Istri Figuran

Istri Figuran
Hanya Calista


__ADS_3

"Dio!" Bu Shanty menaikkan nada suaranya. "Sampai kapan Mama harus menunggu? Mama ingin kau segera menikah agar kau memiliki rasa tanggung jawab dalam hidupmu!"


"Tanggung jawab?" Dio tersenyum sinis. "Dio sudah memiliki tanggung jawab untuk bisnis Dio sendiri. Jika Mama ingin Dio bertanggung jawab untuk perusahaan-perusahaan Papa maka berikan tanggung jawab itu pada anak kedua Mama." Ucap Dio.


"Dio!" Tuan Mahesa yang tidak terima Dio berbicara seperti itu pun angkat suara. "Adikmu masih terlalu kecil untuk melanjutkan bisnis-bisnis Papa. Sudah seharusnya kau yang melanjutkan bisnis Papa karena kau adalah anak tertua!" Ucap Tuan Mahesa tegas.


Dio menggelengkan kepalanya. "Jangan pernah memaksa Dio harus sesuai dengan keinginan Mama dan Papa." Tekan Dio.


Bu Shanty pun memegang lengan suaminya sebagai tanda agar suaminya itu tidak lagi melanjutkan perkataannya.


"Ingat Dio, kau masih memiliki janji pada Mama jika kau akan menuruti segala permintaan Mama di saat umurmu sudah memasuki tiga puluh tahun. Dan saat ini umurmu sudah tiga puluh satu." Ucap Bu Shanty.

__ADS_1


Dio terdiam dan teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu di saat ia hampir saja kehilangan Nenek kesayangannya dan saat itu Dio berjanji akan menuruti perintah Mamanya untuk menikah pada Neneknya jika umurnya sudah memasuki tiga puluh tahun.


"Dio akan menikahi Calista secepatnya." Jawab Dio.


"Baiklah. Mama terima jika dia adalah pilihan terbaikmu. Segera bawa Calista ke depan Mama dan nikahi dia." Ucap Bu Shanty.


Dio menganggukkan kepalanya dengan wajah yakin berbeda dengan hatinya yang meragu mengingat Calista sangat sulit untuk dibawa kembali ke tanah air.


"Jika dalam waktu tiga bulan lagi kau tidak berhasil membawa wanita itu kembali maka kau harus menikah dengan wanita pilihan mama!" Ucap Bu Shanty tegas saat Dio hendak beranjak dari hadapan mereka.


Langkah Dio terhenti. Jantungnya berdetak begitu kencang mendengarkan perkataan Mamanya itu.

__ADS_1


"Mama hanya ingin kau menikah, Dio. Selama ini kau selalu membantah perkataan Mama dan Papa. Untuk kali ini jadilah anak yang penurut dengan menuruti perkataan Mama. Jika kau tidak juga ingin, maka lebih baik tidak usah anggap Mama, Papa dan Nenek bagian dari keluargamu." Ucap Bu Shanty dengan nada terdengar lirih.


Dia tak menoleh. Namun kini tangannya terkepal menahan rasa sesak di dadanya mendengar suara lirih ibu kandungnya itu. Dio pun melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan kerja Papanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Mama, sudahlah jangan menangis." Tuan Mahesa berusaha menenangkan istrinya yang tengah menangis setelah kepergian putra mereka.


Bu Shanty mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


"Mama hanya ingin yang terbaik untuk Dio, Pa. Tapi Dio tidak mau mengerti. Sampai kapan dia harus menunggu waktu wanita itu akan kembali? Ini sudah enam tahun wanita itu pergi dan tak kunjung kembali. Dia terlalu fokus pada pendidikannya tanpa memperdulikan umur anak kita yang sudah semakin bertambah dan layak untuk menikah." Ucap Bu Shanty.


Tuan Mahesa pun hanya diam tak menggubris perkataan istrinya karena kini ada sesuatu hal yang mulai memasuki pemikirannya.

__ADS_1


"Mama dan Papa memang tidak pernah mengerti apa yang aku inginkan. Aku sangat mencintai Calista. Tidak ada wanita lain yang bisa mengisi hatiku selain dirinya. Aku yakin hanya Calista yang terbaik untuk hidupku." Ucap Dio sambil terus melangkah.


****


__ADS_2