
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Kemah Besar Barbarian Tribe)
*Boooooommmmm….!!!!
Satu suara ledakan keras terdengar nyaring bersamaan satu sosok tubuh yang terlempar keluar dari dalam kemah besar, membentur keras sebuah bukit kecil.
"Tuanku! Tolong tenangkan diri!" Ucap suara seorang pria tua. Dengan tubuh bergetar hebat, pria ini bersujud dihadapan satu sosok yang memiliki tubuh kekar dan gelap. Kebengisan yang brutal, terpahat menyeramkan di wajah sosok tersebut.
"Hmmmm??"
Mendengar kata-kata pria tua tersebut, sosok yang masih berdiri dengan wajah bengis, tanpa banyak bicara segera berjalan dengan langkah perlahan turun dari singgasananya. Mendekat kearah sang pria tua.
"Kau menyuruhku untuk tenang?" Gumam sosok tersebut, seraya tanpa berkedip, memberi tendangan keras pada kepala pria tua.
*Baaaammmmmm….!!!
Tendangan tersebut yang di lakukan dengan tanpa peringatan, terlebih menyasar tepat di bagian kepala, tentu saja menyebabkan tubuh rentah pria tua terpental jauh.
Hanya berhenti setelah menabrak sebuah tiang raksasa. Jatuh bagai sebatang kayu usang mendarat pada tanah berpasir. Pria tua yang kini memiliki banyak darah segar mengalir di kepalanya, tampak sama sekali tak bergerak begitu tubuhnya menyentuh tanah. Tak ada yang tahu apakah ia masih hidup atau sudah mati.
Puluhan orang yang kini sedang berada di lokasi, hanya terdiam dengan wajah menunduk. Tak berani mengangkat wajahnya masing-masing. Meskipun mengkhawatirkan kondisi sang pria tua, mereka tampak lebih takut kepada sosok yang baru saja menendangnya. Menyebabkan situasi berkembang menjadi hening.
"Sanghis Khan! Apa yang sedang kau lakukan?"
Situasi hening baru terpecah ketika satu suara wanita terdengar dari suatu arah. Mendengar suara tersebut, setiap orang yang masih menunduk, tampak memasang sedikit ekspresi wajah lega.
__ADS_1
*Tap….!!!
Tanpa membuat riak energi apapun, satu sosok wanita yang meskipun terlihat tua namun tampak masih cantik, kini tiba-tiba muncul di sebelah sosok pria bengis.
"Ibu! Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau sedang dalam pelatihan tertutup bersama para sesepuh Tribe?" Tanya sosok bengis. Yang tak lain adalah Sanghis Khan. Khan dari Barbarian Tribe. Sekaligus ayah dari Gerel.
"Hmmmm… Bagaimana bisa aku berlatih dengan tenang, saat ada yang memberi kabar bahwa cucuku yang paling kusayang, saat ini berada bersama satu kelompok Bandit!" Jawab wanita tersebut, yang tak lain adalah Sirei Khan, Nyonya besar Barbarian Tribe generasi sebelumnya. Ibu dari Sanghis Khan, Nenek dari Gerel.
"Ibu! Tak perlu risau dengan masalah ini! Aku akan mengurusnya! Jadi, lebih baik kau…."
*Woooshhhh….!!!!
Sanghis tampak akan menyuruh ibunya agar kembali pada pelatihan tertutup, namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, satu hawa berat yang begitu berat, segera menyebar luas. Menekan siapapun orang yang sedang berada di sekitar lokasi.
"Aura seorang Emperor tahap Surga!" Gumam salah satu tetua Barbarian Tribe. Tampak kesulitan menjaga tubuhnya agar tak terus bergetar hebat.
"Mengurusnya? Bagaimana kau akan mengurus? Dengan membunuh satu persatu tetuamu sendiri?" Tanya Sirei. Dengan nada dingin.
"Tetua ketiga, tetua keempat! Cepat beri perawatan pada tetua keenam dan kedelapan! Bagaimanapun juga, mereka adalah tulang punggung Tribe yang telah memberi banyak jasa! Jangan biarkan keduanya mati konyol!" Tambah Sirei.
"B-baik…!!" Jawab tetua ketiga dan keempat hampir serentak. Sebelum mulai berdiri.
*Woooshhhh….!!!
"Jika ada yang berani mengambil langkah apapun, maka aku sendiri yang akan membunuhnya di tempat!" Gumam Sanghis. Dengan intonasi nada yang terdengar sangat dingin. Tanpa menoleh, masih menatap tajam kearah ibunya. Sirei.
"Ibu! Saat ini aku adalah Khan! Jadi kuharap, jangan pernah sekali lagi menginterupsiku! Semua keputusan dan juga langkah dari Tribe, cuma ada di tanganku! Tak ada orang lain yang memiliki posisi lebih tinggi dariku!" Gumam Sanghis.
"Kalian para sesepuh, cukup berlatih dengan tenang! Hanya bergerak ketika Tribe dalam bahaya besar! Cukup itu tugas para monster tua seperti kalian! Tak lebih!" Tutup Sanghis.
Mendengar kata-kata putranya, Sirei tampak mengerutkan kening untuk beberapa saat. Sebelum wajahnya kembali datar.
"Sifatmu itu, benar-benar tak berbeda dari ayahmu!" Gumam Sirei. Seraya mulai menatap keatas langit.
"Kau hanya akan diam saja?" Seru Sirei.
Bersamaan dengan seruannya, satu hawa berat lain mulai menyebar dari atas langit.
__ADS_1
"Yang di katakan oleh Sanghis sepenuhnya tepat! Kita tak punya hak! Jadi lebih baik kau kembali kesini dan berlatih!" Jawab satu suara tua. Sebelum hawa berat perlahan menghilang.
"Inilah alasan aku benci aturan yang hanya memperbolehkan seorang lelaki memimpin kelompok!" Dengus Sirei. Sebelum sosoknya tiba-tiba menghilang.
"Kalian semua! Dengarkan aku! Bentuk tim pelacak! Sebar untuk melakukan penyisiran ke setiap sudut wilayah Gurun Purba! Aku tak peduli jika itu harus memasuki wilayah milik kelompok Bandit besar! Aku ingin Gerel segera di temukan!" Seru Sanghis. Dengan suara lantang. Memberi intruksi.
Intruksi dari sang Khan, segera di sambut dengan seluruh tetua yang hadir, berdiri dari tempatnya masing-masing. Saat itu juga menjalankan perintah.
"Hmmmmm… Kelompok Bandit Serigala! Kalian benar-benar berususan dengan orang yang salah!" Gumam Sanghis. Seraya memberi satu tanda dengan tangan kanannya.
Bersama dengan tanda yang dibuat oleh Sanghis, beberapa Knight berkelas tinggi dimana merupakan satuan pasukan khusus pengawal pribadi Khan, muncul dari beberapa arah berbeda.
"Aku ingin kalian bergerak juga! Cari tahu identitas dari Boss Besar kelompok Bandit kurang ajar ini! Gali sedalam mungkin! Aku ingin semua informasi yang berkaitan dengannya, sudah ada di hadapanku besok malam!"
"Mulai pencarian informasi di kota Gurun Zordan!" Ucap Sanghis. Seraya membalikkan badan memunggungi pasukan elitenya.
Tanpa memberi jawaban, puluhan pasukan elite yang sebelumnya masih dalam posisi berlutut, kini melompat pergi meninggalkan tempat.
***
(Kota Gurun Zordan, Death Arena)
"Hmmmm… Tuan muda benar-benar sesuatu! Langkah pertama memasuki wilayah Gurun Purba, dilakukan dengan langsung menghancurkan Kelompok Bandit Kumbang Gurun! Satu dari tiga kelompok Bandit besar penguasa wilayah Gurun tersebut!" Gumam Tetua Delario, saat membaca laporan dari anggotanya.
"Tapi tetua, situasinya berkembang agak rumit! Karena dalam prosesnya, tuan muda juga membunuh Etna!" Tanggap salah satu anggota Dark Guild bawahan Delario yang saat itu sedang ada di dalam ruangan.
"Ahhhh… Memang satu kejadian yang cukup di luar dugaan!" Jawab Delario.
"Aku khawatir, terbunuhnya Etna akan memicu konflik antara tuan muda dengan Nona Bianca!" Ucap sang bawahan sekali lagi.
"Hmmmm… Mau bagaimana lagi, meskipun kedua orang ini bisa dikatakan adalah anggota penting dari Dark Guild karena sama-sama pemegang koin hitam, sang Godfather, tapi mereka memiliki beberapa kondisi khusus, dimana kita tak bisa ikut terlibat dalam urusan pribadi masing-masing! Bahkan Lord Santiago sendiri, tak akan bisa berbuat banyak!" Ucap Delario.
"Yah, sayangnya itu benar!" Gumam anggota Dark Guild.
"Yang jelas, langkah tuan muda dan kelompok Bandit Serigala yang menghabisi 3 orang Emperor dalam sekali jalan, telah benar-benar membuat keseimbangan yang selama ini terjaga di wilayah Gurun Purba, hancur!"
"Bahkan Barbarian Tribe juga sudah mulai bergerak!"
__ADS_1
"Jadi, lebih baik kita terus amati perkembangan situasi! Karena kedepan, aku sangat yakin, wilayah Gurun Purba akan penuh dengan gejolak! Satu situasi yang cukup menarik untuk di amati bukan?" Tutup Delario, sembari memasang ekspresi wajah antusias.