
"Benar, tadi pagi Dio yang membawa mobil Papa pergi." Jawab Tuan Mahesa sambil menatap pada putranya.
Pandangan semua orang pun kini semakin tertuju pada Dio. Dio yang ditatap sedemikian rupa oleh keluarganya pun berdehem untuk menghilangkan rasa kegugupannya.
"Kenapa Mama dan Papa menatapku seperti itu?" Tanya Dio.
"Tentu saja karena kau yang tadi pagi membawa mobil Papa. Itu berarti kau yang dimaksud oleh Hanum berada di taman itu." Ucap Bu Shanty.
"Mama jangan berkata sembarangan. Bukan berarti Dio yang membawa mobil Papa, Dio pula yang dimaksud olehnya berada di taman itu. Dio merasa tadi pagi tidak melewati jalan di sekitar taman mana pun." Jawab Dio berbohong.
"Dio, jangan berkilah seperti itu. Hanum bilang dia melihat mobil Papa ada di taman itu. Berarti kau melewati taman itu tadi pagi." Bu Shanty berupaya menyudutkan putranya agar mengaku. Di dalam hatinya ia merasa senang karena Dio ternyata diam-diam memperhatikan Hanum walau dari jauh.
__ADS_1
"Ck. Dio sudah bilang jika Dio tidak melewati taman itu, Ma." Tekan Dio.
"Emh, Maaf, Bu. Sepertinya tadi pagi saya salah lihat. Yang saya lihat sepertinya bukanlah mobil Tuan Mahesa melainkan mobil orang lain. Saya mengira itu mobil Tuan Mahesa karena hanya mirip saja, Bu." Hanum mencoba menghentikan perdebatan ibu dan anak itu. Ia tidak ingin karena pertanyaannya membuat Dio menjadi tidak nyaman saat ini.
"Mama dengar sendiri bukan? Itu bukan Dio." Ucap Dio tegas.
Bu Shanty mengangguk saja seolah percaya pada perkataan putranya. Jauh di dalam lubuk hatinya ia tahu jika Hanum tengah berbohong untuk membantu menutupi kebohongan Dio. Jelas saja ia yakin jika Dio lah yang dimaksud Hanum karena mobil yang dimiliki suaminya itu sangat terbatas dan hanya suaminya yang memiliki type mobil tersebut di kota itu.
"Kita lanjutkan pembicaraan di ruang tamu saja." Ajak Tuan Mahesa agar perbincangan di antara mereka menjadi lebih nyaman.
"Maaf, Bu, Hanum pamit sebentar ke kamar mandi." Ucap Hanum pada Bu Shanty saat mereka sudah berada di ruang tamu.
__ADS_1
Bu Shanty mengiyakannya lalu meminta Divan untuk duduk di sofa yang ada di sebelahnya sambil menunggu Hanum kembali.
Melihat Hanum pergi tentu saja membuat Dio menggunakan kesempatan itu untuk menghampiri Hanum ke kamar mandi dengan alasan ia juga ingin membuang hajatnya sebentar.
"Tuan Dio?" Ucap Hanum merasa terkejut saat keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Dio ada di depannya.
"Kemarilah." Dio menarik tangan Hanum ke sudut ruangan. "Kau jangan terlalu percaya diri jika aku yang berada di taman itu tadi pagi." Ucap Dio pada Hanum.
"Saya tidak seperti yang Tuan katakan. Lagi pula saya sudah berkata mungkin saya hanya salah lihat saja." Jawab Hanum tenang.
"Ck. Aku tahu kau pasti sedang percaya diri sekarang jika aku yang berada di taman itu. Ingatlah jika aku tidak mungkin melakukan hal bodoh itu." Dio kembali menekan perkataannya.
__ADS_1
"Kenapa Tuan sampai repot-repot begini mengingatkan saya? Ingatlah juga Tuan jika saya tidak sepercaya diri itu untuk mengatakan jika Tuan yang berada di taman tadi pagi. Lagi pula dengan Tuan bersikap seperti ini membuat saya berpikir jika memang Tuan yang berada di taman tadi pagi." Jawab Hanum dan berhasil membuat Dio tertegun karenanya.
***