
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
Entah sudah berapa lama kelompok empat orang diluar Portal tanpa henti menyuplai Mana kepada Theo menggunakan segel formasi kontrak Tuan-Hamba.
*Wunggggg….!!!
Sampai kemudian, suara dengungan keras terdengar dari arah Portal Misterius. Suara tersebut, tentu saja segera menarik perhatian keempatnya. Mereka secara serentak mendongakkan kepala, melihat kearah Portal Misterius.
*Wuuushhhh….!!!
*Boooommmm….!!!
Tak lama setelah itu, sesosok makhluk terlempar cukup cepat keluar dari dalam Portal. Sosok ini hanya berhenti terlempar ketika tubuhnya menabrak keras dinding ruangan.
Hampir bersamaan dengan keluarnya sosok tersebut, Theo melompat dari dalam Portal. Mendarat tepat di hadapan sosok yang baru saja menabrak dinding ruangan.
"Makhluk apa itu?" Gumam Razak, begitu melihat makhluk yang kini berada di hadapan Theo.
Makhluk itu sendiri, memiliki bentuk kerdil, dengan warna kulit sepenuhnya hijau, sementara ujung kedua telinganya tampak runcing. Sambil meringkuk pada pecahan dinding, makhluk ini sekarang sedang memandang Theo dengan tatapan bergetar ketakutan.
"Makhluk ini adalah Goblin! Satu ras yang seharusnya tak berada di Realm kelas rendah seperti Gaia Land! Dialah yang dari awal mengendalikan Istana Emas ini!" Jawab Theo. Masih dengan pandangan tajam menatap kearah makhluk yang di sebutnya Goblin tersebut.
"Goblin?" Gumam Razak.
"Realm kelas rendah?" Ucap Thomas. Perhatiannya justru terfokus pada kalimat Theo yang menyebut tentang Realm.
Sementara Hella dan Gerel, tak memberi tanggapan apapun, keduanya tampak hanya memandang dengan tatapan risih pada makhluk yang kini sedang meringkuk di hadapan Theo.
"Katakan padaku, kenapa kau ada disini? Dan siapa pemilik sebenarnya dari Istana Emas ini?" Tanya Theo.
Mendengar pertanyaan Theo, si Goblin dengan gerakan cepat memandang kearahnya. "Lepaskan aku bila kau tak ingin mati!" Bentak sang Goblin.
Tapi meskipun ia membentak, setiap orang bisa mendengar nada bergetar pada suaranya. Menandakan makhluk tersebut kini sedang sangat gugup dan takut.
"Aku khawatir itu kau yang justru sebentar lagi akan mati jika tak segera menjawab pertanyaanku!" Ucap Theo. Dengan intonasi nada sangat dingin. Kini mulai mengarahkan salah satu pisau Mammon tepat di wajah Goblin.
__ADS_1
"Beraninya! Kuperingatkan padamu! Aku adalah Sasi! Salah satu pelayan kepercayaan Sage Lord Salomon! Bila sampai terjadi sesuatu padaku dan Istana Emas ini! Bisa kupastikan tuanku tak akan pernah melepaskanmu!" Bentak Goblin. Memperkenalkan identitasnya sekaligus memberi ancaman pada Theo.
"Sage Lord Salomon?" Gumam Theo. Kini mulai menunduk.
Melihat sikap Theo, Sasi yang menduga pemuda di hadapannya ini menjadi gentar setelah mendengar nama tuanya, mulai mengambil posisi berdiri. Senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Itu benar, tuanku adalah Sage Lord Salomon! Bocah, kurasa kau merupakan salah satu orang yang memiliki pengetahuan luas! Karena sangat jarang ada orang yang pernah mendengar nama tuanku di era ini!"
"Entah dari Mana kau mengetahui nama tuanku, tapi dari pengamatanku yang melihat kau sangat ahli dalam bidang formasi, bisa kutebak dirimu menemukan namanya dalam beberapa catatan kuno yang secara kebetulan kau temukan!"
"Jadi, karena kau tahu siapa tuanku, bersikaplah bijak, pergi dari sini sekarang juga, atau kau akan menerima akibatnya! Bukan hanya kau, seluruh makhluk di masa ini akan menerima akibatnya!"
"Kikikikiki….!!!" Ucap Sasi, dengan ekspresi wajah penuh kemenangan. Kata-katanya ditutup oleh tawa aneh yang terdengar begitu ringkih keluar dari dalam mulutnya.
"Yah… Aku tau siapa itu Sage Lord Salomon!"
Saat Sasi masih tertawa, Theo tiba-tiba kembali menyampaikan sesuatu. Diiringi dengan ia mulai mengangkat wajahnya. Dimana kini justru memasang seringai lebar menyeramkan. Seringai penjahat jalanan khas keluarga Alknight.
"A… Apa maksud dari seringaimu itu!" Ucap Sasi, dengan nada bergetar, senyum di wajahnya menghilang seketika. Entah kenapa ia merasa terintimidasi dan takut saat melihat wajah Theo dengan seringai lebarnya.
"Kuperingatkan padamu sekali lagi…."
"Diam!"
*Slaaaassshhh…!!!
"Arghhhh….!!! Telingaku!" Teriak Sasi kesakitan. Sambil menekan luka di telinganya yang terus mengeluarkan darah berwarna hijau, Ia berguling-guling pada lantai ruangan.
*Bammm….!!!
Seperti tanpa kenal rasa ampun dan tanpa belas kasihan sama sekali, Theo melanjutkan aksinya dengan mendendang keras tubuh kecil Sasi, membuatnya kembali membenturkan tembok ruangan.
"Pelayan Sage Lord Salomon, benar-benar sebuah kebetulan yang menyenangkan!" Ucap Theo. Berjalan perlahan menuju posisi sang Goblin sambil memainkan pisau lempar Mammon. Seringai lebar menyeramkan juga masih terpasang di wajahnya.
"Ampuni aku! Ampuni aku! Kumohon jangan bunuh aku!" Merasa pemuda dihadapannya adalah seorang yang sangat kejam dan berdarah dingin. Sasi mulai bersujud dan memohon ampunan.
"Mengampunimu? Itu bisa saja kulakukan! Tapi semuanya tergantung!"
"Tergantung dari apakah kau punya informasi yang cukup bagus! Dimana senilai dengan nyawamu!" Ucap Theo kini kembali berada di hadapan Sasi.
"Informasi?" Gumam Sasi.
"Benar! Informasi, sekarang katakan padaku, semua hal yang kau ketahui tentang Sage Lord Salomon! Semuanya! Tanpa ada yang tertinggal!" Ucap Theo.
"Ahhh… Itu, baiklah akan kukatakan!" Ucap Sasi cepat. Setelah berkedip beberapa kali.
__ADS_1
"Sage Lord Salomon adalah…"
"Tunggu dulu!"
Sasi hendak mulai menjelaskan sampai Theo kembali memotong.
"Aku berubah pikiran!" Ucap Theo.
"Be… Berubah pikiran? Apa maksudmu?" Tanya Sasi cepat, ekspresi wajahnya kembali berubah cemas.
Mendengar pertanyaan Sasi, Theo tak memberi jawaban apapun, justru mulai menggambar ukiran formasi aneh pada permukaan tanah. Disisi lain, begitu Sasi melihat ukiran yang sedang di gambar Theo, ekspresi wajahnya kini mulai berubah buruk.
"Formasi segel kehidupan! Kontrak Tuan-Hamba!" Gumam Sasi, dengan nada bergetar. Mulai menatap Theo dengan tatapan penuh kengerian.
"Cukup pintar! Jadi kau tau apa ini? Membuatku bisa menghemat waktu tanpa harus menjelaskan! Sekarang cepat masuk kedalam lingkaran!" Ucap Theo.
"Kau…" Gumam Sasi.
"Bila tak mau, maka itu berarti kematian!" Potong Theo.
Kata-kata Theo, membuat Sasi dengan cepat kembali menelan kalimat yang sempat akan ia ucapkan. Ia kemudian melangkah perlahan sangat ragu, berjalan memasuki lingkaran formasi.
"Tak perlu kujelaskan! Sekali saja kau menentang proses kontrak, kuanggap itu sebagai perlawanan, hukumannya adalah kematian!" Ucap Theo. Sebelum mulai melakukan segel tangan rumit.
Tak lama kemudian, karena Sasi tak berani melakukan penolakan sama sekali, segel kontrak Tuan-hamba selesai di buat.
"Nah, sekarang kau bisa mulai menjawab pertanyaanku tadi!" Ucap Theo, saat prosesi pemasangan segel selesai.
Mendengar itu, ekpsresi wajah Sasi kini menjadi sangat tak menentu, benar-benar tampak bingung dan dilema. Dengan terpasangnya Segel kontrak Tuan-hamba, ia tak lagi bisa berbohong pada Theo.
"Tunggu apa lagi? Cepat katakan semua yang kau tahu tentang Sage Lord Salomon!"
"Setelah ini aku tak akan bertanya lagi! Jika dalam hitungan 3 detik kau tak menjawab, lebih baik mati saja! Tak ada keuntungan apapun bagiku membiarkanmu hidup!" Dengus Theo.
Mendengar kata-kata Theo, ekspresi bingung di wajah Sasi semakin menjadi.
"Satu…!"
Namun, tanpa belas kasihan, Theo mulai menghitung mundur.
"Dua…!"
Theo sudah mengangkat tangannya yang menggenggam pisau Mammon, tampak bersiap menebas leher Sasi.
"Baiklah! Baiklah! Akan kukatakan semua yang kutahu!" Teriak Sasi, begitu takut sampai kakinya bergetar hebat, membuatnya jatuh terduduk di lantai.
__ADS_1
-----
Note : Sedikit sibuk hari ini, jadi cuma up satu chapter. Sebagai permintaan maaf, saya buka satu spin off.