
Setelah melewatkan waktu yang membuat jantungnya berdetak tak karuan, akhirnya kini Hanum sudah bisa menghela nafas lega saat Dio mengajaknya keluar dari villa dan menikmati pemandangan di sekitar villa sambil berjalan-jalan. Walau cuaca di luar villa cukup terik namun tak membuat Hanum mengeluh dan terus melangkah menyusuri setiap keindahan yang ada di sekitar villa.
"Jika kau merasa panas kita bisa kembali masuk ke dalam villa." Tawar Dio dengan mata terpicing karena teriknya sinar matahari menenai matanya.
"Tidak. Bagaimana kalau kita berteduh di sana saja!" Ajak Hanum menunjuk sebuah pendopo yang berada tidak terlalu jauh dari mereka berada.
"Baiklah." Dio menurut dan membawa Hanum pergi ke pendopo.
"Jika hanya berada di dalam villa saja lebih baik kita di rumah saja." Ucap Hanum saat sudah berada di dalam pendopo.
"Kenapa begitu?" Tanya Dio.
"Ya, karena tujuan kita ke sini untuk berjalan-jalan bukan? Jadi kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk berjalan-jalan." Jawab Hanum.
Dio menggelengkan kepalanya. "Tapi sepertinya besok kau akan menghabiskan banyak waktu di dalam villa." Ucap Dio dengan tatapan penuh arti.
"Maksudmu?" Hanum menyerngitkan keningnya bingung.
Dio hanya diam sambil menatap lurus ke depan. Melihat suaminya yang hanya diam saja membuat Hanum menghela nafas dan memilih tidak lagi bertanya.
__ADS_1
Saat siang hari telah tiba, Dio pun mengajak Hanum kembali masuk ke dalam villa untuk menikmati makan siang bersama. Seorang wanita paruh baya beserta seorang wanita yang terlihat seumuran dengannya nampak sudah menghidangkan makanan di atas meja.
"Silahkan dimakan Tuan, Nyonya." Ucap waniat paruh baya itu pada Hanum dan Dio.
"Terima kasih, Bu." Jawab Hanum ramah sedangkan Dio hanya mengangguk mengiyakannya.
Saat hendak duduk di atas kursi, pandangan Hanum tiba-tiba saja tertuju pada anak wanita itu yang terlihat terus menatap pada suaminya. Entah mengapa Hanum merasa tidak suka melihat tatapan wanita itu pada suaminya. Untuk memutus tatapan matanya pada suaminya Hanum pun berdehem cukup keras.
Dan berhasil, tatapan wanita itu kini beralih kepadanya termasuk Dio. "Kau ingin minum?" Tanya Dio.
"Boleh." Jawab Hanum seraya tersenyum.
Dio pun menyodorkan gelas minumnya di depan Hanum. "Minumlah." Ucapnya.
Wanita paruh baya itu pun membawa putrinya untuk pergi karena tidak ingin mengganggu Hanum dan Dio yang ingin menikmati makan siang mereka.
"Apa kau mengenal pelayan di sini?" Tanga Hanum pada Dio.
Dio menggelengkan kepalanya. "Tidak, memangnya ada apa?" Tanya Dio.
__ADS_1
"Tidak apa-apa." Hanum memilih tidak mengatakan apa yang ada di dalam pemikirannya saat ini karena tidak ingin Dio salah paham dengannya.
Anak wanita paruh baya itu pun terlihat terus menatap kebersamaan Hanum dan Dio dari arah dapur dengan tatapan tidak suka.
"Kau sedang melihat apa?" Tanya wanita itu pada putrinya.
"Tidak apa-apa, Ibu." Ucapnya lalu pergi meninggalkan dapur.
Hanum yang melihat kepergian wanita itu hanya diam dengan perasaan yang tidak menentu. Entah mengapa ia merasa wanita itu tertarik pada suaminya dan ia merasa tidak suka dengan itu.
"Kau melihat apa?" Tanya Dio mengikuti arah pandangan Hanum.
"Tidak ada." Jawab Hanum berbohong.
Dio mengangguk saja tak lagi bertanya. "Makanlah yang banyak karena nanti malam kau memerlukan energi yang cukup banyak saat berada di dalam kamar." Ucap Dio dengan senyuman tipis di wajahnya.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗