
Divan dan Digo nampak sudah berada di bandara menunggu kedatangan Hanum dan Dio yang menurut prediksinya akan sampai dalam waktu sepuluh menit lagi.
"Mama belum sampai juga ya Om?" Tanya Divan. Anak laki-laki Hanum itu nampak sudah tidak sabar menunggu mamanya datang.
"Sepertinya begitu. Kita tunggu saja, ya." Ucap Digo. Mengusap kepala Divan dengan sayang. Ia memang sudah sangat menyayangi anak dari kakak iparnya itu.
"Iya, Om." Divan menganggukkan kepalanya walau tetap saja tidak sabar.
Lima belas menit berlalu, akhirnya dua sosok yang ditunggu oleh mereka pun tiba. Hanum dan Dio nampak berjalan ke arah mereka berada sambil menarik koper masing-masing.
"Mama!" Seru Divan lalu berlari ke arah Hanum berada.
Hanum melepaskan pegangan kopernya begitu saja lalu merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan Divan.
Hap
Divan langsung masuk ke dalam pelukan Hanum setelah berada tepat di depan Hanum. Hanum menyambut tubuh putranya itu dengan senyuman lebar di wajah cantiknya. "Divan sayang... Mama sangat merindukan Divan." Ucap Hanum sambil mengeratkan pelukan di tubuh Divan.
"Divan juga, Ma!" Jawab Divan seraya ikut tersenyum.
Dio yang melihat kedua orang yang disayanginya itu saling berpelukan dibuat tersenyum. Ia pun berdehem untuk menyadarkan Divan jika dirinya juga ada di antara mereka. "Jadi Mama aja yang dipeluk Papa tidak?" Ucapnya berpura-pura merajuk.
__ADS_1
Hanum tersenyum menatap suaminya yang kini memasang wajah sebal. Ia pun melepaskan pelukannya di tubuh Divan dan meminta Divan untuk bergantian memeluk tubuh Dio.
"Papa..." ucap Divan lalu masuk ke dalam dekapan Dio.
Dio memeluk tubuh putranya itu dan memberikan ciuman bertubi-tubi di kepala Divan. Setelah puas, Dio pun melerai pelukannya dan mengusap kepala Divan dengan sayang.
"Aku tidak dipeluk juga?" Tanya Digo pada Dio.
"Tidak sudi." Jawab Dio ketus dan dibalas Digo dengan cengiran di wajah tampannya.
"Sudahlah, kalian ini selalu saja." Ucap Hanum yang tidak habis pikir dengan kedua kakak beradik yang selalu saja suka bertengkar namun saling menyayangi.
Hanum mengiyakannya lalu mereka pun kembali menarik koper keluar dari bandara.
Selama berada di dalam perjalanan menuju kediaman Nenek Eno, Hanum dan Dio mendengarkan cerita putra mereka tentang kesehariannya selama ditinggal oleh mereka berbulan madu.
"Jadi Divan juga diajak bermain oleh Om Digo ke rumah Arthur?" Tanya Hanum setelah Divan menceritakan kemana saja ia diajak bermain oleh Digo.
"Iya, Mah. Di sana Divan bermain mobil-mobilan bersama Arthur dan juga belajar berenang bersama Om Marvel." Jawab Divan.
"Om Marvel mengajarkan Divan berenang?" Hanum terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Iya, katanya biar Divan tumbah jadi lelaki yang keren dan banyak disukai kaum hawa kalau pandai berenang." Ucap Divan mengingat perkataan Marvel.
"Apa?" Hanum melototkan kedua matanya.
"Anak itu benar-benar mengotori otak anakku." Gerutu Dio untuk sahabatnya itu.
"Dio..." Hanum menatap pada Dio meminta sebuah jawaban.
"Biarkan saja Divan pandai berenang. Nilai plusnya setelah dewasa nanti dia banyak disukai kaum hawa seperti kami." Kelakar Dio.
"Dio!" Hanum menatap tajam suaminya yang duduk di kursi depan. Bagaimana bisa suaminya itu jadi setuju dengan ajaran Marvel pada putra mereka.
"Aku hanya bercanda." Ucap Dio kemudian merasa takut dengan tatapan tajam dari Hanum.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1