
"Tunggu!" Ucap Dio saat Hanum hendak duduk di kursi kosong yang ada di dalam cafe.
"Ada apa?" Tanya Hanum mengurungkan niatnya untuk duduk.
"Kita makan di dalam ruangan VIP saja." Jawab Dio.
"Kenapa? Di sini lebih baik." Ucap Hanum.
"Terlalu berisik. Aku ingin makan dengan tenang." Jawab Dio lalu mengajak Divan ikut bersamanya. Mau tidak mau Hanum pun menuruti perkataan suaminya itu.
Dan saat ini mereka sudah berada di dalam ruangan VIP yang dulunya menjadi tempat tongkrongan Dio dan ketiga sahabatnya. Dio pun tersenyum sendiri saat mengingat kejadian terakhir mereka ada di tempat ini setelah tamat kuliah.
"Apa kau kesurupan?" Tanya Hanum melihat Dio yang tersenyum sendiri.
Dio menatap tajam pada Hanum. "Siapa yang kau bilang kesurupan?" Ketusnya.
"Tentu saja dirimu." Jawab Hanum apa adanya.
Dio mendengus lalu menatap ke arah lain. Semakin hari istrinya itu semakin menguji imannya saja pikirnya. Satu ide pun tiba-tiba terlintas di benak Dio. Ia segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengirimkan sebuah foto pada salah satu sahabatnya.
"Apa dia masih ingat dengan kejadian ruangan ini?" Tanya Dio dengan senyuman miring di wajahnya.
__ADS_1
"Papah bicara dengan siapa?" Tanya Divan yang mendengar perkataan Dio.
"Tidak ada. Papa hanya berbicara seorang diri." Jawab Dio sambil mengusap kepala Divan.
Hanum yang mendengarkannya pun hanya menggeleng tanda tidak mengerti dengan sikap aneh Dio saat ini.
Di tempat yang berbeda, Daniel terlihat tengah membuka pesan yang dikirimkan dari Dio. Kedua bola matanya sontak membulat sempurna saat menyadari dimana keberadaa Dio saat ini.
"Ini kan cafe tempat tongkrongan kami dulu dan..." Daniel menghentikan perkataannya saat mendengar pintu kamarnya terbuka dari luar.
"Sayang, ada apa?" Tanya Naina yang melihat perubahan wajah suaminya.
"Emh, tidak ada." Daniel memilih menyembunyikan ponselnya agar Naina tidak melihat pesan yang Dio kirimkan. Bisa-bisa istrinya itu bisa merajuk jika melihat pesan yang dikirimkan Dio karena pesan berisi foto itu adalah tempat yang membuat Naina sangat kecewa dan sakit hati karena di sana Naina mengetahui jika dirinya hanya dijadikan bahan taruhan.
*
Satu setengah jam menghabiskan waktu di dalam cafe, Dio pun akhirnya mengajak Hanum dan Dio untuk pergi meninggalkan cafe.
"Makanannya enak-enak ya, Pah?" Ucap Divan saat sudah berada di dalam mobil.
"Iya, apa kau menyukainya?" Tanya Dio.
__ADS_1
"Sangat, Pah." Jawab Divan senang.
Dio tersenyum mendengarnya. Di dalam hatinya Dio berkata jika kebahagiaan Divan saat ini bukan hanya karena makanan yang enak tapi juga karena Divan bisa menikmati waktu bersamanya dan Hanum di luar tempat tinggal mereka.
Karena ingin membuat putranya semakin senang, Dio pun membawa Divan pergi ke sebuah taman yang nampak ramai dengan para pengunjung malam itu.
"Apa Divan mau bermain di sini dulu?" Tawar Dio.
Divan dengan cepat mengangguk. "Mau, mau, Pah!" Jawabnya.
Dio tersenyum lalu mengajak Divan untuk keluar dari dalam mobil. Hanum memilih tak langsung turun dari dalam mobil membiarkan putranya keluar lebih dulu.
Divan, kau terlihat sangat senang sekali, Nak? Ucap Hanum dalam hati.
"Apa kau ingin menunggu kami di dalam mobil saja?" Tanya Dio dari arah pintu belakang mobil pada Hanum.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗