
Divan... bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu, Nak. Kehadiranmu di hidup Mama sangatlah berarti. Jika tidak ada dirimu, Mama tidak tahu bagaimana nasib Mama saat ini. Ucap Hanum dalam hati.
Setelah cukup lama menenangkan Divan agar kembali percaya pada dirinya jika dirinya tidak akan melupakan Divan, Hanum pun mengajak Divan untuk berjalan-jalan di sekitar apartemen. Untung saja Divan mau mengikuti ajakan Hanum dan bisa Hanum bisa kembali membantu Divan sedikit melupakan rasa takut di dalam hatinya saat ini.
Sementara di tempat berbeda, Dio terlihat menatap malas pada sosok kedua orang tuanya yang baru saja datang ke apartemennya sambil membawa Digo bersama mereka.
"Mama dan Papa tidak perlu repot-repot menjemputku ke sini karena aku bisa berangkat sendiri menuju Bandung tanpa dijemput." Ucap Dio.
"Sudahlah jangan suka membantah. Mama hanya ingin memastikan kau sampai di Bandung dengan aman tanpa tersesat." Ucap Bu Shanty.
Dio dapat menangkap maksud perkataan Mamanya itu. "Mama kenapa sulit percaya pada Dio? Percayalah jika Dio tidak akan kabur di hari pernikahan kami nanti." Ucap Dio.
"Loh, Mama tidak menuduhmu ingin kabur tapi kenapa kau berkata seperti itu? Apa sejak awal kau memang berniat kabur di hari pernikahanmu?" Bu Shanty menatap Dio penuh selidik.
__ADS_1
Dio menutup bibirnya. Entah mengapa ia merasa terbebak dengan perkataannya sendiri saat ini. Tuan Mahesa dan Digo yang sejak tadi hanya menjadi pendengar pun turut menatap Dio penuh selidik.
"Jangan sampai kau mempermalukan Papa di hari pernikahanmu nanti." Tekan Tuan Mahesa.
"Benar. Jangan sampai ada cerita seperti di novel sebelah tentang suami pengganti." Timpal Digo.
"Ck. Kau diamlah." Ucap Dio pada Digo.
"Adikmu itu benar, Dio." Bu Shanty menatap tajam pada putranya.
"Kami percaya padamu tapi kami ingin memastikannya secara langsung. Sekarang lebih baik kau ambil barang-barangmu yang akan dibawa ke Bandung karena nanti sore kita akan berangkat ke Bandung bersama Nenek." Ucap Bu Shanty.
Dio mengangguk saja mengiyakan perkataan mamanya karena ia tidak ingin berdebat terlalu lama. Setelah mengambil barang-barangnya di dalam kamar, Dio pun langsung mengikuti perkataan Mamanya yang mengajaknya untuk pergi menjemput Neneknya di rumahnya.
__ADS_1
Selama berada dalam perjalanan pulang menuju rumah Neneknya Dio lebih banyak diam dan hanya menanggapi perkataan Bu Shanty yang berbicara padanya dengan anggukan kepala.
"Dio, setelah menikah nanti Hanum dan putranya akan ikut bersamamu tinggal di sini. Mama harap selama tinggal bersamamu kau bisa memperlakukan Hanum dengan baik layaknya seorang istri yang sangat kau cintai." Pesan Bu Shanty.
"Jangan terlalu memaksaku harus sesuai dengan apa yang Mama harapkan." Ucap Dio yang akhirnya bersuara.
"Itu bukanlah hal yang cuma Mama harapkan, Dio. Itu juga adalah hal yang wajib kau lakukan, Dio." Ucap Bu Shanty.
"Terserah Mama saja. Yang jelas aku tidak seburuk yang Mama pikirkan. Walau aku tidak mencintainya tapi aku tidak mungkin membuatnya menderita." Tekan Dio.
"Baguslah kalau begitu. Jika begitu setelah Hanum pindah bersamamu kau harus segera mencarikan sekolah baru untuk Divan di kota ini." Ucap Bu Shanty.
"Mama tenang saja. Aku sudah mencarikan sekolah baru untuk anak itu sebelum Mama memintanya." Jawab Dio.
__ADS_1
***