
"Dia terlihat sangat menyayangi anak itu." Ucap Dio setelah cukup lama memperhatikan interaksi antara wanita yang tak lain adalah Hanum dan putranya Divan. "Dio... Dio. Kenapa kau bodoh sekali? Tentu saja dia terlihat sangat menyayangi anak itu karena anak itu adalah anak kandungnya." Ucap Dio merasa bodoh dengan pemikirannya sendiri.
Dio pun terus menatap interaksi antara Hanum dan Divan yang entah mengapa kini mulai menarik perhatiaannya.
Hanum yang tidak menyadari jika kini ada sosok yang tengah memperhatikan dirinya terus saja bercerita sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut Divan.
"Mamah, Divan sudah tidak mau kuenya." Ucap Divan menghentikan niat Hanum yang ingin kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut Divan.
"Apa Divan sudah kenyang, Nak?" Tanya Hanum.
Divan menganggukkan kepalanya. "Divan mau minum saja, Ma." Jawab Divan.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Hanum lalu memberikan air minum pada Divan.
Beberapa saat berlalu pandangan Divan pun tertuju pada sebuah mobil yang berada tidak terlalu jauh dari mereka berada.
"Mamah, itu mobil Kakek Mahesa!" Tunjuk Divan ke arah mobil.
Hanum pun sontak menatap ke arah mobil yang Divan tunjuk. Dan benar saja mobil itu adalah mobil milik Tuan Mahesa.
__ADS_1
"Kenapa Tuan Mahesa ada di sini?" Gumam Hanum.
"Ayo kita ke sana, Mah!" Ajak Divan sambil menarik ujung baju yang Hanum kenakan.
"Tunggu sebentar, Divan." Ucap Hanum berniat membereskan sampah makanan mereka lebih dulu.
Melihat Hanum dan putranya kini tengah berjalan ke arah mobilnya membuat Dio gelagapan dan segera menghidupkan mesin mobilnya.
Hanum dan Divan yang sudah hampir dekat dengan mobil dibuat terkejut saat mobil itu melaju meninggalkan mereka begitu saja.
"Mobilnya pergi, Mah." Keluh Divan.
"Kenapa Tuan Mahesa tiba-tiba pergi?" gumam Hanum bingung.
Sementara Dio yang berada di dalam mobil nampak menambah kecepatan mobilnya meninggalkan taman. "Sial, hampir saja aku ketahuan!" Ucap Dio merutuki tindakannya tadi. Untung saja kaca mobilnya tidak tembus pandang dari luar hingga Hanum tidak dapat melihat dirinya dari dalam mobil.
"Lagi pula kenapa aku bodoh sekali terus menatap kegiatan anak dan ibu itu." Geram Dio.
Karena tak ingin melakukan hal bodoh kembali, Dio pun memilih melajukan mobilnya kembali ke kediaman kedua orang tuanya.
__ADS_1
Sementara Hanum kembali mengajak Divan untuk duduk di kursi yang tadi mereka tempati.
"Kenapa Kakek pergi, Mah?" Tanya Divan mengulang pertanyaannya beberapa saat yang lalu pada Hanum.
"Mama tidak tahu. Mungkin Kakek memiliki urusan penting hingga langsung pergi begitu saja. Atau mungkin yang ada di dalam mobil tadi bukan Kakek Mahesa." Jawab Hanum.
"Bukan Kakek Mahesa?" Ulang Divan dan diangguki Hanum sebagai jawaban.
Kalau bukan Tuan Mahesa yang ada di mobil itu lantas siapa? Dan kenapa orang di dalam mobil itu memarkirkan mobilnya dekat denganku dan Divan? Tanya Hanum namun hanya dalam hati.
Ting
Hanum tersadar dari lamunannya saat mendapatkan notifikasi pesan masuk dari Bu Shanty.
Hanum, nanti siang Ibu ingin mengajakmu untuk makan siang di rumah Ibu dan Bapak. Semoga kau bisa datang, ya. Ucap Hanum membaca pesan yang dikirimkan Bu Shanty dalam hati.
"Divan, ayo kita pulang, Nak. Nanti siang Nenek mau mengajak kita makan siang bersama di rumahnya."
***
__ADS_1