
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Istana Emas)
"Hmmmm….!!! Akhirnya kita bisa menyelesaikan quest nya!" Ucap seorang pria sepuh, yang merupakan salah satu tetua dari Rock Tribe.
Disekitar sang pria sepuh, tampak beberapa mayat Demonic Beast saat ini tengah berserakan. Selain mayat Demonic Beast, terlihat juga tubuh tak bernyawa puluhan anggota dari Rock Tribe. Dari 30 orang yang ia bawa masuk untuk melakukan ekspedisi, hanya tersisa 5 orang saja yang berhasil tetap hidup.
"Selamat! Telah menyelesaikan misi Istana Emas! Sekarang kalian bisa memilih hadiahnya!" Ucap sebuah suara misterius. Dimana merupakan suara dari jiwa sisa yang di tanam sang pemilik Istana Emas pada ruang tersebut. Panglima Cinta-Kasih, satu dari 7 pilar Sage Lord Salomon.
"Di hadapan kalian, ada 3 ruangan yang di dalamnya tersimpan beberapa sumberdaya berharga! Dan karena ini merupakan suatu permainan, untuk lebih memeriahkan suasana dan juga memberi efek tegang, dari dua ruang tersebut, hanya akan ada dua yang memiliki item khusus, sementara satu ruangan berisi Demonic Beast ganas!"
"Sekarang pilih salah satu ruangan sebagai hadiah! Jika kalian beruntung, maka kalian bisa mendapatkan sumberdaya berharga, satu ruang terdapat senjata kelas S, sementara ruang lain terdapat bahan obat kelas semi-Illahi!"
"Jikapun kalian tak beruntung dan memilih ruangan yang berisi Demonic Beast, itu masih bisa dibilang sebagai hadiah! Karena Demonic Beast ini merupakan Demonic Beast kelas tinggi! Setiap bagian dari tubuhnya adalah harta yang bisa kalian bawa sebagai oleh-oleh!"
"Namun, tentu saja dengan catatan, kalian harus bisa membunuhnya terlebih dahulu! Hahhahaha….!" Tutup suara misterius. Dengan tawa lantang membahana.
Mendengar kata-kata dari suara misterius, tetua Rock Tribe yang awalnya tampak antusias ketika mendengar penjelasan tentang ruang hadiah, kini mulai memasang ekspresi wajah cemas saat ia juga mendengar tentang adanya ruang berisi Demonic Beast ganas.
"Senior Leluhur! Apakah itu tak berlebihan? Anggotaku yang tersisa hanyalah 4 orang! Dan mereka saat ini sudah terluka parah! Jika benar-benar salah memilih ruang, itu sama saja dengan menghadapi kematian!"
"Setelah semua usaha keras penuh darah yang kami lakukan untuk menyelesaikan quest, kurasa ini agak…."
Tetua Rock Tribe tampak hendak menyampaikan satu keluhan sampai kemudian, belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara dari sosok misterius kembali terdengar.
__ADS_1
"Diam!"
"Kau pikir siapa dirimu! Hanya penghuni realm kelas rendah, dan begitu berani melakukan tawar menawar denganku!" Dengus suara misterius.
"Sekarang, pilih! Jika dalam waktu 3 detik tak segera memilih, maka aku akan membuka ruang berisi Demonic Beast!" Tambah suara Misterius. Terdengar sangat kesal.
"Ahhh….!! Baik!" Jawab tetua Rock Tribe. Tak berani membantah.
"Aku memilih ruang yang kanan!" Ucap sang tetua.
"Ohhh….! Baik, akan kubuka! Sepertinya keberuntunganmu cukup bagus hari ini!" Ucap suara misterius. Sebelum akhirnya pintu sebelah kanan mulai perlahan terbuka.
Mendengar kata-kata dari suara misterius, ekspresi wajah tetua Rock Tribe segera berubah cerah. Merasa sangat senang ternyata pilihan yang ia buat tepat. Ia sudah begitu tak sabar melihat item luar biasa seperti apa yang akan didapatkannya.
Namun, baru setengah dari pintu terbuka, tiba-tiba pintu pilihan sang tetua tersebut, kembali tertutup dengan sangat cepat. Kemudian ganti pintu bagian tengah secara perlahan terbuka.
Melihat kejadian tersebut, ekspresi wajah cerah tetua Rock Tribe segera berubah buruk. Terlebih dari dalam pintu bagian tengah yang telah sedikit terbuka, satu aura mengerikan mulai menyeruak keluar.
"Senior Leluhur! Apa maksudnya ini?" Teriak Tetua Rock Tribe panik.
"Tidak….!" Gumam Tetua Rock Tribe, dengan wajah pucat. Merasa sangat tertekan dengan aura sang Demonic Beast.
Dalam sekejap, sang tetua dan 4 orang tersisa dari kelompok yang ia pimpin. Mati tanpa perlawanan berarti. Dimangsa oleh sang Demonic Beast.
Bersamaan dengan matinya kelompok tersebut, ruang Istana Emas kini menjadi sunyi. Hanya menyisahkan suara gigitan renyah Demonic Beast yang tengah menikmati santapannya. Sampai kemudian….
"Sasi! Sekali lagi kau ikut campur ketika aku sedang melangsungkan permainan! Maka itu adalah saat dimana kau mati!" Ucap suara misterius, memecah keheningan.
Mendengar suara tersebut, Sasi yang saat ini sedang mengawasi dari ruang formasi utama Istana Emas, segera menghirup udara dingin.
"Hamba tak akan berani melakukannya lagi!" Ucap Sasi. Kini benar-benar menyesal telah ikut campur dengan mengubah pintu yang terbuka di detik terakhir.
'Ck…! Bagaimana sekarang!' Gumam Sasi dalam hati. Mulai kebingungan dengan usahanya menahan orang-orang yang memasuki Istana Emas tanpa harus memberi mereka sumberdaya berharga yang tersimpan di dalamnya.
"Buka lagi portalnya! Bawa masuk lebih banyak orang!" Dengus suara jiwa sisa panglima Cinta-Kasih. Memberi perintah pada Sasi.
__ADS_1
"Ahhhh… Tuanku! Mohon maaf! Tapi kendali Istana Emas telah jatuh ketangan orang lain! Dan ia memerintahkan untuk maksimal hanya memasukkan 30 orang dalam sekali terbukanya portal!" Jawab Sasi.
"Itupun juga berkaitan dengan jumlah Mutiara Mana yang tersisa untuk membuka portal!" Tambah Sasi.
"Hmmmmm….! Pemuda berambut putih itu ya! Sungguh menyebalkan! Aku sama sekali tak menduga akan ada orang sepertinya yang hidup di realm kelas rendah ini!" Gumam suara misterius.
"Dia adalah satu ancaman untuk kebangkitan Sage Lord Salomon! Jika saja koneksi dengan tubuh alsiku tak terputus! Hahh….! Menyebalkan!"
"Terlebih lagi, kenapa ia begitu miskin! Hanya memberi Mutiara Mana dalam jumlah terbatas! Mengganggu kesenanganku saja!" Tambah suara jiwa sisa panglima Cinta-Kasih.
Keluhannya diakhir ini yang bertolak belakang dengan kalimat awal yang ia katakan tentang ancaman dari keberadaan sosok Theo, membuat Sasi menjadi heran dengan skala prioritas dari panglima Cinta-Kasih.
***
(Wilayah depan perkemahan besar Bandit Langit Hitam)
*Baaammmm….!!!!
*Baaammmm….!!!!
*Boooommmmm….!!!
Kelompok Bandit Serigala yang melancarkan dobrakan masuk, masih mendominasi alur pertempuran. Mendorong mundur jauh kebelakang pihak aliansi Bandit Langit Hitam yang saat ini hanya bisa melakukan langkah bertahan.
Thomas dengan tim pendobrak yang menunggang Gajah metalik, terus menggencet lawan-lawannya. Sementara Sanir dan divisi penyergap, tanpa henti bergerak masuk lebih dalam pada formasi pertahanan musuh. Melancarkan serangan-serangan atribut listrik kuning liar.
Sementara pasukan utama yang dipimpin para wakil ketua Bandit Serigala lain, dengan leluasa melakukan pembantaian ketika jalur-jalur masuk kedalam formasi bertahan lawan, semakin lama semakin terbuka dengan cukup banyak karena aksi dari divisi pendobrak dan divisi penyergap.
Yang paling mengerikan, diatas langit, Theo yang menunggang Raja Naga Hitam, masih terus melancarkan serangan ke berbagai arah. Ia tampak bagaikan sosok dewa kematian yang sedang menagih nyawa secara acak pada setiap tempat yang didatanginya.
Perkembangan situasi tersebut, membuat kelompok aliansi Bandit Langit Hitam tentu saja menjadi sangat frustasi. Dan pada akhirnya, tepat ketika mereka sudah tersudut dan kehabisan tempat untuk melangkah mundur karena sudah berada di depan pintu gerbang perkemahan besar Bandit Langit Hitam, satu sosok terlihat berdiri diatas pintu gerbang.
"Hentikan pertempuran! Semuanya telah berakhir!" Teriak sosok tersebut, dengan sangat lantang. Teriakan yang segera membuat perhatian setiap orang tertuju padanya.
Kini, diatas pintu gerbang kemah besar kelompok Bandit Langit Hitam, Zota berdiri tegak dengan sorot mata penuh kebanggaan, sementara pada tangan kanannya, ia mengangkat tinggi-tinggi kepala adiknya, sang Boss Besar Bandit Langit Hitam.
__ADS_1