
Tiga minggu sudah berlalu, Calista belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Mommy Diora dan Daddy Berto yang melihat putrinya tak kunjung sadar pun tak bisa menyembunyikan kesedihan di wajah mereka masing-masing. Setiap harinya mereka selalu menangis menanti putri semata wayang mereka bangun dari masa kritisnya.
Dio yang melihat mantan kekasihnya tak kunjung sadar pun turut merasakan kesedihan kedua orang tua Calista. Hanya doa dan usaha mendatangkan dokter ahli terbaik dari luar negeri yang bisa ia lakukan untuk membantu Calista segera sadar dari mas kritisnya.
Pagi itu, seperti biasa di saat hari libur Dio selalu menyempatkan waktu untuk melihat perkembangan Calista di rumah sakit. Namun berbeda dengan hari-hari sebelumnya, hari itu Dio datang ke rumah sakit dengan membawa Hanum bersamanya.
"Kau tidak ingin melihat keadaan Calista dulu?" Tanya Hanum saat Dio mengajaknya pergi menemui dokter yang menangani Calista.
"Nanti saja. Aku ingin mengetahui perkembangan keadaannya lebih dulu." Jawab Dio.
Hanum mengangguk saja mengiyakan perkataan suaminya. Mereka pun akhirnya pergi menemui dokter untuk menanyakan perkembangan Calista. Namun tiba-tiba saja Hanum merasakan pusing di kepalanya secara tiba-tiba hingga ia menghentikan langkahnya sejenak.
"Hanum, kau tidak apa-apa?" Tanya Dio sambil memegang tubuh Hanum.
"A-aku tak apa." Jawab Hanum. Mencoba tersenyum agar suaminya tak mengkhawatirkan dirinya.
"Apa kau yakin?" Dio masih saja tak percaya. Sudah beberapa hari ini sikap istrinya itu terlihat aneh namun ia sering mengabaikannya karena terlalu fokus pada Calista.
__ADS_1
"Ya, ayo lanjutkan jalannya." Ajak Hanum sambil menahan pusing di kepalanya.
Dio mengiyakannya lalu mereka pun kembali melangkah menuju ruangan dokter berada.
Selama berada di dalam ruangan dokter, Hanum tidak fokus mendengar penjelasan dokter tentang keadaan Calista karena saat ini ia bukan hanya merasakan pusing namun juga menahan rasa mual di perutnya karena tidak suka melihat kepala dokter di depannya yang tidak memiliki rambut.
"Anda tidak apa-apa, Nona?" Tanya Dokter pada Hanum.
Hanum menggelengkan kepalanya. "Saya permisi ke kamar mandi dulu." Ucap Hanum lalu bangkit dari duduknya. Tanpa bertanya dimana letak kamar mandi dan menunggu jawaban Dio dan Dokter, Hanum segera keluar dari dalam ruangan dokter.
Hoek
Hanum memuntahkan makanan yang pagi ini baru saja masuk ke dalam perutnya. Bayangan kepala dokter itu terus terlintas di benaknya hingga rasa mualnya semakin menjadi-jadi.
"Huft..." Hanum menghembuskan nafas di udara setelah membasuh wajahnya dengan air. "Kenapa kepalanya terlihat menggelikan." Gumam Hanum.
Hanum pun merogoh minyak kayu putih yang ia bawa di dalam tas selempangnya lalu mengusapkannya pada perut dan kepalanya. Setelah merasa cukup enakan, Hanum pun segera keluar dari dalam kamar mandi agar Dio tidak menaruh rasa curiga kepadanya.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Dio saat Hanum kembali ke ruangan dokter.
"Tak apa. Apa kau sudah ingin pergi ke ruangan Calista?" Tanya Hanum.
Dio menganggukkan kepalanya. "Dokter sudah selesai menjelaskan keadaanya. Sekarang aku ingin pergi ke ruangan Calista." jawabnya.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi." Ajak Hanum.
Dio mengiyakannya lalu mereka pun berpamitan pada dokter untuk pergi ke ruangan Calista berada.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1