
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Aneh sekali, lagi-lagi menghilang dalam sekejap." Kata Beladro, begitu selesai memindai area sekitarnya. Namun tidak juga menemukan keberadaan orang yang di carinya.
Dia kemudian terlihat berfikir sejenak, sebelum senyum aneh mulai muncul menghiasi wajahnya.
"Teknik penyamaran?" Katanya, masih dengan senyum aneh.
"Sungguh merepotkan, selain mempunyai teknik gerakan yang diatas rata-rata, kau juga punya teknik penyamaran kelas tinggi!"
"Aku tau kau masih ada di sekitar sini! Lebih baik dengan sukarela keluarlah! Sebelum aku menemukanmu!"
"Mungkin dengan begitu aku masih mempertimbangkan untuk mengampuni nyawamu!" Kata Beladro. Sejurus kemudian, aura seorang King keluar dari tubuhnya dengan liar.
Aura yang sangat kuat ini, segera menekan Theo dan Aria yang hanyalah Knight dengan kelas Immortal. Membuat nafas keduanya yang sudah tertahan diawal, semakin berat. Semetara Arthur, jangan di tanya lagi, dia yang hanya seorang Pioneer tahap surga, sekarang seolah mendapat tekanan dari gunung yang sangat besar, mulai terjatuh berlutut ketanah.
"Ohh... Masih bertahan juga!" Kata Beladro. Ketika tekanan dari auranya masih tak juga membuat orang yang di carinya keluar dari tempat persembunyiannya.
"Bagaimana bila begini!" Lanjut Beladro, kemudian mulai menyelubungi tangannya dengan Mana kegelapan, membentuk beberapa pisau hitam.
Dan tanpa menunda, ketika pisau-pisau kegelapan sudah terbentuk dengan sempurna, dia melemparnya kesegala arah. Menyerang dengan membabi buta, terlihat menyisir seluruh area menggunakan serangan pisau-pisaunya.
"Ini gawat!" Gumam Theo. Ketika beberapa pisau yang melesat, hampir mengenai kubah penyamarannya.
"Bila terus begini, dia akan menemukanmu!" Kata Tiankong, tiba-tiba keluar.
"Aku tahu itu!" Dengus Theo, sedikit kesal ketika Masternya mengatakan seusatu yang sudah jelas.
"Master apa kau punya ide?" Tanya Theo kemudian.
"Ada beberapa, tapi aku sedang malas untuk membantumu! Kali ini, selesaikan sendiri masalahmu!" Gumam Tiankong, kemudian kembali masuk kedalam Gelang Ruang-waktu.
"Sialan! Lalu apa tujuanmu keluar dan berkata seperti tadi! Sempat-sempatnya membuat lelucon!" Dengus Theo semakin kesal.
"Boss..!"
Ketika Theo masih kebingungan dengan cara keluar dari situasi ini, Arthur memanggilnya.
"Apa?"
"Apa-apaan posemu itu!" Kata Theo heran, ketika menoleh dan melihat posisi Arthur.
__ADS_1
Arthur yang tadi jatuh berlutut, kini tampak sudah tengkurap di tanah, tak bisa menahan tekanan dari Beladro.
"Aku tak bisa menahannya lagi!" Kata Arthur, sesaat kemudian, Tatto pentagram di dahinya mulai muncul dan menyala.
"Apa yang kau lakukan? Kau pikir akan bisa melawan pria tua itu? Bahkan bila kau memanggil iblismu! Itu masih belum cukup! Dia juga punya kemampuan memanggil iblis!" Gumam Theo.
"Bu…bukan.. aku bahkan tak ada niat memanggil makhluk menyeramkan itu!"
"Hanya saja! Dia dari tadi mengomel tak jelas dan mengatakan aku sangat memalukan!"
"Saat ini dia sedang memaksa untuk keluar! aku bahkan sudah kesusahan menahannya!" Kata Arthur.
"Sialan! Apa iblismu itu ingin kau, tuannya. Mati konyol disini!" Dengus Theo, tak habis pikir dengan iblis kontrak milik Arthur.
"Boss… lakukan sesuatu!"
"Aaarrggghhh….!!!!" Situasi ini membuat Theo semakin frustasi, dia mulai menjambak rambutnya sendiri.
*Booommmmm….!!!
Di tengah rasa frustasi Theo, sebuah ledakan keras terdengar. Beladro yang awalnya hanya melempar-lempar pisau, kini sudah mulai terlihat tak sabar, dia mengganti serangan pisau kegelapannya dengan serangan berdaya ledak tinggi.
"Dasar pria tua bau tanah! Sialann…!!!" Dengus Theo ketika melihat situasi makin tak terkendali.
"Tenangkan dirimu!" Kata Aria. Ketika melihat Theo semakin frustasi.
"Bagaimana aku bisa tenang! Apa kau punya ide?"
"Lalu kenapa kau menyuruhku tenang!" Theo hampir kelupaan untuk membentak ketika mendapat jawaban Aria. Orang-orang disekitarnya sungguh tak bisa diandalkan.
"Hmmm… apa memang dia sudah pergi?" Gumam Beladro, ketika dengan semua serangannya, tak kunjung juga menemukan posisi Theo.
"Baiklah, untuk memastikan terakhir kalinya, aku ratakan saja semua area!" Kata Beladro.
Sesaat setelah mengatakan hal itu, aura kegelapan yang sangat pekat mulai memancar kuat dari tubuhnya. Dia terlihat bersiap meledakkan semua area yang ada disekitarnya.
Melihat itu, Tiankong kembali keluar dari Gelang Ruang-waktu. "Ohh… kita lihat, apakah setelah ini, dewa keberuntungan masih bisa melindungimu!" Kata Tiankong, sesaat setelah melayang keluar.
"Master, ini bukan waktunya bercanda! Lakukan sesuatu!" Kata Theo cepat, tampak mulai panik.
"Tidak, sudah kubilang selesaikan sendiri, akhir-akhir ini kau terlalu mengandalkanku!" Kata Tiankong santai. Kemudian mulai terbang menjauh.
Setelah agak jauh, sambil terus mengamati Theo, dia mengambil posisi tidur santai. Seperti sedang melihat pertunjukan.
"Master! Ayolah, jangan konyol!" Theo kembali memanggil Tiankong.
"Ohh dewa keberuntungan, tunjukan berkatmu lagi! Selamatkan putra kesayanganmu ini dari malapetaka!" Bukan menjawab panggilan Theo, Tiankong malah mulai berdoa dengan nada aneh.
Mendengar itu, Theo hanya bisa menatap kosong kearah Masternya. Sungguh tak habis pikir bagaimana lagi harus menanggapi.
Sementara itu, kompresi Mana kegelapan yang tengah di padatkan Beladro, semakin memadat dari waktu kewaktu, dia terlihat berniat habis-habisan dalam upaya terakhirnya ini.
__ADS_1
"Boss…!!" Arthur kembali memanggil Theo, tatto pentagram di dahinya yang awalnya hanya menyala redup, kini semakin terang.
"Lakukan sesuatu, jangan diam saja!" Kata Aria ikut menambahi. Kini tampak sangat panik.
"Kalian ini…! Sialan…!!" Theo yang masih buntu, tak bisa memikirkan ide apapun, hanya bisa memaki.
"Peringatan terakhir, kau mau keluar dengan kemauanmu sendiri, atau aku akan mencari Hell Orb itu dari mayatmu!" Kata Beladro, ketika selesai memadatkan Mana kegelapannya.
"......"
"Ohh… baiklah… sesuai keinginanmu!" Kata Beladro lagi, ketika tak mendengar ada tanggapan apapun.
Sesaat kemudian, ia terlihat akan mulai merilis serangan yang saat ini tengah ia tahan. Namun…
"Tetua pertama, apa yang sedang kau lakukan?"
Sebuah suara mengagetkan Beladro, dan ketika melihat sumber dari suara tersebut, dengan cepat ia meredam aura kegelapan yang tadi sudah siap meledak. Membatalkan serangan tersebut.
"Ohh.. tuan muda, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Beladro balik kepada orang tersebut.
Orang di hadapan Beladro adalah seorang pemuda dengan perawakan sederhana, memiliki rambut panjang hitam pekat, yang dibiarkan terurai diterpa angin. Wajah pemuda ini sangat tampan, hanya saja, dia memiliki kulit wajah putih pucat yang aneh.
"Seharusnya aku yang menanyakan hal itu, apa yang sedang kau lakukan disini? Dan apa yang tadi sedang coba kau lakukan?" Tanya pemuda tersebut.
"Ohh... Aku hanya sedang meregangkan otot dengan sedikit berlatih. Kenapa tuan muda Santiago terlihat begitu serius?" Tanya Beladro balik.
Ternyata, yang ada di hadapan Beladro saat ini, adalah Santiago Black, anak dari Alejandro Black, tuan muda serta pewaris utama dari Dark Guild.
"Hmm… aku mendapat laporan bahwa kau, tanpa pemberitahuan kepadaku terlebih dahulu, mengerahkan beberapa orang kita ke tempat ini!" Jawab Santiago. Dengan tatapan tajam.
"Ohh.. itu benar, aku mengarahkan beberapa orang kesini untuk urusan Guild." Jawab Beladro singkat.
"Urusan macam apa? Kau tahu, selama ayahku belum kembali, aku adalah pemimpin tertinggi Guild, meskipun kau adalah tetua pertama, kau harus tetap melapor padaku!" Jawab Santiago.
"Hmmm…. Kenapa kau begitu serius, pamanmu ini sudah terbiasa bergerak leluasa, bahkan ayahmu tak pernah bersikap seperti ini padaku!" Jawab Beladro.
"Itu hanya urusan kecil, ada target dari salah satu misi Guild kita yang berhasil lolos dan melarikan diri kedalam perbukitan Merak."
"Sebagai tetua pertama, yang memiliki otoritas untuk menegakkan kedisiplinan dalam Guild, aku tentu tak akan membiarkan satu kesalahan terjadi dalam misi sekecil apapun."
"Aku hanya mencoba menjaga prestise Guild kita, apa ada yang salah dari itu?" Tanya Beladro setelah menjelaskan situasi.
"Hmmm… tidak ada yang salah! Untuk sekarang, aku akan melepaskan masalah ini. Namun lain kali, jangan melakukannya lagi!" Jawab Santiago, dengan tatapan sangat tajam.
"Hohoho.. sungguh tatapan yang menyeramkan!" Jawab Beladro, kemudian tanpa memberi salam apapun, melenggang pergi meninggalkan Santiago.
Sementara Santiago, masih terus menatap tajam kearah punggung Beladro. Setelah beberapa saat, dia ganti memperhatikan sekitar untuk sementara waktu. Sebelum akhirnya juga ikut pergi meninggalkan tempat.
Melihat Beladro meninggalkan tempat, Tiankong yang dari tadi mengamati sambil tiduran santai, kini mulai berdiri terhenyak.
"Sialan! apa dewa keberuntungan benar-benar ada di dunia ini?"
__ADS_1