
Beberapa jam telah berlalu, Hanum dan Divan kini sudah berada di dalam apartemen setelah tadi diantarkan pulang oleh Gaga sampai di depan gedung apartemen. Karena ketiga rekan kerjanya sudah mengetahui statusnya saat ini membuat Hanum tidak sungkan menerima tawaran Gaga yang ingin mengantarkannya sampai di depan tempat tinggalnya.
"Mamah, Papah belum sampai, ya?" Tanya Divan setelah hampir satu jam mereka sampai di apartemen tapi Dio tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
"Mungkin masih berada di dalam perjalanan, Nak." Jawab Hanum lembut sambil menyalin makanan untuk Divan.
"Kenapa lama sekali, Mah? Apa Papah bermain dulu di rumah Arthur?" Tanya Divan.
Hanum mengangkat kedua bahunya. "Mamah juga tidak tahu. Mungkin Papa tidak langsung pulang setelah kita pulang tadi." Jawab Hanum seadanya.
Divan mengangguk saja seolah mengerti apa yang Hanum katakan.
"Jangan mengkhawatirkan Papa karena Papa pasti akan pulang. Lebih baik sekarang Divan makan, ya." Ajak Hanum.
"Divan saja? Mamah tidak makan?" Tanya Divan.
Hanum menggelengkan kepalanya. "Mama masih kenyang. Ayo sini Mana suapi." Ajak Hanum.
"Divan makan sendiri saja, Mah. Lebih baik Mamah mandi saja." Saran Divan.
Hanum tersenyum mendengarnya. Putranya itu memang paling mengetahui apa yang ia inginkan saat ini.
"Baiklah, kalau begitu Mama mandi dulu. Divan tunggu sebentar di sini, ya." Ucap Hanum lalu mengusap kepala Divan.
__ADS_1
"Baik, Mah." Jawab Divan seraya tersenyum.
Hanum ikut tersenyum lalu beranjak ke lantai atas menuju kamarnya berada. Divan pun mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya setelah kepergian Hanum.
Di saat Divan tengah asik menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, seseorang yang sejak tadi ditunggunya nampak masuk ke dalam apartemen. Mendengar suara langkah kaki dari arah pintu membuat Divan menolehkan kepalanya ke sumber suara.
"Papah?" Ucap Divan seraya tersenyum pada Dio.
"Divan?" Dio pun ikut tersenyum menatap pada Divan. Rasa lelah yang tadi ia rasakan hilang begitu saja melihat senyuman tulus di wajah Divan:
Dio terus melangkah mendekati Divan lalu mengusap kepala Divan.
"Papah kenapa lama sekali sampai?" Tanya Divan.
"Oh... apa Papa ingin makan?" Tawar Divan.
Dio menggeleng. "Kenapa hanya sendiri di sini? Dimana Mamamu?" Tanya Dio.
"Di kamar, Pah." Jawab Divan.
"Baiklah. Kalau begitu Papa pergi ke kamar dulu. Divan lanjutkanlah makannya." Ucap Dio.
"Baik, Pah." Jawab Divan seraya tersenyum.
__ADS_1
Dio ikut tersenyum lalu beranjak meninggalkan Divan.
"Semua pergi. Divan makan sendiri aja." Ucap Divan pada dirinya sendiri.
Saat sudah masuk ke dalam kamarnya, Dio dibuat bingung karena tidak melihat keberadaan Hanum di dalam kamar padahal Divan mengatakan jika Hanum sedang berada di dalam kamar.
"Dimana dia? Apa di kamar mandi? Tapi kenapa tidak terdengar suara apapun dari sana. Apa dia berada di kamar Divan?" Tanya Dio.
Karena tidak melihat keberadaan Hanum di dalam kamarnya, Dio pun melangkah ke arah kamar mandi berniat membuang hajatnya yang sejak tadi ia tahan.
Ceklek
Dio membuka kamar mandi yang tidak terkunci dengan santai. Sedetik kemudian terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi yang terdengar cukup keras.
"Aaa... sedang apa kau di sini?" Tanya Hanum sambil menutup aset berharganya yang belum tertutup sempurna.
Bukannya menjawab Dio justru terpaku dengan dua benda bulat yang sedang ditutupi oleh Hanum.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗