Istri Figuran

Istri Figuran
Dia Alisa


__ADS_3

"Alisa?" Dio tersenyum pada wanita yang sangat ia kenali itu.


Alisa ikut tersenyum. "Sudah lama sekali rasanya saya tidak melihat anda lagi, Tuan." Ucap Alisa ramah.


"Agh, ya. Beberapa bulan belakangan ini aku memang sedang disibukkan mengurus beberapa pekerjaan. Oh ya, bukankah sudah aku bilang jangan panggil Tuan, kau bisa memanggilku dengan sebutan Dio saja seperti Windi memanggilku." Ucap Dio.


Alisa menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Dio." Ucapnya sedikit terbata karena ia merasa sungkan hanya memanggil nama pada Dio. "Oh ya, siapa anak laki-laki tampan ini?" Tanya Alisa.


Dio mengalihkan pandangannya pada Divan. "Oh ini. Dia anakku." Jawab Dio.


"Anakmu?" Ulang Alisa dengan kening mengkerut.


"Emh, ya. Aku sudah menikah dengan wanita yang sudah memiliki seorang anak." Jelas Dio.


Alisa mengangguk saja tanpa berniat bertanya lebih lanjut karena tidak ingin menginggung perasaan anak kecil yang sedang menatap padanya itu.


"Hai, siapa namamu?" Tanya Alisa pada Divan.

__ADS_1


"Divan, Tante." Jawab Divan lalu mengulurkan tangan pada Alisa.


Alisa menerima uluran tangan Divan. "Kau sangat sopan sekali." Ucap Alisa merasa senang melihat Divan.


Divan hanya tersenyum menjawab perkataan Alisa.


"Oh ya, kalau begitu kami lanjutkan kembali mengambil barang-barang karena istriku sudah menunggu di dalam mobil." Pamit Dio.


Alisa membungkukkan sedikit tubuhnya. "Ya, silahkan." Jawabnya.


Dio tersenyum lalu mengajak Divan menuju rak yang ia tuju. Sebelum pergi meninggalkan Alisa, Divan menyempatkan lebih dulu melambaikan tangan pada Alisa.


Beberapa menit berlalu kini Dio dan Divan sudah kembali ke dalam mobil. Seperti hal yang sudah biasa Divan lakukan, anak itu selalu mengatakan apa saja yang baru saja dilakukannya. Seperti saat ini Divan memberitahu Hanum jika Dio membelikan beberapa macam cemilan untuknya.


"Terima kasih karena telah membelikan cemilan untuk putraku." Ucap Hanum pada Dio.


Dio hanya mengangguk saja tanpa bersuara. Mobil pun mulai melaju kembali menuju apartemen Dio.

__ADS_1


Tak membutuhkan waktu lama karena jarak supermarket dan apartemen Dio yang cukup dekat, kini Dio, Hanum dan Divan sudah berada di dalam apartemen milik Dio.


Saat baru saja masuk ke dalam apartemen, Hanum dibuat tertegun melihat keindahan dan kemewahan apartemen Dio yang sangat jauh berbeda dari apartemennya di kota Bandung. Apartemen Dio jauh lebih besar bahkan memiliki dua lantai di dalamnya.


"Kamar kita ada di lantai atas." Ucap Dio tanpa menatap pada Hanum.


"Lalu dimana kamar Divan?" Tanya Hanum.


"Di depan kamar kita." Jawab Dio singkat.


Hanum mengangguk saja sambil mengikuti Dio menaiki tangga sambil membawa koper di tangannya.


"Apa kau membutuhkan bantuan?" Tanya Hanum melihat Dio yang sedikit kesulitan membawa kopernya.


Dio hanya diam sambil terus melangkah membawa koper Hanum.


Hanum pun memilih diam tak lagi bersuara karena menurutnya Dio tidak membutuhkan bantuannya.

__ADS_1


Setelah berada di lantai dua, Dio langsung saja membawa Hanum menuju kamar mereka berada. Dan betapa senangnya Hanum saat mengetahui jika kamar Divan berada tepat di depan kamar mereka hingga ia tidak perlu khawatir berjauhan dengan Divan.


***


__ADS_2