
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
Suasana hening bertahan beberapa saat, setiap anggota klan yang awalnya riuh dengan teriakan perang, kini bersujud penuh penyembahan menghadap Joy Kecil.
Theo yang melihat perubahan tiba-tiba Joy Kecil, serta sikap puluhan Knight dari kedua klan yang tiba-tiba bersujud di hadapannya, hanya bisa tebengong, tak tahu apa yang terjadi.
"Master?" Tanya Theo kepada Tiankong.
"Itu adalah Mode Transformasi dari Guardian Beast, hampir mirip dengan mode Berserk dari Spirit Beast. Transformasi meningkatkan semua kemampuan Guardian Beast secara drastis." Jawab Tiankong.
"Namun, meskipun memiliki fungsi yang hampir sama, terdapat perbedaan mendasar yang sangat besar antara kedua Mode ini. Jika Spirit Beast akan mati setelah mengaktifkan mode Berserk, lain halnya dengan Guardian Beast yang mengkatifkan mode transformasinya, mereka hanya akan jatuh dalam kondisi hibernasi untuk beberapa waktu." Tiankong menutup penjelasannya.
"Lalu kenapa mereka bersujud?" Tanya Theo lagi sambil menunjuk kearah para anggota klan kuno.
"Kalau itu jangan tanyakan padaku, aku sendiri juga tak tahu!"
"Ngomong-ngomong kau ini lama-lama seperti balita saja, terus menerus bertanya! Kedepan gunakan instingmu sendiri untuk menyelesaikan situasi sulit, kau terlalu mengandalkanku akhir-akhir ini!" Dengus Tiankong, terlihat tak puas dengan kinerja Theo.
"Hehehhe….." mendengar keluhan Masternya, Theo hanya bisa tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa yang terjadi?" Suara Aria terdengar di samping Theo. Ketika Theo sudah mendapat penjelasan dari Tiankong, Aria masih terlihat shock dengan pergantian peristiwa tiba-tiba ini.
"Hahaha, jadi begini…" Theo mulai menjelaskan kondisi Transformasi Joy Kecil kepada Aria.
"Transformasi? Sebenarnya Spirit Beast macam apa kura-kura kecilmu itu?" Tanya Aria masih tampak bingung.
"Hahhh, itu akan repot bila menjelaskannya sekarang, kapan-kapan saja akan kujelaskan. Dan mulai sekarang panggil dia Joy Kecil." Jawab Theo.
__ADS_1
"Hmmmmmm….." Dengus Aria tampak tak puas dengan jawaban Theo.
"Lalu kenapa mereka semua bersujud?" Aria kembali bertanya.
"Ituuuu, aku sendiri juga tak tahu!" Theo menjawab canggung ketika Aria menanyakan hal yang sama dengan yang ia tanyakan kepada Masternya.
"Hmmmm, apa-apa tak bisa menjelaskan, dasar tak bisa diandalkan!" Dengus Aria lagi. Terlihat bawel seperti istri memarahi suaminya.
"Diam! Kenapa juga aku punya kewajiban menjawab semua pertanyaanmu!" Dengus Theo balik, merasa kesal dengan sikap Aria.
"Kau berani?" Bentak Aria, kemudian mengeluarkan dua pisau kecilnya. Matanya memandang liar kearah diantara dua kaki Theo.
Theo yang melihat tatapan liar Aria, segera merasa dingin pada benda nya yang ada diantara dua kaki, secara reflek dia mengarahkan tangan untuk menutupi area kejantanannya.
"Apa yang coba kau lakukan hah?? Berhenti melihat dengan tatapan seperti itu!" Kata Theo dengan ekspresi ngeri.
Ketika Theo dan Aria masih terlibat obrolan ambigu, tubuh Joy Kecil yang masih dalam bentuk raksasa mulai bersinar terang lagi. Beberapa saat kemudian tubuhnya kembali kebentuk normalnya, kura-kura putih kecil seukuran telapak tangan.
"Tuuuuuu…..!" Joy kecil melihat kearah Theo dengan tatapan sayu sambil bersuara lirih.
Sesaat kemudian, dia berubah menjadi seberkas cahaya dan terbang masuk kedalam tatto segel di punggung tangan Theo.
"Hmmmmm, dia benar-benar tidur lagi." Gumam Theo.
Diwaktu yang sama ketika Theo kembali menarik kesadarannya keluar dari tatto segel, puluhan kelompok anggota klan kuno yang awalnya bersujud mulai kembali berdiri satu persatu.
Theo dan Aria yang melihat hal itu segera memasang sikap waspada sekali lagi, bersiap untuk kemungkinan terburuk. Namun ketika semua anggota klan sudah bangkit kembali dari sujudnya, terlihat tak ada pergerakan sama sekali yang mereka lakukan, setiap orang anggota klan hanya memandang satu sama lain, terlihat bingung harus bersikap seperti apa.
"Aurelio?" Arsega yang juga sudah berdiri dari sujudnya, memecah keheningan dengan bertanya kepada rekannya.
Setiap anggota klan yang terlihat bingung, sekarang juga mulai menatap kearah Aurelio, mengikuti yang dilakukan oleh Arsega.
Sementara Aurelio yang mendapat puluhan tatapan dari orang-orang di sekitarnya mulai merasa canggung, terlihat agak kesal.
"Kalian ini, tadi tak mau mendengarkan kata-kataku, sekarang sudah begini, kalian melimpahkan semuanya padaku!" Dengus Aurelio kesal.
"Sudahlah, jangan begitu, maafkan aku." Jawab Arsega canggung.
__ADS_1
"Hahhhh…." Aurelio mulai menghela nafas.
Setelah menghela nafas, dia berjalan melangkah kearah Theo dan Aria. Sementara Theo dan Aria yang melihat Aurelio berjalan perlahan mendekat dengan hati-hati, semakin meningkatkan kewaspadaannya. Menatap sekitarnya dengan tatapan tajam.
"Tuan dan nona muda, tolong tenangkan diri kalian." Kata Aurelio ketika posisinya sudah dekat dengan Theo dan Aria
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Theo, mencoba bersikap tenang.
"Hahh, maafkan kesalah pahaman yang terjadi sebelumnya. Tolong dengarkan penjelasanku." Jawab Aurelio, mencoba mencairkan ketegangan yang terjadi.
"Baik, jelaskan." Kata Theo, masih bersikap untuk tetap tenang meskipun di penuhi kegelisahan dengan situasi yang tak bisa di tebak ini.
"Baiklah." Jawab Aurelio.
Aurelio kemudian mulai menjelaskan situasinya. Dia memulai penjelasan dengan memperkenalkan tentang kedua klan yang ada di sekitar Theo, dan seperti dugaan Tiankong, kedua klan ini adalah klan Agila dan Asura.
Kedua klan ini telah hidup berdampingan selama ribuan tahun, saling bahu membahu melindungi satu sama lain. Mereka terikat janji lama yang telah disepakati oleh kedua pendirinya untuk tak boleh mengabaikan satu sama lain.
Aurelio juga menjelaskan, selama ini kedua klan hidup di sebuah desa tersembunyi dibalik formasi segel yang ada di hadapan Theo. Memutuskan hubungan dari dunia luar, dan hidup secara sederhana. Setiap anggota klan juga tidak boleh meninggalkan atau melangkah terlalu jauh area desa mereka. Aturan ini disebabkan oleh adanya sebuah ramalan, dan ramalan ini berkaitan erat dengan Guardian Beast.
"Jadi seperti itu.." Aurelio menutup penjelasannya pada bagian ramalan. Tak memberi penjelasan lebih lanjut.
"Ramalan yang berhubungan dengan Guardian Beast?" Tanya Theo bingung setelah mendapat penjelasan.
"Ya seperti itu." Jawab Aurelio, diiringi dengan anggukan serempak puluhan anggota klan nya.
Melihat hal itu, Theo malah semakin bingung, dia bingung kenapa klan yang awalnya terlihat liar akan maju menyerangnya, tiba-tiba berubah sikap secara drastis, terlihat sangat sopan.
"Jadi, apa hubungan semua ceritamu denganku?" Tanya Theo lagi, masih tak memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Ituuu….." Mendapat pertanyaan Theo, Aurelio tampak bingung. Dia kemudian melihat kearah Arsega kawannya, berharap mendapat bantuan untuk menjelaskan.
Arsega yang mendapatkan tatapan Aurelio, terlihat ragu-ragu sejenak, kemudian mulai melangkah maju mendekati Theo juga.
"Kami sebagai seorang penjaga desa tak punya hak untuk menjelaskan lebih lanjut." Kata Arsega sopan ketika posisinya sudah dekat dengan Theo.
"Huh?" Theo mendengus bertanya pelan.
__ADS_1
Theo merasa semakin aneh melihat perubahan sikap Arsega yang tiba-tiba ini, pria berkulit gelap bertubuh kekar yang awalnya terlihat sangat beringas seperti ingin memakan Theo hidup-hidup, kini bersikap sangat sopan, sungguh aneh.
"Maukah tuan muda ikut kami memasuki desa dan bertemu dengan kepala suku? Kurasa mereka akan lebih memiliki kualifikasi untuk menjelaskan." Kata Aurelio menengahi ketika menyadari ekspresi canggung Theo terhadap kata-kata Arsega.