
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Baiklah! Tak ada salahnya mencoba! Mungkin aku sudah cukup kuat untuk naik keatas!" Gumam Theo. Seraya mulai maju satu langkah. Menginjakkan kaki pada baris tangga pertama.
*Tap….!!!
Theo baru sedetik menginjakkan kakinya pada tangga, sampai kemudian, secara tiba-tiba….
*Woooshhhh….!!!!
Satu hawa berat yang begitu menekan, seketika menerjang tubuhnya. Membuat Theo tak sanggup bahkan untuk mengangkat kaki sekali lagi. Ia kini mulai menggertakkan gigi-giginya. Menahan agar tak sampai jatuh dalam kondisi berlutut.
Situasi Theo yang dengan sekuat tenaga menahan tekanan hawa berat ini bertahan untuk beberapa saat, sampai kemudian, peristiwa mengejutkan lain terjadi.
*Baaaammmmm….!!!!
Satu hentakan berat yang begitu intens, secara tiba-tiba menerjang tubuh Theo, membentur hebat sekujur tubuhnya. Menyebabkan Theo terpental cukup keras dan berakhir menabrak dinding kastil di sisi berlawanan dari lorong yang mengarah pada tangga lantai dua.
*Boooooommmmm….!!!
"Goooaahhh….!!!"
Theo mendarat keras dengan tubuh menghujam dinding lorong. Menyebabkan ia segera batuk banyak darah segar ketika tubuhnya jatuh sekali lagi pada lantai.
Tekanan berat yang memukul tubuh Theo, tak hanya berimbas pada luka fisik, melainkan juga dengan hebat menggoncang ranah jiwanya. Mata Theo segera buram begitu ia menggeliat untuk beberapa saat di lantai ruangan, merasa kesakitan pada sekujur tubuhnya.
"Sialan! Formasi jebakan macam apa itu!" Gumam Theo. Masih mengerang kesakitan memegang dadanya sambil memandang ngeri kearah tangga menuju lantai dua yang berada di sisi lain lorong.
Theo bisa merasa, serangan yang ia terima dari mekanisme jebakan pada tangga menuju lantai dua, benar-benar memiliki bobot yang sangat mengerikan.
Satu hal yang tentu saja membuat ia begitu terkejut sekaligus ngeri di saat bersamaan, bagaimanapun juga, dengan tubuh berdaya tahan luar biasa yang ia miliki, dimana bisa dikatakan adalah tubuh monster yang mempunyai ketahanan fisik diatas rata-rata Meridian Knight pada umumnya, Theo justru harus berakhir dalam situasi terluka parah hanya ketika baru saja menginjakkan satu kaki pada lantai tangga tersebut.
Bahkan pukulan dari seorang Emperor tahap awal, tak akan memberi luka sedemikan parah pada tubuh Theo.
"Sialan kau Master! Sampai kapan terus ingin mengerjaiku! Kenapa harus memasang mekanisme jebakan seberbahaya ini!" Gumam Theo.
__ADS_1
"Jika memang tak ingin aku naik secara terburu-buru, bukankah kau hanya perlu memasang mekanisme formasi penahan!" Lanjut Theo, suaranya terdengar semakin lirih. Pandangan matanya, kini juga semakin buram.
Tak berapa lama, Theo yang merasakan sakit pada sekujur tubuhnya semakin menjadi, kini perlahan tak kuasa menahan pandangan matanya. Ia mulai akan jatuh tak sadarkan diri.
Namun, sebelum Theo benar-benar jatuh tak sadarkan diri, sayup-sayup, terdengar satu suara yang tak asing di telinganya.
"Anak bodoh! Bukankah sudah kukatakan untuk naik kelantai selanjutnya hanya setelah kau berada di realm lebih tinggi?"
"Master!" Gumam Theo lirih. Sebelum tubuhnya tak mampu bertahan lagi dengan rasa sakit yang begitu menyiksa.
***
(Beberapa jam kemudian)
"Urrgghhhh….!!!"
Theo yang kembali sadar, masih merasa sekujur tubuhnya seperti sedang di timpa suatu beban yang begitu berat. Bahkan, ketika Theo berusaha mengambil posisi duduk bersila, tulang-tulangnya mulai terdengar berderak.
"Master….!!!" Gumam Theo lirih, saat akhirnya berhasil mengambil posisi duduk bersila. Ia kemudian mulai melihat ke kanan dan ke kiri dengan gerakan kepala cepat. Berusaha mencari keberadaan dari sosok Masternya, Tiankong.
"Master…!!!" Gumam Theo sekali lagi, begitu tak kunjung menemukan sosok Tiankong.
"Ayolah! Kau pasti berada disekitar sini! Berhenti untuk terus bersikap menyebalkan!" Ucap Theo. Kini dengan usaha keras, mencoba mengeraskan suaranya.
Namun, sekali lagi, jawaban yang ia dapat hanyalah keheningan total, suara yang kembali ke telinganya, cuma dengungan dari teriakannya sendiri yang tadi sempat ia lontarkan. Menggema keseluruh lorong panjang yang ada di hadapannya.
***
(Satu jam kemudian)
*Woooshhhh….!!!!
Satu aura keruh, menyebar luas kesekitar, menandakan Theo telah berhasil sedikit memulihkan diri.
Theo yang telah sedikit memulihkan diri, kini mulai berdiri dari duduk bersilanya. Meskipun luka-luka di sekujur tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, ia tampak memaksakan diri untuk mengambil langkah perlahan kembali menuju kearah tangga lantai dua berada.
Dan tepat ketika Theo telah berada di depan tangga lantai dua, ia tampak menatap tajam kearah kegelapan yang ada diujung tangga. Sorot matanya, seolah mengatakan ia ingin memastikan sesuatu.
"Kau Master sialan!" Gumam Theo lirih. Seraya sekali lagi mulai mengangkat kakinya.
*Tap….!!!
Untuk kedua kalinya, Theo menginjak anak tangga pertama menuju lantai dua.
*Woooshhhh….!!!
__ADS_1
*Baaammmmmm….!!!!
Dan seperti kejadian sebelumnya, satu hawa berat begitu menekan yang diakhiri dengan satu hentakan keras yang begitu dahsyat, sekali lagi menerjang tubuh Theo.
Membuat Theo harus merasakan dalam posisi terpental keras dan membentur tembok ruangan untuk kedua kalinya. Semburat darah segar yang lebih banyak dari kejadian pertama, saat ini dengan deras keluar dari mulutnya.
Pukulan kedua yang ia terima, menyebabkan tubuh Theo yang pada dasarnya masih belum sepenuhnya pulih, hanya bertahan beberapa detik sebelum kembali tak sadarkan diri. Namun, tepat ketika Theo akan kembali jatuh tak sadarkan diri….
"Anak bodoh! Bukankah sudah kukatakan untuk naik kelantai selanjutnya hanya setelah kau berada di realm lebih tinggi?"
Suara Tiankong, kembali terdengar, mengatakan hal yang sama persis. Bahkan intonasi nadanya, juga terdengar sama persis.
***
(Beberapa jam kemudian)
Theo yang kembali sadar, sama sekali tak bisa merasakan seluruh bagian tubuhnya. Hanya kepala dan mulut yang masih bisa sedikit ia gerakkan.
"Sungguh lelucon yang tak lucu!" Gumam Theo lirih. Ekspresi kekecewaan yang begitu mendalam, terlihat jelas di wajahnya.
Kini ia sadar, ternyata suara Tiankong yang sebelumnya ia dengar, hanyalah satu mekanisme tambahan yang dipasang Masternya di dalam formasi jebakan.
Hal ini tentu saja membuat Theo yang tadi sempat mempunyai satu harapan di dalam hatinya, menjadi sangat kecewa. Dipengaruhi oleh rasa kecewa yang begitu mendalam, ia kembali jatuh tak sadarkan diri.
***
Theo tak tahu sudah berapa lama ia jatuh tak sadarkan diri. Suasana hatinya kembali masam begitu teringat kejadian sebelumnya. Kekecewaan yang ia rasakan, kini bahkan membuatnya tak terlalu peduli dengan rasa sakit yang sedang mendera seluruh bagian tubuhnya.
Dalam posisi terlentang, Theo hanya diam untuk beberapa periode waktu. Menatap kosong kearah langit-langit lorong kastil.
Sampai kemudian, Theo akhirnya terlihat mengambil satu nafas panjang. Sebelum menggerakkan salah satu ujung jarinya. Menarik salah satu simpanan Pill obat, kemudian memasukkannya kedalam mulut. Kembali melakukan proses pemulihan.
***
"Tuan…!!!"
"Tuan…!!!"
Theo yang telah dalam posisi duduk bersila, masih melakukan proses pemulihan ketika suara Sasi tiba-tiba terdengar.
"Ada apa?" Ucap Theo, seraya membuka mata. Ia kini telah menarik kesadarannya. Keluar dari gelang ruang-waktu, kembali berada di dalam Glory Land Warship.
Namun, tak seperti sebelumnya, ketika telah kembali menarik kesadarannya, pada punggung Theo, jubah merah darah kini telah terpasang. Mengeluarkan satu riak ringan aura yang terasa misterius. Cenderung menyeramkan.
Dengan Kontrak darah Lord Satan yang telah terpasang dalam Element Seednya, Theo untuk kedepan, tak punya pilihan lain selain menerima kenyataan jubah merah darah akan terus tersampir dipundaknya.
__ADS_1
"Tuan! Lebih baik anda keluar! Situasi disini, berkembang menjadi diluar kendaliku!" Jawab Sasi.