
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Razak Khan! Keturunan terakhir suku Osiris! Memberi salam pada leluhur!" Ucap Razak, pada sujudnya.
"Hmmmmm… Tak kusangka suku kita akan jatuh dalam kondisi separah ini! Hingga menyisahkan hanya kau seorang anggota suku yang masih bertahan hidup!" Ucap sosok proyeksi raksasa leluhur suku Osiris.
"Seorang bocah yang bahkan belum sepenuhnya matang!" Tambah proyeksi leluhur suku Osiris.
Mendengar kata-kata leluhurnya, Razak yang masih dalam kondisi bersujud, tak memberi jawaban apapun. Hanya mulai menggertakkan gigi dengan keras serta semakin menambah tekanan keningnya pada lantai reruntuhan.
"Bocah! Apa saja yang kau lakukan selama ini? Sebagai keturunan suku Osiris yang agung, bisa kulihat capaian kultivasimu tak terlalu mengesankan!"
"Benar-benar mengecewakan!" Bentak proyeksi leluhur suku Osiris. Sebelum hawa berat intens yang berasal dari aliran Mana Besi murni yang amat pekat, mulai menyebar disekitar. Menekan siapapun yang sekarang berada di lokasi.
"Leluhur, aku…."
Dibawah tekanan Mana Besi intens yang begitu berat, Razak yang menjadi target utama tekanan tersebut, segera akan memberi jawaban pada leluhurnya. Namun kata-katanya tercekat, tak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk memberi tanggapan apapun.
"Angkat kepalamu jika sedang berbicara padaku! Jika mengangkat kepala saja tak mampu, bagaimana kau akan mampu memikul beban dan tanggung jawab untuk meneruskan warisan suku kita!" Bentak proyeksi leluhur suku Osiris sekali lagi. Kini juga semakin menambah intensitas aliran Mana Besi yang ia keluarkan.
Membuat Razak yang tadi sempat dengan susah payah berusaha mengangkat kepala, segera kembali tertunduk. Tak kuasa menahan tekanan yang sedang ia terima.
Bukan hanya Razak, bahkan seluruh anggota tim ekspedisi kelompok Bandit Serigala yang ada dilokasi, dimana hanya menerima tekanan dari aliran Mana Besi sisa, kini juga mulai jatuh tersujud. Membenturkan lutut masing-masing pada lantai reruntuhan kuno.
__ADS_1
"Mengecewakan! Jika hanya seperti ini kualitas yang kau miliki, mana mungkin kau bisa membalaskan dendam suku kita! Sementara kelompok Endless Heavens Sect yang telah menghancurkan suku Osiris, merupakan sekumpulan monster biadab yang begitu kuat!" Tambah proyeksi leluhur suku Osiris. Dengan raut wajah menyeramkan serta tatapan mata tajam menatap kearah punggung Razak yang masih bersujud.
Proyeksi leluhur suku Osiris yang kini terlihat sedang benar-benar marah, tampak akan kembali menambah intensitas dari tekanan aliran Mana Besi yang ia keluarkan, sampai kemudian….
*Woooshhhh….!!!
Secara tiba-tiba, aliran Mana Besi lain menyebar dengan tak kalah intens. Menahan serta sedikit memukul balik aliran Mana Besi yang dikeluarkan oleh leluhur suku Osiris.
"Bocah! Apa yang sedang ingin kau lakukan!" Ucap leluhur suku Osiris. Mengalihkan tatapan matanya kearah lain.
Diarah berlawanan, Theo yang kini telah mengambil wujud rage buatan, ditemani dengan Joy kecil dipundak kanannya. Menatap balik leluhur suku Osiris dengan tatapan yang tak kalah tajam.
"Pak tua! Kau hanya proyeksi palsu dari perwujudan jiwa sisa! Satu sosok usang yang telah ketinggalan jaman!" Gumam Theo. Kini semakin menambah intensitas tekanan dari aliran Mana Besi yang ia keluarkan. Sedikit demi sedikit menekan balik sepenuhnya leluhur suku Osiris.
Bagaimanapun juga, aliran Mana Besi yang saat ini dikeluarkan oleh Theo, adalah percampuran antara produksi langsung Element Seed tipe Netral miliknya yang begitu murni, dengan Mana Besi kuno milik Joy kecil sang Guardian Beast.
Jadi, meskipun proyeksi leluhur suku Osiris memiliki intensitas aliran Mana Besi yang begitu pekat, efek dari kelasnya yang sangat tinggi ketika masih hidup, tetap saja ia hanyalah jiwa sisa.
Kekuatan yang saat ini ia miliki, bahkan tak mencapai 10% dari kekuatan aslinya. Menyebabkan Theo yang hanya berkelas King, memanfaatkan semua kelebihan yang ia punya baik itu dari faktor Element Seed tipe Netral, dan juga keberadaan Joy kecil disisinya, kini mampu menekan balik sang leluhur.
"Kalian sekumpulan leluhur tak berguna yang tak bisa menjaga rumah sendiri dari gempuran musuh, tak berhak sama sekali menghakimi keturunan kalian! Dimana ia yang kini sebatang kara, harus memikul beban berat karena kekacauan yang telah kalian buat sendiri!" Ucap Theo. Dengan raut wajah yang kini benar-benar berubah menyeramkan.
Mendengar kata-kata tajam yang keluar dari mulut Theo, proyeksi leluhur suku Osiris sama sekali tak memberi tanggapan apapun. Masih menatap tajam kearah sosok Theo yang kini bagaikan dewa surgawi, dikeliling oleh aliran segala jenis atribut Mana pada sekujur tubuhnya.
"Kalian bahkan tak menyiapkan apapun untuknya! Hanya token identitas dengan kalimat samar di belakangnya yang sama sekali tak berguna bila ia tak bertemu denganku! Bahkan kalian tak meninggalkan satu petunjuk teknik apapun yang bisa ia gunakan untuk membongkar segel garis darah yang mengunci dual Element Seednya!"
"Membuat keturunan terakhir suku kalian, harus hidup terhina sebagai seorang budak!" Tambah Theo.
"Kini, kau ingin ia mengangkat kepala saat berhadapan denganmu?" Lanjut Theo. Kemudian dengan gerakan tangan cepat, memecah tekanan intens yang sedang membelenggu Razak.
"Razak! Angkat kepalamu!" Seru Theo.
Mendengar seruan Theo, Razak yang dari tadi juga mendengar dengan seksama semua kalimat yang Boss Besarnya ucapkan, segera mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Dia sudah mengangkat kepalanya! Kini giliran dirimu untuk menundukkan kepala dan meminta maaf padanya!" Ucap Theo kemudian, ketika Razak sudah mengangkat kepala. Kini ganti menambah tekanan intens aliran Mana Besi yang keluar dari dalam tubuhnya, terfokus sepenuhnya kearah proyeksi raksasa leluhur suku Osiris.
Tekanan kuat yang diberikan Theo, segera membuat raut wajah leluhur suku Osiris menjadi buruk. Ia benar-benar tak menyangka akan berakhir ditekan sepenuhnya oleh seorang junior berkelas King.
Leluhur suku Osiris yang semakin lama semakin tak kuasa menahan tekanan yang diarahkan Theo padanya, kini terlihat mulai akan menundukkan wajah. Namun, tepat sebelum ia benar-benar berakhir menundukkan wajah dengan memalukan…
"Boss! Tolong hentikan itu!" Ucap Razak.
Mendengar permintaan Razak, Theo segera meliriknya untuk sementara waktu. Kemudian tanpa menjawab, kembali menarik semua aura yang ia keluarkan. Berubah ke wujud normal sekali lagi.
"TUUUU….!"
Aksi Theo, ditutup dengan Joy Kecil mengucapkan satu seruan keras. Seolah berkata, jangan berani macam-macam dengan mengadu aliran Mana Besi dengannya.
"Leluhur, maafkan atas semua yang terjadi!" Ucap Razak, dengan intonasi nada sopan dan tampak menyesal begitu situasi telah sepenuhnya mereda.
Namun, belum sempat leluhur suku Osiris memberi jawaban, Theo dengan cepat memotong.
"Razak, sekali lagi kau meminta maaf pada jiwa sisa dari manusia usang ini, maka jangan pernah menunjukkan wajahmu di hadapanku lagi!" Ucap Theo.
Kata-kata Theo, segera membuat Razak melihat kearahnya dengan ekspresi wajah dilematis.
"Boss…!" Ucap Razak.
"Diam!" Dengus Theo.
"Seorang anak memang akan memikul tanggung jawab untuk orang tuanya! Namun, seorang anak tak memikul dosa orang tuanya! Jadi, jangan terus merendahkan dirimu untuk leluhur sampah sepertinya!"
"Hiduplah seperti cermin! Jika seseorang memberimu senyum hangat, balas dengan senyum hangat yang sama! Jika seseorang merendahkanmu, tak ada alasan bagimu menghormatinya!"
"Siapapun itu!"
"Bahkan jika itu adalah seorang leluhur agung sekalipun!" Ucap Theo, dengan sorot mata penuh ketajaman.
__ADS_1
"Camkan dengan baik kata-kataku tadi! Karena begitulah cara dunia bekerja jika kau ingin mencapai puncak tertinggi!" Tutup Theo.
Satu kalimat yang meskipun ditujukan untuk Razak, namun segera membuat setiap orang di lokasi yang juga ikut mendengar, kini mulai bergetar dadanya masing-masing. Adrenalin mereka memuncak, menatap kearah punggung Theo yang tanpa cela, dengan tatapan penuh kekaguman.