
"Masuk!" Titah Richard sedikit keras agar Cita yang berada di luar ruangan mendengar perkataannya.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka. Cita nampak masuk ke dalam ruangan kerja Richard dengan wajah datarnya.
"Maaf sudah mengganggu waktu anda, Tuan." Ucap Cita setelah berada dekat dengan Richard.
"Tidak mengganggu. Ada apa kau datang menemui saya?" Tanya Richard walau ia sudah mengetahui tujuan Cita datang menemuinya.
"Karena saya ingin membahas penawaran Tuan kemarin sore." Jawab Cita apa adanya.
Richard menganggukkan kepalanya. Ia pun meminta Cita untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
"Jadi apa keputusanmu?" Tanya Richard.
Cita menghela nafas panjang. "Saya dan Mama sudah menyetujui untuk menerima tawaran Tuan. Mama saya akan bekerja sebagai pembantu di rumah Tuan." Jawab Cita.
Richard menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. Berhasil sekali rencananya kali ini. "Bagus. Kalau kau sudah setuju maka tanda tangani kertas ini." Ucap Richard lalu menyodorkan kertas yang ia maksud pada Cita.
Kening Cita mengkerut merasa bingung melihat kertas kosong dan hanya ada tempat untuk tanda tangan dirinya, Mamanya dan Richard di sana.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini, Tuan? Kenapa saya harus menandatangani kertas kosong ini?" Tanya Cita.
"Karena saya tidak ingin ada dusta di antara kita. Saya ingin berjaga-jaga agar kalian tidak kabur dari janji kalian pada saya." Jawab Richard.
"Tapi kenapa kertasnya kosong? Apa maksudnya ini?" Cita kembali mempertanyakan hal yang hampir sama.
"Karena saya baru akan menulis apa saja isi surat perjanjian setelah kau dan mamamu menandatangani surat ini." Jawab Richard apa adanya.
"Apa?" Cita terkejut mendengarnya. "Jangan bilang jika anda ingin menjebak kami!" Ucapnya keras.
Richard tertawa mendengarnya. "Menjebak bagaimana? Saya kan sudah berkata jika masih ada beberapa syarat lagi yang harus kalian penuhi baru saya mau membantu kalian. Dan saat ini saya belum kepikiran ingin memberikan syarat apa lagi pada kalian." Jawab Richard.
"Jika kau tidak berkenan maka jangan ditanda tangani. Kau bisa keluar dari ruangan ini sekarang juga." Ucap Richard tegas.
Cita menghela nafas. Walau tidak tahu bagaimana nasibnya ke depannya namun ia tetap harus menandatangani kertas tersebut untuk menyelamatkan mamanya.
Richard tersenyum penuh kemenangan saat melihat goresan tinta tanda tangan Cita di atas kertas tersebut.
"Bagus, setelah ini minta ibumu untuk menandatanganinya dengan langsung menjumpai saya di rumah saya sore ini." Ucap Richard. Setelah mengatakannya Richard menuliskan alamat rumahnya di sebuah kertas dan memberikannya pada Cita.
Cita menerima kertas tersebut.
__ADS_1
"Ingat, saya tidak akan pernah tinggal diam jika ada yang berniat macam-macam dengan saya." Ucap Richard tegas.
Cita mengangguk saja. Setelahnya ia pun berpamitan keluar dari dalam ruangan kerja Richard.
Prok
Prok
Prok
Richard bertepuk tangan setelah kepergian Cita. Ia sungguh merasa senang karena sudah berhasil membuat wanita itu bertekuk lutut kepada dirinya. Richard pun tak lupa mengirimkan pesan pada Digo jika rencananya kali ini berhasil. Digo yang langsung melihat pesan dari Richard pun ikut tersenyum penuh kemenangan.
"Sepertinya sangat asik bermain-main dengan mereka." Ucap Digo yang kini sedang berada di sekolahnya. Digo pun mengirimkan pesan balasan pada Richard yang menyatakan jika dalam waktu dekat ia akan tinggal bersama Richard di rumahnya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1