Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
289 - Membeku


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


*Kraaakkkk…!!!


*Kraaakkkk….!!!


*Kraaakkkk…..!!!


Suara-suara keras dari retakan yang muncul diatas Ring Arena Tongkat, terdengar bahkan sampai tribun penonton.


"Wooahhh….!!!"


Bersamaan dengan suara retakan tersebut, tribun Arena yang semula hening, kini berubah menjadi riuh kembali. Para penonton bersorak keras. Tampak begitu antusias.


Dibawah teriakan antusias yang menyelimuti seluruh Death Arena, saat ini hanya ada satu orang di tribun penonton yang justru tampak memasang wajah muram penuh kekhawatiran. Ia tak lain adalah Thomas.


Pria gentut ini meskipun sebelum menerima tawaran Theo bergabung dalam kelompok Bandit Serigala berprofesi sebagai saudagar, namun sepertinya ia juga memiliki pengalaman cukup dalam di jalan seorang Knight.


"Kenapa Boss! Kenapa! Jelas-jelas senjata milikmu adalah apa yang paling di butuhkan oleh wanita itu untuk menjelma menjadi seorang True Knight yang sempurna!"


"Jadi kenapa malah memberikannya! Benar-benar tak seperti dirimu saja! Kemana perginya sifat luar biasa teliti dan menghitung semua kemungkinan milikmu yang biasanya selalu kau tunjukkan itu pergi?"


"Sungguh menyebalkan!" Gumam Thomas dengan ekspresi wajah kesal.


Dari awal ia sudah tak bisa tenang saat melihat Theo menyerahkan Tombak kelas S kepada Hella, dan begitu melihat Tombak tersebut memiliki kecocokan atribut Mana dengan Hella, Thomas tentu saja segera menjadi lebih tak tenang lagi.

__ADS_1


Saat ini bahkan ia sudah berdiri dari tempat duduknya, mengepalkan tangan erat sambil memandang kearah Ring Arena Tongkat yang masih di selimuti debu tebal.


Meskipun ia percaya pada Bossnya, tetap saja, sebagai mantan saudagar, ia tak bisa tenang saat merasa ada kemungkinan sekecil apapun yang mengancam dirinya untuk mendapatkan harta. Apalagi tumpukan harta tersebut sudah ada tepat di depan matanya.


"Hmmmm… Apa yang terjadi? Kenapa begitu ramai?"


Saat Thomas masih memandang kearah Ring Arena Tongkat dengan tatapan khawatir, Razak yang sebelumnya di tempatkan Thomas pada lantai tribun di bawah kakinya, kini tampak mulai sadar kembali. Merasa bingung karena saat pertama kali bangun, ia langsung disambut dengan suara sorakan ramai yang menggema di seluruh tribun Death Arena.


"Hmmmm…! Jangan banyak tanya! Mulut tak bisa di pakai untuk melihat! Jadi lihat sendiri dengan matamu!" Dengus Thomas. Melampiaskan rasa kesalnya pada Razak yang baru bangun dan tak tahu apa-apa.


"Hmmmm….!" Mendengar kata-kata ketus Thomas, Razak yang masih polos, tak menyadari bahwa pria gentut itu sedang kesal. Tanpa banyak bertanya lagi, ia mulai berdiri dan segera melihat kearah Ring Arena Tongkat. Lokasi setiap orang saat ini mengarahkan pandangannya.


Dan bersamaan dengan Razak melihat kearah Ring Arena Tongkat, kepulan debu yang bertebaran kini mulai menghilang di terpa angin. Menyebabkan pemandangan diatas Ring kini bisa di lihat dengan jelas oleh setiap orang.


"Boss…!"


Teriak Razak, begitu melihat Theo yang berdiri diatas Ring, kini seluruh tubuhnya tampak diselubungi oleh bongkahan es besar, membeku sepenuhnya.


Sementara Hella yang berdiri di sisi lain Ring Arena, saat ini terlihat tak memiliki bekas luka apapun di tubuhnya. Gadis ini hanya menempatkan satu tangannya pada tubuh White Fang. Menggenggam bulu-bulu putihnya.


"Woaahhh….!! Apakah ini kemenangan untuk peserta Hell?" Teriak salah satu penonton.


"Ya Tuhan! Akhirnya keajaiban benar-benar terjadi!" Teriak penonton lain yang secara kebetulan sebelum pertandingan di mulai, dengan iseng menempatkan beberapa persen uang taruhannya pada Hella.


"Apakah benar berakhir seperti ini? Sangat disayangkan sekali! Padahal peserta Wolf sungguh tampil mendominasi dan melakukan banyak aksi tak terduga!" Ucap penonton lain.


"Hahhh… Itu karena salahnya sendiri bersikap terlalu sombong! Sudah tahu lawannya adalah True Knight! Malah memberinya senjata bagus!" Sahut penonton lain.


"Benar sekali! Malahan juga menyuruhnya untuk mengeluarkan Spirit Beast kontrak! Benar-benar konyol!"


Diskusi acak mulai terjadi diatas tribun. Para penonton kini memberi komentar dan pandangan masing-masing pada hasil bentrokan yang baru saja terjadi.


Disisi lain, ketika hampir seluruh penonton memberi tanggapan miring pada Theo. Ada dua orang di dalam Death Arena yang ternyata memiliki pandangan berbeda. Orang pertama adalah tetua Delario yang saat ini hanya diam diatas podium, tak memberi tanggapan apapun, hanya menatap tajam kearah Ring Arena Tongkat.


Sementara orang kedua tak lain adalah Razak. Bocah ini hanya monoleh kekanan dan kiri dengan ekspresi bingung saat mendengar orang-orang mulai memberi komentar miring pada Theo.

__ADS_1


"Apa yang mereka katakan? Bukankah sudah jelas saat ini yang sedang dalam posisi bagus adalah Boss?" Tanya Razak dengan wajah polos.


Mendengar pertanyaan Razak, Thomas yang berada di sampingnya, dengan cepat menoleh kearah bocah tersebut untuk beberapa saat. Sebelum kemudian mengalihkan tatapannya kembali keatas Ring Arena Tongkat. Kini mulai melihat lebih teliti lagi.


Namun, bagaimanpun ia melihat, tetap saja di pandangan matanya, itu adalah Theo yang saat ini sedang tersudut. Tapi ada satu hal aneh yang berhasil di tangkap Thomas setelah ia memperhatikan kembali dengan teliti.


"Kenapa peserta dengan nama Hell itu hanya diam saja? Bukankah tinggal melakukan serangan penutup terakhir untuk merebut kemenangan?" Gumam Thomas, saat menyadari Hell hanya diam berdiri ditempat sambil menatap kearah tubuh membeku Theo.


Bersamaan dengan gumaman Thomas, Hell yang sedang ia bicarakan, tiba-tiba melakukan pergerakan. Tapi pergerakan yang di buat oleh Hell, segera mengejutkan setiap orang.


Ia tak maju menyerang kedepan, melainkan mulai jatuh berlutut. Tangannya bergetar hebat tak mampu mempertahankan genggaman pada bulu White Fang yang dari tadi menopang tubuhnya.


Dan tepat ketika Hella jatuh berlutut, seluruh Armor besi yang ia kenakan, kini jatuh ketanah, hancur berantakan menjadi ratusan pecahan keping besi kecil. Menyebabkan hanya sehelai baju terusan putih tipis yang sekarang tersisa menempel di tubuhnya. Sementara Hella yang saat ini berlutut, mulai menekan erat dadanya. Tampak kesulitan bernafas.


Hal tersebut membuat setiap penonton yang dari awal tatapannya memang terfokus pada Hella, kini bisa melihat lekuk tubuh Hella yang sangat indah. Baju putih tipis yang ia kenakan, sekilas terlihat transparan diterpa lampu terang benderang diatas tribun Arena.


"Glekkk…!!!"


Setiap penonton menelan ludah, kini mereka menatap liar kearah Hella dengan tatapan panas. Benar-benar tak menyangka akan ada bentuk tubuh seindah itu di balik bongkahan baju zirah besi yang sebelumnya dikenakan oleh Hella.


*Kraaakkkk….!!!


Saat perhatian setiap penonton masih terfokus pada tubuh indah Hella, sebuah suara retakan keras tiba-tiba terdengar. Suara ini berasal dari bongkahan es besar yang saat ini menyelimuti tubuh Theo.


*Kraakkk…!!!


*Kraak….!!!


*Kraaakk….!!!


*Pyaaarrr…..!!!


Suara-suara retakan keras kembali menggema melanjutkan suara retakan yang pertama, sampai akhirnya, suara retakan berganti dengan bunyi pecahan keras.


Bongkahan es raksasa pecah menjadi ratusan keping. Diiringi Theo yang melompat keluar menerobos ratusan pecahan es, dan kemudian mendarat dengan mantap tepat di tengah Ring Arena.

__ADS_1


__ADS_2