
"Ikut kalian masuk kedalam desa?" Tanya Theo dengan tatapan dingin.
"Benar tuan muda." Jawab Aurelio dengan cepat, tanpa ragu.
Theo akan kembali memberi jawaban sebelum Aria di sebelahnya berbicara mendahuluinya. "Apa kalian pikir kami ini orang bodoh? Baru saja kalian semua ingin menyerang kami secara bersamaan, dan sekarang kalian mengundang kami ke desa kalian?" Bentak Aria.
"Kalian pikir ada alasan bagi kami untuk menuruti kalian? Siapa yang tahu apa yang orang liar seperti kalian perbuat pada kami berdua di dalam desa?" Kata Aria menutup kalimatnya dengan menggebu-nggebu.
Mendengar kata-kata Aria, Aurelio dan Arsega saling berpandangan satu sama lain, tak tahu harus menjawab seperti apa.
Sementara Theo hanya bisa menepuk jidatnya sendiri, dari tadi dia sudah mencoba tidak panik dan berusaha menunjukkan sikap tetap tenang, hal ini dia lakukan agar orang-orang klan kuno berfikir Theo masih memiliki sesuatu yang bisa di andalkan di balik lengan bajunya.
Theo berfikir anggota klan ini takut dengan Joy Kecil karena suatu alasan. Oleh karena itu, mereka menghentikan serangan. Namun karena Joy Kecil sudah kembali tertidur, itu berarti sudah tak ada alasan yang akan bisa menghentikan orang-orang klan kuno ini untuk menyerang.
Dia berusaha membuat suatu daya tawar tinggi untuk posisinya, memanfaatkan ketidaktahuan anggota klan kuno tentang kondisi Joy Kecil yang sudah tidur, mencoba membeli waktu untuk mencari cara keluar dari situasi sulit. Karena menurut Theo, kondisi mereka sekarang tak mempunyai pilihan dan nilai tawar apapun, orang-orang klan kuno ini bisa saja membawa mereka dengan paksa sebagi tahanan.
Namun, sikap eksplosif Aria menghancurkan semua usaha pecitraan yang telah dilakukan oleh Theo dari tadi. Sikap Aria seperti mendeklarasikan bahwa mereka sudah tak punya apa-apa lagi untuk melawan, namun menolak untuk menyerah dan mengikuti kehendak musuh begitu saja. Sikap normal seorang dari House besar yang mencoba mempertahankan harga dirinya ketika sudah terdesak.
"Harga dirimu tak membantu sama sekali saat ini!" Gumam Theo kesal.
Theo kini mulai bersikap waspada lagi, bersiap untuk kemungkinan terburuk. Siap melakukan pertempuran habis-habisan untuk terakhir kali.
Namun, berkebalikan dengan pemikiran Theo, sikap Aurelio dan Arsega ternyata tetap sopan. Mereka kembali memberi penawaran untuk singgah di desa mereka, malah kali ini tawaran mereka terkesan seperti permohonan.
"Sudah kubilang…." Aria akan kembali mengatakan sesuatu, namun Theo dengan cepat menariknya kebelakang dan menyuruhnya untuk diam.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Protes Aria ketika Theo menariknya.
"Diam saja, biar aku urus dari sini." Kata Theo pelan di samping telinga Aria, membuat wajah keduanya sangat dekat.
"Emmm…." Aria tergugup, dan mulai menjauhkan wajahnya. Rona mukanya memerah seketika. Kemudian mengangguk, menandakan menurut dengan perintah Theo.
Melihat Aria sudah terkendali, Theo kembali mengambil posisi untuk berbicara dengan orang-orang klan kuno. Sikap anggota klan kuno yang masih tetap sopan setelah sikap eksplosif Aria, membuat Theo kembali sedikit percaya diri.
"Sebenarnya urusan penting macam apa yang mengharuskan kami untuk datang dan bertamu di desa kalian." Tanya Theo. Dia mencoba membalikkan logika agar mereka dianggap sebagai tamu penting yang dibutuhkan.
"Ituuuu… sudah kubilang, kami hanya seorang penjaga desa, tak punya otoritas atau wewenang apapun untuk menjelaskan hal penting ini." Jawab Aurelio.
"Hmmmm…." Theo memasang wajah ragu-ragu, mencoba terlihat mempertimbangkan akan menerima undangan atau tidak.
Melihat sikap Theo, Arsega yang dari tadi diam mulai terlihat panik, dia segera maju untuk ikut berbicara lagi. "Sebenarnya ini berhubungan dengan masa depan desa kami, jadi saya mewakili semua anggota desa memohon dengan sangat agar tuan muda berkenan mampir." Katanya buru-buru.
"Ahhhh… terima kasih!" Jawab Aurelio cepat.
Theo dan Aria kemudian di antar memasuki segel formasi, menuju kearah desa tersembunyi. Theo akhirnya merasa sedikit lega, senyum aneh menghiasi wajahnya. Dia merasa telah sukses mengendalikan situasi dan membuat posisi mereka sekarang bukan sebagai tawanan, melainkan tamu untuk memasuki desa.
Dengan bangga Theo menatap Tiankong yang melayang di sebelahnya. Seolah ingin di puji karena telah bisa mengendalikan situasi dengan caranya sendiri tanpa harus mengandalkan Masternya lagi. Dia masih merasa sedikit tertekan dengan kritik tajam Tiankong sebelum ini.
"Hmmm jangan bangga dulu, kita lihat kedepannya." Gumam Tiankong.
**
__ADS_1
(Di dalam desa tersembunyi)
Saat ini Theo dan Aria tengah duduk di sebuah kursi rotan, mereka berada di sebuah ruangan yang terlihat seperti aula utama sebuah house. perabotan-perabotan sederhana yang juga terbuat dari rotan mengisi setiap sudut ruangan.
Yang menarik perhatian Theo adalah, terdapat deretan lukisan kuno berjejer rapi menghiasi dinding ruangan tersebut. Lukisan-lukisan ini menggambarkan berbagai spirit beast aneh yang terlihat digambarkan dengan sangat ganas dan gahar.
Namun ada empat lukisan paling besar di pajang di tengah ruangan, keempatnya terlihat sangat mencolok, karena berbeda dengan lukisan lain yang terlihat gahar, empat lukisan ini memiliki nuansa aneh yang mengeluarkan kewibawaan tertentu.
Keempat lukisan ini menggambarkan empat hewan yang berbeda, lukisan pertama menggambarkan Rajawali putih yang terbang bebas tinggi di langit. sorot tatapan matanya seolah menunjukkan dia adalah penguasa langit tertinggi, penuh kebanggan.
Lukisan kedua menggambarkan seekor Ular raksasa berkulit Abu-abu, berbeda dengan penggambaran sorot mata Elang putih sebelumnya yang penuh kebanggan, sorot mata Ular abu-abu ini memiliki gambaran penuh dengan kekejaman. Memberi siapapun yang menatapnya perasaan ngeri mendalam.
Lukisan ketiga disebelah lukisan Ular abu-abu, memiliki gambaran Harimau berkulit dominan Ungu. Jika dua lukisan sebelumnya memiliki kesan yang mendalam dari sorot matanya, lukisan Harimau ini cuma memiliki satu kesan, yakni dominasi mutlak. Membuat yang memandangnya akan merasa rendah diri.
Dan terakhir, lukisan yang paling menarik perhatian Theo, seekor kura-kura berwarna kulit hijau, dengan cangkang berwarna perak terlihat sangat menyolok. Kura-kura ini tak memiliki kesan kebanggan, kekejaman, atau dominasi seperti lukisan-lukisan yang lain. Sorot mata kura-kura ini terlihat sayu, seperti raja tua yang sudah bosan dengan kehidupan fana. Namun, kesayuan ini memiliki kesan dapat melindungi apapun.
Hanya dengan sekali lihat, Theo bisa tahu lukisan terakhir ini merupakan lukisan dari anaknya, Joy Kecil. Oleh karena itu dari awal dia tertarik dengan lukisan ini. Dia mulai penasaran kenapa Klan kuno ini memiliki lukisan dari Joy Kecil.
"Hmmmm, sepertinya kedua klan kuno ini memang bukan klan yang sederhana, mereka bahkan memiliki lukisan dari keempat Guardian Beast. Terlebih keempat lukisan ini terlihat sungguh nyata, seolah siapapun yang melukisnya pernah bertemu dengan keempat Guardian Beast secara langsung." Kata Tiangkong tiba-tiba di sebelah Theo.
Tiankong sendiri dari tadi juga tak bisa melepaskan pandangannya dari keempat lukisan ini, terutama pada lukisan Harimau Ungu disamping lukisan Joy Kecil. Pandangannya terlihat kontenplatif, seperti terjatuh dalam nostalgia.
*Graaaakkkkkk….
Ketika Theo masih sedikit terkejut dengan penjelasan Tiankong tentang lukisan Guardian Beast dan akan menanyakan sesuatu, pintu geser yang ada di aula tiba-tiba terdengar di buka.
__ADS_1
Dua orang yang terlihat seperti tetua memasuki ruangan dengan agak terburu-buru. Keduanya di temani dengan Aurelio dan Arsega di belakangnya. Setelah memasuki ruangan, mereka segera memberi salam tangan kearah Theo.
"Tuan muda, mohon maaf telah membuat anda menunggu." Kata salah satu tetua.