Istri Figuran

Istri Figuran
Aku tidak iri


__ADS_3

Perkataan tegas tanpa bantahan dari Dio membuat Hanum diam. Hanum memilih tidak banyak bertanya dan memilih mengiyakan perkataan suaminya itu. Divan yang mendengarkan kata bulan madu yang keluar dari mulut Dio dibuat bingung karena ia tidak mengerti apa itu arti bulan madu.


Suasana di ruang makan pun berubah hening karena baik Dio atau pun Hanum memilih diam dan fokus menghabiskan makanan mereka masing-masing.


Hari itu karena Hanum sangat rindu pergi menggunakan motornya sendiri, akhirnya ia meminta agar tidak diantarkan oleh Dio. Untung saja Dio menghargai keputusan Hanum dan mengiyakan saja permintaan istrinya.


Dengan perasaan senang Hanum mengendarai motornya menuju perusahaan dengan kecepatan sedang. Setibanya di dalam perkarangan perusahaan, laju motor Hanum terhenti karena Hanum mengerem mendadak karena melihat sosok yang sudah sangat dirindukan tengah berdiri tidak jauh darinya berada.


"Papa?" Ucap Hanum lirih menatap pada sosok papanya.


Papa Irfan yang sepertinya tidak mengetahui keberadaan Hanum pun kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya meninggalkan perkarangan perusahaan. Sedangkan Cita yang menyadari jika Hanum melihat dirinya diantarkan oleh Papa tirinya menarik sebelah sudut bibirnya ke samping karena ia merasa sangat senang melihat wajah sendu Hanum saat ini.

__ADS_1


Hanum yang sudah berhasil mengontrol suasana hatinya pun kembali melajukan motornya ke arah parkiran khusus motor. Setelahnya ia meninggalkan parkiran dan masuk ke dalam gedung perusahaan.


"Sepertinya ada anak kandung berasa anak tiri yang tadi iri kepadaku." Ucap Cita yang entah sejak kapan sudah berada di belakang tubuh Hanum saat Hanum sedang berjalan ke arah ruangan kerjanya.


Seperti biasanya Hanum memilih diam tak menanggapi perkataan Cita. Melihat diamnya Hanum membuat Cita semakin menggebu-gebu untuk mengompori Hanum.


"Bagaimana rasanya menjadi anak yang terbuang? Pasti sedih sekali bukan? Anak kandung yang terbuang dan anak tiri yang diratukan." Ucap Cita sinis.


"Sialan! Kenapa dia terlihat baik-baik saja mendengarkan perkataanku!" Gerutu Cita menatap Hanum yang kini sudah masuk ke dalam ruangan kerjanya. Entah mengapa ia merasa setiap usahanya untuk mengompori Hanum selalu berujung sia-sia atau gagal.


Sedangkan Hanum yang sudah berada di dalam ruangan kerjanya nampak mengusap pipinya yang tiba-tiba basah. Tidak dapat Hanum pungkiri jika bersangkutan dengan papanya Hanum sangatlah rapuh karena hanya papanya dari keluarganya yang ia punya saat ini. Agh, Hanum segera menghapus kata keluarga yang muncul di benaknya karena ia baru sadar jika ia sudah dibuang dan tidak dianggap oleh papanya lagi.

__ADS_1


Hanum pun mencoba menghapus bayangan papanya tadi dengan membayangkan perkataan Dio tadi pagi kepadanya. "Kenapa dia mau mengajakku bulan madu jika dia tidak membutuhkannya. Aku pikir hubungan kami tidak sejauh itu sampai dia mengajakku bulan madu. Lebih baik tiket itu dia pergunakan untuk pergi seorang diri saja dari pada mengajakku karena keberangkatan kami tidak akan membuat perubahan di dalam hubungan kami." Ucap Hanum.


Hanum pun teringat dengan putra kecilnya. Ia tidak akan mungkin sanggup meninggalkan putra kecilnya itu seorang diri. Selama ini ia tidak pernah berjauhan dari putra kecilnya dan keberangkatannya dan Dio dua minggu lagi mengharuskannya meninggalkan putranya.


"Apa aku bisa membawa Divan?" Tanya Hanum pada dirinya sendiri.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗


__ADS_2