Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
349 - Gerbang Keempat


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Tepian Sungai Leluhur, Wilayah perbatasan antara Gurun Pasir Berisik dan Gurun Lima Warna)


Perkemahan besar Bandit Serigala berdiri megah dengan panji-panji Serigala menyalak menghiasi hampir disetiap sudut tempat.


Jumlah anggota yang terus bertambah seiring berjalannya waktu karena mereka tanpa henti menaklukan kelompok-kelompok Bandit lain di dua wilayah gurun, membuat suasana perkemahan Bandit Serigala saat ini tampak sangat ramai.


Sebagian besar anggota sibuk berlatih dan meningkatkan kultivasi, atau bila tak begitu, melakukan latih tanding dengan sesamanya. Sementara sebagian kecil anggota lain yang kebanyakan adalah orang baru, masih terlihat mempertahankan kebiasaan mereka sebagai seorang Bandit, yakni berpesta dan minum-minum.


Meskipun telah mendapat intruksi dan peringatan dari beberapa anggota lain yang bergabung dengan Bandit Serigala lebih awal, sebagian orang ini sepertinya mengabaikan, tak terlalu peduli dengan cerita tentang hukuman yang menanti mereka bila kultivasinya tertinggal.


Kelompok lama sendiri akhirnya memutuskan tak lagi membuang waktu untuk memberi peringatan lebih jauh. Mereka diam-diam menganggap bahwa itu baik bila ada beberapa orang dungu yang bersedia mengambil jatah slot 10 orang peringkat terbawah yang akan menerima hukuman dari Boss besar secara sukarela.


Selain kelompok anggota biasa yang sibuk dengan kegiatan masing-masing, juga tampak beberapa kelompok wakil pemimpin yang dikoordinir oleh Oscana, dimana sedang sibuk menghitung serta merekap semua harta rampasan yang di dapat kelompok Bandit Serigala dari Bandit-bandit lain yang mereka taklukkan atau musnahkan.


Jumlah harta yang di dapat sendiri amatlah mencengangkan. Ditumpuk menjadi satu gunungan besar yang memerlukan kurang lebih 50 orang untuk memilah dan juga menghitungnya.


Suasana menjadi semakin ramai saat dari dua arah berbeda, kelompok Bandit Serigala yang melakukan ekspedisi di dua wilayah gurun berbeda, kini bergerak memasuki area perkemahan di waktu yang hampir bersamaan.


Kelompok Sanir yang menunggangi puluhan Serigala Hitam, kembali dengan membawa harta rampasan dan beberapa puluh anggota tambahan yang sebelumnya adalah orang-orang Bandit Rubah Gurun dimana akhirnya memutuskan tunduk dan bergabung dengan kelompok Bandit Serigala.


Hereda, wanita bertubuh kekar, yang sebelumnya adalah Boss Besar Bandit Rubah Gurun, saat ini berjalan dengan tatapan tajam menyapu sekitar dibelakang Sanir.


Sementara disisi lain, kelompok Thomas yang selesai melakukan ekspedisi di wilayah Gurun Lima Warna, kembali dengan membawa tumpukan harta yang bisa di bilang sangat banyak. Harta-harta tersebut adalah rampasan perang yang mereka dapatkan selesai membantai habis dua kelompok Bandit besar di wilayah Gurun Lima Warna. Yakni Bandit Kaktus Darah dan Bandit Hyena.


Selain harta rampasan, kelompok Thomas juga membawa serta beberapa gadis muda mantan budak Bandit Hyena yang mana bersikeras memutuskan untuk ikut dengan kelompoknya. Merasa begitu malu bila harus pulang ke pemukimannya masing-masing. Mereka berjanji akan membantu Bandit Serigala semampu yang mereka bisa. Meskipun itu hanya sekedar bekerja di dapur menyiapkan perbekalan kelompok.


Kembalinya dua kelompok ekspedisi dengan membawa kabar bahwa ekspedisi penaklukan hari itu berjalan dengan sukses, membuat setiap anggota kelompok Bandit Serigala yang menunggu di perkemahan segera bersorak antusias.

__ADS_1


Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, langkah Bandit Serigala tak terhentikan. Periode penaklukan wilayah Gurun Lima Warna dan juga Gurun Pasir Berisik berjalan dengan sangat lancar seperti tanpa hambatan. Kelompok Bandit Serigala benar-benar tak terbendung.


***


(Kemah rapat)


"Seperti yang di prediksi oleh Boss Besar, langkah kita tak akan menemui halangan berarti di dua wilayah Gurun ini!" Ucap Sanir. Yang kini ditemani oleh Hereda disampingnya.


Sanir memutuskan agar Hereda menjadi bagian dari divisi yang ia pimpin, bertugas sebagai salah satu pengatur pasukan.


"Hmmm… itu benar! Tapi aku ragu langkah kita akan terus lancar!" Jawab Thomas.


"Apakah kau mengatakan itu karena desas-desus yang beredar belakangan ini?" Tanya Yahuwa.


"Desas-desus? Maksudmu tentang beberapa kelompok Bandit besar yang secara tak terduga melakukan pertemuan?" Tanya salah satu wakil pemimpin tua.


"Yahh, masalah itu! Tanpa perlu banyak menduga atau menerka, kita semua pasti tahu apa topik yang sedang mereka bahas! Itu jelas adalah langkah penaklukan kita! Dimana tentunya berujung pada rencana aliansi diantara kelompok-kelompok Bandit tersebut!" Ucap Thomas.


"Boleh aku menyampaikan pendapat?"


Ditengah diskusi, Hereda tiba-tiba angkat bicara.


"Terimakasih!" Jawab Hereda sebelum mulai menyampaikan pendapatnya.


"Sebagai penduduk asli dari wilayah Gurun Pasir Berisik, dan sebagai orang yang telah cukup lama berkecimpung di dunia Bandit wilayah ini, ada satu hal yang perlu kusampaikan pada kalian!" Ucap Hereda.


"Pada dasarnya, setiap kelompok Bandit di wilayah Gurun Pasir Berisik ataupun Gurun Lima Warna, memiliki ego yang cukup tinggi! Jadi, meskipun ada rencana aliansi, itu akan memerlukan waktu yang lama untuk mencapai kata sepakat!"


"Mereka terbiasa bergerak secara bebas, karena memang di dua wilayah ini, tak begitu banyak Tribe besar yang berkuasa! Kondisi yang hampir mirip dengan wilayah Gurun Darah Gersang, jadi kalian pasti sedikit banyak memahaminya!" Tambah Hereda. Pernyataan yang di sambut dengan anggukan singkat Thomas dan lainnya.


"Namun begitu, ada satu Tribe besar di dua wilayah Gurun ini yang memimpin sebagai kepanjangan tangan Barbarian Tribe dimana memiliki nama yang cukup disegani oleh semua kelompok Bandit!"


"Mereka tak lain adalah Asakia Tribe!"


Mendengar seluruh penjelasan Hereda ternyata berujung dengan ia menyebut nama Asakia Tribe, setiap orang yang saat ini berada di dalam kemah rapat segera mengerutkan kening. Tak paham dengan arah pembicaraannya.


Disisi lain, Hereda yang melihat ekspresi heran setiap orang, segera melanjutkan penjelasannya.


"Jadi begini, dari pada kita repot-repot membenturkan diri dengan kelompok Bandit lainnya, itu akan lebih baik jika…."

__ADS_1


Hereda mulai menyimpulkan semua penjelasan yang ia sampaikan dengan memberi saran rencana kedepan. Satu saran yang disambut dengan ekspresi wajah serius semua orang.


***


(Istana Emas)


*Boooommmm….!!!


Suatu riak ledakan dari berbagai jenis atribut Mana, menyebar luas di sekitar ruangan tempat Theo sedang melakukan kultivasi. Peristiwa tersebut, menjadi pertanda bahwa Theo saat ini telah berhasil menerobos ketingkat General Surga.


Namun, meskipun telah berhasil menerobos, tak ada tanda-tanda Theo akan membuka mata. Aliran Mana Kuno aneh nan suram, justru mulai keluar dari dalam tubuhnya. Bergerak liar menyelimuti seluruh tubuh Theo.


Melihat aliran Mana kuno tersebut, Sasi yang pada awalnya masih memasang ekspresi datar, kini tiba-tiba berubah serius wajahnya. Cenderung ngeri.


"Aliran Mana dari era kekosongan!" Gumam Sasi.


***


(Ranah jiwa Theo)


"Tidak mungkin! Apa yang terjadi!" Ucap Theo dengan mata terbelalak, saat menyadari ratusan juta Mutiara Mana Perunggu yang sebelumnya melayang bagai lautan di dalam ranah jiwanya, kini tiba-tiba lenyap.


Beberapa saat yang lalu, Theo yang telah berhasil naik tingkat, sudah hendak meneruskan menyerap Mutiara Mana Perunggu lainnya, tak ingin menyia-nyiakan efek dari 4 Pill obat kelas S yang masih tersisa di dalam tubuhnya. Sampai pemandangan mengejutkan menyambutnya ketika pertama kali membuka mata.


"Bagaimana bisa! Harusnya masih tersisa puluhan juta!" Gumam Theo.


Saat Theo masih kebingungan, satu hembusan angin dingin tiba-tiba menerpa punggungnya. Hembusan yang entah kenapa membawa nuansa sangat kuno dan suram bagi Theo. Dimana menurutnya sedikit familiar. Dengan cepat ia menoleh untuk melihat sumber datangnya hembusan angin tersebut.


Dan yang dilihatnya adalah, salah satu gerbang kecil yang berada di pintu raksasa Gerbang Dosa, saat ini telah terbuka sepenuhnya.


"Hmmmm…! Jadi itu kau yang telah menyerap puluhan juta Mutiara Mana Perunggu lainnya!" Gumam Theo. Menatap erat pintu gerbang kecil yang telah terbuka.


"Gerbang Dosa Kemalasan!"


---


Note :


Hari minggu, 1 chapter. Mulai besok akan normal kembali 2 chapter. ^^

__ADS_1


__ADS_2