
"Tidak." Jawab Dio ikut berbisik dan penuh penekanan.
Daniel tertawa kecil di belakang tubuh Dio. Daniel pun memilih beranjak dari belakang tubuh Dio karena acara sudah mau dimulai karena Hanum sudah duduk di sebelah Dio.
"Apa kau lihat Dio tadi? Dia terlihat sangat mengagumi istrinya." Bisik Daniel pada Marvel.
"Aku melihatnya. Dia seperti memuja istrinya." Ucap Marvel lalu tertawa kecil.
Kevin yang mendengarkannya pun ikut tertawa karenanya. Tawa mereka pun akhirnya terhenti saat mendengar pembawa acara membuka acara akad pagi itu.
Jantung Dio dibuat berdebar-debar saat penghulu mengulurkan tangan padanya. Pun dengan Hanum yang duduk di sebelahnya. Sedangkan Bu Shanty dan Tuan Mahesa menatap anak dan calon menantunya dengan mata berkaca-kaca karena sebentar lagi mereka akan memiliki seorang menantu dari pilihan mereka.
"Sah." Kata sah terdengar begitu keras dan menggema hingga ke sudut ruangan. Dio terkejut mendengarnya. Ia pikir ia baru saja menghayal menyebutkan akad untuk Hanum ternyata semuanya nyata dan kini ia sudah berstatus sebagai suami dari Hanum yang ia ketahui adalah wanita single parent sebelumnya.
"Nenek, Om Dio sudah jadi Papa Divan?" Tanya Divan sambil mendongak pada Bu Shanty.
"Benar. Saat ini Divan harus mengganti panggilan Divan pada Om Dio jadi Papa, ya." Pinta Bu Shanty.
Divan menganggukkan kepalanya dengan senyuman manis di wajah tampannya.
__ADS_1
Serangkaian acara akad pagi itu pun akhirnya berjalan dengan lancar. Kini Dio sudah bergabung dengan ketiga sahabatnya sedangkan Hanum bergabung dengan ketiga istri dari sahabat Dio.
"Hanum, selamat ya atas pernikahanmu dan Dio. Semoga pernikahan kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan." Ucap Naina pada Hanum.
"Terima kasih, Kak." Jawab Hanum.
Queen pun turut mengucapkan selamat pada Hanum diikuti Windi setelahnya.
"Oh, ya. Dimana bayimu Windi. Kenapa aku tidak melihatnya?" Tanya Hanum.
"Bayiku ada bersama pengasuhnya di dalam kamar. Sejak awal acara tadi dia terus rewel hingga aku meminta pengasuhnya membawanya ke kamar tamu." Jawab Windi.
"Kau bisa saja." Balas Windi tersipu.
Tak berselang lama Divan nampak berjalan ke arah mereka sambil memegang tangan Arthur.
"Mamah, teman Divan ini." Ucap Divan menunjuk pada Arthur.
"Apa kalian sudah berkenalan, Nak?" Tanya Hanum sambil mengusap rambut putranya.
__ADS_1
"Sudah. Tadi sebelum Mama turun Divan sudah berkenalan dengan Arthur." Jawab Divan.
Hanum tersenyum mendengarnya. Ia cukup merasa beruntung karena putranya itu mudah bersosialisasi dengan orang yang baru dikenalnya.
"Aku baru tahu ternyata putramu seumuran dengan putraku, Hanum." Ucap Windi.
"Benarkah? Apakah saat ini Arthur berusia lima tahun?" Tebak Hanum dan diangguki Windi sebagai jawaban.
"Kalau begitu berarti saat di ibu kota nanti Arthur dan Divan bisa bersekolah di tempat yang sama." Timpal Queen.
"Kau benar. Divan bisa satu sekolah dengan Arthur. Dan satu tahun kemudian Boy juga bisa bersekolah di tempat yang sama dengan mereka." Jawab Windi sambil menatap Boy yang sedang duduk di pangkuan Kevin.
"Mereka memang akan satu sekolah. Dio sudah mendaftarkan Divan untuk bersekolah di yayasan Alexander." Ucap Naina.
"Apa?" Hanum dan Windi terkejut mendengarnya.
"Dio sudah mendaftarkan Divan untuk bersekolah di yayasan Alexander?" Ulang Windi dan diangguki Naina sebagai jawaban.
***
__ADS_1