
"Divan, Naina." Bu Shanty tersenyum menatap pada Divan dan Naina yang berada di ambang pintu kamar.
Naina ikut tersenyum membalas senyuman Bu Shanty lalu membuka pintu lebar-lebar agar Divan masuk ke dalam kamar lebih dulu.
"Dimana anak-anakmu, Nai?" Tanya Bu Shanty.
"Ada di bawah, Bu." Jawab Naina.
Bu Shanty mengangguk paham lalu meminta Divan dan Naina untuk duduk di atas sofa.
"Penghulunya belum datang juga, ya?" Tanya Bu Shanty.
Naina mengangguk mengiyakannya. "Sepertinya sebentar lagi, Bu. Tadi Marvel sudah menelefon penghulu katanya masih di jalan terjebak macet." Jawab Naina.
"Oh seperti itu. Pantas saja belum sampai sejak tadi." Ucap Bu Shanty.
"Iya, Bu." Jawab Naina.
"Karena Naina sudah ada di sini jadi Ibu pamitan ke bawah dulu ya lihat keadaan di bawah." Ucap Bu Shanty.
__ADS_1
"Baik, Bu." Balas Naina sedangkan Hanum hanya mengangguk mengiyakannya.
"Kak Naina..." Hanum tersenyum pada Naina yang terlihat sangat cantik dengan kebaya bewarna pastelnya. Jika dibandingkan dengan dirinya, Naina masih terlihat seumuran dengannya padahal saat ini umur Naina sudah menginjak tiga puluh tahun.
"Hanum, apa kau tahu jika saat ini kau terlihat sangat cantik sekali?" Tanya Naina.
Hanum tersipu malu mendengarnya. "Tidak, Kak." Jawabnya kemudian.
"Kau itu terlihat sangat cantik sekali saat ini. Kakak yakin Dio pasti akan terpesona saat melihat wajah cantikmu ini." Ucap Naina.
Senyuman di wajah Hanum luntur seketika. Jelas saja perkataan Naina itu tidak mungkin terjadi karena Dio tidak pernah menginginkannya dan pria itu tidak mungkin terpesona pada dirinya.
"Benarkah begitu, Nak?" Tanya Hanum.
Divan pun mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Tidak banyak hal yang mereka bicarakan saat Naina berada di dalam kamar karena beberapa saat kemudian Bu Shanty sudah kembali masuk ke dalam kamar untuk memberitahukan jika saat ini penghulu sudah datang dan sedang menunggu kedatangan Hanum di lantai bawah rumahnya.
"Apa kau siap?" Naina tersenyum pada Hanum.
__ADS_1
"Ya, aku siap, Kak." Jawabnya sambil memegang tangan Naina.
Naina tersenyum lalu menuntun Hanum untuk keluar dari dalam kamar hingga menuruni tangga menuju lantai bawah.
Sedangkan Dio yang sudah duduk di depan penghulu nampak tengah berpikir keras kenapa sejak tadi ia tidak melihat satu orang pun dari keluarga Hanum yang datang kecuali dari keluarga dan teman dekatnya. Bukan hanya itu saja yang dipikirkan Dio saat ini, wali yang akan menikahkan mereka pun bukanlah pria yang akan berstatus sebagai mertuanya melainkan dari wali hakim.
Apa dia sudah tidak memiliki orang tua lagi? Tapi kenapa Mama dan Papa tidak memberitahukannya kepadaku? Tanya Dio dalam hati.
Terlalu banyak hal yang Dio pikirkan membuat Dio tidak sadar jika kini Hanum sudah dituntun untuk duduk di sebelahnya. Kesadaran Dio pun akhirnya timbul saat Daniel menepuk lengannya.
"Kau melamun." Bisik Daniel di telinga Dio.
"Eh, apa?" Tanya Dio terbata.
Daniel menggelengkan kepalanya lalu meminta Dio untuk menoleh ke arah samping dimana kini Hanum sudah duduk di sebelahnya.
"Kau..." Mulut Dio sedikit terbuka karena terkejut melihat sosok Hanum yang terlihat sangat cantik saat ini.
"Ehm. Dio, apa kau begitu terpesona dengan istrimu sampai menganga seperti ini?" Bisik Daniel kembali di telinga Dio.
__ADS_1
***