
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
*Bammm….!!!
Sebuah pintu rahasia terbuka.
Sebelumnya, setelah Theo menyelesaikan urusan sisa-sisa patung emas, ia memutuskan untuk melakukan pencarian menyeluruh pada dinding-dinding sekitar lorong. Karena menurut Thomas dan Razak yang datang dari arah berlawanan, lokasi sebelumnnya mereka berada, merupakan jalan buntu.
"Ruangan aneh apa lagi sekarang?" Gumam Theo, saat dirinya melangkahkan kaki memasuki pintu rahasia.
"Boss! Apakah itu sebuah portal ruang?" Tanya Thomas, saat melihat sebuah formasi aneh yang tampak membentuk seperti portal ruang dimana biasanya ada di aula transportasi.
"Pola formasinya hampir mirip, tapi yang ini terlihat lebih rumit dan memiliki bahan yang lebih berkualitas!" Jawab Theo.
"Selamat! Tak kusangka kedua kelompok justru akan bertemu satu sama lain! Padahal jalur di dalam istana emas ini, bisa di bilang sangat banyak dan berliku!"
"Selain takdir dan keberuntungan, harus kuakui, pemuda berambut putih yang sepertinya adalah pemimpin kelompok kalian, benar-benar ahli dalam hal formasi!"
Saat kelompok Theo masih memandang ukiran formasi segel yang terlihat seperti portal ruang dengan tatapan sangat tertarik, suara melengking misterius yang sebelumnya sempat mereka dengar, kembali menggema sekali lagi secara tiba-tiba di dalam ruangan tempat mereka saat ini berada.
"B3debah ini lagi! Dimana kau! Cepat keluar!" Bentak Gerel. Dengan ekspresi wajah sangat marah. Gadis ini tampak sangat dendam dengan pemilik suara melengking misterius tersebut.
Merasa semua musibah yang harus ia alami di kejadian sebelumnya, adalah salah orang di balik suara misterius itu.
"Woho…! Gadis muda! Kau sangat bersemangat! Apakah permainan jerat gairah nafsu duniawi yang sebelumnya kau mainkan benar-benar membuatmu puas?"
"Harus kuakui, kau dan wanita yang ada disana, sungguh merupakan gadis idaman setiap pria, gerakan-gerakan kalian begitu sensasional dan menggoda!"
__ADS_1
"Pertunjukan yang kalian tampilkan bersama pemuda yang ada disana, adalah salah satu pertunjukan terbaik yang pernah kulihat!"
"Diriku benar-benar iri dengan gairah nafsu para generasi muda seperti kalian!"
"Tak perlu terlalu sungkan! Kau boleh berterima kasih padaku nanti saja, ketika waktunya tiba! Hahahhahah….!"
Tepat saat Gerel menyelesaikan kalimatnya, suara misterius dengan cepat dan tanpa jeda memberi tanggapan dengan kalimat-kalimat yang begitu tengil, dimana langsung membuat wajah Gerel maupun Hella yang mendengarnya, seketika menjadi merah padam. Keduanya menjadi sangat marah dan malu di saat bersamaan.
Merasa tak bisa membalas ucapan suara misterius, baik Hella maupun Gerel yang saat ini benar-benar sangat malu, secara serentak menoleh kearah Theo. Bukan hanya kedua gadis itu, bahkan Thomas kini juga ikut menoleh kearah Theo. Sekarang si Gendut ini 100% paham tentang apa yang telah terjadi.
"Boss! Permainan macam apa yang suara sialan ini berikan padamu sebelumnnya?" Tanya Thomas basa-basi.
"Thomas, kalau kau tak ingin mati di tempat ini! Lebih baik jaga mulutmu!" Ucap Theo. Sembari mengarahkan lirikannya pada Hella dan Gerel.
Melihat lirikan Theo, Thomas segera mengikuti, dan begitu ia melihat kearah yang di tuju Theo, bulu kuduknya segera berdiri. Keringat dingin membasahi punggungnya.
Saat ini, Thomas bisa melihat, baik itu Hella dan Gerel, keduanya tengah menatapnya dengan tatapan tajam penuh nafsu membunuh. Bahkan kedua gadis ini sudah mengeluarkan senjatanya masing-masing.
"Aku diam! Tak akan bertanya lagi!" Ucap Thomas cepat.
Itu akan membuat Thomas pusing bukan main bila kedua gadis ini bersatu bahu membahu memusuhinya. Menyadari fakta tersebut, Thomas yang pada awalnya sedikit iri pada Theo, kini mulai memandangnya dengan tatapan prihatin. Benar-benar kasihan dengan masa depan Boss nya ini yang harus terikat bersama dua wanita liar tersebut.
Sementara Razak, bocah kecil yang terjebak dalam obrolan dan situasi yang salah, hanya bisa menoleh kesana-kemari. Bergantian melihat kearah siapapun yang sedang berbicara dengan ekspresi wajah polos. Tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Katakan sesuatu!" Bentak Gerel kepada Theo setelah situasi berubah hening untuk beberapa saat.
"Hahh? Katakan apa?" Tanya Theo.
"B4jingan! Kau juga harusnya merasa malu dengan apa yang di katakan suara br3ngsek itu! Jadi, katakan sesuatu untuk setidaknya memberi balasan!" Bentak Gerel. Ia yang tak bisa membalas ejekan dari suara misterius, kini menuntut kepada Theo.
Disisi lain, Hella yang saat ini juga sedang menatap kearah Theo dengan wajah merah padam, hanya bisa mengangguk singkat, tampak setuju dengan apa yang baru dikatakan Gerel.
"Hmmm… Buat apa? Lagipula apa yang dikatakan oleh suara tersebut tak terlalu salah! Kejadian sebelumnya cukup menyenangkan bukan?" Tanya Theo.
Pertanyaan yang segera membuat wajah Gerel dan Hella semakin memerah. Keduanya benar-benar tak menyangka bahwa Theo justru akan mengatakan hal semacam itu.
Hella yang mendengarnya hanya bisa menundukkan wajah begitu dalam, tak punya muka sama sekali untuk melihat siapapun yang ada didalam ruangan. Sementara Gerel, kini mulai menggerakkan gigi-giginya. Tampak sangat marah kepada Theo.
__ADS_1
Melihat ekspresi dua wanita tersebut, Theo justru mulai memasang wajah santai.
"Kalian berdua, bersikaplah sedikit lebih tenang! Ekspresi yang kalian tunjukkan itu, justru adalah yang diinginkan olehnya! Jadi acuhkan saja! Tak perlu membuang waktu dengan memasukkannya kedalam pikiran!" Ucap Theo.
Mendengar apa yang dikatakan Theo, Gerel hendak akan menjawab, sampai kemudian Theo yang sudah tak melihat kearahnya, kini ganti melihat kearah langit-langit ruangan, kembali meneruskan kalimatnya.
"Siapapun dirimu! Langsung saja! Apakah ada permainan lain yang harus kami jalankan di ruangan ini?" Tanya Theo.
Pertanyaan Theo, tak segera mendapat jawaban, suasana berubah hening untuk beberapa saat sebelum suara misterius kembali terdengar.
"Benar-benar membosankan!"
"Permainan kedua, untuk gabungan dua kelompok! Pertempuran abadi, dimulai!" Ucap suara misterius.
Bersamaan dengan kata-kata yang disampaikannya, ukiran formasi segel yang terlihat seperti portal ruang, dimana terletak diatas langit-langit ruangan, saat ini mulai menyala terang.
Tak lama setelah portal ruang menyala, dari dalam portal tersebut, secara perlahan seekor makhluk merangkak keluar.
"Demonic Beast! Dan kali ini cukup kuat!" Gumam Theo.
Ia segera memasang tatapan waspada begitu melihat sesosok makhluk berbentuk Kelabang raksasa dengan ribuan kaki dan memiliki warna hitam pekat, saat ini merangkak keluar dari dalam portal ruang.
*Baaaammmm….!!!
"Tssaaahhhhh….!!!"
Makhluk ini jatuh kelantai ruangan dengan suara berdebam sebelum mulai mendesis liar. Dengan aura kegelapan pekat yang menyeruak keluar dari dalam tubuhnya, ia menatap tajam kearah kelompok Theo dengan tatapan mematikan.
"Bersiap untuk bertarung!" Ucap Theo. Seraya mengeluarkan Pedang Kembar Asmodeus.
Intruksi dari Theo, disambut tanpa pertanyaan oleh yang lain. Mereka segera berubah kedalam mode tempurnya masing-masing. Menatap tajam Demonic Beast yang ada di hadapannya.
Kedua sudut belum sempat melakukan langkah apapun untuk memulai pertempuran, sampai tiba-tiba portal ruang kembali menyala, dan sekali lagi mulai mengeluarkan sesosok makhluk lain dari dalamnya.
Kejadian ini, segera membuat setiap orang yang berada di kelompok Theo, kini mulai memasang ekspresi wajah buruk.
"Maju! Serang dengan teknik terkuat masing-masing! Kita kalahkan Kelabang raksasa itu sebelum makhluk lainnya keluar!" Seru Theo. Kemudian tanpa menunda maju menerjang kedepan. Diikuti oleh keempat orang lainnya ikut bergerak di belakang.
__ADS_1