rencana ini memang terlihat bagus. Karena mereka bisa terus melancarkan serangan yang dapat melukai Angsa tersebut, tanpa harus mendapatkan serangan balik. Melihat situasi ini, hanya masalah waktu sebelum sang Angsa kehabisan mana dan mati tak bisa melindungi dirinya lagi dari serangan.
Setelah beberapa waktu berlalu, sang Angsa akhirnya mulai kehilangan vitalitasnya, mana nya mulai habis, auranya juga mulai melemah. Melihat ini, kelompok house Ironhead menjadi lebih bersemangat.
"Bagus..! Kita lanjutkan seperti ini!"
Mereka mulai lebih bersemangat lagi, melancarkan serangan bertubi-tubi.
Namun, ketika mereka fokus kepada angsa di depan mereka. Seorang pemuda berambut putih, berjalan perlahan mendekati tim yang sedang memulihkan diri. Pemuda ini berjalan dengan santai, namun seperti bersatu dengan lingkungan, tak ada yang menyadarinya. Meskipun sebenarnya kelompok ini akan bisa menyadari kehadirannya bila mereka tak terlalu fokus dengan Angsa yang mereka hadapi. Pemuda ini hanya sekedar menarik auranya.
"Ehemmm…" Ketika Theo sudah berada tepat di belakang ketiganya, dia berdeham sebentar dan mulai merilis auranya. Kini tangannya telah membesar, otot-ototnya mencuat. Meskipun sebelum ini ia menarik auranya, Theo sudah mempersiapkan teknik Iron fistnya, mengumpulkan mana besi di dalam tulang-tulang tangannya sebelum ia mulai berjalan mendekat.
__ADS_1
Ketiga orang yang tengah duduk memulihkan diri ini segera kaget, mereka menoleh kebelakang setelah tiba-tiba merasakan aura kuat tersebut.
Namun, sebelum ketiganya bisa bereaksi. Theo dengan cepat menggenggam kerah baju dua orang dari tiga yang tengah duduk di hadapannya. Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, ia mengangkat dua orang yang tak siap tersebut. Kemudian melemparnya dengan kuat kearah sarang Angsa Nafas Api.
Boooooommmmmm…..!!!!
Dua orang yang terperangkap lengah ini terbang dengan cepat, dan menabrak sarang Angsa dengan keras.
Melihat dua orang yang dari tadi menyerangnya tergeletak sambil mengerang kesakitan di dalam sarangnya, Angsa Nafas Api tanpa menunda segera melayangkan cakarnya dengan ganas. Mencabik-cabik tubuh mereka hingga menjadi berantakan. Dan seolah merasa belum puas, dia mulai memakan potongan-potongan tubuh yang tercecer.
Pergantian peristiwa yang tiba-tiba ini membuat orang-orang dari house Ironhead tercengang. Mereka masih belum bisa benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi. Dari Theo merilis auranya, sampai dia melempar dua orang tersebut, dan berakhir dengan pembunuhan ganas yang dilakukan oleh Angsa Nafas Api, itu hanya berlangsung beberapa detik saja. Kedua Knight yang di lempar bahkan mati dengan mata terbuka. Mereka belum bisa memahami apa yang menimpa mereka.
Theo memang dengan sengaja mengambil waktu yang tepat ketika kedua tim baru saja berganti posisi. Jadi, bisa dibilang tim yang tengah memulihkan diri, masih berada dalam kondisi lemah karena kehabisan mana. Hal ini memudahkan Theo melempar kedua Knight tanpa perlawanan. Meskipun memang faktor kejut juga memiliki peran besar.
Setelah melihat kedua rekannya mati mengenaskan dimakan oleh Angsa Nafas Api, kini seluruh anggota house Ironhead yang tersisa menatap kearah Theo. Termasuk satu dari tiga orang Knight yang sebelumnya tengah memulihkan diri. Saat ini dia telah menjauh beberapa langkah, menatap geram kearah Theo.
"Kuserahkan orang ini padamu.." Kata Theo, memotong.
Sesaat setelah Theo menyelesaikan kata-katanya. Pilar api menyembur keluar dari balik pepohonan hutan pinus, tepat mengenai orang tersebut. Kemudian Jasia melangkah keluar dari balik pohon pinus, sudah dalam bentuk Soul Knight nya.
"Lawanmu adalah aku." Kata Jasia dingin.
Ketika melihat Jasia sudah dalam posisi, Theo segera berlari menerjang kedepan, tak lagi memperdulikan 1 Knight yang tersisa. Dia maju mendekati 3 Knight lain yang sebelumnya tengah menyerang Angsa Nafas Api.
"Bocah sialann..! kau mencari kematian!" Melihat Theo berlari mendekat. Salah satu Knight yang ada dihadapannya segera berteriak, terlihat sangat marah.
__ADS_1
Ketiganya tak menyangkah orang yang melempar kedua rekannya menuju kematian hanyalah seorang pemuda kelas Pioner tahap akhir. Terlebih, kini bocah ini melebih-lebihkan kekauatannya dengan berani menerjang kearah mereka bertiga. Hal ini membuat ketiganya yang sudah sangat marah karena kejadian sebelumnya, menjadi lebih marah lagi kepada Theo. Dengan tatapan penuh kebencian, mereka bersiap menyerang Theo.
Namun, tak seperti dugaan ketiga Knight tersebut. Ketika sudah berada dekat dengan posisi mereka, Theo mengubah manuver arah terjangannya. Dia melompat tinggi melewati ketiganya, dan kemudian dengan anggun mendarat di dalam sarang Angsa Nafas Api. Sesaat setelah mendarat, Theo tanpa menunda dengan cepat meninju Angsa yang ada di hadapannya. Pukulan keras Theo membuat sang Angsa yang dari awal sudah penuh luka dan juga masih terkejut dengan pendaratan tiba-tiba Theo, terlempar keluar tak jauh dari sarangnya.
"Apa bocah ini sudah gila?"
Melihat Theo malah mendarat di sarang, dan menyerang Angsa Nafas Api, ketiga Knight menjadi terkejut. Namun sebelum ketiganya bisa mencerna situasi, Theo mulai mengangkat telur dari Angsa Nafas Api dengan kedua tangannya. Adegan ini membuat ketiga Knight menahan nafasnya. Itu adalah telur yang sangat di jaga oleh Angsa Nafas Api.
"Kelihatannya kalian sedang tak ada kerjaan. Bagaimana kalau membantuku membawa telur ini?" Kata Theo.
"Bocahh.. apa yang…"
Salah satu Knight segera ingin bertanya apa maksud kata-kata Theo. Namun, sebelum dia bisa menyelesaikannya. Theo melempar telur yang tengah dia angkat dengan keras kearah ketiga Knight tersebut.
Melihat telur Angsa Nafas Api yang besar dengan cepat terlempar kearah mereka, salah satu Knight secara reflek memukul telur tersebut. Daya lempar Theo yang kuat, dan pukulan keras dari Knight tersebut, membuat telur langsung pecah ketika mendarat pada ujung tinju Knight yang memukulnya. Cairan isi telur segera berhamburan keluar dari telur dan membasahi ketiga Knight yang memang berada pada posisi berdekatan.
"Kwaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk……!!!!!!!!!"
Melihat telurnya pecah, Angsa Nafas Api berteriak parau. Teriakannya sangat keras, disertai dengan tekanan aura membunuh kuat bocor keluar dari tubuhnya, terlihat sangat marah.
Sang Angsa kemudian melebarkan kedua sayapnya. Bulu-bulu merah pada kedua sayapnya kini mulai mengeluarkan bara api yang membara. Bara api ini kemudian dengan perlahan menyebar dan membungkus seluruh tubuh Angsa tersebut. Setelah seluruh tubuhnya selesai di bungkus oleh bara api, sang Angsa mulai menatap tajam kearah Knight yang meninju telurnya hingga pecah.
"Kwaaaaaaaaaaaakkkkkkk…..!!!!!"
Knight yang mendapat tatapan tersebut segera gemetar ketakutan, merasa ngeri.
__ADS_1
"Berserk! Angsa ini dalam mode Berserk!" Gumamnya.