
Tiga jam perjalanan telah berlalu, kini mobil milik Dio sudah memasuki kawasan jalanan ibu kota. Hanum menatap ke sekitar jalan yang mereka lalui. Tidak banyak yang berubah dari kota tempat ia dilahirkan itu setelah lima tahun sudah ia tidak lagi menginjakkan kaki di kota itu.
Hanum pun teringat dengan keluarganya yan telah mencampakkannya. Entah seperti apa kabar dari keluarganya itu saat ini. Yang hanya ia tahu jika keluarganya itu masih ada di dunia ini karena belum ada kabar duka yang datang kepadanya.
Keluarga? Agh, mengingat kata itu membuat Hanum jadi tersenyum miris. Jika diingat kembali sepertinya ia sudah tidak lagi memiliki keluarga di dunia ini setelah ayahnya dengan terang-terangan mengeluarkan namanya dari kartu keluarga dan mengabaikannya sampai saat ini. Kadang Hanum berpikir entah apa yang merasuki ayahnya itu hinga tega berbuat buruk seperti itu kepadanya. Ayahnya bahkan tidak mau mendengarkan penjelasannya dan langsung membuangnya begitu saja.
"Mamah, dah sampai ini?" Suara Divan yang baru saja terbangun di kursi belakang menyadarkan Hanum dari lamunannya.
Hanum menolehkan kepalanya kebelakang. Menatap putranya dengan tersenyum. "Belum. Sepertinya sebentar lagi kita akan sampai." Jawab Hanum. Ia merasa enggan bertanya pada Dio apakah perjalanan mereka masih jauh atau tidak. Yang Hanum tahu jika saat ini mereka sudah berada di jalanan ibu kota.
"Sekitar sepuluh menit lagi kita akan sampai di apartemen Papa." Jawab Dio. Akhirnya setelah tiga jam diam Dio pun bersuara.
"Sebentar lagi, Pah." Jawab Divan.
"Emh, ya." Balas Dio sambil menatap ke arah spion mobilnya.
__ADS_1
Papah? Dia sudah merubah nama panggilannya pada Divan. Ucap Hanum dalam hati.
Saat sudah hampir dekat dengan apartemen miliknya, Dio memilih memberhentikan mobilnya lebih dulu di depan super market karena ada yang ingin ia beli di sana.
"Divan, apa kau ingin ikut masuk bersama Papa?" Ajak Dio. Ia berusaha menempatkan dirinya saat sedang bersama Zeline.
Divan menatap pada Hanum.
"Pergilah." Jawab Hanum tersenyum.
Dio segera turun dari dalam mobilnya lalu membukakan pintu untuk Divan. Setelahnya ia memegang tangan Divan dan menuntunnya masuk ke dalam supermarket yang dulunya menjadi tempat Windi bekerja.
"Terima kasih karena telah bersikap baik pada anakku." Ucap Hanum untuk Dio. Walau Dio masih bersikap dingin padanya namun setidaknya Dio mau bersikap hangat dengan putra kecilnya itu.
"Divan, kau ingin makanan apa?" Tanya Dio saat mereka tengah berjalan melewati rak khusus makanan ringan.
__ADS_1
"Emh, Divan tidak mau apa-apa, Pa." Jawab Divan berbohong. Padahal ia sangat menginginkan beberapa makanan ringan yang sangat menggiurkan di matanya itu.
"Pilihlah apa yang Divan mau. Papa akan membelikannya untuk Divan." Ucap Dio.
"Tapi..." Divan nampak ragu namun Dio mengusap rambutnya agar tak lagi sungkan dengan dirinya.
"Oke Pa." Jawab Divan kemudian lalu dengan hati yang senang memilih beberapa makanan ringan yang sejak tadi menarik perhatiannya.
Dio pun turut membantu Divan mengambil makanan yang tidak terjangkau oleh tangan Divan.
Setelah selesai mengambilkan makanan ringan untuk Divan, Dio pun melanjutkan niatnya untuk mengambil barang-barang yang sudah habis di apartemennya.
Seseorang yang sejak tadi memperhatikan Dio dari jauh nampak menghampiri Dio dan Divan.
"Tuan Dio?" Sapa seseorang yang tengah berdiri di belakang Dio.
__ADS_1