Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
443 - Sekali Jalan


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Premis baru! Yang terkuat, tak selalu merupakan yang terpintar!" Gumam Theo. Seraya mulai mengayunkan tangan. Dan bersamaan dengan ayunan tangannya tersebut, seluruh gudang besar tempat penyimpanan harta milik kelompok Bandit Kumbang Gurun, seketika menghilang.


"Apa-apaan….!"


Kejadian mengejutkan tersebut, membuat setiap anggota Barbarian Tribe yang melihatnya, segera memasang ekspresi wajah tertegun.


"Bagaimana dia melakukannya?" Ucap tetua Barbarian Tribe.


Kelompok Barbarian Tribe yang ada di depan gudang harta ini pantas terkejut, bagaimanapun juga, di atas Gaia Land, tak pernah ada satu item penyimpanan yang memiliki kapasitas begitu luas sampai bisa melenyapkan seluruh gudang harta yang begitu besar.


Hal inilah yang dari tadi menyebabkan baik itu tetua, atau anggota Barbarian Tribe lainnya, masih bersikap santai saat Theo mendahului serta menghadang mereka di depan gudang.


Mereka berfikir, apapun yang akan di lakukan Theo, itu akan percuma. Jika ia memaksa untuk mengambil harta yang ada di dalam, maka itu akan butuh waktu lama dengan menggunakan beberapa Spacial Ring untuk bisa menguras simpanan harta tersebut. Dan bila itu benar-benar terjadi, tentu kelompok Barbarian Tribe tak akan tinggal diam begitu saja.


Dengan kelebihan jumlah dan juga keunggulan dalam kultivasi, mereka merasa tak akan sulit untuk bisa menyingkirkan Theo. Hampir bisa di pastikan, Barbarian Tribe adalah kelompok yang akan mendapatkan seluruh harta.


Namun, yang tak di ketahui oleh kelompok Barbarian Tribe adalah, Theo memiliki gelang ruang-waktu, satu item penyimpanan khusus yang bahkan akan muat bila itu digunakan untuk memasukkan seluruh kota kecil kedalamnya.


"Selamat tinggal! Sampai jumpa lagi!"


Tetua dan seluruh anggota kelompok Barbarian Tribe masih memasang ekspresi wajah termenung, memandang kearah tanah kosong yang beberapa detik lalu masih berdiri satu gudang besar diatasnya, sampai kemudian, Theo mengucapkan satu kalimat perpisahan dengan intonasi nada yang terdengar begitu tengil.


Bersamaan dengan kalimat yang diucapkan oleh Theo, ia kemudian memerintahkan Raja Naga Hitam bergerak dengan kecepatan penuh menuju keatas langit.


*Woooshhhh….!!!


Baru ketika wajah mereka diterpa satu hembusan angin menderu dari kepakan sayap metalik raksasa Raja Naga Hitam yang melakukan lompatan tinggi, kelompok Barbarian Tribe tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Sialan! Jangan biarkan dia lolos!" Bentak tetua Barbarian Tribe, dengan ekspresi wajah marah. Benar-benar tak menduga akan ada saat dimana dirinya yang merupakan salah satu tetua terhormat Barbarian Tribe yang agung, satu dari 10 Biggest Knight Group, akan jatuh pada trik seorang junior muda.


Mendengar intruksi dari tetuanya, beberapa anggota Barbarian Tribe yang memiliki kemampuan terbang dalam mode Knightnya, segera melakukan pengejaran. Sementara sang tetua sendiri, tampak hanya memandang dengan tatapan geram keatas langit, sepertinya ia tak memiliki kemampuan untuk terbang, oleh karena itu tak bisa ikut melakukan pengejaran.


"Cepat cari tetua ke 10! Beri tahu situasinya, dan katakan aku memerintahkan agar ia memimpin kelompok untuk mengejar bocah itu!" Seru tetua Barbarian Tribe. Tanpa menoleh kearah anggotanya.


"Siap!" Jawab salah satu anggota, kemudian bergegas meninggalkan tempat.


***


(Diatas langit)


Theo yang terbang tinggi menunggang Raja Naga Hitam, mengarahkan sang raja langit untuk bergerak memasuki awan malam yang gelap saat melihat ada beberapa anggota Barbarian Tribe berkelas King tahap Surga yang saat ini mengejarnya. Tampak berniat sedikit membeli waktu.


Bagaimanapun juga, di lokasi medan pertempuran, Theo yang sempat melakukan pengamatan singkat, bisa melihat bahwa kelompok Bandit Serigala masih belum sepenuhnya berpindah ke atas dek Glory Land Warship.


Beberapa masih terlibat pertempuran seraya melakukakan gerakan mundur, beberapa yang lain tampak masih sibuk melakukan perawatan pertama pada anggota yang terluka. Bahkan ada satu atau dua wakil pemimpin yang saat ini sedang tertahan oleh Knight berkelas tinggi dari Barbarian Tribe.


"Hmmmmm…. Jika hanya Sasi, sepertinya belum cukup!" Gumam Theo, saat menyadari Sasi yang ia tugaskan untuk membantu situasi terkepung Gerel, masih belum mampu membuka celah, justru sedikit demi sedikit ikut tersudut bersama dengan Gerel.


Theo tampak mengerutkan kening untuk beberapa saat, memikirkan cara tercepat untuk menyelesaikan situasi. Ia sempat melirik kearah pengejarnya yang semakin mendekat. Sampai kemudian, terlihat menemukan satu ide.


"Jika tak punya cukup waktu, maka urus saja semua secara bersamaan dalam sekali jalan!"


*Woooshhhh….!!!


"Unchhh…!!! Master! Kau memanggilku?" Ucap Asmodeus, begitu keluar dari dalam tatto segel.


"Basa-basinya nanti saja! Bukankah sudah kubilang untuk selalu dalam bentuk senjata ketika aku memanggilmu keluar!" Dengus Theo, dengan sedikit ekspresi wajah kesal saat melihat Asmodeus memilih waktu yang sungguh tak tepat untuk bermain-main dan mengabaikan intruksinya.


"Hmmmmm…. Kita sudah lama tak berinteraksi! Dan sekalinya aku ingin sedikit mengobrol, kau malah memarahiku!" Keluh Asmodeus, segera memasang ekspresi wajah cemberut. Membuat wajahnya yang imut, tampak sangat menggemaskan. Ia terlihat sengaja ingin menggoda Theo.


"Kubilang nanti saja!" Ucap Theo, dengan nada sedikit membentak. Seraya mengayunkan tangan. Memaksa Asmodeus berubah menjadi senjata saat itu juga.


Dengan dua pedang kembar Asmodeus di tangannya, Theo tanpa menunda melakukakan satu lompatan turun dari punggung Raja Naga Hitam, keluar dari balik tabir awan hitam, terbang bebas di udara. Sembari mengeksekusi teknik kedua Dosa Nafsu.


*Bzzzzzttt….!!!


*Bzzzzzttt….!!!

__ADS_1


*Bzzzzzttt…..!!!


Puluhan baut listrik berwarna ungu menghiasi langit malam yang gelap saat teknik Theo aktif. Membuat pemandangan langit malam itu menjadi sangat indah. Satu kontras yang cukup mencolok karena pada daratan di bawahnya, terhampar medan pertempuran mengerikan yang penuh lumuran darah.


Melihat hal itu, para pengejar yang kini menyadari keberadaan Theo, melakukan gerakan gesit menerjang kearahnya. Namun, detik berikutnya.…


Puluhan baut listrik ungu yang bertebaran di sekitar Theo, mulai berubah menjadi puluhan sosok dirinya. Dan begitu telah benar-benar membentuk sosok sempurna, beberapa melakukan satu pijakan pada udara kosong yang memicu percikan listrik ungu, menerjang balik kearah para pengejar dari Barbarian Tribe.


Sementara beberapa yang lain, menyebar cepat ke beberapa lokasi penting medan pertempuran dimana terlihat anggota kelompok Bandit Serigala sedang terdesak dan memerlukan bantuan.


*Bzzzzzttt….!!!


Sosok asli Theo sendiri, melakukan satu pijakan pada udara kosong yang sama dengan puluhan clone yang ia buat. Namun, jika percikan listrik yang muncul dari pijakan para clone adalah listrik ungu, pada kaki Theo, itu adalah listrik merah, ia mengaktifkan sepatu kilat.


***


(Lokasi Gerel)


"Nona muda! Berhenti melawan!" Ucap salah satu anggota Barbarian Tribe yang melakukan pengepungan.


"Diam kau! Aku tak perlu ada orang lain yang mengatur apa yang harus kulakukan!" Bentak Gerel.


"Gerel! Berhenti menguji kesabaranku! Ikut pulang sekarang juga untuk menghadap ayahmu!" Bentak tetua kedelapan balik kepada Gerel. Ekspresi wajahnya tampak sangat marah.


Setelah melakukan pencarian panjang, ia yang secara tak terduga bertemu dengan Gerel di medan pertempuran antara kelompok Bandit Serigala melawan kelompok Bandit Kumbang Gurun, tentu saja tak akan membiarkan sekali lagi kehilangan nona mudanya.


Dari awal ketika kelompok Barbarian Tribe masih mengawasi jalannya pertempuran, tetua kedelapan yang curiga bahwa sosok wanita bertopeng dari kelompok Bandit Serigala adalah nona mudanya, terus memusatkan perhatian pada wanita tersebut.


Sampai akhirnya, ketika wanita yang ia amati memanggil keluar Nagini, kecurigaan tetua kedelapan sepenuhnya terkonfirmasi. Saat itu juga, ia memerintahkan seluruh anggota Barbarian Tribe untuk bergerak memasuki medan pertempuran.


*Baaammmm….!!!


Gerel dan tetua Kedelapan masih saling tatap dengan sorot mata sengit saat Sasi melancarkan satu pukulan menyelinap yang berhasil mengenai sang tetua.


"Dari pada banyak mengoceh, lebih baik pergunakan tenagamu untuk hal yang lebih penting! Kita masih sepenuhnya tak bisa membuat celah!" Dengus Sasi.


Satu dengusan yang tentu saja disambut oleh Gerel dengan tatapan tajam. Bagaimanapun juga, sosok Goblin di hadapannya ini, adalah satu dari beberapa orang yang paling ia benci.


Oleh karena itu, sejak awal Sasi memberi bantuan, Gerel tampak sengaja menolak untuk berkoordinasi dengan baik. Menyebabkan situasi menjadi tak ada perkembangan.

__ADS_1


*Bzzzzzttt….!!!


Ditengah situasi buntu, satu derak listrik merah tiba-tiba muncul di tengah posisi pengepungan. Tepat di hadapan Gerel dan Sasi.


__ADS_2