
Puk
Hanum memukul pelan bibir suaminya saat bibir Dio semakin dekat dengan wajahnya.
"Kenapa kau memukulku?" Protes Dio sambil mengusap bibirnya yang terkena pukulan tangan mungil Hanum.
"Itu karena kau tidak tahu tempat." Jawab Hanum pelan agar sopir tidak mendengarkan percakapan mereka.
"Apa kau tidak dengar sopir itu bilang jika dia tidak melihat apa-apa?" Protes Dio.
"Ck. Tetap saja aku tidak mau. Kau harus tahu tempat dan tahu malu." Jawab Hanum.
"Jika aku tidak mau?" Dio menantang istrinya itu.
"Tak masalah. Tapi aku tidak mau lagi disentuh olehmu." Ancam Hanum.
Glek
Dio meneguk salivanya susah payah. Jika diancam seperti ini mana bisa Dio berkutik. Terlebih saat ini ia sudah sangat candu dengan tubuh istrinya itu dan ingin selalu menyentuhnya.
__ADS_1
"Baiklah. Aku tidak akan melakukan apa-apa." Finalnya dari pada rugi besar.
Hanum tersenyum lega. Akhirnya suaminya itu mau mendengarkan perkataannya dan menjaga jarak darinya.
"Apa kau sudah menghubungi Mama jika kita akan berangkat pagi ini?" Tanya Hanum saat mobil sudah hampir sampai di bandara.
"Sudah. Tapi Mama belum membalasnya. Sepertinya saat ini Mama masih membuat sarapan di dapur." Jawab Dio sambil melihat ponselnya kembali.
"Sepertinya begitu." Jawab Hanum.
Tak berselang lama mobil yang mereka tumpangi pun akhirnya sampai di bandara. Dio dan Hanum segera turun dari dalam mobil dan membayar biaya taxi mereka.
*
"Jadi sahabat kakakmu meminta dosen yang membimbing Calista di sana untuk mempersulit bimbingan Calista agar Calista tidak cepat kembali ke sini?" Tanya Bu Shanty sambil mengaduk makanannya.
Dio yang sedang duduk di meja makan pun mengangguk walau Bu Shanty tidak akan melihatnya. "Bagaimana menurut Mama?" Tanya Digo.
"Menurut Mama itu hal yang tidak baik dilakukan walau kalian memiliki niat yang baik. Kalian sama saja mempersulit urusan seseorang." Jawab Bu Shanty.
__ADS_1
"Tapi Kak Calista sepertinya tidak merasa dipersulit. Dia justru senang mendapatkan tugas tambahan dari dosennya di sana." Ucap Digo apa adanya.
Bu Shanty menghela nafas panjang. "Wanita itu benar-benar fokus pada pendidikannya hingga tidak memikirkan hal lain." Komentarnya.
"Ya seperti itulah, Ma. Tapi bukankah itu bagus untuk hubungan Kak Dio dan Kak Hanum?" Tanya Digo.
Bu Shanty memijit kepalanya yang tidak terasa sakit. Satu sisi ia tidak ingin Calista dipersulit urusannya dan di sisi lain ia juga tidak ingin wanita itu kembali dan mengacaukan keharmonisan hubungan rumah tangga anak dan menantunya saat ini.
"Mama?" Digo kembali bersuara karena Bu Shanty hanya diam saja.
"Entahlah. Untuk saat ini Mama hanya ingin yang terbaik untuk Kakakmu tanpa mempersulit urusan orang lain." Jawab Bu Shanty.
Digo mengangguk saja tanpa berniat menghentikan niat mereka yang ingin mempersulit urusan Calista di sana. Setelah cukup panjang bercerita dengan Bu Shanty di dalam dapur, Digo pun kembali ke kamarnya untuk melihat Divan apakah sudah bangun atau belum.
Sedangkan Bu Shanty yang masih berkutat di dapur dibuat berpikir bagaimana jika sebentar lagi Calista kembali. "Semoga saja Dio teguh pada pendiriannya untuk tetap bersama Hanum." Ucapnya penuh harap. Tidak dapat Bu Shanty bayangkan bagaimana sikap putranya nanti jika Calista kembali ke ibu kota.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗