Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Melompat dan Melompat


__ADS_3

Woooossssshhhhh.....!!!!


Theo terbang menggunakan tongkat logam yang terus memanjang dengan sangat cepat.


"Ini terlalu cepat!!!" Senyum Theo memudar ketika menyadari kecepatan memanjang Tongkat logam sedikit berlebihan.


"Baal jangan terlalu…"


Booommmmm…!!!!


Sebelum Theo menyelesaikan kata-katanya, dia telah keluar dari dalam lubang. Namun, karena kecepatan memanjang tongkat logam yang berlebihan, tongkat terus memanjang tak berhenti meskipun telah keluar dari lubang sampai akhirnya membawa Theo menabrak dengan keras salah satu sisi tebing yang ada di dasar jurang mesterius.


"Uhuuukk, uhukkk, uhuukkk"


Diantara kepulan debu dan reruntuhan tebing, Theo terbatuk dalam posisi berbaring.


"Bocah sialan..!!! Apa kau sedang mencoba untuk membunuhku???" Bentak Theo kepada Baal yang telah berubah kembali dalam wujud rohnya melayang disamping Theo.


"Master, kau harus memberi intruksi sedikit lebih cepat. Aku tak mendengarmu menyuruhku untuk berhenti memanjang!" jawab Baal dengan wajah polos.


"Hahhahhahah…hhaahhahhaha…anak pintar! anak pintar! cepat kesini! cepat kesini! aku akan memberimu makanan lagi." Tiankong tertawa keras ketika melihat kondisi Theo.


Baal yang mendengarnya segera memasang wajah ceria dan terbang kearah Tiankong. Mereka melakukan semacam tos tangan, sebelum Baal mulai memakan mana yang di keluarkan oleh Tiankong dengan lahap.


"Mantan master memang yang terbaik…!!!" Kata Baal sambil terus makan.


Sudut mata Theo segera berkedut ketika melihat hal tersebut. 'Mereka bedua ini, mereka seperti punya bakat alami yang terkoordinasi dengan baik untuk membuatku kesal.' dengus Theo kesal dalam hatinya.


"Hahahhahhaha.….!!! hahhahahhaha…!!!" Mendengar isi hati Theo, masternya malah tertawa lantang, sangat puas.


"Masterrr! bukannya kau bilang simpanan manamu sangat berharga? kau bahkan tidak mau membantuku keluar dari dalam gua!!!"


Theo berteriak kesal melihat masternya dengan santai memberi makan Baal beberapa kali menggunakan mana nya.


"Bukan urusanmu, hahhahaha….!!!" Jawab Tiankong sambil tertawa lantang tanpa melihat kearah Theo.


"Sebenarnya siapa muridmu? aku atau dia??" Kata Theo semakin kesal.


"Hahhahhahahaa…." Tiankong tertawa semakin lantang.


**


Setelah membersihkan dirinya dari kepulan debu, Theo melihat sekeliling tempat dia mendarat.


Bila saja dia orang normal dan tubuhnya tidak pernah mendapat baptisan dari ribuan listrik ilahi yang membuat kualitas tulang serta seluruh tubuhnya mengalami kenaikan kualitatif, mungkin dia sudah terluka parah ketika mendarat dengan benturan keras seperti itu.


Dia merasa beruntung, sekaligus masih merasa kesal dengan sikap Baal sebelumnya.


"Baal..! jangan ulangi yang seperti tadi! itu tadi berbahaya..!!" Kata Theo sambil melihat kearah Baal.


"Hahhhh, kenapa master selalu saja marah-marah, bukankah sudah kubilang untuk memberi intruksi lebih jelas!"


"Dasar tak bisa santai, mantan master sungguh jauh lebih baik darimu." dengus Baal memasang wajah kesal.


"Kauuu..!!"


Theo merasa kesal karena selalu dibandingkan dengan masternya. Namun, sebelum dia bisa menyelesaikan kata-katanya, Baal sudah berubah menjadi asap dan terbang masuk kembali kedalam tatto di lengan kiri Theo.


"Bocahhh inii….!!!" Theo semakin kesal.


"Hahhahhaa…kau harus membiasakan dirimu, bocah-bocah itu memang sangat sulit diatur." Suara Masternya terdengar di sisi Theo.


"Sekarang sebaiknya kita memikirkan untuk mencari jalan keluar dari tempat ini." Masternya melanjutkan memberi saran.


"Hahhhh…." Theo menghela nafas panjang.


Ketika Theo sudah menjadi sedikit tenang dan mulai memikirkan cara keluar, tiba-tiba suara dengungan terdengar, di sertai dengan munculnya retakan-retakan yang mendistorsi ruang. Sebuah lubang hitam yang terlihat tak stabil muncul pada lokasi tak jauh dari tempat Theo berada, lubang hitam ini merupakan lubang hitam yang muncul beberapa tahun lalu dan membawa Theo kelokasinya saat ini.


"Ohhhh..ini adalah distorsi ruang yang kuciptakan 10.000 tahun yang lalu ketika dengan terburu-buru lari kedalam jurang ini." Tiankong berkata ketika melihat lubang hitam yang ada di hadapannya.


"Karena terburu-buru, aku lupa tak menutupnya kembali, tak kusangka distorsi ruang ini masih bertahan sampai saat ini."


Sekarang Theo tahu siapa yang menjadi penyebab fenomena aneh yang ada di hadapannya, ternyata itu masternya sendiri. Tak mengherankan distorsi ruang ini terlihat tak stabil, karena memang sudah berada di tempat ini selama 10.000 tahun.


"Kau cukup beruntung, kita bisa menggunakan lubang hitam ini untuk menghemat waktu."


"Dari ceritamu tentang bagaimana kau bisa selamat ketika jatuh kedalam jurang ini, aku menduga ruang tak terlihat yang kau lihat ketika pertama kali jatuh kedalam jurang adalah ruangan yang terbentuk dari salah satu efek buah setan. Satu dari Ancient Thing jenis kelima yang pernah kusebutkan padamu."

__ADS_1


"Setelah aku keluar dari pulau tropis yang menyegel aura, akhirnya aku bisa memastikannya dengan lebih jelas, karena aku juga pemakan buah setan, aku bisa merasakan aura nya samar-samar di kejauhan."


"Kau bisa menggunakan distorsi ruang yang ada di hadapanmu untuk meloncat secara acak disekitar jurang. Sementara aku akan merasakan aura dari buah setan tersebut, kalau merasa posisinya sudah dekat, aku akan memberimu petunjuk." Tiankong menutup penjelasannya.


Dugaan Theo sebelumnya ternyata tepat, distorsi ruang yang ada di hadapannya melempar orang yang memasukinya ke lokasi yang acak, dia bersyukur untuk tidak bertindak gegabah ketika ketika pertama kali.


"Segera masuk!" perintah Tiankong.


Tanpa menunda lagi Theo segera melompat masuk kedalam distorsi ruang.


**


Ketika Theo melompat keluar dari dalam lubang, pemandangan yang menyambutnya adalah sebuah tempat penuh bebatuan yang memiliki sebuah kolam disalah satu sisi ruangan. Air mengalir dari bebatuan yang ada diatas kolam, membentuk seperti air terjun mini yang terus mengisi kolam.


"Hmmm kita terlempar semakin menjauh dari posisi yang kita tuju." Tiankong berkata setelah merasakan aura buah setan yang dia rasakan malah semakin jauh.


"Tapi tempat ini tidak terlalu buruk, sambil menunggu distorsi ruang terbentuk lagi, kau bisa menggunakan waktu luang untuk berlatih dan meregangkan otot-ototmu." Tiankong tersenyum licik sambil menatap kearah Theo.


Melihat senyum licik Masternya, perasaan Theo segera menjadi tidak enak, dia ingin menanyakan apa maksud dari kata-kata Masternya. Namun, sebelum Theo sempat bertanya, dia bisa melihat kepala seekor Spirit Beast muncul keluar dari dalam kolam.


Melihat kepala Spirit Beast tersebut yang juga mulai mengeluarkan aura kuat, Theo segera menjadi waspada dan memasang sikap tempur.


Seekor Spirit beast berbentuk kadal merangkak keluar dari dalam kolam. Memancarkan aura yang sangat kuat, fakta bahwa Theo tak bisa membaca tingkatan dari spirit Beast di hadapannya, membuat ia tahu bahwa spirit beast ini memiliki tingkat budidaya yang lebih tinggi darinya.


"Ini adalah latihan tempur pertamamu, aku ingin kau tidak menggunakan bocah-bocah dosa yang telah kau taklukan. Kau harus menghadapi kadal ini dengan kekuatanmu sendiri, jangan terlalu bergantung pada bocah-bocah itu, melatih tubuh juga perlu!!" kata Tiankong sambil tetap memasang senyum licik kearah Theo.


Setelah Tiankong selesai berbicara, Theo bisa melihat kadal raksasa berlari melata menggunakan keempat kakinya menerjang maju kearah Theo.


Theo merasa kesal kepada masternya yang melarang menggunakan senjata yang telah dengan susah payah dia taklukan. 'Bukankah mereka juga bagian dari kekuatanku?' gumamnya.


Namun meskipun sedikit mengeluh dalam hati, Theo tak berani mengabaikan intruksi dari Masternya. Dia segera memasang sikap bertahan, berniat menyambut kadal raksasa yang menerjang kearahnya.


Kadal raksasa menerjang dengan cepat sebelum membalik tubuh dan menggunakan ekor panjangnya untuk ditumbuk kearah Theo.


Melihat itu, Theo segera merapatkan kedua tangannya, membentuk posisi menyilang di depan dada untuk menahan tumbukan ekor kadal.


Ketika ekor kadal sampai pada tubuh Theo, dia bisa merasakan kekuatan fisik yang sangat luar biasa. Kekuatan itu memberi tekanan pada kedua tangannya yang bentrok secara langsung. Theo merasa kebas di kedua tangannya, tak mampu menahan dan seketika terbang terpental, hanya berhenti ketika tubuhnya menabrak dinding-dinding ruangan berbatu.


"Uhuuuukkk…uhukkkkk !!!"


"Ohh aku akan mengingatkanmu, kadal di hadapanmu adalah seekor Special Beast kelas C menengah." Suara Tiankong terdengar di samping Theo.


Sudut-sudut mata Theo segera berkedut, kenapa masternya ini begitu menyebalkan? peringatan macam apa yang di berikan ketika yang harusnya mendapat peringatan telah mendapat serangan? bukankah itu sudah tidak bisa lagi di sebut sebagai peringatan?


"Bila kau niat memberi peringatan, katakan sebelum kadal ini menyerang! berhenti membuatku kesal!!" teriak Theo sambil melihat kearah master nya.


"Bisa tidak kau santai sedikit? kenapa begitu serius?" jawab Tiankong singkat.


'Santai Kepalamuu….!!!!' gumam Theo menjadi lebih kesal.


"Hahhahhahahahhahhaha..!! sudah berhenti mengeluh, lihat kadal itu datang lagi!" Tiankong memberi peringatan santai setelah tertawa puas.


Melihat kadal yang menerjang kearahnya, Theo yang masih sangat kesal kali ini berdiri dan mulai bergerak maju ikut menerjang. Dia tak berniat sama sekali menahan serangan kadal tersebut untuk kedua kalinya.


Keduanya saling maju menerjang dengan cepat. Namun tepat ketika bentrokan akan terjadi, Theo menginjak tanah di bawahnya untuk meloncat keatas. Manuver tiba-tiba dari Theo ini membuat kadal tersebut terkejut.


Dia berusaha menghentikan arah terjangannya sambil kepalanya melihat keatas, kearah Theo melompat.


Namun sebelum kadal tersebut berhasil bereaksi, Theo yang mendapatkan momentum dengan cepat mengalirkan mana tanah dan api di sekitarnya untuk membentuk mana besi. Dia mengalirkan mana besi ke otot-otot diseluruh tangannya, seketika tangan Theo berubah membesar terlihat seperti besi yang kokoh.


"Makan ini kadal bajingann….!!!"


"Iron Fist…!!!!"


Theo berteriak keras, kedua tangannya saling menggenggam, dengan menggunakan langit-langit ruangan berbatu sebagai pijakan, dia menerjang turun dari atas, mengarahkan kepalan kedua tangannya dan memukul keras tepat kearah kepala kadal tersebut.


Booooooommmmmmm…!!!!


Ruangan berbatu segera bergetar hebat ketika Theo mendaratkan pukulannya.


Kepala kadal yang menerima pukulan Theo masuk kedalam lantai berbatu yang retak dimana-mana agak dalam.


Teknik Iron Fist adalah teknik dasar yang di pelajari Theo ditahun-tahun pertama melakukan pelatihan dalam dimensi ruang. Theo menemukan teknik ini didalam perpustakaan gelang ruang-waktu, merasa teknik ini mirip dengan teknik otot es yang pernah kakaknya Gregoric tunjukan, Theo segera tertarik untuk mempelajarinya.


Sementara itu, Kadal yang mendapat pukulan dikepalanya masih mengerang kesakitan ketika Theo mulai berjalan menghampirinya dengan senyum seperti penjahat jalanan.


"Jadi, ekor sialan ini yang kau gunakan sebelumnya untuk menyerangku?" kata Theo sambil mulai memegang ekor kadal.

__ADS_1


Merasakan Theo menyentuh ekornya, kadal tersebut segera melotot dan mulai mengeluarkan suara mendesis kearah Theo, terlihat sangat marah. Namun, sebelum kadal tersebut memberikan reaksi, dia bisa merasakan Theo mencengkram ekornya, dan mulai mengangkatnya.


Theo kemudian dengan liar membanting-banting kadal tersebut kekanan dan kekiri secara terus-menerus, membuat kepala kadal terbentur kebebatuan berkali-kali.


Setelah beberapa saat, kadal tersebut akhirnya mati dengan kondisi wajah tak bisa di kenali, penuh dangan luka.


"Hmmmm, rasakan kau kadal sialan!!" Theo memberi bantingan terakhir sebelum melepaskan ekor kadal. Merasa sangat puas.


Theo sekarang menjadi sedikit lega, akhirnya dia menemukan sarana untuk melampiaskan segala rasa kesal karena terus menerus di bully oleh masternya. Sebelumnya dia membayangkan kadal tersebut adalah masternya.


"Kau tahu aku bisa membaca yang kau pikirkan bukan?" Suara dingin masternya tiba-tiba terdengar disisi Theo.


"Glekkkk" Theo lagi-lagi lupa.


"Jadi kau ingin membantingku seperti itu? Sangat menarik!" Tiankong memasang senyum menyeramkan kearah Theo.


"Buu.…bukan begitu master" Theo segera mesasa dingin di punggungnya.


Merasa masternya akan mulai memukulnya lagi, dia segera memasang posisi melindungi kepalanya dengan kedua tangan.


Buuukkkk…!!!


Bukkkk….!!!


Buuukkkk…!!


Namun tidak seperti dugaan Theo, pukulan batang kayu kali ini mendarat di pantatnya.


Tubuh Theo segera menegang, merasakan pantatnya panas dan sakit karena pukulan tersebut.


"Auchhhh, Master..! aku bukan bocah kecil, kenapa memukul pantatkuuu." Theo berteriak protes sambil menggosok-gosok pantatnya.


"Kau tahu, kalau di hitung secara mental, aku telah berusia lebih dari 300 tahun..!" Kata Theo.


Dia mengatakan hal itu berdasarkan waktu yang dia habiskan untuk menaklukan 3 dosa di dalam gerbang dosa.


"300 tahun? Dan kau mau membahas umur denganku? Dibandingkan denganku, kau bahkan tak layak di sebut bocah, kau adalah bayi..!!"


"Ahh tidak, janin lebih tepat.!!!"


"Tunggu dulu, di bandingkan denganku, kau adalah ******..!!"


Buuukkk….!!!


Bukkk….!!


Bukkk…!!!


Setelah beberapa kali mengoreksi ucapannya sendiri, Tiankong kembali memukul pantat Theo.


"Arrggggghhhh, jangan membandingkanku denganmu, kau itu tak normal..!!! Teriak Theo frustasi.


"Ohh sekarang mengataiku tak normal? bagus, bagus, bagus..!" Senyum Tiankong semakin melebar menyeramkan.


"Glekkk" Theo segera menyesal berkata tanpa berfikir terlebih dahulu.


**


Sambil memegangi pantatnya yang masih terlihat bengkak, Theo terus menerus melompat kedalam distorsi ruang.


Sudah tak terhitung berapa kali dia terlempar ketempat sarang spirit Beast dengan berbagai macam bentuk.


Seperti sebelumnya, Tiankong menyuruh Theo menghadapi mereka sebagai bahan latihan.


Nyawanya terancam beberapa kali ketika harus berhadapan dengan spirit Beast dengan tingkat sangat tinggi. Karena masternya menolak membantunya sama sekali, Theo hanya bisa berlari dan menghindar terus menerus sampai akhirnya distorsi ruang kembali terbentuk ketika harus berhadapan dengan spirit beast jenis ini.


Meskipun berbahaya, semua kejadian ini membuat pengalaman tempur Theo semakin bertambah. Dia jadi bisa mengembangkan berbagai teknik dasarnya, entah itu teknik pukulan, pertahanan, ataupun teknik gerakan. karena masternya masih melarang menggunakan bocah-bocah dosa yang telah ia taklukan, dia hanya bisa mengandalkan keuatan tubuhnya sendiri.


Theo merasa kesal namun dia tahu masternya melakukan ini untuk kebaikannya sendiri. Terlebih setelah merasakan manfaat yang dia rasakan kepada tubuh dan tekniknya yang terus berkembang menjadi lebih baik, dia tak mengeluh dan menuruti semua intruksi masternya.


Selain sarang spirit beast, Theo juga beberapa kali terlempar ketempat penuh dengan sumber daya yang dapat membantu latihanya. Ketika ini terjadi, rasa kesal Theo sedikit berkurang, dia menjadi bersemangat, seperti sedang menemukan tumpukan harta karun.


Namun sebelumnya dia tetap harus mengalahkan spirit beast yang menjaga sumber daya tersebut terlebih dahulu. Hal ini masih lebih baik menurut Theo, dari pada harus terlempar ke sarang spirit Beast yang tidak memiliki sumber daya sama sekali.


Harapan untuk menemukan sumber daya ketika melompat keluar dari dalam lubang ini lah yang memberi sedikit dorongan semangat pada Theo untuk tanpa lelah terus menerus melompat kedalam distorsi ruang.


Dia terus melompat dan melompat.

__ADS_1


__ADS_2